Awalku Dan Akhirku

Awalku Dan Akhirku
Keterbuakaan Ani


__ADS_3

Ani berada di bangku antrian dokter spesialis onkolog sejak pagi tadi. Dia membolak balik kertas antrianbyang sudah tertulis jelas no 5.


"Assalamualaikum bu, " sahut suara didepannya.


Ani mengangkat kepalanya dan meluhat Reyhan tersenyum di depannya.


"Eh kamu Reyhan, belum datang tah dokternya? " tanya Ani.


"Sudah datang tapi tadi masih lagi ngobrol sama dokter lain habis inibpasti kesini. Bagaimana keadaan Bu Ani? " Reyhan menanyakan keadaan gurunya yang sekarang makin kurus.


"Alhamdulilah ya seperti ini masih kuat, " jawab Ani sambil tersenyum.


"Syukurlah bu, kalau begitu saya masuk dulu ya menyiapkan data pasien untuk dokter Hendry, " pamit Reyhan.


"Oh iya silakan, " jawab Ani sambil menganggukan kepala.


Akhirnya setelah ditunggu giliran Ani pun datang.


Ani memasuki ruangan yg sangat familier baginya sekarang.


"Pagi ibuk, " sapa dokter Hendry.


"Pagi dokter, " jawab Ani sambil duduk.


"Bagaimana ini, apayang sekaranh dirasakan? " tanya dokter Hendry.


Ani menjelaskan semua keluhan yang dirasakan selama ini. Dan Ani juga sudah menjelaskan bahwa dia melakukan hal yang dianjurkan dan meninggalkan yang tidak disarankan.


"Baiklah, " jawab dokter Hendry mengerti.


"Kira-kira kapan bu Ani siap operasi. Minggu depan? " tanya dojter Hendry menimpali keinginan Ani.


"Saya siap dokter," jawab Ani semangat.


"Kalau begitu operasi bu Ani akan saya jadwalkan minggu depan ya hari Rabu. Jadibu Ani harus istirahat di hari Selasa . Ijin semingguan untuk operasi karena setelah operasi bu Ani harus dirawat inap beberapa hari di sini". Dokter Hendry menjelaskan prosedur operasi lengkap kepada bu Ani.


Sesi konsultasi pun sudah selesai. Ani pamit pulang.


Di jalan menuju sekolah Ani memikirkan semua ucapan dokter.


Ani terlihat senang karena sel kankernya akan di angkat, tapi dia juga terlihat cemas karena ini adalah pertama kali dia melakukan operasi.


***


Hari sudah sore. Ani membereskan semua barang-barangnya dan beranjak pulang.


Saat dimelintasi ruangan Humas dia melihat mas Bambang sendirian di depan meja dengan banyak kertas.


Ani tiba-tiba ingin berhenti dan menyapa mas Bambang.


"Belum pulang mas," tanya Ani yang sudah masuk keruangan.


Mas Bambang mempersilakan Ani duduk.


"Tumben nih bu Ani mampir ke humas? " tanya mas Bambang.

__ADS_1


"Iya nih mas, saya mau tanya apa bisa ngajuin cuti panjang,soalnya selama ini saya tidak pernah cuti lebih dari 2 hari?" tanya Ani.


"Loh mau kemana bu kok mau cuti panjang? " tanya mas Bambang.


Akhirnya di sore yang sepi dan tenang ini Ani menceritakan kondisi dirinya kepada mas Bambang.


Setelah mendengar cerita Ani, diapun terkejut.


Dia tidak menyangka di balik sikapnya yang tegas dia memikul ujian yang berat dan itu dia lalui dengan baik.


"Baik saya mengerti, Nanti bu Ani memberikan surat dokter saja bu. Tapi saya juga tidak janji penyakit bu Ani akan bisa dirahasiakan lagi. Karenasurat nanti akan saya berikan kepada ketua yayasan untuk ijin karena ijin ibuk seminggu lebih jadi disurat dokter pasti ada rincian tentang sakit, " kata mas Bambang.


"Baik mas kalau begotu manti akan saya mintakan surat untuk ijinannya kepada dokter saya. Mohon dibantu ya mas, " kata Ani.


"Siap bu, " Bambang menganggukan kepala.


Setelah perbincangan panjang yang memakan waktu sampai maghrib akhirnya mereka pamit pulang satu sama lain.


Ani sungguh tidak menyangka dia akan menceritakan keadaannya pada orang lain hari ini.


Tapi cepat atau lambat pasti semua terungkap, pikirnya.


***


Sesampai di rumah Ani mengobrol dengan bapak ibuknya tentang rencana operasi.


Mereka sangat setuju dengan keputusan operasi yang dibuat Ani. Dengan operasi pengangkatan kanker yang diderita Ani setidaknya kanker itu tidak menyebar lebih parah.


