
..."Tak akan ada tamu di antara kita jika bukan kamu yang membuka pintunya,"...
...-Joah...
...*...
...*...
"Jadi dia ini?!," teriak Joah memenuhi isi ruangan.
Carley menangis sesunggukan melihat Daniel yang tak bergerak dan bersimbah darah.
Joah mendorong meja hingga terpelanting, rasanya ia sangat kesal sampai tak bisa mengendalikan tubuhnya sendiri.
"Hentikan Joah, hentikan!," Teriak Carley dengan suara serak yang setengah hilang. Ia ketakutan melihat mantan pacar yang baru saja putus semenit tadi.
Joah melirik Carley dari ujung matanya, ia tak habis pikir wanita selugu Carley bisa menyelingkuhinya dengan sahabatnya sendiri.
"Kau wanita gila!...akan menyesal melakukan ini padaku.. Carley"
***
Sam berdiri mematung. Ia baru saja tiba di rumah sakit dan betapa kagetnya ia melihat Carley yang menangis dengan pakaian yang penuh bercak darah.
"Carley?! Ada apa? Apa yang terjadi?!,"
Carley melihat kearah Sam, teman baiknya itu. Air matanya semakin deras melihat wajah sahabatnya yang begitu khawatir.
"Daniel tolong, Joah memukulnya.. " ucap Carley tak jelas dengan sesunggukan.
Sam yang merasa tau apa yang telah terjadi memeluk Carley erat. "Tenang, dia akan baik-baik saja," ucap Sam sambil menepuk pundak Carley lembut.
Dalam keheningan lorong rumah sakit, diam-diam Carley yang lelah dengan semua kejadjan tadi tertidur damai di pelukan sahabatnya itu.
Sam membaringkan Carley di kursi tunggu, ia berdiri cemas menanti keluarnya dokter dari ruang ICU.
Daniel si bodoh itu memang hanya bisa menyusahkan saja. Sudah lama Sam melarang hubungan diam-diam antara Carley dan Daniel ini, tapi mereka tetap berhubungan di belakang Joah tanpa ada niatan untuk putus terlebih dahulu.
Apalagi Daniel adalah teman baik Joah. Walau mereka teman baik, tapi mereka berdua memiliki kepribadian yang bertolak belakang.
Joah adalah pria yang giat bekerja, dingin, pintar, dan bertingkah seperti pria sukses pada umumnya.
Sedang Daniel adalah pria yang suka bermain-main, gombal sana-sini. Benar-benar seperti pria sialan pada umumnya.
Sam benar-benar tak habis pikir dengan kebodohan sahabatnya ini. Bagaimana bisa ia lebih memilih pria sialan ketimbang pria sukses?.
Entah apa yang membuat Daniel lebih baik di mata Carley. Sam yang seorang wanita saja tak paham.
__ADS_1
Tapi yang Sam tau pasti adalah rasa sakit hati Joah ketika mengetahui pacar tercintanya berselingkuh dengan sahabatnya sendiri. Betapa sialnya Joah. kesialan yang serupa dengan Sam.
Sam sangat mengerti karena dia juga baru saja mengalami perselingkuhan oleh mantan pacarnya. Jika ia menjadi Joah, mungkin Daniel sudah di liang kubur sekarang.
Yap, Sam mungkin akan mematahkan lehernya dan memisahkan kedua kakinya.
Sam tersenyum geli membayangkan kejahatan-kejahatan yang akan ia lakukan.
Seorang dokter beserta perawat keluar dari ruang ICU. Sam dengan cepat mendekat kearah dokter.
"Apa dia baik-baik saja, dok?,"
Dokter mengangguk lembut, "dia baik-baik saja, hanya tulang kakinya lebam dan tangan kirinya terkilir,"
Sam rasa itu tidak baik-baik saja. Bagaimanapun ia cukup mengacungkan jempol atas pembalasan Joah terhadap Daniel.
"Nona, saya butuh tanda tangan wali untuk mengisi formulir," ucap perawat sambil melakukan gerakan tubuh untuk mengikutinya.
Sam melepas jaketnya dan menyelimuti Carley yang tertidur lelap sebelum akhirnya ia pergi mengikuti perawat tersebut.
***
"sudah sadar?," tanya Sam dingin menatap Daniel dengan Carley yang membantunya untuk di posisi duduk.
