
"Seperti ucapan papa sebelumnya.
Hari ini terakhir kalinya kamu tinggal di sini.
Besok, angkat kakimu keluar! Entah bagaimana caramu bertahan hidup terserah kau saja.
Selain pakaian dan ijasah.
Kamu di larang membawa mobil ataupun kartu kredit.
Anggap saja ini ujian untuk anak urakan sepertimu. Papa akan menunggu selama empat tahun, jika kamu tetap tidak berubah dan tidak lulus kuliah dengan nilai baik.
Semua harta turun temurun ini akan papa sumbangkan pada yayasan amal. Dan silahkan menjadi gelandangan seutuhnya. " Ucap Tuan Teja Rahardika pada putra semata wayangnya Alfareza Rahardika.
Nada bicara Pria tua itu sangat dingin membuat ruangan mewah itu terasa berat.
Reza hanya menundukkan wajah dengan ekspresi geram. Tidak seperti hari-hari sebelumnya yang mana
dia selalu berontak saat papanya memarahinya.
Kali ini bibirnya kaku untuk menyela amarah orang tua itu.
Sebelumnya, Reza sudah melakukan berbagai
cara agar pria tua di hadapannya itu mau membatalkan keputusannya, Reza sangat enggan untuk hidup susah di luar.
Namun semua upayanya sia-sia. Bahkan ibunya yang selalu memanjakannya dengan berbagai harta, hanya bisa diam mematung dan menangis sesengukan di pojok ruangan.
"Pa, bukannya ini terlalu kejam buat Reza,
Mana bisa anak semuda reza bertahan hidup di luar sana, hiks.." Tangis Ny. Nova pecah mendengar keputusan suaminya yang seolah telah final.
Wanita itu berlari berhamburan memeluk anaknya yang terlihat menahan amarah.
"Tidak! Ini tidak kejam, apa kau sadar, kau terlalu memanjakannya dari kecil. Untuk apa kita terus memelihara sampah seperti dia,
Jika isi otaknya sama saja dan selalu memikirkan perkelahian, aku akan benar-benar menyumbangkan semua harta ini kepada yayasan amal, " Cerca tuan teja dengan luapan emosi.
Dia kemudian mengeluarkan selembar kertas dari balik jasnya.
"kontrak sudah aku persiapkan, Heh! Kamu anak badung. Tanda tangani ini dan persiapkan dirimu besok! Rasakan kerasnya kehidupan jalanan seperti watakmu yang keras itu. "
Reza dengan kepalan tangan memerah melangkah maju kedepan meja dimana pria itu membanting secarik kertas. Papanya memang selalu keras padanya sejak kecil, hanya mamanya yang selalu melindungi dan terus memanjakannya.
Reza kemudian mengambil secarik kertas itu dan membaca kontrak yang tertulis di atasnya.
Selang dua menit dia membaca kontrak itu, dia mengerti bahwa dia sedang dalam posisi yang sulit.
Hanya ada tiga hal sederhana di kontrak itu yang perlu dia lakukan. Namun ke tiga hal tersebut sangatlah terasa berat bagi Reza.
Pertama, selama dia di usir dari rumah, dia tidak boleh terlibat dalam masalah kriminal apapun.
__ADS_1
Kedua, dia tidak boleh berhutang dan tidak boleh memakai nama keluarga untuk menyelesaikan urusannya, yang artinya dia harus menyelesaikan masalahnya sendiri dan harus menyembunyikan identitas keluarganya.
Dan yang ketiga, dia harus lulus kuliah dalam empat tahun, dia juga harus mencari tempat kuliah sendiri dan membayar semuanya sendiri. Jika salah satu persyaratan itu tidak terpenuhi maka semua warisan keluarga Rahardika yang tidak pernah habis selama dua puluh turunan
akan sepenuhnya di sumbangkan ke yayasan amal setelah kematian papanya.
