
Hari berganti hari dan minggu berganti minggu.
Ani melihat kalender di kamarnya.
"Sudah saatnya, " kata Ani sambil melingkari angka di kalendernya.
Hari ini bukan hari spesial juga bukan hari salah satu kelahiran keluarga. Hari ini adalah hari pertama kali bagi Ani untuk menjalani kontrol yang akan dilakukan rutin nantinya.
Dengan vonis yang sudah ditetapkan tentang kondisi kesehatannya, akhirnya Ani mencoba menerima semua itu dengan lapang dada.
Ani melihat jam dinding sudah menunjukan pukul 6 pagi.
Ani segera mengambil handphone untuk iji terlambat lagi karena dia harus bergegas kontrol kerumah sakit dengan jadwal dokter Hendry pukul 07.30.
Setelah Ani mempersiapan diri, Ani bergegas sarapan dan segera bernagkat langsung karena pikirnya antriannya panjang.
Ani berpamitan pada bapak dan ibu yang memperlihatkan kekawatiran dari wajah mereka.
Ani yang melihat hal itu mencoba menghibur mereka.
"Ani hanya kontrol biasa saja, bukan melakukan koterapi atau operasi. Jadi bapak dan ibuk tidak perlu cemas".
" Ya nak kami berdoa semoga keadaannu semakin membaik setiap harinya, "jawab ibu Ani.
Ani berangkat setelah mencium tangan bapak dan ibu.
***
Diperjalan Ani tanpa sengaja bertemu dengan Reyhan.
Reyhan menyapa dengan membunyikan klaksonnya dan mengganggukkan kepala kearahnya.
Ani menoleh ke arahnya dan tersenyum.
Lampu hijau sudah menyalah mereka melanjutkan perjalanan mereka.
Ani tiba diparkiran rumah sakit. Reyhan yang saat itu menuju kearah yang sama tidak melihat bahwa Ani akan berhenti dirumah sakit karena parkiran untuk pengunjung dan pegawai berbeda tempat.
Ani memasuki rumah sakit menuju ruangan spesialis onkolog. Dia melihat sekeliling yang masih hanya beberpa orang. Ani melirik jam tangannya yang menunjukan puluk 06.50.
"Syukurlah masih 7 orang jadi tidak sampai mengantri terlalu panjang, " batinnya.
Dia duduk di kursi antrian dan memeriksa berkas-berkas yang akan di serahkan kepada perawat sebagai persyaratan.
Setelah berkas dia rasa cukup dia maju kemeja depan untuk menyerahkan berkas tersebut.
Seseorang menerima berkas itu dan menyapa "Pagi bu guru".
Ani melihat lelaki muda didepannya dengan berfikir.
" Saya Reyhan, " kata lelaki itu sambil melepas masker nya.
"Lah pakai masker saya jadi tidak bisa melihat wajahnya, " kata Ani sambil tersenyum.
"Dokternya datang jam 7.30 bu. Jadi nunggu setengah jam lagi ya, " Reyhan memberitahu.
"Iya sudah tau kemarin kan sudah di bilangin juga sama dokter Hendry. Cuma kalau mepet datang saya bisa-bisa antri panjang. Ini saja saya sepertinya urutan 8 ya?" tanya Ani.
"Iya bu, " jawab Reyhan.
"Bu Ani menunggu dikursi dulu setelah ini dipanggil satu persatu untuk tensi tekanan darah bu sambilenunggu dokternya. Jadi dokt'er datang sudah tinggal periksa nanti, " lanjut Reyhan menjelaskan.
"Siap pak, " Ani menggoda Reyhan.
__ADS_1
Reyhan membalas senyumannya dan menunduk melanjutkan menulis.
Dalam hati Reyhan tersipu malu saat Ani menggodanya seperti itu.
Dokter Hendry akhirnya datang. Dia menyapa semua pasien sebelum memasuki ruangan.
"Selamat pagi, " sambil tersenyum tukus kepada para pasien yang sudah mengantri mulai pagi.
Satu per satu nama pasien di panggil.
Ani menyibukkan diri dengan membaca berita di hp nya. Ani tidak menyadari bahwa sedari tadi ada 2 mata yang selalu mencuri pandang kepadanya.
Tibalah giliran Ani di panggil.
"Ibu Ani Saswinto, " Reyhan berdiri membukakan pintu untuk mempersilakan pasien masuk keruangan.
"Pagi bu Ani," sapa dokter Hendry.
"Pagi dokter, " jawab Ani.
"Bagaimana kabarnya hari ini bu? " tanya dokter Hendry.
"Baik, " jawab Ani singkat.
"Jangan baik dong, " Dokter Hendry menjawab sambil tersenyum.
"Lalu saya harus bilang bagaimana dok? " tanya Ani heran.
"Luar biasa, begitu bu, " Dokter Hendry berkata sambil berdiri dan mengangkat tangannya.
Hal itu membuat Ani tidak bisa menahan tawanya.
"Hahaha bisa saja dokter ini, " kata Ani sambil menutup bibirnya yang masih cekikikan.
Dokter yang menghiburnya pun teraenyum puas.
"Begitu dong bu, biar cepat sembuh kalau tubuh kita dipenuhi semangat yang luar biasa".
