Bad Boy Story

Bad Boy Story
Namanya Syifa


__ADS_3

Reza menunggu dengan banyak mengumpat.


Ini sudah satu jam lamanya, wanita yang tadi bilangnya sebentar masih belum muncul juga. Jenuh. Sumpah serapah dia nyanyikan bak genderang perang yang akan memulai pertumpahan darah.


Itu berakhir saat suaranya serak. Dia kemudian terduduk lemas di teras rumah dengan kedua tangannya memeluk tas besar karena kelelahan.


'Ku bunuh saja kau, dasar penipu. '


****


"Duh macet banget sih. Kapan sampainya ya Allah. Pria itu masih nungguin gak ya. " Keluh seorang gadis berjilbab dengan kecantikan sempurna. Saat ini dia terjebak kemacetan dengan sebuah motor matic di kerumunan jalan.


Jalan sangat sesak hingga membuat dirinya tidak bisa menerobos sesukanya,


puluhan klakson terdengar saling bersautan yang artinya semua orang juga sama, terburu-buru seperti dirinya. Baru setelah satu jam lamanya dirinya mematung, akhirnya bisa lepas dari kesemrawutan kemacetan itu.


Namanya adalah Asyifa Aulia. Dia biasa di panggil Syifa oleh teman-teman kampusnya. Gadis itu seorang mahasiswi semester empat dengan kemampuan di atas rata-rata.


Syifa merantau dari kampung halamannya untuk melanjutkan jenjang pendidikannya setelah mendapat beasiswa selepas SMA. Dia juga bekerja part time sebagai guru privat untuk menyambung hidup karena keluarganya tidak mampu membiayainya.


Saat ini, Syifa tengah membutuhkan seseorang untuk mengisi satu kamar rumahnya yang kosong.


Sebelumnya, ruangan itu di tempati kakak angkatannya bernama bella. Namun setelah bella lulus dan pulang kampung, Syifa akhirnya harus menanggung semua pembayaran kontrakan secara penuh.


Syifa sebenarnya ingin pindah ke tempat yang lebih murah, namun karena dirinya telah nyaman di tempat itu, dia mengurungkan niatnya. Lebih memilih mencari parner, ia kemudian memposting hal tersebut di Facebook grup selama seminggu penuh.


Setelah satu minggu barulah ada seorang yang menanggapi postingannya. Meski awalnya dia sedikit ragu karena yang berminat adalah seorang pria. Dia masih bisa bernafas lega setelah mengetahui bahwa pria tersebut sangat sopan dalam berbicara.


Syifa mencoba menerimanya terlebih dahulu selama sebulan. Dia juga tidak punya banyak pilihan untuk menunggu seorang perempuan yang berkeinginan menempati kamar itu. Apalagi pembayaran kontrakan sudah mendekati jatuh tempo.


Syifa memarkirkan motornya di depan kontrakan. Dia melihat seorang pria

__ADS_1


berkaos hello kitty tengah tertidur memeluk barang bawaannya dengan lusuh.


Syifa mengembangkan senyum melihat penampilan pria itu, sederhana. Itu menggambarkan tipuan sempurna dari Reza sang bos gengster sekolahan. Terlihat juga Kopyah miring dan sarung yang di pakai bersalipan dengan celana jeans yang menyumbul keluar, memunculkan pemandangan yang tidak biasa, 'Lucu' itu yang pantas di sematkan saat melihat lelaki di depannya dengan sabar menunggu kepulangan dirinya.


"Mas, mas, masuk yuk! " Ucap Syifa menepuk bahu Reza. Reza yang terlelap kemudian bangun setelah mendengar seseorang memanggilnya. Beberapa kali punggung tangannya mengucek matanya yang terasa sepat.


'Datang juga ni cewek sial4n. Gua kira bakalan sampai pagi. ' gumam Reza di dalam hati, namun bibirnya berkata lain.


"Eh kakak sudah tiba. " Ucap Reza dengan memaksakan senyum lembut yang membuat gigi implan nya semakin terlihat besar.


"Iya, maaf ya mas sudah lama nunggu, tadi macet di jalan. Dan jangan panggil aku kakak, panggil saja Syifa. " Ujar Syifa sembari membuka pintu rumah.


'Maaf, maaf, matamu picek. Banyak nyamuk di sini sampai gua harus pakai sarung karena di serang satu batalion. Cih, enak aja cuma ngomong maaf.' Umpat Reza di dalam hatinya. Sementara di bibirnya masih berkata lain.


"Baik mbak Syifa. Namaku Rez.. Eh, nama gu.. Aku Eza. " Jawab Reza dengan gugup saat dirinya masih pusing ingin memakai sebutan apa.


Terlintas di dalam pikirannya dia harus menggunakan nama lain. Penyamaran yang sempurna adalah totalitas. Dia merasa harus mengubah semuanya agar tidak ada yang mengenali masa lalunya.


