
Pagi ini hujan rintik. Hari ini hari minggu.
Setelah menjalani hari sabtu dengan penuh tangisan dan dengan suasana malam mendung.
Akhirnya minggu berakhir dengan hujan.
Tepat sekali untuk perasaan keluarga ini.
Ani terbangun dan berdiri melihat keluar jendela. Hujan tidak terlalu deras. Namun mendung yang menutupi matahari terasa sangat rapat.
Mungkin ini hujan gemiris akan berlangsung hingga malam.
"Nak sudah bangun," ibuk membuka kamar Ani dengan membawa sarapan lengkap dengan teh hangatnya.
"Ayo sarapan dulu, terus segera diminum obatnya".
Ibuk dengan telaten merawat Ani yang terlihat masih pucat.
"Bude bude bude," suara kaki berlari memasuki kamar Ani.
"Aduh dua kepobakan bude tidur disini ya," kata Ani saat melihat Doni dan Dita di dalam kamarnya.
"Iya dong, kan kita mau menenin bude yang lagi sakit biar cepat sembuh," jawab dita yang masih berusia 6 tahun namun sudah cerewet dan suka bikin gemes orang-orang yang melihatnya
Dita menghampiri Ani dan memeluk dengan manja.
"Ayo anak-anak keluar dulu biar bude sarapan dulu, " suara Erna memasuki kamar Ani.
Erna mengajak kedua anaknya untuk keluar dari kamar Ani agar Ani bisa sarapan dengan nyaman.
Erna duduk di kursi taman sambil melamun. Joko menghampiri dan duduk disebelahnya.
"Kenapa dik?" tanya Joko.
"Kita harus memulai darimana ya mas. Aku gak tega kalau sampai mbak harus tau kondisinya sekarang," terlihat raut gelisah di wajah Erna.
"Kita harus memberi tau mbak Ani, karena dia yang harus berjuang untuk kesembuhannya. Kalau kita tidak bicara nanti bagaimana menyembuhkan sakitnya. Dia harus tau kondisinya".
Joko berhenti bicara karena melihat Erna menangis.
"Yang penting kita semua selalu berada di sisi mbak Ani. Kita selalu ada saat dibutuhkan. Dan selalu memberi dukungan penuh kepada mbak," lanjut Joko.
"Ayo segera hapus air matamu. Jangan sampai mbak Ani melihatmu menangis.
Kita harus segera masuk. Bapak ibuk dan mbak Ani sudah menunggu. Kita bersama-sama melewati ujian ini".
Joko menggandeng tangan Ani masuk kedalam rumah.
"Kemana anak-anak buk," Erna bertanya sembari duduk di sebelah Joko.
"Tadi ijin main sepeda. Paling keliling komplek nak," jawab ibuk yang teerlihat duduk disebelah Ani dan memegang tangannya.
Bapak meminum kopi yamg ada didepannya dan menghela nafas panjang.
Beliau yang terbiasa tenang terlihat gugup.
"Bagaimana nak keadaanmu sekarang apa sudah terasa membaik?" tanya bapak menoleh ke Ani.
"Alhamdulillah Ani sudah terasa bugar lagi," jawab Ani sambil tersenyum ringan.
"Begini nak, ada hal penting yang ingin kita sampaikan. Bapak harap kamu siap mendengarkan," bapak terlihat gugup lagi.
"Iya pak. Memang ada apa pak," tanya Ani penasaran.
"Kemarin dokter menyampaikan hasil kesehatanmu pada adikmu. Jadi begini," perkataan bapak berhenti seolah menyiapkan diri.
"Jadi begini nak, dokter sudah menemukan penyakitmu. Kita tinggal berusaha untuk mengobatinya bersama. Kamu tidak sendirian. Disini ada bapak ibuk adikmu yang selalu ada buat kamu". Bapak meneruskan dengan suara gelisah.
"Ada apa sih kok pada tegang. Memangnya Ani sakit apa?" tanya Ani yang hatinya semakin gelisah.
"Kamu divonis kanker panyudara stasium 3 nak," bapak akhirnya langsung pada intinya.
Seketika itu semua orang terdiam. Mereka semua menunduk tidak ada yang berani melihat wajah Ani.
Ani seketika jantungnya terasa berhenti beberpa detik.
Tak terasa air mata jatuh dipipi tanpa suara.
Ibuk menoleh ke arahnya dan memeluknya.
__ADS_1
Erna oun berdiri dari kursi dan memeluk Ani.
"Sabar ya nak ini ujian kita semua," kata ibuk.
"Erna minta maaf tidak bisa mengatakan saat dirumah sakit mbak," Erna merasa bersalah karena diam perihal hal itu. Padahal dia yang pertama kali tau.
