Bad Boy Story

Bad Boy Story
Kelas Baru


__ADS_3

Reza Yang Tengah Berdiri Segera Menjatuhkan Lututnya Ke Lantai. Dia Menutup Wajahnya Dengan Kedua Tangan.


'ayo Nangis, Kenapa Gua Gak Bisa Nangis Bambang. Pikirin Hal Sedih, Papa Meninggal Contohnya.(Haha) Bukannya Nangis Malah Gua Mau Ngakak. Apa Yang Harus Gua Lakuin Biar Nangis. Gua Gak Bisa Gagal Sekarang. Ini Jalan Satu-satunya Buat Lulus Ujian Dari Bandot Tua Itu. Ah, Sebentar, Sebentar.. Demi Harta Warisan cara itu harus gua lakuin. Dengan Terpaksa Mata Indah Ini Harus Gua Korbanin. Ya, Culek... Gak Ada Cara Lain, Bodoh Amat Kalau Buta. Harta Gua Adalah Kehidupan Gua. Kalau Itu Benar-benar Di Sumbangkan Mending Gua Mati Aja. '


Cluk! Reza Kemudian Mencolok Kedua Matanya Dengan Kedua Jempolnya.


"Aaaaaaarrrkkkgg.. Saaakiit....! " Peliknya Dalam Hati.


Reza Mulai Menangis Sejadi Jadinya di dalam ruangan itu. Kedua Pengawas Yang Berada Di Depannya Malah Terlihat Kebingungan. Mereka Mengira Calon Mahasiswa Yang Bertingkah Aneh Di Depannya Mungkin Sudah menjadi Gila.


"Kenapa Saudara Menangis? " Ucap Salah Satu Petugas Yang Tidak Mengenakan Kacamata. Dia Tidak Tergerak Dengan Pengorbanan Besar Reza.


Kalian Sinting Apa, Kenapa Malah Sok Tenang Gitu.


"A-ku Bingung Bu. Ak-ku Sudah Mendaftar Kesemua Kampus Dan Keseluruhannya Menolak Ku. Hikz, Sekarang Aku Bingung Harus Bagaimana, Pulang Juga Percuma Karena Bapakku Pasti Memenggal Leherku. "


Reza Mulai Mendramatisir Keadaan, Sesengukannya Mengubah Ruangan Yang Awalnya Tegang Menjadi Melankolis. Namun Air Muka Kedua Pengawas Masih Tampak Sama, Malah Mereka Semakin Curiga Dengan Apa Yang Di Perbuat Reza.


"Lalu Kenapa Saudara Sampai Mendapat Nilai Buruk Jika Tahu Keluarga Saudara Akan Sangat Marah? Saya Lihat Nilai Kepribadian Saudara Sangat Berbanding Terbalik Dari Sikap Saudara Saat Ini. " Ucap Pengawas Tegas Namun Di Liputi Rasa Penasaran.


"Aku Korban Buliiying Bu. Hiks Hiks, Dulu Aku Di Sekolah Sudah Mencoba Menjadi Anak Baik. Tapi Ada Seseorang Dengan Kekayaan Yang Luar Biasa Selalu Menggangguku. Saat Aku Tidak Mau Menuruti Perintahnya Maka Dia Mengancam Akan Merusak Nilaiku Dengan Membayar Guru. Padahal Aku Sudah Melakukan Segalanya Selama Tiga Tahun, Tapi Dia Tetap Melakukannya Padaku, Semua Nilai Ku Anjlok. Aku Harus Gimana Bu. Aku Bingung. Semua Universitas Hanya Melihat Seseorang Dari Nilainya Saja. Siapa Yang Akan Mengerti Dengan Sikap Baik Yang Tulus Dalam Hati. " Reza Berucap Dengan Berderai Air Mata, Bahkan Tangannya Sesekali Menepuk Dadanya Agar Aktingnya Dalam Bertekad Semakin Terlihat Nyata. Bahkan Kedua Pengawas Yang Mendengar Akhirnya Bisa Merasakan Perasaan Yang Saat Ini Reza Rasakan.


Sementara Di Sisi Gelap Reza Mengutuk Kedua Guru Yang Membuat Nya Harus Melakukan Akting Mengenaskan Seperti Ini.


'kalau Gua Sudah Dapat Harta Gua. Gua Pastiin Kalian Berdua Bakalan Di Pecat Tanpa Pesangon Dari Kampus Ini. Semuanya Bakalan Gua Beli. Termasuk Kampus Ini. Enak Saja Mempersulit Perkuliahan Gua. "


Reza Kemudian Berdiri, Menunduk. Matanya Memerah Hingga Terlihat Sangat Begitu Menyedihkan. Dia Kemudian Mengambil Kembali Raport Nilai Nya Dengan Sejuta Kesedihan. Saat Dia Mulai Berbalik Dia Menyeringai Seperti Setan. Dia Sudah Tau Skenario Apa Yang Akan Terjadi Selanjutnya.