Begitu pula jika Reza lulus dalam ujian tersebut. Dirinya akan di beri hak penuh atas semua harta dan aset yang ada saat ini.
Reza mengambil pena di depannya dengan tangan menegang, keringatnya mengembun
di keningnya dan siap untuk menguap. Dia mulai men tandatangani kertas itu dengan mendecakkan lidah.
Dia bahkan tidak memiliki pilihan lain untuk menolak keputusan papanya yang dia anggap sebagai pria paling jahat di dunia.
"Apa sekarang papa puas? Tapi setelah
semua ini ku lewati, akan ku rebut semua harta papa dan aku sendiri yang akan menendangmu keluar dari sini." Pekik Reza dengan mata menjurus kedepan,
dia memandang ayahnya seolah menerima tantangan dari musuh bebuyutan nya.
Dia yakin dan mampu melakukan
ketiga hal tersebut dengan mudah, harga diri Reza memang sangat tinggi, itu sama persis seperti watak pria tua di hadapannya, mungkin karena mereka memiliki sifat gen yang sama. Reza bahkan tidak terlihat merengek untuk bernegosiasi lagi dengan lelaki itu.
"Baik, terserah kau saja! Sekarang Persiapkan dirimu dan angkat kakimu dari rumahku besok. "
Tuan rumah dengan wajah datar itu kemudian berdiri dan mengambil kontrak yang sudah tertanda tangani di atas meja dengan kasar. Dia kemudian keluar dari ruangan itu meninggalkan Anak dan istrinya yang dalam keadaan terguncang.
Tangis Ny. Nova semakin pecah saat suaminya menutup pintu dengan keras.
Dia kemudian menghampiri anak yang sangat di sayangi nya dan akan segera menghiburnya,
namun Reza tidak mengindahkan mamanya dan malah meninggalkan ruangan tersebut dengan langkah cepat.
Baginya semua orang di rumah itu sama saja. Mereka semua adalah orang-orang yang sangat menjengkelkan.
Reza adalah anak tunggal dari keluarga terkaya se-Indonesia, Siapa yang tidak kenal sixth Group. Perusahaan yang puluhan tahun menguasai puncak perekonomian di Indonesia.
Reza baru saja menyelesaikan pendidikan SMK nya pada usia 20tahun.
Tiga kali tidak lulus selama SMK adalah hal lumrah baginya. Bahkan dia berniat tidak ingin lulus sekolah lagi tahun ini jika saja ayahnya tidak memukulinya dan menyuruhnya untuk segera menyelesaikan pendidikan nya.
Reza tidak ingin segera lulus bukan tanpa alasan. Itu lebih kepada dia sudah bersusah payah membangun satu organisasi besar yang mana telah melambungkan namanya di dunia perkelahian antar murid di seluruh sekolahan, dia tidak ingin apa yang sudah di bangunnya dari nol kemudian hancur seketika setelah dia lulus dan keluar dari tempat itu.
Sehari berlalu, Reza selesai mengepak pakaiannya dan akan segera pergi. Sesuai ucapan ayahnya kemarin, saat ini dia hanya membawa pakaiannya saja. Mamanya bersikeras agar anaknya di ijinkan untuk membawa HP agar memudahkan Reza dalam berkomunikasi.
Itupun melalui perdebatan panjang antara tuan Teja dan istrinya Ny. Nova.
Finalnya, akhirnya Reza di izinkan membawa alat elektronik tersebut namun harus menghapus seluruh kontak dan mengganti nomer miliknya.
Baik mamanya atau Reza tidak boleh saling menghubungi, itu titah dari tuan Teja Rahardika.
__ADS_1
Reza keluar dari rumah pagi pagi sekali,
beberapa langkah setelah keluar dari gerbang dia menoleh kembali kebelakang.
Sekali lagi melihat rumah besar mewah yang selalu memanjakannya. Selama ini dia bahkan tidak pernah kekurangan uang.
