
..."Jika hari ini tidak pernah ada, apa kita akan baik-baik saja?,"...
...-Joah...
...*...
...*...
Suara tv terdengar, Sam duduk di lantai sedangkan Joah tiduran di sofa. Mereka sedang menonton film action yang entah apa judulnya.
Sam menyenderkan bahunya di sofa, membiarkan rambutnya menutupi wajah Joah.
"Aku bosan~," ucap Sam tak berdaya.
Joah menghalau rambut Sam dari wajahnya lalu memain-mainkannya. Sepertinya Joah juga sangat bosan dengan film yang tak tau apa judulnya ini.
"Tumben kamu di sini, Kamu gak ada kerjaan kantor?," tanya Sam masih dengan posisi malasnya.
"Aku sudah menyelesaikan semuanya,"
Sam teringat sesuatu dan tiba-tiba saja berdiri lalu berlari kecil ke kamarnya.
Sam keluar dari kamarnya dengan senyum yang mengembang.
"Kamu kenapa?," tanya Joah bingung.
Sam menunjukkan 3 botol wine dengan alkohol tinggi dan kualitas bagus yang pastinya mahal, "Taraa!!"
Joah bangun dari posisi berbaringnya, "wow, dari mana wine-wine itu?,"
Sam meletakkan 3 botol wine dengan merk Cabernet Sauvignon itu di meja makan dan membuka kulkas. "Dari siapa lagi kalo bukan dari si sialan, Willy,"
Joah menggeleng tak percaya, "kau masih menyimpannya?,"
Sam mengeluarkan beberapa bahan makanan,
"Dia memang laki-laki sialan, tapi wine ini tak memiliki dosa," ucap bijak Sam yang membuat Joah tertawa.
"Aku akan memasak steak untuk wine mahal ini, dan kau.." tunjuk Sam pada joah, " cepat mandi dan berpakaian rapih karena kita akan merayakan apartemen baru kitaaaa~"
"Sam, sangat terlambat untuk melakukan party," ucap Joah malas.
"kamu pikir salah siapa? kamu yang terlalu sibuk akhir-akhir ini, cepat mandi sana,"
Joah terlihat begitu ogah-ogahan namun akhirnya ia melakukannya juga.
Setelah Joah selesai mandi, Sam bergantian mandi dan mengenakan gaun hitam pendek yang tak pernah ia kenakan. Sam sangat ingat, dia membeli gaun ini untuk hari valentine bersama Willy. Siapa sangka ia malahan mengenakannya saat bersama Joah.
Dengan cepat Sam men-catok rambutnya dan memakai riasan tipis di wajahnya.
Ketika Sam keluar dari kamarnya. Joah menatap Sam tanpa berkedip, Sexy .. itulah yg terlintas dipikiran Joah saat pertama melihat Sam.
"aku berlebihan ya?," tanya Sam malu-malu.
"eng--, tidak juga," ucap Joah yang ikutan malu-malu.
Aura canggung melingkupi mereka berdua.
"Hanya saja tubuhmu kemana-mana," ungkap jujur Joah.
Sam mengibaskan rambutnya, merasa sangat bangga.
"O'ho~..apa kau tergoda dengan tubuhku Joah?," tanya Sam sambil bergaya genit layaknya model majalah playboy.
Joah menghidupkan lilin di meja makan tak peduli dengan tingkah Sam, "perut buncitmu dan paha besarmu merusak mataku"
Sam tertohok mendengar hujatan Joah yang sangat menusuk.
"Lagi pula apa kamu tidak merasa dress-mu itu kependekan,?," tanya Joah yang sejujurnya tergoda dengan lekuk tubuh Sam.
Sam melihat ke arah AC," kupikir tak apa-apa selama AC-nya tidak terlalu dingin."
"Kurasa ada yang perlu kamu takuti selain dingin," ucap Joah pelan hampir tak ada suara.
"lagi pula ini dress mahal tau, harusnya kau sujud syukur sekarang karena melihatku mengenakan dress mahal ini,"
"Cih, Itu hanya kain," balas singkat Joah membuat Sam menggerutu sebal.
Joah mematikkan lampu dan membiarkan lilin menjadi penerang di tengah kegelapan. Sam menuangkan anggurnya dan menghidangkan steak. Perlahan ia meletakkan steak dihadapan Joah.
Entah bagaimana mata Joah hanya memandang tubuh Sam yang berada di dekatnya. Semerbak bau parfume mawar Sam begitu menggoda di penciuman Joah.
__ADS_1
Sam memang tidaklah begitu cantik seperti wanita-wanita di sekeliling Joah. Sam juga sama sekali tidak imut, tak manis, dan benar-benar genit dan tidak sopan.