"Tunggu Saudara Reza, Kami Bisa Mempertimbangkan Saudara Untuk Bisa Mengikuti Perkuliahan Disini. Disini Tidak Akan Ada Diskriminasi Seperti Itu Di Kemudian Hari. " Ujar Pengawas Berkacamata. Umpan Reza Ternyata Berhasil. Namun Itu Rasanya Masih Tidak Terlalu Dalam.

__ADS_1


"Sudahlah Bu.Mempertimbangkan Itu Sama Saja Seperti memberi Harapan Palsu. Saat Ini Pikiran Saya Hanya Ingin Berdiri Di Atas Jembatan. " Ucap Reza Dengan Senyum Licik Dari Balik Wajahnya. Kedua Pengawas Kaget Dan Mulai Berfikiran Aneh. Mungkin Reza Akan Bunuh Diri. Itu Pikiran Pendek Mereka.


"Jangan Pergi Nak, Kelas PGTK Masih Membutuhkan Banyak Calon Mahasiswa. Kamu Saya Terima Dan Bisa Mengikuti Orientasi Study Dari Hari Ini. " Ucap Pengawas Berkaca Mata Dengan Iba.


"Apa Ibu Risma Yakin Menerima Dia Begitu Saja? " Ucap Pengawas Sebelah Nya Dengan Perasaan Curiga.


"Iya Bu, Saya Bisa Mempertaruhkan Reputasi Saya Sebagai Dosen Bahwa Anak Ini Sebenarnya Sangat Baik, Dari Pakaiannya Saja Sudah Dapat Di Pastikan Dia Adalah Anak Orang Sederhana, Mungkin Miskin. Pantas Saja Dia Di Bully Dulunya. " Balas Bu Risma Dengan Serius. Sementara Reza Menghardik Perbincangan Kedua Pengawas Penerimaan Itu Di Dalam Hati.


'Awas saja kalian berdua. Aku Benar Benar-benar Akan Membeli Kampus Ini Setelah Mendapatkan Kekayaan Itu, Miskinlah Nanti Sok Ngatain Gua Menyedihkan.'


Setelah Wawancara Selesai, Reza Berangkat Menuju Ruang Tata Usaha. Reza Kemudian Memberikan Uang Sebesar Lima Juta Rupiah Kepada Bagian TU Untuk Membayar Separoh Uang Registrasi Dan Juga Pembayaran Semester Pertamanya. Dia Kaget Karena Di Minta Uang Tambahan Untuk Membeli Buku Dan Almamater Kampus Sebanyak Satu Juta Rupiah. Uangnya Pun Berkurang Drastis Dan Hanya Menyisakan Empat Ratus Ribu Rupiah.


"Ini Mah Cuma Cukup Makan Empat Kali Doank. " Ucapnya Menggerutu. Dia Kemudian Menuju Ruangan E1 Sesuai Arahan Pihak Kampus Untuk Memasuki Kelasnya Dengan Ke Jurusan Pgtk Smester Pertama.


Saat Ini Pemuda Begajulan Itu Akan Bertemu Teman-teman Kampusnya Untuk Pertama Kali.


"Yosh, Gua Harap Bertemu Orang-orang Kuat Di Kelas Gua Kali Ini. Gua Akan Memulai Dari Nol Untuk Membangun Geng Badboys Untuk Menyerang Kampus Lain. Gua Kali Ini Musti Bermain Cantik Dari Balik Layar. Gua Cukup Mengumpulkan Mahasiswa Lain Sebagai Bidak Catur Kekuasaan Gua Kali Ini Ha Ha Ha. "


'gua Akan Menaklukkan Kalian Semua. Wahai Calon Anak Buah Gua. '


Krek!


Jreennggg!


Semua Mata Menyoroti Kedatangan Reza Kali Ini.


"Apaaa??? "


Reza Kaget Dan Langsung Menjatuhkan Rahangnya Setelah Melihat Semua Penghuni Kelasnya Adalah Wanita. Makhluk Lemah Bagi Reza Itu Juga Tidak Berguna Untuk Mendompleng Kekuasaannya. Meskipun Mereka Lebih Dari Selusin Orang.

__ADS_1


'kenapa Semuanya Wanita. Mana Prianya? Mana Calon Anak Buah Gua? Arrrrrggggh! "


Pupus Sudah Harapan Reza Kali Ini. Impiannya Untuk Membangun Geng Badboys Tidak Mungkin Terlaksana Lagi. Dia Sangat Tidak Berharap Hanya Akan Ada Wanita Di Kelasnya. Reza Bukannya Pria Yang Anti Wanita. Dia Adalah Pria Gentle Yang Terkadang Juga Memiliki Shahwat. Namun Pikiran Nakalnya Lebih Kepada Tawuran Dari Pada Mengurusi Percintaan Yang Menurutnya Sangat Ribet.