Ani melepas semua pelukan. Dia terlihat tersenyum dan berkata.
"Ani tidak apa-apa. Bapak ingat kan bapak pernah bilang ke Ani. Allah itu memberikan ujian hambanya sesuai dengan kemampuannya. Dan Allah yakin bahwa Ani mampu melewati semua ini. Ani diciptakan lebih kuat dibandingkan kalian semua. Jadi jangan kuatir".
Ani tersenyum dan beranjak dari kursi menuju kamarnya.
Erna segera akan menyusul namun di tahan oleh ibunya.
"Biarkan mbakmu sendiri dulu. Dia butuh waktu buat menerima keadaannya sekarang".
Semua diam dalam hening. Gemiris yang sedari pagi menemani terasa menunjang suasana haru ini.
Alam pun juga berduka.
***
Kukuruyuk...
kukuruyuk...
Seperti biasa ayam tetangga membangunkan dipagi hari.
Ani berkaca dengan pakaian seragamya. Dia bernafas panjang seolah ingin bicara "aku pasti bisa".
" Pagi buk," Ani tersenyum menyapa ibunya.
"Loh nak kok sudah pakai seragam? Bukannya sebaiknya kamu ijin dulu, " kata ibuk kuatir.
"Ani tidak sakit ibuk. Badan Ani malah lesu kalau dirumah terus. Lagian banyak tanggung jawab yang harus Ani lakukan".
"Baiklah ibuk mengizinkan tapi kamu harus jaga diri baik-baik ya. Minum obat dan makan tepat waktu, " ibuk memberi syarat.
"Siap buk. Sekarang Ani mau sarapan terus nyiapin bekal makan dan obat buat dibawah ke sekolah".
Setelah makan Ani pun ijin berangkat ke sekolah.
***
Dia melihat setiap kegiatan orang lain padahal hal itu sudah terbiasa terlihat. Tapi kali ini terasa berbeda.
Berkendara dengan kecepatan yang pelan dan menghirup pagi yang sejuk. Karena semalaman hujan tanpa henti jadi udara terasa segar hari ini.
Sesampai disekolah Ani memarkir motornya seperti biasa. Terlihat pak zaenal satpam menghampirinya.
"Bagaimana keadaan bu Ani? "
"Alhamdulilah baik pak, " Ani menjawab sambil tersenyum.
"Syukurlah kalau begitu. Kemarin saat bu Ani pinsan kita semua kuatir karena saya belum pernah lihat ibuk pinsan selama disini," pak Zaenal menjelaskan.
Raut wajah tulus dari rekan kerja membuat Ani terasa bahagia dan bersemangat.
Ani tersenyun mendengar ucapan pak Zaenal. Dia pamit untuk masuk ke ruang guru.
Tidak ada satu orangpun yang tau kondisi Ani yang sebenarnya selain dirinya dan keluarga. Dan yang pastinya maha tahu Allah yang memberi ujian ini kepada seoarang hamba.
Hari ini Ani besyukur hanya ada satu mata pelajaran saja. Memang Ani tidak terlalu banyak kelas. Dia hanya fokus mengajar di kelas 11. Karena yayasan tau tanggungjawab diperpustakaan begitu besar sehingga jadwal mengajar tidak terlalu penuh. Dan beruntungnya di sini terdapat 5 guru untuk pelajaran bahasa indonesia.
Hari ini dua merencanakan untuk ke rumah sakit memastikan kondisinya.
"Apakah benar vonis itu? " Ani merasa ragu dalam hatinya.
Dia berharap vonis yang ditunjukan itu salah.
Semua berjalan lancar. Situasi sekolah dan keadaan tubuhnya bekerjasama dengan baik.
Dia pun meminta ijin kepada yayasan untuk pulang lebih awal.
***
"Maaf suster apakah hari ini ada jadwal dokter spesialis onkolog, " Ani sudah sampai didepan resepsionis.
"Ada bu, Ibu langsung saja keruangannya mendaftar di sana ya. Dari sini lurus belok kiri nanti ada tulisan yang menunjukan tempatnya".
__ADS_1
Resepsionis menunjukan dengan sopan.
" Baik terimakasih suster, " Ani mengangguk paham dan berlalu menuju tempat yang sudah ditunjukan.
Setelah mendaftakan diri Ani harus mengantri sesuai dengan urutan.
Dalam hati dia berdoa agar dokter salah mendiagnosa dirinya.
Sampailah giliran Ani di panggil.
"Ibu Ani Saswinto silakan masuk, " seorang pemuda yang terlihat tidak asing memanggil Ani.
Saat Ani masuk tiba-tiba dia menjabat tangan dan mencium tangan Ani.
Sontak Ani sedikit terkejut.