Membawa mobil Porsche ke sekolah dan mentraktir seluruh teman-temannya di restauran mewah memang sudah menjadi hal biasa di kehiupan nya.
'Akan gua buktikan kalau gua bisa melewati semua ini kepada pak tua sial4n itu. ' gerutu Reza dalam hati. Kepalan tangannya semakin menggenggam erat.
Langkah pertama yang dia tuju adalah rumah Tama, dia adalah salah satu dari empat teman dekatnya di sekolah saat SMK.
Dulu, mereka berlima bersama-sama mendirikan sebuah geng yang bernama Bad Boys. Kelimanya adalah tetua yang mengurusi tiga ratus siswa bawahan. Mereka berlima selalu mengkoordinasikan tempat dan waktu terjadinya tawuran antar sekolah dan mengatur pasukan untuk menyerang sekolah lain.
Satu setengah jam Reza berjalan, membuat kakinya terasa sangat pegal. Di tambah tas besar yang melekat di punggungnya menambah bebannya semakin berat. Sumpah serapah dia lantunkan sepanjang jalan kepada pria tua yang telah membesarkannya.
Dia bahkan tidak memiliki uang satu sen pun untuk sekedar membeli air minum.
Akhirnya dia sudah sampai sesuai alamat yang pernah sahabatnya beri. Reza kebingungan, itu karena bisa saja alamat yang di berikan padanya adalah palsu, namun saat melihat lagi sebuah rumah kecil kumuh bertengger dan berlokasi yang sama dengan kertas petunjuk yang di bawanya, dengan ragu dia mulai menggerakkan langkahnya ke rumah kecil itu.
Tok, tok, tok.
"Woi Tam, Lo tinggal disini kah? " Teriak Reza tanpa sopan. Itu memang watak Reza dalam berbicara.
Beberapa kali ketukan ia tamparkan dengan tidak sabar ke pintu rumah yang memang terlihat usang. Sesaat kemudian seorang wanita berteriak.
"Sebentar! Sebentar! "
Klek!
Pintu di buka dan wajah Reza yang tengah tertunduk kelelahan mulai terangkat. Matanya bergulir dari bawah melihat kaki seseorang yang tengah membukakan pintu. Dari ujung kaki tersebut matanya naik ke atas perut dan melihat wanita yang berada di hadapannya ternyata tengah hamil muda. Dia kemudian segera mengangkat pandangannya ke atas dan tersentak kaget.
"Mira? "
Wanita di depannya juga kaget melihat
sosok pria yang berkunjung. Saat ini, yang tengah berdiri di hadapannya adalah sosok Reza,
pria songong di sekolahan yang di jauhi siswa-siswi lain. Hal itu wajar karena sifat reza yang kejam dan selalu seenaknya sendiri dalam melakukan sesuatu. Dia juga sahabat suaminya Tama, entahlah kenapa suaminya mau berteman dengan pemuda begajulan seperti Reza.
"Iya Rez, hallo! " Sapa wanita muda itu dengan sedikit canggung, wajahnya pucat pasi karena pasti akan ada hal yang tidak mengenakkan jika seseorang sudah berada di dekat Reza.
Mira sebenarnya ingin tidak terlibat dalam hal apapun dengan pria menjengkelkan seperti Reza, namun kali ini pria itu datang sebagai tamu.
"Mmm... Lo ngapain disini mir? Loe hamil ya, kebanyakan ngen sih sama Tama loe waktu SMK, tuh kan ngandung anak haram loe nya. " Dia melirik perut wanita di depannya penuh hina tanpa memikirkan perasaan wanita di depannya.
Mira hanya tersenyum kecut mendengar ucapan pedas dari teman suaminya yang satu ini.
Di sekolahan, Reza memang terkenal dengan sebutan lidah beracun karena cara berbicaranya yang seenaknya saja. Bahkan kepada guru sekalipun.
"Ayo masuk dulu Rez. " Tawar mira dengan berat hati.
__ADS_1