Namun Ani tidak menjelaskan detailnya kepada orangtuanya bahwa dokter juga menjelaskan dengan operasi terkadang sel kanker bisa tumbuh lagi.


Biarpun mereka tersenyum tampaknsekali kekuatiran terhadapnya.


Setelah semua sudah direncanakan dengan matang dan keluarga setuju Ani pun pamit tidur untuk beristirahat.


***


Pagi tampak cerah dan tenang. Ani mengendarai sepeda beat nya dengan santai menuju sekolah.


Sesampai di sekolah Ani langsung menuju ruang guru. Ani ingin segera bertemu dengan Erna dan menceritakan rencana operasi minggu depannya.


Kemarin memang sempat Ani telfon Erna hanya untuk bilang bahwa ada yang mau di ceritakan di sekolah besok.


Ani sampai terlebih dulu di ruang guru. Hanya ada beberapa guru. Terlihat Erna belum muncul.


Ani menunggu sambil duduk di tempatnya dan mengoreksi tigas tugas siswa yang belum dia selesaikan kemarin.


Beberapa saat kemudian Erna pun terlihat.


"Assalamualaikum semuanya, " sapa riang Erna kepada semua guru yang ada diruangan.


"Walaikumsalam bu Erna cantik, " jawab guru Agustin salah satu guru di Smk di tambah sldengan banyak senyum guru-guru lainnya yang menyahut sapaan bu Erna.


Erna yang melihat kakaknya langsung menuju Ani.


Dan Ani pun mengajaknya ke kantin.

__ADS_1


Kantin masih sepi karena pedagang biasanya datang sekita jam 8 pagi.


Tapi itulah suasana yang dicari Ani. Tempatsepi tenang dan enak di buat cerita.


Akhirnya Ani pun menceritakan rencana operasi itu kepada Erna.


Dan dengan bahagia Erna juga setuju dengan keputusan operasi yang di pilih oleh Ani.


Obrolan mereka berkakhir dengan senyum di wajah mereka berdua.


***


Seminggu telah berlalu.


Hari ini hari senin Ani datang ke rumah sakit untuk mengambil surat dokter yang akan diberikan kepada mas Bambang.


Setelah dari rumah sakit, Anilangsung bergegas menuju sekolah.


Ani masih mengajar hari ini. Namun selasa Ani sudah ijin tidak mengajar di sekolah karena besok Ani ingin beristirahat dan menyiapakan diri untuk operasi hari rabu.


Ani mengajar seperti biasa. Namun dia melihat beberapa guru memandangnya dan tersenyum padanya dengan berbeda.


Surat ijin dari dokter Reyhan sangat lengkap dnegan penjelasan vonis kanker yang di derita Ani.


Dan kabar itu sudah menyebar di berbagai kalangan.


Banyak guru yang bersedih dengan keadaan Ani sekarang bahkan siswa pun juga merasakan hal yang sama.


Namun biarpun mereka tau mereka berpura-pura seperti biasa.


Bambang yang sudah tau lebih awal dibanding yang lainnya juga masih bersedih dengan keadaan Ani.


Bambang juga merasa bersalah karena belum sehari kabar ini sudah menyebar. Namun bagaimana lagi. Banyak yang bekerja diyayasan dan mereka tidak bisa dijamin menjaga rahasia setelah membaca surat dokter dari Ani.


Erna sempat kaget saat ada beberapa guru mendoakan semoga operasinya Ani berjalan lancar.


Erna pun yang penasaran menanyakan bagaimana mereka bisa tau.


Para guru bilang bahwa mereka tau dari orang-orang yayasan karena Ani mengajukan cuti seminggu dan itu harus ada alasan. Jadi yayasan meminta surat dokter yang ditulis dengan keadaan Ani agar bisa mendapatkan cuti panjang.


Penjelasan para guru kepada Erna tidak membuat kekuatiran Erna hilang. Erna langsung menuju perpustakaan untuk bertemu dengan Ani.


Namun saat sampai disana Erna melihat Ani dikelilimgi beberpaa guru dan mereka mengobrol sambil tersenyum.


Erna masuk dan mendatangi mereka.


Ani memegang tangan Erna seolah berkata.


"Aku baik-baik aja".


Erna yang lega dengan hal itu terlihat dari wajahnya dan Ani pun tersenyum kepadanya dan mereka melanjutkan mengobrol dengan guru-guru lainnya.


Banyak guru dan teman kerja yang memberikan dukungan dan doa untuk Ani dengan tulus.


Ani merasa lebih semangat lagi untuk operasinya karena banyak doa yang dia terima.

__ADS_1


Ternyata terbuka itu lebih baik.


__ADS_2