
Keesokan harinya tiba. Ani terlihat sudah rapi dengan seragamnya.
"Nak apa ndak sebaiknya kamu ijin dulu. Ibuk kuatir ada apa-apa nanti saat kamu mengajar. "
Ani yang sedang merapikan krudungnya menatap ibunya dan menjawab.
"Ani baik-baik saja ibuk, sudah sehat. Kemarin hanya kelelahan, " jawab Ani mencoba menenangkan ibunya.
"Ya sudah kalau begitu. Hati-hati ya nak. Ini ibu sudah siapkan bekal buat kamu nanti disekolah. "
"Ani berangkat buk, assalamualaikum. "
"Waalaikumsalam." Ibuk menjawab sambil melihat kepergian Ani.
Entah kenapa perasaan Ani hari ini tidak menentu. Perasaan yang tiba-tiba ingin menangis tanpa tau sebabnya.
Dia pun berbincang dalam hatinya sendiri.
"Apakah ada hal besar hari ini?
Kenapa perasaanku sedih sekali padahal tidak ada yang terjadi.
Semoga bapak ibuk dirumah baik-baik saja, " batin Ani.
Sesampai di sekolah Ani pun sibuk dengan kegiatannya di perpustakaan.
Selain menjadi jurnalis mingguan di javapost dan guru bahasa indonesia di SMK dia juga menjadi guru perpustakaan yang bertanggung jawab pada perpustakaan yang lumayan luas. Karena sekolah ini merupakan sekolah SMK dan D3 yang menjadi satu,jadi siswa disini lumayan banyak.
Dan pastinya kesibukan Ani pun juga lumayan sibuk.
"Mbak sudah makan, kalau belum ayo ke kantin makan bakso sama aku."
Erna mengagetkan Ani yang lagi fokus memeriksa hasil ujian.
"Sudah dik, tadi di bawahkan bekal sama ibuk. Ini lagi banyak kerjaan. Udah duluan saja."
Erna mengangguk mengerti dan keluar dari perpustakan.
Hari ini suhu terasa begitu dingin buat Ani. Wajah pucat dan badan terasa dingin.
Ani melihat jam yang berada ditangannya.
masih menunjukan pukul 13.00.
"Masih lama jam pulang, kenapa badanku terasa letih ya? " Ani berguman sendiri.
"Untung saja hari ini hanya mengajar 1 kelas. "
Saat Ani berdiri ingin menaruh buku-buku di rak dia pinsan.
Seorang siswa berteriak meminta tolong.
Akhirnya Ani dibawah ke rumah sakit oleh pihak sekolah.
**
Sebuah mata terbuka. Dia melihat sekeliling.
Ani sudah siuman. Dia tidak menyangka akan berakhir di UGD.
Erna melihat kakaknya siuman segera menyerbu dengan banyak pertanyaan.
"Bagaimana kak, masih pusing? Apa yang terasa sakit? Kakak belum sempat makan? Kenapa bisa sampai pinsan? "
Ani tersenyum lemas mendengar pertanyaan adiknya dengan raut wajah kuatir yang khas.
__ADS_1
"Mbak tidak apa-apa tadi hanya tiba-tiba pusing, saat buka mata eh sudah di sini. Jangan hubungin ibuk bapak takut mereka kuatir. "
Erna mengangguk setuju dan duduk disamping Ani sambil mengelus tangan Ani dengan tulus.
"Siapa wali dari ibu Ani?" seorang dokter berjalan ke arah Erna.
"Saya dokter," jawab Erna sambil beranjak dari tempat duduknya.
"Mari ibuk ikut keruangan saya, " ajak dokter.
Erna melihat Ani yang sedang tertidur dan mengikuti dokter.
"Begini buk ini bukan kabar baik," dokter memberikan kata-kata pembuka.
"Bagaimana dok hasilnya," tanya Erna penasaran dengan keadaan kakaknya.
"Ibu Ani terkena kanker panyudara buk. Saat ini kondisinya sudah parah. Sudah memasuki stadium 3. Tapi insyallah masih bisa disembuhkan. "
Dokter terlihat hati-hati dalam menyampaikan hasilnya.
Erna yang tidak menyangka mendengar hal ini hanya melamun dengan banyak pemikiran di kepalanya.
"Bagaimana aku bisa menyampaikan ini ke mbak Ani, ibuk dan bapak? Bagaimana nanti perasaan mereka saat mendengar ini? Apa yang harus aku lakukan sekarang?" batin Erna dalam hati.
Dokter yang melihat kegelisahan Erna memberikan harapan.
"Banyak pasien diusia beliau mengalami hal seperti ini bahkan ada yang sudah stadium 4. Tapi dengan semangat hidup, mereka akhirnya bisa sembuh. Ya pastinya dengan usaha berobat yang rutin ibuk. Ibuk jangan gelisah. Itu nanti akan membuat pasien makin berfikir negatif. Tetap beri semangat dan dukungan agar mereka bisa menjalani ini dengan ringan. Kami pihak rumah sakit akan membantu semaksimal mungkin agar pasien bisa sembuh. Untuk saat ini bu Ani bisa dibawah pulang. Saya kan memberikan resep dan jadwal kontrol. Nanti ibuk coba pelan-pelan bicara saat sudah tiba dirumah tentang keadaan beliau."
Erna mengangguk paham.
"Boleh tau penyebabnya apa ya dok, " tanya Erna penasaran. Kenapa tiba-tiba kakakku yang hanya kerjanya menulis dan belajar bisa terkena kanker.
