Baby, Dont Stop It!

Baby, Dont Stop It!
Part 4. Contract


__ADS_3

..."Kita tak pernah sadar ini cinta sampai saat kita melepasnya"...


...-Joah...


...*...


...*...


Sam membuka pintu mobil milik Carley yang ia pinjam. Ia memasukkan barang-barangnya dan setelahnya ia masuk ke dalam mobil. Dengan kecepatan penuh ia menaikkan gas dan mengendarai mobil menuju apartemen barunya.


***


"Jadi kau sudah memecatnya?," tanya Willy sambil memakan biskuit cokelat yang tersaji di meja.


"Ya seperti yang kau inginkan," jawab Joah sambil meresap kopinya.


Willy menyeringai, seringainya itu membuat Joah semakin penasaran.


"Apa kau melakukannya untuk balas dendam?,"


Willy menatap Joah yang terlihat ingin tau.


"Yaa.. bagaimanapun ia telah menyelingkuhiku, wanita ****** itu"


Joah meletakkan cangkir putih dengan ukiran ala eropa itu.


"Ah, ngomong-ngomong tentang wanita ******, katanya Pristin kakak iparmu berselingkuh, apa abangmu tau tentang itu?,"


Willy menatap Joah penuh amarah yang tertahan.


"Omong kosong apa yang sedang kau bicarakan?, apa kau mendengarnya dari Sam?,"


Joah menggeleng, "aku di beritahu seorang wartawan, wartawan akhir-akhir ini sangat menakutkan,"


Seorang pria dengan setelan jas hitam masuk lalu berbisik di telinga Willy.


Willy yang mendengar perkataan bawahannya itu seketika menatap Joah sangat dingin dan menusuk.


"Apa maumu Samuel Joah Yordan?!," tanya Willy kesal.


Joah menyeringai sambil melempar beberapa foto ke meja ,"aku hanya ingin menghapus perjanjian poin ke 3 kita dan menggantikkannya dengan rahasiamu,Will,"


Willy melihat foto itu, foto-foto dirinya bersama kakak iparnya Pristin pergi ke salah satu hotel mewah di pinggir perkotaan.


Willy menghela nafas, "baiklah jika itu maumu,"


***


Sam membereskan barang-barangnya. Ia baru saja pindah ke apartemen yang sangat biasa namun dekat dari kantor lamanya.


Setelah selesai membereskan barang terakhir, ia merebahkan tubuhnya di kasur. Betapa melelahkannya hari ini bagi Sam. Ia tak tau apa yang akan ia lakukan besok.


Kini ia telah di pecat. Ia seorang pengangguran sekarang.


Sam berjalan ke kamar mandi, mencuci wajahnya lalu menggunakan masker wajah. Bagaimanapun lelahnya hidup, ia harus memperhatikan kulitnya. satu-satunya aset yang ia miliki adalah kecantikannya.


Ia tidak punya uang untuk ke tempat kecantikan, maka ia harus merawat kulitnya sendiri dengan baik.


"Ting-nong"


Sam terbangun dari rebahannya. Siapa kira-kira yang datang malam-malam begini?, Carley kah? Namun Carley saja tak tau ia sudah pindah apartemen. Atau mungkin induk semangnya yang baru? Mungkin.


Sam berjalan ke arah pintu dan membuka pintu.


"AAH!!! Kau mengaggetkanku Sam! "

__ADS_1


Joah berteriak kaget melihat wajah Sam yang menyeramkan karena tertutup masker berwarna putih.


"Apa yang kau lakukan malam-malam begini?," tanya Sam sambil mempersilahkan Joah masuk ke apartemen barunya.


"Aku hanya sekedar mampir," ucap Joah sambil melihat sekeliling.


Sam mengambil dua gelas kosong dan mengisinya dengan jus jeruk yang ada di kulkas.


"Tapi dari mana kau tau aku pindah kesini?,"


Joah menunjukkan layar handphonenya, " lokasimu terlacak," ucapnya terkekeh.


"Kau masih memiliki aplikasi bodoh itu? jika orang luar tau mungkin kau di sangka penguntit," ucap Sam dan meletakkan dua cangkir jus jeruk di meja.


Joah membuka kotak pizza yang ia bawa, "salah kau sendiri belum un-instal,"


Sam mencoba menyalakan tv namun Joah menghentikan Sam.


"Aku ingin mendengarkan radio," pinta Joah lembut.


Sam berjalan ke arah radio dan menyalakannya, musik Because of you-Kelly Clarkson berputar mengisi ruangan.


"Apa kau baik-baik saja, Sam?," tanya Joah dengan nada sedikit khawatir.


Sam berbalik menatap Joah kesal, " bukannya kau bilang kau tak peduli?," ucap Sam dengan suara kecil, ia takut maskernya retak.


Joah memakan pizza dengan lahap, "cuci dulu wajah menakutkanmu itu,"


Sam lagi-lagi menurut seperti yang di suruh Joah. Ia berjalan ke kamar mandi dan mencuci wajahnya.


"Sisakan pizza-nya," teriak Sam dari dalam kamar mandi.


Joah selalu terlihat berbeda jika di luar kantor, Sam sangat merasakan perbedaannya. Sam tau yang membuat Joah terlihat sangat serius di kantor adalah karena beban Joah terhadap perusahaan peninggalan kakeknya.


Joah adalah tipe yang tak mau dikalahkan kakaknya yang sudah menjadi pengusaha international. Ayahnya yang selalu membeda-bedakan mereka berdua, membuat Joah begitu tertekan batin.