Dia Tahu Bahwa Syifa Adalah Gadis Yang Cantik Dan Ideal Meski Sudah Tertutup Aurat. Mereka Juga Tinggal Dalam Satu Rumah. Itu Tidak Melepas Ketertarikannya Pada Seorang Makhluk Yang Bernama Syifa. Namun Dari Pada Memikirkan Hal Itu, Reza Masih Menyukai Hal Hal Yang Berbau Kekerasaan, Uang Dan Juga Kekuasaan.


Reza Masuk Dengan Canggung Di Kelas Itu. Kepercayaan Diri Miliknya Yang Sebelumnya Mengebu Seolah Telah Redup Saat Melihat Keadaan Kelas Yang Terkesan Damai Dan Tenang. Dia Terlihat Cengar Cengir Menyapa Teman-teman Barunya Dan Segera Mencari Sebuah Bangku Kosong.


'apa Maksud Kelas Ini. Kenapa Semuanya Wanita? Apa Gua Kabur Aja Ya? Gua Salah Masuk Jurusan. Ah Tidak, Tidak. Kelas Ini Gua Peroleh Dengan Mengorbankan Sisa Uang Dan Air Mata Gua. Gua Harus Berfikiran Positif. Cuma Empat Tahun. Itu Sebentar Za.. Kamu Bisa, Kamu Kuat. '


Setelah Terbengong Sesaat Reza Mulai Di Kagetkan Oleh Seorang Wanita Yang Menyapanya Dengan Lemah Lembut.


"Permisi, Apa Kamu Juga Ambil Jurusan Pgtk? " Ucap Gadis Cantik Di Depannya Dengan Sebuah Senyum Tulus. Reza Mengangguk Dengan Canggung. Ini Akan Menjadi Skenario Terburuknya Untuk Empat Tahun Ke Depan. Dia Sudah Menyamar Menjadi Pria Terjelek Dengan Gigi Kelinci Yang Besar. Kaos Terbalik Yang Di Kenakannya Juga Aneh Dengan Kopyah Putih Yang Terlihat Konyol.


Entah Kesan Pertama Apa Yang Teman-teman Nya Patri Kan Padanya, Yang Pasti Itu Bukanlah Suatu Hal Baik.


"Eh, I-iya. Nama Aku Eza. Aku Juga Di Kelas Ini. " Ucap Reza Santun. Hatinya Mengutuk Semua Keadaannya Yang Terasa Menyedihkan.


Setelahnya Gadis Cantik Itu Memperkenalkan Dirinya Sebagai Eva, Itu Di Ikuti Teman-teman Nya Yang Lain Ternyata Menyambutnya Dengan Hangat.


"Aku Diah, Salam Kenal Eza. "


"Saya Rini. Salam Kenal. "


"Saya Savira. Semoga Kita Bisa Berteman Baik Ya. "


Setelah Selusin Nama Di Sebutkan, Reza Mulai Bercengkrama Dengan Mereka Dengan Santai, Sementara Hatinya Mendidih. Itu Karena Dari Kemarin Dia Hanya Berurusan Dengan Wanita. Di Rumahnya Ada Syifa Yang Ribet Dan Di Kelasnya Semua Adalah Wanita. Entah Kehidupan Apa Yang Akan Dia Jalani. Tapi Dia Berfikir Baik, Mungkin Ini Cara Tuhan Untuk Menunjukkan Kedamaian Padanya, Namun Tangannya Terasa Gatal. Dia Ingin Memukul Seseorang Dan Itu Selain Wanita.


Di Dalam Kelas Mereka Semakin Dekat, Tidak Lupa Keahliannya Dalam Berdusta Dalam Mode On. Mereka Semua Ternyata Baik Kepada Reza, Tidak Seperti Para Mahasiswa Di Luar Ruangan Itu Yang Memandangnya Sebelah Mata, Mereka Lebih Menyambut Pria Itu Dengan Lembut Dan Nyaman. Membuat Reza Tidak Meneruskan Untuk Mengutuk Seseorang Pertama Kali Dalam Hidupnya. Mereka Pun Mulai Berbaur Seperti Teman Akrab Yang Seakan Telah Lama Saling Kenal.

__ADS_1


"Tiga Puluh Menit Lagi Kita Di Minta Berkumpul Di Lapangan. Mungkin Eza Belum Tahu Kalau Kemarin Kita Sudah Berkumpul Bareng Untuk Membahas Perlombaan Selama Orientasi Study. Kita Juga Sudah Sepakat Memakai Kaos Yang Seragam. Aku Kira Tidak Akan Ada Pria Yang Masuk Ke Jurusan Pgtk, Makanya Aku Sebagai Seorang Yang Di Percaya Untuk Membeli Kaosnya Memilih Warna Pink Seperti Ini Dan Masih Ada Sisa Satu Untuk Stoknya. Apa Eza Mau Memakai Bareng Kami? Biar Senada. Hehe" Tanya Eva Ragu. Dia Tahu Kebanyakan Pria Sangat Enggan Dengan Warna Yang Terkesan Mendominasi Wanita.


__ADS_2