Namun tak ada yang dapat mengalahkan tubuh Sam yang sangat sexy terutama di bagian dada dan bokongnya. Kulitnya juga putih mulus dengan pinggang yang ramping.
Sam meminum perlahan wine miliknya dan memakan steak-nya.
"Waw, aku memang chef terhebat.. ini benar-benar kombinasi yang cocok," puji Sam sambil menikmati wine dan steak buatannya.
Joah memotong steak-nya namun konsentrasi matanya tak terlepas dari Sam.
"Hey Joah, apa kau masih memikirkan Carley?"
Joah meminum wine nya dengan sekali tegukan lalu menuangkannya lagi. Melihat gelagat Joah, Sam merasa bahwa Joah sangat merindukan Carley.
Padahal nyatanya, Joah tidak mendengarkan pertanyaan Sam sama sekali, Joah sedang sibuk menahan dirinya dari godaan di depan matanya.
Sam bangun dari kursinya dan duduk di samping Joah. Sam merasa sangat kasian pada Joah, Seperti melihat dirinya sendiri saat ditinggal Willy.
"Tak apa, Joah. Tak apa untuk tak baik-baik saja. Aku mengerti perasaanmu, rasanya sakit sekali bukan?,"
Sam memeluk Joah erat.
"Sam, kau sedang apa?!" Tanya Joah yang sangat kaget dengan pelukan Sam yang begitu tiba-tiba.
"Sebagai teman se-apartment, aku hanya ingin memberimu dukungan, aku mengerti rasanya diselingkuhi, tapi kamu harus tetap kuat,"
Perselingkuhan? apa yang sebenarnya di katakan Sam? Joah tidak mengerti sama sekali. Namun Joah merasa tubuhnya mulai memanas.
Ini terjadi bukan karena perkataan Sam yang terdengar selayaknya sahabat baik, namun karena dada Sam yang bergesek dan menempel ditubuh Joah. Bagaimanapun ia adalah pria normal. Tak ada pria yang bisa bertahan di posisi ini.
Joah benar-benar tak dapat menahan dirinya lagi. Saat ini ia yakin 100%, Sam sedang menggodanya.
Kini tinggal menunggu reaksi Joah, ikut menggoda Sam atau segera mengutuki Sam dan mengakhiri malam yang sangat panas ini.
Joah menyeringai, bagaimana mungkin ia melepaskan kelinci yang datang sendiri ke sisinya?.
Malam ini Joah harus memberitahu Sam, bahwa teman se-apartmentnya ini adalah serigala yang buas.
"Sam, untuk merayakan party kita, maukah kau meminum sebanyak mungkin botol wine ini untukku?," goda Joah pada Sam.
Sam melepaskan pelukannya. ia merasa di tantang oleh Joah.
Bohong, jelas sekali Sam lemah alkohol. Makanya, ia selalu menyimpan wine pemberian Willy agar ia jual kembali.
Sam menegak wine langsung dari botolnya. Joah menyalakan musik untuk memeriahkan pesta kecil mereka.
"Kamu sangat hebat Sam," puji Joah dengan tawa dan tepuk tangan.
Joah ikut meminum botol lainnya. Mereka saling bercanda dan tertawa.
"Ah!,aku tak kuat lagi," ucap Sam dengan pipi memerah.
Joah meraih botol milik Sam yang baru habis setengah dan meminum sisanya dengan cepat hingga habis tak tersisa.
"Aku juga tak dapat menahannya lagi Sam, kau terus saja menggodaku," ucap Joah sambil memandang wajah Sam yang sudah sangat mabuk.
Sam mendengar itu hanya merespon dengan kekehan kecil. Perlahan ia mendekatkan wajahnya ke wajah Joah.
Sam memandang wajah Joah dari dekat, Joah memang sangat tampan.
"iblis tampan, apa kau ingin menciumku sekarang?" bisik Sam menggoda.
Joah tanpa aba-aba langsung menarik kepala Sam dan mencium bibir Sam lembut.
Sam sedikit terkejut dengan reaksi Joah namun ia mulai terhanyut, Sam menutup matanya dan membalas ciuman Joah lebih dalam. Joah yang sadar ciumannya di balas semakin ganas dan menarik Sam ke pangkuannya.
Joah menciumi bibir Sam lalu turun ke leher jenjangnya, dengan nakal ia menggigit leher Sam dan membuat bekas merah di sana.
"Aku selalu penasaran Sam, mengapa kau mengajakku tinggal bersama?," tanya Joah dengan suara berat yang menggoda.
"Aku-" belum sempat Sam menjelaskan Joah kembali mencium bibir Sam.
"Kau pasti mengharapkan tidur denganku, kan?," bisik Joah sesekali mengigit daun kuping Sam, dimana itu bagian sangat sensitif bagi wanita.
