
Hari berganti hari dengan begitu cepat.
Ani melalui dengan belajar iklhas dan menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
Ani yang biasanya jarang tersenyum kepada muridnya kini mulai tersenyum.
Dia pun juga membuka diri saat diperpusatakaan untuk mengobrol dengan banyak siswa yang sedang membaca buku.
Bisa dibilang kehidupan Ani sekarang terlihat lebih baik biarpun di dalam hati Ani selalu terbesit ketakutan tentang kesehatannya.
Kontrol rutin selalu dia jalani.
Dia pun masih bisa menyembunyikan fakta ini dari keluarga besar dan teman-temannyanya.
Hanya keluarga inti yang selalu protektif kepada Ani karena tau betul kesehatan Ani saat ini.
Ani juga berusaha keras menjaga pola hidup sehat.
Dengan sering berjalan kaki dipagi hari setelah subuh. Memakan sayur dan buah. Menjauhi bakso dan junkfood yang menggiurkan. Semua awalnya terasa sulit namun karena selalu melakukan hari demi hari akhirnya semua itu sudah menjadi aktifitas Ani.
Hari ini hari minggu. Ani yang sudah lama tidak memakan bakso ingin membuat bakso sehat sendiri.
Ibunya pun membantu.
"Nduk baksonya tidak dikasih micin sama sekali ini? " ibuk bertanya selagi mengulen adonan.
"Tidak buk, kuahnya juga tidak. Biar sehat jadi tanpa micin atau penyedap apapun, " jawab Ani sambil memotong daun bawang.
Ibuk yang mendengarkan mengangguk paham.
Sambil membuat bakso yang sudah di masukan dalam api mendidih ibuk melirik jam dinding.
"Kemana adikmu kok belum datang, " tanya ibuk pada Ani.
"Mungkin masih dijalan atau mungkin masih rewel sama dita buk, " jawab Ani sambil tersenyum melihat ibunya yang berkali-kali melihat jam.
Karena semua yang tinggal dirumah ini adalah manusia dewasa terkadang ibuk merasa rumah kurang rame tanpa adanya anak-anak.
Dan dengan adanya Doni dan Dita rumah ini terasa hidup lagi.
Bakso sudah di masak semua. Kuah juga sudah siap. Tahu putih, gubis, sambel, kecapa dan saos sudah disiapkan di meja makan.
Tinggal menunggu pentol matang.
Ibuk dan Ani duduk sambil menonton lawakan dari "Dono Kasino Indro". Biarpun tayangan ini adalah tayangan jadul tapi masih sangat menghibur.
" Assalamualakum, " suara serempak dari luar rumah terdengar.
Ibuk dan Ani berjalan menuju ruang tamu dan melihat Erna, Joko, Doni dan Dita memasuki halaman rumah.
"Akhirnya cucunya mbah uti datang, " ibuk memeluk sikecil dita sambil menciumnya berkali-kali.
__ADS_1
Mereka semua sudah sebulan lebih tidak datang karena banyaknya pekerjaan Joko dikantor.
Erna celingukan melihat sekeliling "mana bapak buk? "tanyanya.
" Bapakmu tidur dikamar lagi tidak enak badan. Tadi malam sudah ibuk kerokin. Masuk angin karena sering begadang lihat bola, " jelas ibuk.
"Biar saja bapak istirahat dik nanti kan juga bangun kita disini juga sampai malam, " larang Joko pada Erna yang siap melangkah ke kamar bapak.
Erna mengangguk setuju.
Ani melihat pentol bakso yang sudah matang dan menyiapkan dimeja makan.
Memanggil semua anggota keluarga dan juga bapak yang akhirnya terbangun karena suara canda doni dan dita di rumah.
"Ayo makan semuanya sudah siap ini, " kata Ani.
mereka semua menuju ruang tamu.
Saat makan mereka semua bercanda dan mengobrol dengan banyak topik.
Mulai dari bola, tontonan tv, politik, pendidikan, sampai mengoreksi bakso buatan Ani.
Keluarga yang terlihat harmonis biarpun banyak masa-masa pahit yang harus mereka lewati.
Doni dan Dita bermain dengan mbah utinya di halaman rumah. Joko dan bapak berbincang di ruang tamu. Erna dan Ani membereskan meja makan dan dapur.
"Gimana mbak keadaanya? " tanya Erna.
"Baik dik. Setelah 6 bulan mbak menjalani kontrol rutin badan mbak merasa enakan. Insyallah mbak juga lagi ngobrolin tentang operasi. Agar tidak semakin menyebar, " jelas Ani.
"Terus dokter Hendry setuju? " Erna bertanya sambil menata piring di rak.
"Setuju dan kita masih menentukan hari yang tepat," jawab Ani sambil tersenyum.
"Syukurlah, akhirnya setuju juga setelah sekian lama". Erna bernafas panjang merasa lega.