"Kita masih belum tau penyebab pasti buk. Namun biasanya kanker payudara itu bisa terjadi karena faktor genetik, keturunan, bisa juga karena gaya hidup yang tidak sehat dan bisa juga karena faktor usia. "
"Baiklah dokter terimakasih. Mohon bantuannya untuk kesembuhan kakak saya. "
Erna berjalan linglung menuju ugd.
Badannya terasa lemas. Dia duduk dikursi rumah sakit mengeluarkan handphonenya.
Melihat galeri foto bersama Ani. Semakin sedih hatinya.
Dering hp berbunyi tertulis " mas suami". Itu Joko suami dari Erna. Erna mengangkat telfon.
"Hallo mas, "jawab Erna lesuh
"Bagaimana dik hasilnya mbak? " tanya Joko.
Belum sempat bercerita satu kalimat pun Erna menangis menjadi-jadi.
Joko yg mendengar dari seberang telfon menjadi kuatir dengan sikap istrinya yang tiba-tiba menangis seperti itu.
Dia sangat tau benar watak Erna. Erna seorang yang periang. Dia wanita kuat yang tidak akan menunjukkan kesedihannya apalagi ditempat umum.
"Pasti ada yang tidak beres, " pikir Joko.
Akhirnya setelah puas Erna menangis diapun bercerita tentang keadaan kakaknya pada Joko.
Joko yang mendengar hal itu juga terkejut dan sedih.
Dia tau benar bagaimana Ani. Dia selalu berlagak kuat. Bahkan sampai saat ini Ani juga tidak mau menikah. Bahkan saat dia jadi bahan cibiran orang-orang yg syirik dia tetap tersenyum seolah tidak ada masalah.
Bagaimana Ani akan menerima berita ini. Tidak ada yang akan menerima curhatan. Dia tidak akan mengeluh. Yang dia lakukan pasti hanya tersenyum dan bilang bahwa dia baik-baik saja.
Hal seperti inilah yang membuat Erna, Joko dan orangtua Ani lebih kasian pada Ani.
__ADS_1
Pura-pura kuat didepan banyak orang. Dan sekarang ada ujian lagi.
***
Hari semakin sore. Jam menunjukan pukul 16.00.
"Tidak terasa dirumah sakit sudah 3 jam, " batin Erna.
Didalam taksi Erna hanya terdiam dan sesekali melihat Ani.
Ani tersenyum ringan dan bertanya, "kenapa sih dik daritadi liatin mbak? "
"Tidak apa-apa mbak, " jawab Erna sambil tersenyum.
"Ohya tadi kamu terburu-buru mengajak mbak pulang sampai mbak tidak sempat bertanya dokternya bilang apa". Ani juga penasaran dengan hasilnya.
"Nanti saja dirumah," jawab Erna sambil mengelus tangan kakaknya.
Sesampai dirumah Erna menuntun Ani masuk ke dalam rumah.
Erna dan Ani sedikit kaget saat memasuki rumah.
Dia melihat Doni dan Dita (kedua anak Erna ) menonton tv dan bapak ibuk duduk di meja ruang tengah bersama mas Joko.
Mereka tidak menyangka semua orang berada disini. Itu membuat Erna gugup karena dia tidka tau harus berkata apa saat ini.
"Assalamualikum," Erna memberi salam.
"Walaikum salam," jawab mereka bertiga serempak.
Ibuk langsung membantu Ani untuk langsung masuk ke kamarnya.
"Ibuk buatkan teh hangat ya nak. Kamu istiharat dulu," sembari pergi dari kamar Ani.
Terlihat ibuk memberikan isyarat kepada Erna untuk meninggalkan kamar Ani.
Erna menggangguk paham dan mengikuti dari belakang.
Erna duduk disebelah Joko. Joko seolah memberi isyarat bahwa bapak dan ibuk sudah tau kondisi Ani.
Joko inisiatif memberitahu bapak dan ibuk. Karena dia paham betul istrinya tidak sanggup untuk melakukannya.
Erna melihat ibuk yang masuk ke kamar Ani membawa teh dan roti keluar beberapa menit setelahnya.
"Sini buk duduk sebelah bapak, " bapak berkata sembari menepuk tempat duduk yang kosong disebelahnya.
"Ya gimana namanya ujian jangan dibuat beban pikiran untuk keluarga ini. Dijalani, dilakoni dan disyukuri". Bapak memulai pembicaraan mereka berempat.
"Erna, tadi suamimu sudah cerita semua ke bapak tentang apa yang terjadi hari ini dirumah sakit dan tentang kesehatan mbakmu. Biar bapak nanti yang akan bicara kepada mbakmu kalau kamu tidak sanggup".
Bapak terlihat tegar dengan usia 70 tahun.
Ibuk yang berada disebelah bapak terlihat menangis dalam diamnya.
Air mata berjatuhan tanpa suara.
Bagaimana seorang ibu bisa tenang mendengar kondisi anaknya yang seperti itu. Bahkan dia yang sudah 68 tahun belum pernah mendapat sakit sepeti itu.
Erna yang melihat ibunya seperti itu juga tidak tega melihatnya. Dia terlihat menangis dipelukan Joko.
Hanya bapak yang terlihat tegar saat itu.
Padahal semua orang tau hatinya juga menangis.
Saat ini rumah yang biasa hangat dan riang seketika menjadi mendung dan dingin.
__ADS_1
Seoalah mereka ingin bernagi kesedihan.