
Reza melangkah masuk mengikuti langkah istri temannya. Pria sombong itu tidak menyangka jika mereka berdua yang telah lama pacaran akan kebablasan sejauh itu dan menikah secepat ini, Apalagi melihat kehamilan mira yang seolah
telah lama di tutupi karena dia pasti sudah hamil saat masih berstatus pelajar.
Reza duduk di karpet yang di persilahkan oleh Mira, mata Reza berputar ke sekitar.
Tidak ada kursi tamu yang tersedia di sana.
Dia kemudian meletakkan tas besar yang di gendongnya ke sebelah kanan. Pinggangnya yang kaku dia putar agar terasa lebih lemas.
Mata reza kembali liar. Dia merasa rumah itu sangat kecil bahkan lebih kecil dari ukuran gudang rumahnya sendiri. Di tambah tempat itu tidak terawat karena seolah-olah atapnya akan runtuh kapan saja.
'Inikah yang di namakan kehidupan orang miskin? ' gumamnya pelan dengan mencebikkan bibir. Suara itu samar terdengar oleh mira namun Reza acuh tak perduli.
"Mari di minum Za, " Tawar Mira sembari memberi sebuah aqua gelas di hadapan pria itu. Sekilas suasana hening namun Reza mulai menambahkan pembicaraan.
"Tama dimana Mir?" Tanyanya penasaran, wajah jutek pria itu masih tidak bisa dia hilangkan.
Dia kemudian hendak menyesap air yang di berikan oleh wanita di depannya, sebelum itu, dia membersihkan tutup plastik nya dengan baju karena menganggap itu berdebu. Sebenarnya dia enggan meminum air yang mungkin terkontaminasi lingkungan sekitarnya. Area yang di tempati nya sangat kumuh. Namun karena rasa haus yang teramat sangat dia dengan terpaksa meminumnya.
"Kerja za, sama bapaknya di proyek." Jawab Mira singkat. .
Beberapa saat kemudian dua anak kecil keluar berlarian membuat suasananya menjadi ramai.
"Mereka siapa? "
Reza menutup kedua kelinganya karena tidak tahan dengan suara bising.
"Oh, mereka adik-adiknya Tama, oh ya ada keperluan apa kamu kesini za? "
Reza bingung harus menjawab apa. Awalnya dia ingin mencari tempat tinggal untuk sementara waktu agar dirinya bisa numpang hidup
di rumah temannya sebelum memikirkan rencana kedepan. Namun melihat keluarga Tama sangat menyedihkan dan sepertinya tidak dalam kondisi lebih baik dari dirinya, Reza segera mengurungkan niat tersebut.
"Aku cuma mau main saja ke rumah bawahanku, Apa gak boleh? " Ketus Reza. Mendengar itu Mira hanya diam. Memang sangat wajar ucapan pria di depannya selalu menyakitkan hati. Mira juga memaklumi hal tersebut.
Beberapa waktu berlalu, Reza pun pamit pergi. Dia sempatkan meminta nomer Tama agar bisa menghubungi teman lainnya dengan mudah. Setelah beberapa saat Reza keluar dari rumah itu, dia segera menghubungi kawan sekolahnya itu.
"Ya hallo dengan siapa? "
"Heh! Gua Reza tam. "
"Reza?? Reza tetua suhu kah? "
"Yoi bro. Jangan pura-pura gobl*k gitu lah. "
"Eh gimana kabar loe? Btw, Lagi dimana bos besar ni? "
"Baru dari rumah loe bro, ketemu istri loe dan Tama junior yang lagi di kandungan. "
"Waduh jadi malu gua bro. "
"Sans aja. Itu urusan elo. Loe hebat gak ngebuang anak haram itu. Best pokoknya. "
"Loe Ngomong kek gitu buat gua tambah malu aja, za. "
"Halah, dah lah, oh ya.. Loe tau alamat Miko, Roy ama kevin gak? "
"Tau lah za, ngajak reunian nie ye? Tapi kayaknya mereka gak ada di rumah, za. "
"Lah kenapa? "
__ADS_1
"Roy katanya belajar di luar negeri. Dia sekarang di Jepang. Mungkin mau jadi yakuza nerusin perjuangan kita. "
"Heh. Seriusan bocah kurus itu belajar keluar negeri? Atau pindah tawuran antar negara, haha. "
"Haha, Serius bro. Dah berangkat sebulan lalu pas nikahan gua. Terus miko sama kev..... in. "
"terusin dong ngomongnya, jangan bikin gua penasaran. "
"Mereka di tangkep polisi bro."