"DoKter Hendry dari awal sudah menyarankan untuk operasi hanya saja mbak suruh mempersiapkan diri. Kesehatan yang stabil, waktu yang tepat dan juga pastinya dana untuk operasi, " jelas Ani sambil mengajak Erna duduk diaebelah dan menonton tv.
"Mbak sudah ada biaya, " tanya Erna.
"Sudah dong. Sudahlah jangan bahas ini lagi lagian juga belum tau kapannya, " Ani menjawab dengan pandangan lurus ke tv.
Erna pun melihat acara talk show bersama Ani dan mereka tertawa bersama saat ada hal lucu di tv.
***
Hari sudah petang. Setelah solat maghrib berjamaah Joko dan Erna menyuruh Doni dan Dita untuk bersalaman pada mbah uti , kakek dan bude Ani.
"Kok gak nginep cucunya mbah ti ini, " Ibuk menciumi dita seolah tak merelakan mereka pulang.
"Besok kan aku dan kak Doni kan sekolah uti, " jawab dita dengan gaya lucunya bikin semua orang gemes.
__ADS_1
Ibuk tersenyum melihat tingkahnya. Setelah semua bersalaman Erna sekeluarga pun pulang.
Rumah terasa tenang lagi dengan 3 manusia dia dalamnya.
Bapak dan Ibuk menonton tv sedangkan Ani memasuki kamarnya untuk mengoreksi tugas-tugas siswanya.
***
Keesokan harinya seperti biasa Ani berusaha menampak senyumnya di sekolah. Biarpun sekarang Ani sudah tersenyum namun dia tetap terkenal sebagai guru yang tegas dan killer.
Ani adalah tipe guru yang menilai siswa benar-benar detail.
Para siswa menyebutnya guru pelit nilai. Sebenarnya Ani hanya berfikir subjektif untuk anak-anak yang tidak mengerti sama sekali dia benar-benar akan memberi nilai 6 kebawah. Dengan alasan agar mereka giat lagi untuk belajar.
bahkan kepada siswa yang pandai pun maksimal dia memberi nilai 8,8 karena agar mereka tidak cepat puas dan lebih maksimal lagi belajarnya.
Biarpun banyak siswa yang takut dengan Ani namun juga tidak sedikit yang mengidolakan Ani baik siswa laki-laki dan perempuan terutama untuk siswa-sowa yang merasa jadi lebih pandai saat Ani yang mengajar.
***
Jam sudah menunjukan pukul 12.30.
Waktu istirahat sudah tiba. Terdengar murid kelas sebelah sudah keluar.
Ani yang sudah tahu bahwa ini jam istirahat tetap menjelaskan materi yang diajarkan. Sambil tersenyum jahil kepada siswanya.
"Ini sudah jam istirahat tapi saya lanjutkan ya materinya tinggal sedikit lagi, " goda Ani dengan wajah serius.
Mungkin bila saat itu guru lain yang berkata ank-anak akan serempak memprotes, tapi karena ini Ani akhirnya para siswa hanya menunduk pasrah.
"Ayo buka yang halaman 23,disitu jelaskan bahwa......, " Ani menjelaskan materinya dengan perasaan lucu melihat wajah siswanya yang pasrah.
Mereka sesekali melihat jendela yang terlihat teman mereka dari kelas lain memanggilnya.
"Sudah tutup buku kalian. Bereskan meja kalian. Selamat istirahat, " kata Ani menutup bukunya dan keluar kelas. Ani berjalan meninggalkan kelas dengan senyum kecil diwajahnya.
Anak-anak akhirnya lega karena bisa istirahat mereka sudah berfikir untuk kelaparan siang ini.
Dulu Ani sering melakukan hal seperti ini. Menambah jam pelajarannya di jam istirahat sehingga waktu anak-anak istirahat terpotong.
Namun sekarang Ani yang sudah semakin akrab dengan anak-anak menjadi lebih sering tersenyum dan bercanda.
Ani dulu adalah sosok yang baik, tegas, disiplin, no toleran untuk siswa nakal, bertanggung jawab dengan apa yang jadi tugasnya, multitalent.
Namun dia menjaga jarak dengan siswa, sangat jarang tersenyum. Lebih suka diperpustakaan dan membaca.
Sekarang sejak vonis berjalan selama 6 bulan dia berusaha tetap mempertahankan yang sudah baik dan memperbaiki yang belum baik.
Akhirnya dia sekarang menjadi sosok guru idola para siswa. Terutama siswa yang haus akan ilmu.
Mereka selalu sering ke perpustakaan untuk mencari Ani dan sering bertukar pikiran baik masalah pekerjaan, hobi sampai bahkan mereka mencari solusi untuk pribadi mereka.
__ADS_1
Terkadang di balik ujian terdpat hikmah yang luar biasa.