Bad Boy Story

Bad Boy Story
Teman Satu Kontrakan


__ADS_3

Belum sempat Reza memasuki kamar kost baru.


Seorang penghuni kos yang sedang duduk santai di teras melihat tajam ke arahnya.


Dia melihat wajah Reza yang seolah tidak asing. Di sekitarnya juga sedang ramai karena teman-temannya yang satu sekolahan sedang berkunjung ke tempatnya. Dia pun berbisik pada teman di sebelahnya.


"Eh, itu si Reza bukan sih. Ketua bad boys sekolah sebelah. Dia musuh sekolah kita loh. "


Setelah mendengar tuturan temannya, para siswa yang sedang memakai baju bebas mulai memperhatikan Reza lebih dalam.


"Betul tu. Dia Reza, Terakhir kali tangan gua patah karena tu anak. Mumpung disini dan sendirian ayok kita balas dendam. " Ucap pria berkulit hitam dengan mengerang amarah.


"Woi Reza, mati loe kali ini! . "


Delapan orang berhamburan menuju Reza dengan teriakkan yang cukup keras.


Pandangan masyarakat sekitar mulai mengarah pada suara yang di timbulkan para geng kecil itu, termasuk Reza yang mendengar, dia pun mulai sadar dan berlari kencang tanpa Memeperdulikan bapak kost yang terlihat kebingungan.


"Kenapa hari ini sial banget sih, . Hosh, hosh. "


Reza berlari selama setengah jam penuh. Setelah yakin tidak ada yang mengejarnya, dia berhenti sambil memegangi dadanya yang sesak.


"Orang kampung sialan, beraninya keroyokan. Heh.! "


Reza sudah tidak memiliki tenaga sama sekali kali ini. Bahkan apa yang baru saja dia makan terasa sudah habis terpakai untuk kabur.


"Gimana gua mau hidup damai kalau semua orang ngejar kek setan gini!" Keluh Reza pada dirinya sendiri.


Dia tidak menyangka Kehidupannya akan seberat ini setelah keluar dari istananya. Dia baru sadar musuhnya sangat banyak di luaran.


Reza mulai berfikir. Meski dia nanti berkuliah


dan ingin kehidupan yang damai selama empat tahun, semua itu tidak akan mudah.


Pasti banyak musuh yang akan menarget nya karena para mantan murid SMK dulu yang mendendam padanya sudah banyak yang berkuliah. Di jalanan juga banyak musuh yang mengenali dirinya. Dia harus mencari alat untuk menyamarkan penampilan.


Ciri-ciri Reza sangat mencolok, dia memiliki tinggi dan berat yang ideal sebagai pria idaman, dengan rambut hitam terbelah dua dan kulit yang bersih karena jarang terkena sinar matahari. Garis rahang nya juga tampak jelas dengan hidung menjulang mancung bagai aktor Korea membuatnya mudah di kenali.


Dia terus berjalan dengan lesu sebelum kemudian menemukan sebuah toko pemasangan gigi palsu yang masih buka di sore itu.


"Misi Om."


Seseorang kemudian menoleh ke arahnya.

__ADS_1


"Oh, ya... Silahkan Masuk. "


"Hallo Om. Apa Om jual gigi palsu yang bisa merubah penampilan? "


Orang tua itu mulai berfikir dengan permintaan aneh pemuda di depannya yang tanpa basa-basi. Dia kemudian mengeluarkan dua buah gigi kelinci semi implan yang sedikit terlihat besar.


"Ini mungkin yang kamu maksud. Menyamakan penampilan kan? Ini bisa di lepas setelah kamu datang ke tempat ini lagi. "


"Oke juga Om, Gua mau pasang yang ini. "


"Gigimu sudah bagus dan rapi. Kenapa mau pasang kayak gini? " Tanya bapak itu sembari mengerjakan pekerjaannya.


"Terlalu tampan gua Om. Banyak gadis yang sakit hati. Haha.. " Jawab Reza sekenanya.


Reza kemudian membayar sebesar satu juta rupiah. Uangnya kini bersisa tujuh juta seratus ribu rupiah.


Setelah itu reza memarkirkan dirinya di sebuah warteg sederhana. gigi kelinci super jumbonya terasa tidak nyaman karena terlalu besar dan menyulitkannya saat mengunyah makanan, namun dia harus terbiasa dengan itu.


Menurutnya masakan di pinggir jalan juga tidak terlalu buruk, makanan itu hanya terasa sedikit berminyak.


Reza kemudian membayar kembali sebesar seratus ribu rupiah tanpa meminta sisa remahan kembaliannya. Itu sudah hal biasa baginya.


Bahkan saat dirinya makan, itu bisa menghabiskan uang senilai satu juta hingga dua juta rupiah. Nominal seratus ribu bukan apa-apa bagi pemuda kaya itu.


Dia enggan untuk tinggal di kos kos an seperti sebelumnya. Jika ada anak sekolahan atau


alumni yang mengenalinya sekali lagi maka misinya untuk hidup tenang akan buyar.


Dia berencana mencari rumah kontrakan yang bisa di gunakan secara pribadi. Namun melihat harganya di atas lima belas juta pertahun, Reza segera mengurungkan niatnya.