"Apa? Yang bener? "
"Yoi, mereka tawuran terus di tes urine dan positif narkoba. "
"Beg-0 banget si mereka itu. Kan aturan di geng kita gak boleh pake gituan. "
"Nggak tau bro, gua waktu itu pusing sama kehamilan si Mira, jadi gak ngikutin kabar lanjutan mereka. "
Lama Reza mengobrol dengan sahabatnya yang kemudian panggilan itu di putus dengan senyum pias dari wajahnya. Dia saat ini tengah pusing memikirkan rencana untuk kedepannya.
"Trus gua harus gimana. Nasib sialan, bokap sialan semuanya sialan. " Kutuk Reza pada takdir yang mempermainkannya. Dia menendang-nendang batu yang diam di sekitar.
Reza berjalan di trotoar tanpa tahu arah tujuan. Hari semakin siang membuat perutnya berbunyi keroncongan. Tidak pernah dirinya merasa sesial ini selama menjadi manusia.
Sebelumnya, jika dia ingin bepergian, selalu ada mobil Porsche putih kesayangannya yang siap menemani nya kemana saja. Dan pula jika dia ingin makan siang dia bahkan tidak pernah memandang makanan murah di pinggir jalan.
Tapi kehidupannya saat ini telah berubah drastis. Setiap ada warung sederhana yang menampilkan hidangan yang terlihat lezat, dirinya pasti akan menelan seteguk ludah.
Reza kemudian melihat seorang pengemis yang tersenyum saat di beri uang oleh seseorang yang lewat.
Sempat terbesit pikiran aneh di otak Reza.
Setelah menepis pikiran anehnya, Reza terus berjalan membuat dirinya tidak mengetahui bahwa dia sedang melewati sebuah SMK otomotif. Tiba-tiba dari kejauhan seorang anak muda berseragam berteriak kencang.
"Woi, itu ketua Bad Boy... Serang, serang woooi. "
Reza terkaget dari lamunannya setelah seseorang berteriak dengan keras.
Tanpa sadar dia ternyata sedang melewati salah satu SMK yang telah lama menjadi musuh bebuyutan sekolahnya. Dia bergegas berlari saat puluhan siswa mengejarnya dengan niat membunuh.
"Yaelah, kenapa harus sekarang sih. Kaburr dulu lah!! "
Hosh, Hosh, Hosh,
Dengan bersusah payah Reza menahan lapar sekaligus capek setelah berlari menyelamatkan nyawanya.
Tiga puluh menit dia bermaraton dengan tas penuh dan membuat siswa-siswa yang mengejarnya tertinggal di belakang.
Dia kemudian duduk lesu di depan trotoar sebuah konter HP yang bisa di bilang besar.
"Duh, perut! kenapa gak diem sih. Udah siang gini mana badan juga rasanya bau apek. Apes banget! . Apa aku bakalan mati kelaparan? Apa ngemis aja kayak bapak tua tadi aja ya? . Nanti kalau dapat uang banyak kan bisa beli makan. Tapi.... Ah, masak ngemis sih. "
Perasaan lapar Reza sudah tidak dapat dia bendung. Dia kemudian mengambil hpnya untuk menghubungi seseorang. Tapi beberapa kali dia utak atik layar ponsel tidak ada nomer apapun disana. Semua sudah di reset sesuai perjanjian dengan papanya.
Sepintas Reza melihat counter HP besar di belakangnya. Dia kemudian punya ide untuk menjual hpnya demi bertahan hidup.
Selang beberapa detik menuju konter.
"Ya, ada yang bisa saya bantu mas? " Ucap resepsionis wanita berwajah jutek yang sedang berjaga. Sesekali dia menggoyangkan hidungnya karena mencium bau yang tidak nyaman dari pria di depannya.
"Ini mbak, saya mau jual HP. " Ucap Reza dengan muka songong.
__ADS_1
Reza mengeluarkan hpnya yang cukup terbilang baru, itu adalah iPhone 12 pro max. Dulu dia membelinya juga menggunakan seperlima uang saku bulanannya.