"Kayaknya aku perlu mandi mbak. Seharian ini jalan kaki nyari tempat buat menginap. "


Syifa mengangguk setuju, dia juga mencium bau aneh dari tubuh pria di depannya. Dia merasa kasihan pada pria tersebut. Tampilannya lusuh dan terlihat sangat kelelahan. Mungkin lelaki itu juga berasal dari kampung yang merantau di kota seperti dirinya saat awal-awal mulai hidup di kota dulu.


Kehidupan kota memang keras bagi orang-orang miskin seperti mereka. Pikir Syifa.


Percikan air terdengar keras. Reza merasa kan perasaan segar setelah mengguyur tubuhnya dari ujung rambut hingga ke ujung kaki.


'Tidak buruk, gua tinggal daftar kuliah dan cari jurusan yang tidak rumit. Sisanya gua cuma harus bertahan hidup selama empat tahun dengan damai. Abis itu, semua harta keluarga bakalan jadi milik gua hahaha. ' pikiran jahat mulai merasuki otak Reza.


Dalam guyuran air dingin dirinya mulai sedikit merindukan saat-saat kehidupan mewahnya. Mengingat mobil Porsche kesayangannya yang baru sehari di tinggalnya dan segala fasilitas kehidupan nya dulu. Takdir memang tidak bisa di tebak. Siapa sangka dirinya akan bernasib seperti ini.


Pintu kamar mandi di buka. Dengan santai Reza mengenakan Boxer selutut dan mengibaskan handuk ke atas rambutnya, Reza kemudian keluar dari kamar mandi.

__ADS_1


"Mas Eza? " Pekik Syifa dengan mata membelalak. Reza yang tidak sadar kemudian melihat dadanya yang terbuka. Ekspresinya sebenarnya biasa saja, bagi preman sekolah itu adalah hal biasa bertelanjang dada dan di tambah tubuhnya memang atletis menambah kesan garang saat tawuran. Reza sangat membangga-banggakan tubuhnya yang bagus dan ideal. Tapi saat dia mengingat kembali persyaratan dari si pemosting yang mengatakan 'Religius', reza segera berlari ke kamarnya dengan cepat.


Brak!


Pintu kamarnya tertutup dengan keras.


"Maaf, maaf mbak, aku lupa kalau sekarang ada wanita. " Teriak Reza dari balik pintu.


Syifa tersenyum. Dia memahami bahwa mungkin Pria itu masih belum terbiasa tinggal serumah dengan wanita lain yang belum dikenalnya.


Syifa sendiri sempat merasakan hal tersebut. Bahkan dirinya hampir lupa mengenakan jilbab saat hendak ke ruang tamu. Namun mendengar suara gemericik air dari kamar mandi, dia akhirnya sadar bahwa dirinya harus lebih hati-hati menjaga auratnya.


"Ah, ribet banget si kata R-E-L-I-G-I-U-S itu. Cuma telanjang dada aja matanya sudah melotot kek gitu, gak pernah liat dada cowok apa tu betina. Padahal kan gua ganteng pas pose gini. Haha....! Dah lah. Yang penting kamar ini adalah wilayah kekuasaan Gua, gua bebas ngapain aja disini. Sekarang waktunya ganti baju, lalu pikirin cara buat nyari kuliah dengan pelajaran yang gampang. Btw, ada kelas tawuran gak ya? . "


Syifa agak cemas karena sudah satu jam ini Reza tidak keluar kamar, dia hendak mengetuk pintu kamar pria itu untuk memberikan bakso yang tadi sempat di belinya sebagai permintaan maaf karena datang terlambat.


"Apa mas Eza sudah tidur ya. Tapi ini kan baru jam sembilan. Atau mungkin dia malu kali keliatan telanjang dada gitu di depan ku. Biar dia tidak merasa bersalah, biar aku ketuk aja pintunya. "


"Mas, mas Eza belum tidur kan? " Ucap Syifa seraya mengetuk pintu kamar Reza.


"Dih, apaan sih ni cewek ganggu orang yang lagi capek aja. Pasti mau minta bayaran kan. Ketahuan banget pola pikir nya yang busuk. Apa gak bisa nunggu ampe besok? Mata duitan banget sih " Gumam Reza menghardik.


"Iya mbak, sebentar.! " Jawab Reza dari dalam. Dia kemudian segera mengambil uangnya sebesar lima ratus ribu rupiah. Tidak lupa kopyah putih dan sarung dia kenakan sebisanya.


Klek, pintu di buka.


"Iya mbak ada apa? "


Reza tersenyum dengan perasaan jengkel di dalam hatinya. Dia sebenarnya ingin beristirahat dengan tenang saat ini dari pada di ganggu karena hal-hal kotor seperti pemerasan uang.


"Ini mas ada bakso. Tadi aku belikan di jalan. Di makan bareng yuk. "

__ADS_1


__ADS_2