"Sialan. Ini mah namanya pemerasan. Mahal amat cuma kandang kecil. "


Reza berlanjut membuka Facebook yang tidak pernah dia gunakan. Dia masih mengingat kata sandi facebook lamanya itu. Setelah log in, dia mencari grup yang bertema joinan tinggal bareng kontrakan rumah. Ide brilian itu terbesit di otaknya setelah lama berfikir cara untuk menekan harga sewa rumah.


Beberapa postingan ramai dengan komentar.


[Di butuhkan teman sekamar, boleh cewek atau cowok dan bisa memberi uang jajan bulanan. Saya sendiri cewek guys :) ]


Postingan itu di balas hingga seribu komentar. Hampir semuanya balasan dari cowok dan bertujuan mesum.


Reza kemudian men scrol layarnya ke atas. Dia mulai membaca postingan lainnya.


[Di butuhkan teman serumah yang bisa di ajak suka maupun duka. Bisa berantem untuk membantu geng gua. Gua juga gratiskan untuk kontrak rumah dan tinggal sesukanya.]

__ADS_1


Ujar salah satu postingan dengan komentar sekitar dua ratusan netijen. Itu mengundang minat Reza karena dirinya sangat hobi berkelahi. Namun saat mengingat persyaratan pertama dari papanya bahwa dia tidak boleh terlibat kriminal. Dia menghela nafas berat.


'Pastinya seru kalau bisa tinggal di tempat gini. Bokap sialan pake acara ngelarang berantem lagi. halah. '


Reza berlanjut pada postingan berikutnya.


[Di butuhkan seseorang untuk mengisi kontrakan bareng, ada dua kamar dan satunya masih kosong. Bisa bayar bulanan senilai lima ratus ribu rupiah. Orangnya harus bersih dan rapi. wajib anak religius dan tidak banyak bicara.


Notes: tidak boleh mengajak orang lain tinggal]


Postingan ini memiliki nol komentar dan ada dua ratus emotikon tertawa. Dari emotnya saja sudah terlihat bahwa persayaran itu terdengar konyol. Terlalu banyak aturan hanya untuk sekedar menyewa sebuah rumah.


namun melihat peluang itu Reza sedikit berfikir.


'Lima ratus ribu perbulan itu hanya uang yang sedikit. Bersih dan rapi bisa saja gua lakuin donk. Religius?? Hmmm... Pura pura aja kan bisa. Yang penting beli kopyah sama sarung. Masak dia akan ngurusin agama gua terus. Haha.. Ini adalah pilihan teraman. Gua perlu ambil kesempatani ini, empat tahun akan terasa sebentar kalau gua bisa ngumpet dan menyamar. '


Setelah saling berbalas inbox, Reza mulai berjalan ke alamat yang di berikan oleh si pemosting. Reza sengaja tidak menyewa ojek karena ternyata alamatnya tidak terlalu jauh dari posisinya sekarang.


Reza sempatkan membeli sebuah kopyah putih dan sarung sebagai penyamaran,


tidak lupa dia memakai satu satunya kaos bermotif helo kitty warna merah pemberian sahabatnya saat dirinya ulang tahun, sebenarnya dia enggan memakai baju itu dan tidak sengaja terbawa. Namun melihat semua baju nya berupa gambar tengkorak dan ganja membuatnya tidak ada pilihan lain selain memakai baju penghinaan tersebut.


Baju itu sebenarnya hanya di berikan padanya sebagai lucu-lucuan. Tidak lupa Reza melepas kalung dan gelang besinya yang selalu dia pakai, itu sebagai tanda bahwa dirinya akan melakukan penyamaran ini secara totalitas.


Dia merasa penyamarannya sudah sempurna kali ini. Gigi palsu yang besar dan kopyah putih yang menutupi rambut belahnya tidak memperlihatkan ketampanan dan keangkuhan seperti biasanya. Di tambah baju hello kitty nya membuatnya terlihat seperti seorang pemuda yang baik.


Rumah hunian yang di tunjukkan padanya ternyata bertipe 36. Tidak terlalu besar namun rasanya lebih cocok untuk dirinya yang menyukai tempat sepi untuk menghindari perkelahian sementara waktu.


Perumahan yang akan dia tempati bisa di bilang perumahan baru dan belum banyak penghuni yang menempatinya. Reza beberapa kali mengetuk pintu rumah itu namun tidak ada yang menjawab.


Dia mencoba menelpon orang yang belum dia ketahui identitasnya. Dia juga tidak perduli pria macam apa yang akan tinggal bersamanya, dia cukup numpang tidur saat malam menjelang.


Setelah beberapa saat teleponnya berdering, itu kemudian ter angkat.


"Assalamu'alaikum, hmm.. mas tunggu sekitar tiga puluh menit ya, saya masih di jalan! "


Terdengar suara si penelpon yang sendu membuat Reza memiringkan kepalanya.


'Dia cewek? Apa gua gak salah denger? '


"Walaikumsalam. Iya kak saya tunggu. " Ucap Reza mengikuti cara bicara pria penjaga konter yang menurutnya terlihat baik tadi siang. Dia suka di panggil kakak saat itu dan karena itu dirinya saat ini memperaktekannya demi penyamarannya yang sempurna.


"Terimakasih mas, saya segera ke sana. "

__ADS_1


Tut.. Tut.. Telepon di matikan.


__ADS_2