Daniel terbatuk-batuk lalu tersenyum manis menatap Carley yang dengan lembut menepuk punggungnya.
"terimakasih sudah membantu kami," ucap Daniel menatap Sam dengan wajah yang berkebalikan dari tatapannya kepada Carley. sangat dingin dan menyebalkan.
Sam mengangguk, "sudah berapa kali aku nasehati, jangan melakukan ini, akhiri dulu hubungan lama, untung saja kekasih gelapmu ini tidak mati, tapi yasudahlah aku pergi dulu,"
dengan malas Sam melambaikan tangan dan pergi begitu saja meninggalkan sepasang insan yang menganggap angin lalu perkataannya
***
"kau belum katakan juga pada ayah?," tanya Willy penuh intimidasi.
Sam hanya mengaduk minumannya malas, mengapa ia harus bertemu pria ini di cafe secara tidak sengaja begini.
"mulutmu bukan hanya dekorasi Willy, kau saja yang beri tahu," balas Sam malas dan berniat pergi namun Willy mencekal tangan Sam.
"kau benar-benar sangat berani ya? Apa ucapanku kemarin tak membuatmu takut?," tanya Willy dengan seringai.
Sam melepaskan cengkraman Willy, "apa aku harus takut? Kau yang berselingkuh dan aku yang ketakutan? apa ini hari kebalikan? Bahkan lalaatpun tertawa mendengar ucapanmu Wil,"
Dengan terburu-buru Sam melangkah menjauhi Willy yang sudah tertawa keras di meja. dasar psikopat maki Sam dalam hati.
Tanpa sadar langkah Sam sudah sampai ke parkiran dan langsung masuk ke mobilnya namun seorang pria dengan jas lengkap ikut masuk.
__ADS_1
"si-siapa kau?!,"
"Tuan Willy memerintahkan nona untuk ikut ke mansion,"
Sam berdecih dan keluar dari mobil, matanya menemukan pria dengan kaos hitam berjalan kearahnya.
"kau tak akan bisa pergi kemanapun," bisik Willy di telinga Sam sesekali merapihkan anak rambut Sam.
***
"menantuku, sudah lama kau tak datang kemari," sapa pria berkisar 60 tahun dengan senyum hangat yang memancarkan ketampanan yang tak di telan usia.
San tersenyum lembut dan Willy merangkul pinggangnya mesra, "kau harus mengatakannya," bisik Willy yang hanya terdengar oleh telinga Sam.
"tuan Watts aku ingin menyampaikan sesuatu," ucapku malas berbasa-basi.
"ada apa itu calon mantuku?,"
"kami ingin membatalkan pertunangan kami, karena kami sudah tidak cocok,"
"Tidak bisa! Pertunangan ini aku buat dengan ayahmu Sammy! Jika kalian membatalkannya begini bagaimana aku bertemu ayahmu di akhirat nanti?!,"
Sam menepuk pundak calon mertuanya yang gagal itu pelan. Yah, mau bagaimana lagi ia tak mau mati di tangan calon suaminya.
"Willy, ini pasti karena kau kan! Kau yang meminta Sam untuk menyerah pada pertunangan ini?!,"
Sam dengan cepat menggeleng, "bukan tuan Watts, ini memang pilihan kami berdua,"
"Nak, jika kau diancam oleh putra bodohku ini katakan saja,"
Willy dan Sam saling pandang, "tidak tuan Watts, kami memang tidaklah cocok,"
Tuan Watts menghela napas, "baiklah kuberikan kalian waktu 1 bulan untuk memikirkannya kembali, bagaimanapun ini sulit bagi ayah, apalagi keluarga Rose sudah membantu ayah sangat banyak,"
Sam tersenyum lembut sebelum akhirnya pamit pulang.
Di dalam mobil Willy hanya diam tak bergeming, Sam juga hanya memandangi pemandangan di luar dari kaca jendela.
"kau harus meyakinkan ayah," perintah Willy tegas.
"hah..." Sam menatap mantan tunangannya itu dalam. mobik berangsur-angsur berhenti tepat di parkiran.
"akhir yang buruk untuk kita berdua, aku bertanya-tanya dimana letak kesalahan hingga kita bisa sampai seperti ini. tapi yang bisa kudoakan kita tak bertemu lagi," pamitku dan turun dari mobil.
"hah... Mengapa hatiku sakit," bisik Willy pada dirinya sendiri.
***
__ADS_1