Baby, Dont Stop It!

Baby, Dont Stop It!
Part 1. unlucky!


__ADS_3

..."Ada batasnya menjadi orang bodoh"...


...-Sam...


...*...


...*...


...*...


...Selamat membaca...


...*...


...*...


...


...


"Hmm Jadi kau melihatnya?,"


Tentu saja.


Aku melihat semuanya, Willy.


Perselingkuhanmu yang sudah terjadi 2 tahun ini.


Bukan hal yang sulit bagiku untuk mengetahuinya.


Karena, sejak awal kau bahkan tak berniat menutupinya.


"Aku tak melihat apapun," dustaku.


Willy meletakkan gelas winenya dan tertawa. Ya, aku memang pantas ditertawakan. Tapi ini terasa menyebalkan karena kau yang menertawakanku.


"aku tak mengerti," ucapnya dengan senyum meremehkan.


"Setelah semua ini, kenapa Sammy? Kenapa kau masih mempertahankanku?,"


Kenapa?


Aku juga tidak tau mengapa.


Aku tidak tau mengapa aku mempertahankan pria yang sudah menyelingkuhiku selama 2 tahun terakhir ini. Menyelingkuhiku tepat di tahun-tahun terburuk dalam hidupku.


Aku tidak tau mengapa aku tak bisa marah atas apa yang telah Willy lakukan padaku.


Aku tidak tau mengapa aku tak menangis sama sekali saat ini atau sekedar berteriak seperti yang di lakukan aktor film saat di selingkuhi.


Dan aku tidak tau mengapa aku begini?.


"Kau tidak bodohkan, Sam?,"


Apakah lulusan universitas terbaik dengan predikat mahasiswa terbaik bisa di sebut bodoh?, bahkan aku berkuliah dengan beasiswa dan hasil usahaku sendiri.


"Willy, kamu selingkuh?," tanyaku dengan suara berat, mencoba memastikan yang jelas sudah kuketahui jawabannya.


Willy mengerinyit dahinya, lalu terkekeh mengejek "kau baru tau? Atau pura pura baru tau?,"


Ya, aku sudah tau.


Sejak aku melihat pakaian wanita lain di kamarmu, sejak aku menemukan bau parfum wanita lain di tubuhmu, sejak aku menemukan barang-barang wanita lain di mobilmu.


Aku tau.


Namun tak bisakah kau mengatakan kalau kau tidak berselingkuh?.


Meski hanya sebuah kebohongan, aku akan percaya dan melupakan semuanya.

__ADS_1


"Apa kau pernah mencintaiku, Willy? setidaknya sekali saja,"


Willy menyenderkan bahunya ke kursi, "entahlah, kurasa tidak,"


Hatiku mencelos. Satu kalimat itu membuat dadaku sesak.


5 tahun kami berpacaran, apa itu semua tak ada artinya? Apa semua itu bukan apa-apa? apa itu semua palsu? hahaha, lucu sekali.


Hidup ini benar-benar komedi sialan yang begitu tragis.


Tapi mengapa meski di sakiti seperti ini, mengapa hatiku tak ingin melepaskan pria ini? jauh di lubuk hatiku aku masih ingin bersamanya.


Bukankah sudah pasti karena 'itu'?


Karena aku sangat mencintainya, hingga aku tak peduli dengan semua yang ia lakukan padaku. Aku ingin bersamanya. Yah, bagaimana bisa aku membuang waktu 5 tahunku begitu saja hanya karena ia berselingkuh?.


Bukankah orang bilang cinta membuat manusia menjadi tidak waras, dan saat ini aku sangat mengerti betapa tidak warasnya aku karena cinta.


Hari-hari yang kulewati, semua pengorbananku untuknya tak mungkin tak berbekas sedikitpun dihatinya bukan?.


"Willy, aku mencintaimu..," ku genggam tangannya erat, menatap mata hazel miliknya lekat.


"kamu pasti berselingkuh karena bosan padaku,kan? baiklah ini semua salahku karena mulai membosankan untukmu, ayo kita mulai dari awal.. aku akan mencoba menja.."


Willy melepas dengan kasar tangannya dariku.


"Sam, kau tau dengan baik bahwa aku berpacaran denganmu karena ayahku menjodohkan kita, lagipula bukannya kau dulu berkata padaku tak boleh ada cinta diantara kita?."


"Ya, tapi itu sebelum aku mengenalmu, Willy. Apa kamu lupa? kita sudah pacaran 5 tahun. Bukannya kau juga yang mengatakan padaku akan mencintaiku dengan tulus?,"


"Ahahaha.." Willy tertawa keras, "aku mencintaimu?! jangan terlalu lugu Sam, apa kau ini anak remaja ingusan hingga hanya di katakan cinta saja percaya?, sama seperti pria lainnya, aku melakukannya demi harta dan koneksimu saja,"


Aku tak percaya dengan perkataan pria di hadapanku ini.


Dia bukan Willy yang ku kenal.


Dia bukan Willy yang selalu memanjakanku,


Sebenarnya siapa kamu?.


"Willy, ada apa denganmu? apa kamu sakit?,"


Akhirnya, air mataku menetes.


Aku berharap pria di hadapanku ini sedang sakit parah hingga mau mati makanya ia melakukan ini padaku.


"Sakit? kau yang sakit!. kenapa kau mempertahankanku sebegitunya, Sam? pasti karena sekarang kau miskinkan?, tak ada siapapun selain aku di sisimu saat ini, benarkan Sammy?,"


Aku meremas jemariku erat, "Aku tulus mencintaimu Willy,"


Willy menatapku geli,


"Jika kau tak mencintaiku,kenapa kau tidak memutuskanku saja sejak awal, kenapa kau harus berselingkuh?," tanyaku sedih. Aku sangat kecewa saat ini, sakit sekali mengetahui bahwa ini nyata.