"Bu Ani saya Reyhan murid ibuk. Saya sekarang jadi perawat dirumah sakit ini, " kata si perawat menjelaskan.
"Yak Allah maaf sudah tua jadi tidak ingat. Kamu juga sudah dewasa maklum kalau ibuk sampai tidak mengenali, " Ani berkata sambil duduk didepan dokter untuk siap diperiksa.
"Loh ibu yang pinsan hari sabtu kemarin ya. Kesini dengan siapa? " tanya dokter.
Ani melihat sekeliling dan melihat nama dokter yang ada di nametagnya.
"Oh namanya Hendry, " batin Ani.
"Saya kesini sendiri dokter, " jawab Ani sedikit lambat dari pertanyaan dokternya.
"Bagaimana keadaan ibu sekaramg sudah membaik kah? " tanya dokter yang sambil menyuruhnya untuk berbaring di ranjang pasiean agar bisa diperiksa.
"Sudah mendingan dokter, " jawan Ani singkat.
"Sudah bu , silakan duduk dikursi lagi. Ibu Ani tidak usah kuatir banyak pasien yang menderita sakit yang sama seperti bu Ani dan mereka bisa sembuh, " dokter membuka percakapan yang sedari tadi audah dinantikan Ani.
"Iya itu dok apakah benar saya terkena kanker panyudara? " Ani bertanya dengan wajah bingung.
Dokter sangat paham smdengan wajah pasien seperti ini.
Diawal vonis mereka semua mempunyai raut wajah yang seperti percaya dan tidak.
Dokter itu tersenyum tulus dan berkata "Bu Ani terkena kanker panyudara stadium 3. Ibu percaya Allah itu memberi ujian pada ornag yang kuat. Dan semua orang tadi yang mengantri kepada saya adalah orang-orang pilihan Allah yang dipercaya oleh Allah bisa melalui semua ini. Dan salah satu dair mereka adalah bu Ani".
Ani tersenyum lemah mendengar ucapan dokter Hendry.
Ani tau dokter berbicara seperti itu untuk menenangkan hatinya.
Tapi sebagai manusia biasa Ani juga punya sisi takut. Dia yang bahkan jarang ijin karena sakit tiba-tiba mendapat vonis yang tidak pernah dibayangkan.
"Bu Ani obat yang kemarin masih ada ya. Itu diminum dulu. Ini saya kasih resep untuk minggu berikutnya jadi Bu Ani bisa kesini lagi 2 minggu lagi untuk kontrol. Saya berharap bu Ani rajin kontrol agar saya juga bisa memantau keadaan ibu. Hanya itu yang dapat saya lakukan untuk membantu bu Ani. Bu Ani juga harus positif tingking agar kesehatan bu Ani tetap stabil. Karena bila bu Ani stres itu akan menumbuhkan sel kanker dengan cepat. Jadi bu Ani harus have fun ya. Gurukan suka bercanda sama muridnya jadi awet muda, " penjelasan dokter Hendry di barengin dengan canda tidak mengena ke hati Ani saat itu.
Namun Ani tersenyum untuk menghargai usaha dokter Hendry.
Ani pun pamit pulang setelah diberikan surat kontrol dan resep obat untuknya.
Reyhan yang berada diluar ruangan mendengar perkataan mereka merasa sedih karena keadaan guru idolanya.
Biarpun terkenal killer tapi sebenarnya bu Ani baik hati dan tulus kepada siswanya.
Reyhan melihat Ani berjalan perlahan dengan iba. Rasa sakit yang dirasakan bu Ani pasti dalam, karena orang yang mengenalnya pun mendengar ini akan merasakan sakitnya juga.
Reyhan berdoa dalam hati semoga bu Ani bisa tabah menerima ujian ini.
***
"Assalamualaikum, " Ani melangkah masuk kerumah dengan lemas.
"Walaikumsalam nak, " Bapak yang berada di ruang tamu menjawab.
"Buk, Ani sudah datang buatkan teh! " perintag bapak sambil tetap berada didepan tv menonton acara berita kesukaannya.
Ibuk masuk kekamar dengan membawa teh hangat.
"Kok tidak dulu nak? " tanya ibuk yang melihat Ani sudah berganti pakaian dan berbaring ditempat tidur.
"Sudah buk. Ani sudah makan tadi di jalan. Ani lelah ingin segera tidur, " jawab Ani sambil duduk untuk menerima teh buatan ibuk.
"Ya sudah kamu istirahat. Jangan lupa minum obatnya ya nak, " ibuk pergi setelah mengingatkan.
Ani melihat langit-langit kamarnya.
__ADS_1
Dia seolah melihat awan putih yang luas sekali dan dia berada di situ sendiri.
Akhirnya dengan berbagai pemikiran Ani pun tertidur.