Awalku Dan Akhirku

Awalku Dan Akhirku
Resign


__ADS_3

Suara adzan subuh dimusolah terdengar.


Ani beranjak dari tempat tidur dan mengambil wudhuq untuk solat subuh.


Dia melihat bapak keluar dari kamar dengan memakai baju taqwa.


"Sudah mau berangkat pak, " tanya Ani.


"Iya nak, ayo bapak berangkat dulu ke musolah". Bapak menyondorkan tangan dan Ani mencium tangan beliau.


" Assalamualaikum, "lanjut bapak.


" Walaikumsalam, " Ani menjawab dengan berjalan menuju arah kamar mandi.


Jam menunjuk pukul 06.10 dengan matahari pagi yang indah.


Ani menelfon pihak yayasan untuk ijin terlambat.


"Halo mas Bambang ini saya bu Ani. Mas saya mau ijin hari ini saya tidak ada jadwal pagi. Jadi saya ijin terlambat ya karena ada keperluan".


" Oh iya bu nanti siap, " jawab suara diseberang.


"Terimakasih mas bambang, " sahut Ani.


Telefon pun tertutup.


Ibu yang mendengar ini pun penasaran ada keperluan apa sampai Ani ijin kesekolah.


"Mau kemana nak sudah rapi pakai seragam tapi ini terlambat masuk? " tanya ibu.


"Oh iya buk, Ani mau ke javapost. Ani ingin berhenti menjadi jurnalis mingguan disana. Sepertinya Ani harus mengurangi pekerjaan Ani, " sahut Ani menjelaskan.


"Wah bagus itu. Harusnya dari dulu sejak ibuk menyuruhmu keluar. Karena kamu sudah terlalu banyak tugas disekolah nak dengan bekerja di javapost kamu sampai tidak sanggup mengurus dirimu sendiri".


Ani mendengar dengan seksama perkata ibunya dan dia sadar selama ini dia terlalu mefotsir tubuhnya. Walaupun jadi jurnalis adalah hobi tapi dia sudah berada di javapost sejak umur 25 tahun sampai sekarang dan mungkin ini saat tepat untuk berhenti.


Ani lalu berpamitan berangkat kepada ibunya.


***


Ani tiba di javapost. Tidak sengaja Ani bertemu dengan pak Harto di parkiran.


Ani menunggu pak Harto turun dari mobil.


"Pagi pak, " sapa Ani kepada pak Harto.


"Pagi, tumben ke kantor ini kan masih hari selasa. Apa artikelmu sudah selesai? " tanya pak Harto.


Ani selalu ke kantor tiap kamis atau jumat untuk menyerahkan artikel mingguan yang terbit di jari minggu pagi.


"Ada yang mau saya bicarakan dengan bapak, " jawab Ani sambil berjalan di belakang pak Harto menuju kantor.


Pak Harto menoleh kebelakang melihat jawaban Ani dan menggelengkan kepala seolah dia tidak bisa menebak apa yang akan dikatakan oleh Ani.

__ADS_1


"Baiklah langsung ikut ke ruangan saya, " kata pak Harto sambil menunjuk arah depan.


"Baiklah! Silakan duduk Ani, " pinta pak Harto.


Ani menggangguk paham dan segera duduk dikursi depan pak Harto.


"Apa yang ingin kamu sampaikan Ani, sampai tumben hari selasa pagi-pagi pula mau datang ke kantor? " tanya pak Harto dengan santai.


"Saya ingin mengundurkan diri pak! " jawaban Ani membuat pak Harto kaget.


"Bisa ulangi? " kata pak Harto tak percaya.


"Saya ingin mengundurkan diri dari javapost pak! " Ani mengulang niatnya.


"Kamu bercanda? " pak Harto masih tidak percaya dengan apa yang dia dengar.


"Saya serius pak. Saya ingin berhenti menjadi jurnalis mingguan di javapost".


Jawaban Ani yang tegas ini membuat pak Harto berfikir " apakah Ani marah karena kejadian minggu kemarin saat aku memarahinya. Tapi bukannya sudah biasa keadaan seperti itu".


"Ani apakah masalah minggu kemarin kamu sakit hati dan harus mengatakan ini? " tanya pak Harto penasaran dengan pemikiran.


"Tidak pak. Saya sama sekali tidak mempermasalahakan hal itu, " jawab Ani.


"Terus kenapa tiba-tiba berhenti? " pak Harto ingin penjelasan.


"Ada alasan pribadi pak. Saya harus berhenti karena kesehatan saya yang menurun".


Pak Harto membacanya dan menggeleng-geleng kepalanya.


" Tapi ini terlalu mendadak Ani. Bagaimana dengan artikel minggu ini. Bahkan mencari penggantimu juga belum ada. Memang kamu sakit parah? " tanya pak Harto.