Willy menyeringai seperti malaikat yang jatuh dari surga, "tentu saja untuk menyiksamu, kau pikir untuk apalagi?. Bukankah rasanya sangat sakit Sam, orang tuamu meninggal, hartamu lenyap dan kekasihmu berselingkuh,"


Hah! Sesak sekali. Bagaimana bisa dia mengatakan hal jahat itu padaku? Apa dia titisan lucifer?.


Willy menatapku penuh kemenangan,


"Akhirnya aku bisa melihat ekspresi menyedihkan dari wajahmu yang sombong itu. sekian lama kau hidup mudah dan bahagia. aku benci melihatmu bahagia, Sam,"


Apa ini?!, mengapa aku merasa seperti berada di dalam mimpi buruk.


Kini Willy berdiri, dan mencoba pergi meninggalkanku.


Meninggalkanku dengan dada yang begitu sesak hingga ingin mati.


Segala kenangan bersamanya kembali berputar di pikiranku. Pelukan hangatnya, senyumannya yang begitu tulus, dan bibirnya yang manis.

__ADS_1


Jadi semua itu hanya kepura-puraan? Jadi hanya aku yang benar-benar jatuh cinta?.


Tidak!.


Aku tak mau akhir yang bodoh ini, aku tak mau berakhir seperti ini.


"WILLY," teriakku seperti orang gila.


Tatapanku hanya tertuju pada pria dengan balutan jas biru tua yang masih belum jauh dariku.


Willy berhenti dan berputar menghadapku.


Restoran seketika sunyi.


Semua pasang mata menatap kami berdua bergantian.


Kuangkat steak yang baru saja di bawakan pelayan.


"Pranggggkk!!"


Willy dengan wajah terkejut mengelap wajahnya yang terkena atau tepatnya terlempar steak panas yang dengan sengaja ku lempar.


"Apa kau lupa? Ini hari anniversary kita, sayang"


"Dan steak panas itu sebagai hadiah dariku," ucapku sebelum akhirnya meninggalkan restoran.


Sam yang bodoh? Dia telah mati. Mulai detik ini,


hanya ada Sam yang telah berevolusi.


Cinta dan tragedi jika terjadi bersamaan terasa seperti komedi yang membuat siapapun cepat dewasa.


...***...


"Kau pikir itu lucu!?," bentaknya dengan mata merah.


Willy mengikutiku dengan mobil sportnya hingga ke parkiran apartemenku. Aku bisa melihat bekas saos di ujung lehernya dan juga di jas mahalnya. Wajah merahnya terlihat jelas seperti terbakar, entah terbakar karena steak panas atau akibat amarahnya yang sudah sampai level maksimum.


Ia mendekat dan mendorongku ke dinding.


"lepaskan! jauhi aku! kita sudah putus!," teriakku dan mencoba melepaskan tanganku tapi nihil, ia lebih kuat menahan kedua pergelangan tanganku keatas bahkan hanya dengan satu tangan.


Tangan kanannya mencekik leherku hingga membuatku susah bernafas. Dasar psikopat gila!.


"Wil! ukh.. He-hentikan-engh!," ucapku terbata-bata, mataku mulai berkaca-kaca.


Willy menekan tubuhku, aku bisa merasakan nafasnya di tekukku, "kau pikir karena kau calon tunanganku, aku tak bisa melenyapkanmu, Sammy? Ingat kau bukan tuan puteri lagi,"


Willy menatapku nanar dengan bernapas sangat cepat, namun sepersekian menit ia mulai bisa mengontrol emosinya dan melepas cekikannya yang berganti menahan pundakku.


Inilah yang kusuka dari Willy, ia sangat mudah mengontrol amarahnya dan kembali tenang. Mungkin sifat ini juga yang membantu dengan mudahnya berselingkuh atau aku saja yang memang terlalu bodoh?.


"aku akan melupakan semua perbuatan bodohmu yang mempermalukanku itu tapi kau harus katakan pada ayah bahwa kaulah yang memutuskan pertunangan kita," bisiknya pada telingaku dengan suara beratnya yang dingin.


Tangan dingin itu akhirnya melepaskan tubuhku, mata hazelnya menatapku tajam sebelum ia kembali masuk ke mobil kesukaannya.


Aku hanya diam membeku menatap mobil sport biru tua itu melaju meninggalkanku.


Kakiku lemas hingga aku tersungkur ke tanah.


"WILLY BAJINGAN, AKU TAK AKAN MEMUTUSKAN PERTUNANGAN KITA! BAJINGAN GILA PSIKO!!! ," teriakku dan tentu saja diakhiri dengan tangis.


Aku menghapus air mataku. Camkanlah ini Willyku tersayang, aku Sam tak akan melepaskanmu bahkan meski kamu menyelingkuhiku dengan beratus wanita.


Tidak sampai kau juga hancur!.


Pria sialan sepertinya harus memohon di bawah kakiku, dia yang berselingkuh maka yang harusnya marah itu aku, bukan dia!.


"aku tak akan hancur sendiri! Kau juga harus hancur bersamaku! Hahaha! " ucapku sendirian dengan tawaku yang menggema di parkiran yang sunyi.

__ADS_1


aku pastikan satu hal ini, bahwa bukan hanya kamu yang sakit jiwa, aku juga!.


***


__ADS_2