Rethan menyerahkan data pasien atas nama Ani kepada dokter.
Dokter membaca dan menyuruh Ani berbaring diranjang pasien.
Setelah di periksa dokterpun menyuruh Ani duduk kembali.
"Bu Ani apa ada keluhan? " tanya dokter.
"Tidak ada dokter, hanya saya merasa sering lelah padahal saya rutin minum obat, " jawab Ani.
"Itu efek dari sakitnya itu bu. Jadi bu Ani walaupun tidak terlalu banyak aktifitas pasti tibihnya kayak lemas lesu gitu ya? " tanya dokter.
Ani mengangguk.
"Bu Ani tidak merasa kan kesemutan atau sakit cenut cenut gitu di bagian panyudara? "tanya dokter Hendry.
"Terkadang dokter kalau saya makan bakso gitu disekolah atau terlalu capek, " jelas Ani.
"Iya bu itu dari sel kankernya. Jadi bu Ani mulai sekarang tidak hanya meminum obat secara rutin saja. Tapi pola makan harus benar-benar di jaga. Perbanyak air minum dan buah. Jangan makan yang ada micinnya. Hindari gorengan sebisa mungkin. Tempe, tahu, ayam, daging, sayur saja boleh tapi sebaiknya direbus atau dikukus. Karena biarpun bu Ani obatnya rutin tapi kalau makannya sembarangan juga sel kankernya bosa cepat menyebarnya. Kalau sudah menyebar bahaya, " jelas dokter.
"Dokter apa saya sebaiknya operasi sebelum kondisi saya semakin buruk, " Ani sebenarnya sudah ingin bertanya ini diawal dia bertemu dengan dokter Hendry.
"Untuk saat ini saya akan berusaha dengan obat ya. Saya juga sudah ada alternatif kesana hanya saja pasiean saat melakukan operasi juga harus punya mental siap. Dan saya belum yakin bu Ani sudah siap untuk operasi. Untuk menerima kenyataan ini saja saya yakjn butuh waktu. Saya sudah merawat berbagai orang disini. Jadi bu Ani bisa percaya pada saya dan kita berjuang bersama ya".
Dokter Hendry menjelaskan panjang lebar kepada Ani.
__ADS_1
Ani memahami maksud dari dokter Hendry yang bermaksud baik kepada dirinya.
Akhirnya Ani pun ijin pamit karena pemeriksaan telah selesai.
Dokter Hendry memberikan selembar resep untuk diambil ke apotik. Ani menerimanya.
Dia berjalan menuju keluar ruangan.
"Bu Ani jangan patah semangat nya. Positif tingking Bu Ani akan sembuh. Berdoa sama yang diatas, " kata dokter Hendry saat Reyhan membukakan pintu untuk Ani.
Ani mendengar hal itu tersenyum dan menganggukan kepala kepada dokter Hendry.
"Hati-hati dijalan bu, " kata Reyhan pada Ani.
Ani mengangguk dan melambai kan tangan saat perlahan dirinya sudah menjauh dari ruangan itu.
Reyhan menatapnya hilang Ani menghilang.
Reyhan melanjutkan tugasnya sedangkan Ani menuju apotik rumah sakit untuk mengambil obatnya.
"Akhirnya selesai juga, " Ani berjalan di parkiran sekolah sambil ngedumel.
Dia tidak melakukan apapun tapi badannya sangat capek.
"Lebih enak mengajar dari pada mengantri dirumah sakit, " pikirnya.
Jam menunjukan pukul 12.15 Ani hampir setengah hari berada di rumah sakit.
Ani bertemu dengan Erna dikantin sekolah.
"Mbak sini makan bakso, " panggil Erna.
Ani tidak menghiraukan adiknya memanggilnya. Dia menoleh kanan dan kiri.
"Makanan apa yang bisa dimakan dikantin ini, " batin Ani.
Erna terus memanggilnya dan membuat Ani risih. Akhirnya Ani menuju ke tempat Erna agar adiknya diam tidak teriak-teriak memanggilnya.
"Bu War saya pesen nasi pecel ya, " setelah melihat-lihat sekeliling Ani akhirnya memutusnya menu makan siangnya.
"Bagaimana kontrolnya mbak? " tanya Erna.
"Aku sudah sembuh kata dokternya, " jawab Ani enteng.
"Serius, kok cepet banget. Aku gak percaya, " Erna yang tau kakaknya berbohong langsung menimpali.
"Ya begitu dik masih banyak perawatan. Mbak kalau diluar rumah tolong jangan bahas ini nanti ada yang dengar, " kata Ani.
"Oh iya, paham aku mbk. Maafin adikmu ya mbakku yang cantik, " Erna merayu.
Mereka akhirnya makan dengan tenang sampai akhir.
***
Ani pulang larut malam hari ini karena dia mengerjakan lembur untuk ujian sekolah.
Ibuk kuatir dengan Ani yang sudah larut belum pulang.
Saat mau menelfon Ani,dia terlihat membuka gerbang rumah.
Bapak dan ibu pun menyambut Ani dengan wajah resah.
Ani duduk dan menjelaskan hasil kontrolnya serta alasan dia lembur hari ini.
__ADS_1
Setelah puas mendengar penjelasan Ani, ibuk menyuruh Ani makan,minum obat dan beristirahat.