Sebelum Carley berpacaran dengan Joah, Sam dan Joah sudah cukup kenal. Mereka berdua memiliki hubungan karena sejak TK hingga kuliah mereka bersekolah di tempat yang sama hanya saja selalu di kelas yang berbeda dan jurusan yang berbeda pula.


Jadi tak ada yang tau bahwa mereka berteman, kecuali orang tua Sam dan Daniel.


Saat SMA, Joah sering diam-diam menginap di rumah Sam jika ia di usir oleh ayahnya. Joah dulu cukup badung, itulah yang membuatnya cukup dekat dengan Daniel.


Daniel badung karena keluarganya begitu memanjakannya, namun Joah badung karena tekanan dari ayahnya.


Sikap badungnya hilang ketika kakek yang menyayanginya meninggal.


Sam duduk di samping Joah dan ikut memakan pizza dengan toping keju mozarella itu.


Dengan lahap mereka berdua memakannya, mereka makan tanpa berbicara.


"Joah," panggil Sam lembut memecahkan keheningan di antara mereka.


"Apa kau akan baik-baik saja?,"


Joah menegak jus jeruknya, " memangnya kenapa denganku?,"


"Kau tak akan melihatku di kantor lagi, maksudku, kau pasti sangat kesepian tanpa diriku," ucap Sam sambil berwajah sedih yang di buat-buat.


Joah tersenyum geli dan menarik kedua pipi Sam, "jika aku melihatmu dari dekat, kau semakin terlihat bodoh,"


"Diamlah!,"


Joah terkekeh, "harusnya kau menggoda Willy seperti itu,"


Sam memanyunkan bibirnya, "Willy hanya akan tertarik dengan Pristin,"

__ADS_1


"O'ho.. kau cemburu sekali ya, Sam?," goda Joah dengan kekehannya


Sam menatap sebal Joah, "kau tau, kanperasaanku sama seperti melihat Carley bersama Daniel,"


Joah menatap sinis Sam, "Jangan sebut nama dua orang itu,"


Sam tersenyum usil, "O'ho, kau cemburu sekali ya, Joah?,"


"Temanmu saja yang buta, jelas-jelas aku lebih baik dari si brengsek itu," bela Joah kesal


"Betul, Aku juga lebih cantik dari Pristin,"


Joah memandang Sam dengan tatapan mengintimidasi.


Ayolah, Pristin itu meski sudah beranak satu, dia adalah seorang model ternama.


Sam memanyunkan bibirnya, "apa-apaan tatapan menghina itu! dengar ya Joah, Aku tau aku tak secantik Pristin tapi.." Sam meremas dadanya menggoda, "dadaku lebih besar loh,"


Joah menelan salivanya, wajah Sam yang sebenarnya cukup cantik dan dada yang besar itu membuatnya sedikit merasa kepanasan.


Sam menatap Joah dengan tatapan menggoda "Bagaimana? Apa aku masih kurang cantik, Joah?,"


Joah sedikit mundur dari Sam, "laki-laki tak selalu melihat hal seperti itu,"


Sam menghela napas dan bersender ke sisi kursi, "hah !.. aku memang benar-benar tak cantik ya?,"


Joah mengangguk setuju dan mendapat jitakan keras sebagai balasan dari Sam.


Joah mengalihkan pembicaraan " jadi berapa harga apartemen di sini?,"


"Kenapa? Kamu mau bayarin yaa?," tanya Sam dengan raut wajah bahagia.


Joah menggeleng, "aku mau pindah,"


Sam menatap Joah tak percaya, " kau bercanda? Tuan muda kaya raya akan pindah ke apartemen kumuh ini? is not Funny,"


Joah menatap Sam serius, " aku serius, uangku sudah hampir habis untukku investasikan, rumahku mungkin sebentar lagi akan di jual.. aku tak tau berapa lama perusahaanku akan bertahan," ucapnya dengan begitu menyedihkan.


Sam menaikkan kakinya ke kursi dan melipat kakinya seperti akan bertapa, ia mencondongkan tubuhnya ke arah Joah dan menatap Joah serius, "sebenarnya aku sedang mencari teman sekamar," ucap Sam pelan.


Joah memandang belahan dada Sam yang berada tepat dihadapannya, dan matanya juga teralih ke bibir pink Sam yang membuat tubuhnya bergetar, namun Joah tetap berusaha fokus mendengarkan Sam.


Sam melanjutkan ucapannya, " bagaimana kalau kita tinggal di satu apartemen, maksudku, kita bayar apartemen 70-30,"


"Hey, 70-30 itu tidak adil," ucap Joah tidak suka.


"Aku akan memasak makanan untukmu, sarapan dan makan malam itu akan lebih menghemat biaya, bagaimana?," tanya sam pada Joah


"kau juga yang membersihkan apartemen, mencuci baju dan semua pekerjaan rumah?,"


Sam mencubit lengan Joah, "enak saja... itu kita lakukan bersama, kecuali kau yg membayar 100% tempatnya dan listrik juga air,"


"Oke, deal "


Sam menatap Joah tak percaya, "kau yakin?,"


Joah mengangguk, "tentu saja.. jika kamu yg melakukan semua pekerjaan rumah akan sangat membantu dan menghemat uang"


Joah menatap Sam, Sam menatap Joah. Mereka saling mengulurkan tangan dan saling berjabat tangan menyatakan mereka setuju.


Joah melihat sekeliling apartemen Sam, " tapi jika di apartemen ini, kurasa tak akan cukup untuk kita berdua,"


Sam tersenyum seperti mendapat wahyu, "tentu saja bukan di apartemen ini, bodoh,".


Joah menatap Sam penuh tanya.

__ADS_1


Kira kira apa ya ide Sam?.


***


__ADS_2