"Saya akan bertanggung jawab mengerjakan artikel minggu ini pak. Artikel terakhir saya. Maaf pak untuk sakit apa saya rasa itu terlalu pribadi, " jawab Ani tegas seperti biasanya.


"Baiklah kalau begitu. Bila keputusanmu sudah bulat ya saya setuju saja. Tapi ingat ya, kamu harus membuat artikel untuk minggu ini selagi saya juga akan cari perlnggantimu nanti, " kata pak Harto sambil memasukan lagi surat pengunduran diri itu dalam amplop coklat.


"Terimakasih pak. Saya mohon maaf jika selama ini salah dan sekali lagi terimakasih untuk semuanya, " kata Ani sambil berdiri menyodorkan tangannya untuk bersalaman.


Pak Harto tersenyum dan menyambut jabatan tangan Ani lalu berkata "apapun sakitmu saya dengan tulus berdoa agar kamu segera sembuh dan panjang umur".


Ani melangkah pergi dari ruangan pak Harto.


Dia berkeliling ke kantor untuk berpamitan pada teman-teman yang lainnya. Dia melihat setiap dinding yang ada dikantor itu.


Semua mengingatkan kejadian yang indah, suka cita di kantor ini.


" Aku sudah bekerja disini selama 20 tahun. Tidak terasa waktu berjalan begitu singkat. Rasanya baru beberpa bulan aku berapa disini, " batin Ani dalam hati.


Semua orang dikantor juga terkejut perihal pengunduran diri Ani.


Ani adalah karyawan dan senior yang baik dikantor ini. Bahkan saat junior mengalami kesulitan Ani pun membantu dengan tulus.


Kantor ini juga pasti merasa kesepian tanpa Ani.

__ADS_1


***


Ani berjalan perlahan menuju perpustakaan. Dia meletakan tas di atas mejanya.


Mengambil minum dan duduk sembari melihat aktivitas perpusatakaan yang tenang.


"Apa yang harus aku lakukan setelah ini, " pikirnya sambil membayangkan vonis dokter kemarin.


Ani masih belum sepenuhnya bisa menerima keadaan ini hanya dalam beberapa hari.


Setelah sejenak beristirahat setelah pulang dari javapost dia melanjutkan kegiatannya untuk mengajar di kelas 11 A.


Hari ini jadwal siang penih untuk Ani dia mengajar 2 kelas sekaligus.


Ani menjalani kegiatan disekolah dengan baik seperti biasa.


Biarpun dalam hati dia merasa gelisah.


Namun karena sifat bertanggungjawabnya dia tidak ingin terlihat lemah didepan banyak orang.


Tersenyum dibalik tangisan, menangis di dalam senyuman.


"Mbak Ani sudah dimimum obatnya? " suara Erna mengejutkan Ani yang fokus membaca buku diperpustakaan.


"Sudah tadi mbak sudah meminumnya. Kenapa kamu selalu mengingatkan ku untuk meminum obat, memangnya aku anak kecil?" tanya Ani yang melihat adiknya super protektif dibanding biasanya.


"Erna kan cuma kuatir mbak. Takutnya karena kesibukan jadi lupa minum obat".


Erna mengerti perasaan mbaknya yang sekarang mudah sensi.


" Tadi mbak kemana? Diruang guru tidak ada, Erna ke perpustakaan juga tidak melihat tas mbak di meja, " Erna penasaran karena pagi tadi tidak melihat Ani sama sekali.


"Aku ke kantor javapost, " jawab Ani singkat.


"Ooooh, " Erna menjawab biasa saja karena itu juga hal biasa.


"Aku berhenti menjadi jurnalis mingguan di javapost, " lanjut Ani membuat Erna kaget dan hampir tersendak roti yang dia makan.


"Serius mbak? " tanya Erna tidak percaya.


"Iya, " jawab Ani memalingkan pandanganya ke Erna dan melanjutkan membaca bukunya.


Erna yang masih terkaget melihat Ani sambil mengunyah dan berfikir bahwa ini hal baik, seharusnya dia melakukannya 10 tahun yang lalu saat ibuk menyuruhnya.


"Syukurlah akhirnya mbakku sadar juga, "kata Erna sambil berlari dari perpustakaan karena Erna sangat tau betul kakaknya akan melempar sesuatu kearahnya.


Ani melempar pulpen kearahnya dan berguman "dasar anak nakal".


Erna berjalan sedikit cepat menjauh dari Ani dan tersenyum jail.


Mereka sering sesekali melakukan hal jail biarpun umur mereka saat ini sudah dewasa.


Hal itu membuat hubungan kakak beradik ini tetap harmonis diusia tua mereka.

__ADS_1


__ADS_2