"Joah~, aku tak tahan lagi, " ucap Sam sesekali mendesah, menjambak pelan rambut hitam milik Joah.
Joah menyeringai, kelinci itu kini telah terperangkap dan sebentar lagi, serigala ini akan memakannya.
"Lakukan Joah" pinta Sam, wajahnya kini kian memerah.
"Tentu, Asal kau akan terus melakukannya denganku,"
__ADS_1
Sam mengangguk lemah, "aku akan terus melakukannya denganmu, Joah sayang,"
Joah mengecup kening Sam lembut.
"Baiklah sayang, karena kau yang memintanya, Kita akan sering melakukannya mulai sekarang," bisik Joah dengan seringai nakal.
Sam hanya menikmati malam panjang itu, tanpa menyadari ucapannya yang akan menjadi masalah besar untuknya.
Entah bagaimana mereka telah melakukan apa yang seharusnya tidak pernah mereka lakukan. Atau sebenarnya selama 2 minggu terakhir mereka diam-diam mengharapkan hal ini terjadi. Entahlah, hanya mereka berdua yang mengetahui perasaan mereka masing-masing.
***
Samar-samar suara dengkuran kecil menggelitik di telinga Sam, membuat Sam sedikit menghindar. Secercah cahaya dari balik celah horden jendela membuatnya perlahan membuka mata. Ia dapat merasakan sebuah tangan dan kaki yang memeluknya dari samping.
"Engh.." Sam mendesah pelan, ia masih belum mendapatkan seluruh kesadarannya.
Sam memandang sekitar, ini adalah kamarnya. ia melihat setiap pakaian yang berantakan di lantai dan disampingnya terdapat Joah tanpa sehelai kain yang masih mendengkur kecil.
Seketika Sam bangkit dari posisinya, Ia mencoba mengoptimalkan ingatannya meski kepalanya masih sakit akibat wine semalam.
Apa yang terjadi? Bagaimana semua ini bisa terjadi? Semua pertanyaan itu berputar di otaknya.
Ia tak pernah membayangkan hal ini akan terjadi pada dia dan Joah. Dan ia tidak tau harus berbuat apa sekarang.
Haruskah ia berteriak? seperti yang biasa dilakukan tokoh utama ketika berada di posisi ini. Atau kembali tidur dan menunggu reaksi Joah? atau pura-pura mati? atau haruskah ia bunuh diri?!. Sam tak tau reaksi apa yang harus ia lakukan sekarang karena ia benar-benar shock.
Mata Sam memandang pantulan dirinya di cermin.
Sekilas ingatan semalam muncul di kepalanya, ingatan itu membuat tubuh Sam bergidik ngeri.
Sam mencoba melepas pelukan Joah dari perutnya, namun yang terjadi adalah Joah terbangun.
Joah mengerjap matanya lalu menatap wajah Sam yang terlihat kelelahan dan juga kebingungan.
Joah kembali memeluk Sam.
"Emm.. Sayang, Kamu sudah bangun?," sapa Joah dengan suara serak efek baru bangun.
Sam melepas tangan Joah dari tubuhnya dan dengan cepat menarik selimut menutupi tubuhnya.
"apa katamu?! Sayang?! Apa Kau gila? Apa yang terjadi?!," tanya Sam panik.
Joah menatap Sam dengan wajah lelah,"apa kau tak ingat?,"
Sam menggeleng,
Joah meletakkan kepalanya di paha Sam dan kembali menutup matanya, "kau terus meminta agar kita melakukan ini dan itu,"
"ini dan itu?!," tanya Sam tak mengerti.
"Ya, ini dan itu," ulang Joah pelan dan mencoba kembali tidur.
Suara dengkuran kecil kembali keluar dari bibir Joah. Sam tak habis pikir bagaimana bisa Joah begitu santai begini?.
Sam memukul jidat Joah keras hingga kening Joah memerah.
"AW!," Joah memegang keningnya dan terbangun dari posisinya. Ia menyenderkan punggungnya di sebelah Sam.
Perlahan ia menengok kearah Sam sambil mengelus keningnya yang sakit.
"Sakit, sayang,"
"Ini dan itu? Apa maksudmu?!,"
Sam menengok ke arah Joah dengan wajah kesal dan juga bingung, Sam tak mengerti sama sekali.
"Kau merengek ingin kutiduri," ucap Joah terkekeh.
"Aku?," tanya Sam tak percaya.
Joah mengambil handphonenya dan menyetel rekaman suara.
Suara Sam berputar.
"Aku akan terus melakukan----,"
"AAAAAAAAAAAAAA!!!," Sam berteriak kencang, ia ingat semuanya sekarang.
"Kamu sudah ingat, sayang? Malam yang panas bukan?," bisik Joah dan mengecup pipi Sam lembut.
***
__ADS_1