Mbak resepsionis sedikit terkejut dengan HP yang di bawa pemuda di depannya. Namun wanita itu juga merasa ragu bagaimana bisa pemuda lusuh seperti Reza memiliki HP secanggih itu.
"Apa dosbuknya masih ada mas? " Tanya wanita itu dengan pandangan curiga. Reza hanya menggeleng santai sembari memikirkan perutnya yang lapar.
"Mas mau jual HP ini bukan dari hasil nyuri kan? " Ujar wanita resepsionis itu dengan spontan.
Mendengar itu reza naik pitam, telinganya seolah meledak mendengar hal itu dari bibir wanita di depannya.
Kekesalan Reza mulai menumpuk dan hendak meletus, sebelumnya masalah perutnya yang lapar belum selesai di tambah dia bingung mencari tempat untuk bermalam, malah saat ini dirinya sedang di pandang sebagai pencuri.
"Eh mbak, panggil manager loe, Asal loe tau ya, HP ini gua beli pake uang gua sendiri. Jaga ya tu mulut kalau ngomong anzeng. " Bentak Reza sambil menunjuk-nunjuk membuat seorang pria menghampiri nya dengan wajah penuh penyesalan.
"Maaf kak, ada yang bisa di bantu? "
"Ini karyawan loe, masak gua cuma mau jual HP malah di bilang maling. "
Dengan segera pria tersebut menggantikan wanita itu untuk melayani Reza. Meski dengan perasaan kesal, Reza tetap mau menunggu dengan kesabaran maksimalnya karena perutnya mulai meronta-ronta.
Jika ini Reza yang dulu mungkin konter itu sudah dia gusur setelah dia membeli semuanya dengan cara hina membalas seribu kali lipat perilaku karyawan tersebut.
"Kami bisanya ngasih harga tertinggi 10juta kak, itupun kalau kakak serius buat jual HP ini."
" Kok murah banget sih bang, itu bahkan gak nyampe setengahnya lo kalau beli barunya. " Jawab Reza emosi.
"Ya terserah kakaknya mau jual atau nggak. Namanya juga barang second kak, terus tidak ada kelengkapan apapun juga. Makanya harganya segitu. "
Merasa sangat lapar, Reza menyetujui transaksi tersebut dengan berat hati. Dia juga membeli HP bekas murah seharga satu juta untuk menggantikan HP lamanya yang sedang trendi itu.
"Pemerasan counter sial4n! ini mah namanya downgrade. Masak pegang hape jadul kek gini sih gua."
Reza kemudian mampir ke sebuah warteg. Setelah melampiaskan rasa laparnya, dia mulai mengeluarkan uang sebesar dua ratus ribu rupiah. Dia berbincang dengan si empu warung.
"Berapa buk. Makan sama teh hangat tadi. "
"Dua puluh ribu nak. " Ucap ibu-ibu penjual dengan senyum bersahaja.
"Apa bu? "
Reza sedikit kaget dengan nominal yang di ucapkan penjaga warteg itu.
"Dua puluh ribu saja nak. Ngapain ngeluarin dua lembar merahan. Makanan ibu gak mahal lho. "
"Murah amat bu. kembaliannya ibu ambil saja, remahan gak perlu saya Terima lagi" Ucap Reza dengan menyombongkan keuangannya.
Setelah Reza menyodorkan selembar uang seratus ribuan kepada penjaga warteg, si ibu itu terlihat sangat senang.
"Semoga lancar rizki nya ya nak. "
Setelah itu Reza keluar dari warung dan mulai mencari kos-kos an.
Sembari mencari kos-kos an di jalan, dia juga browsing tentang biaya pendaftaran kuliah di internet.
"Kok mahal amat sih. Gak ada yang lima juta gitu apa. Uang gua juga sisa delapan jutaan. Belum lagi nyari kos-kos an. Gimana caranya mau kuliah?."
Reza menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia kemudian lanjut mencari kos-kos an agar dirinya tidak terlunta-lunta di jalanan.
Reza menemukan sebuah kos-kos an di pinggir jalan yang di lewatinya. Dia memasuki rumah di samping kost itu yang dia yakini sebagai pemilik dari kost kostan tersebut.
Setelah melakukan transaksi pembayaran senilai 800ribu untuk sebulan menetap. Reza mengikuti bapak kost yang mengantarnya ke salah satu kamar.
__ADS_1