Bad Boy Story

Bad Boy Story
Peresmian


__ADS_3

apa-apaan Seragam Ini. Warnanya Kayak Banci? Argggh, Masak Gua Harus Pake Kaos Gitu Sih. Dan Tulisannya Itu Loh Bikin Jijik 'cute Girl' .Tidak, Tidak Gentle Seorang Ketua Gangster Kek Gua Makek Gituan. Tapi Kalau Gua Nolak Nanti Kedepannya Mereka Musuhin Gua. Empat Tahun Cuy. Gua Mesti Gimana, Tapi Kalau Gua Pikir Harus Keluar Pake Kaos Kebalik Gini Juga Bakalan Di Ketawain. Mental Uda Down Hah! Biarin Saja Makin Down. Kenapa Tren Cewek-cewek Ini Kacau Sekali Sih! Sabar Reza,Sabar! Inget Harta Mu Yang Sedang Tersenyum Menunggu. "


"Ga - Gak Apa-apa Kok. Aku Pakai Seragam Kaos Yang Sama Saja. " Senyum Reza Getir. Batinnya Sebenarnya Memberontak Keras.


Eva Memberikan Kaos Tersebut Kepada Reza Dengan Hati Riang. Tanpa Pikir Panjang Reza Menaruh Kopyah Putih Dan Membuka Kaos Metal Terbaliknya Dengan Cepat. Membuat Para Wanita Berteriak Histeris.


"Aaaaawwwwwr! "


Beberapa Gadis Yang Malu Berteriak Sambil Menutup Matanya Memalingkan Wajah. Sementara Tidak Sedikit Juga Yang Terpana Melihat Tubuh Reza Yang Kekar. Memang Benar, Selain Gigi Kelincinya Yang Menonjol Besar, Penampilan Reza Lebih Mirip Dengan Oppa-oppa Korea Yang Digandrungi Cewek-cewek Jaman Sekarang.


Reza Bingung Setelah Memakai Pakaiannya. Banyak Ekspresi Nano-nano Yang Di Tunjukkan Teman-teman Barunya Kepadanya. Dia Kemudian Sadar Dengan Kata Religi.


'shitt! Gua Salah Lagi. '


Reza Segera Merapikan Baju Pink Nya. Baju Itu Tidak Simetris Dengan Bentuk Badannya Yang Tegap Berotot. Di Tambah Kaos Tersebut Memang Di Khususkan Untuk Wanita Yang Memiliki Tubuh Kecil, Membuat Reza Seolah Menjadi Banci Pengkolan.


'jirr... Gini Amat.. Gua Mesti Gimana Nih. ' Gumamnya Dalaadapan teman-teman nya.


"Maaf ya, aku lupa kalau tempat ini mayoritas cewek."


"Gak papa kok mas Eza, kita tadi spontan kaget. Cuma memang baju itu cute banget buat masnya, kayak oppaku. Cocok kok. " Puji savira membandingkan Reza dengan artis Korea kesukaannya.


"Mas Tinggal operasi gigi saja kok. Nanti bakalan cakep sumpah sweer. " Sela diah namun segera mulutnya di sumpal buku oleh Eva.


"Hemmm.. Ngomong nya! . Itu juga ciptaan Allah. Gak boleh gitu. "


"Hehe.. Maaf aku lupa. Terbawa suasana tadi he. "


Mereka bersama-sama keluar dari kelas menuju lapangan dimana penerimaan mahasiswa baru akan di resmikan. Tidak lupa ratusan mata seolah memberi penghakiman pada Reza.


Disisi lain syifa dengan perasaan bersalah tengah mencari keberadaan Reza yang menghilang setelah melakukan pendaftaran. Apalagi dia mau mengatakan suatu hal penting. Dia harap Reza tidak mengatakan hal apapun mengenai dirinya yang tinggal serumah dengan seorang pria.


"Duh! Kemana perginya sih, aku lupa ngomong soal kesepakatan untuk merahasiakan tinggal bareng. Bodohnya aku uda salah ninggalin dia sendirian, padahal sebelumnya aku sudah janji akan menemaninya. Dan semoga mas Eza mau menerima kaos ini sebagai permintaan maaf, memang murah, Tapi dia pasti senang. Dulu aku juga senang kalau di kasih-kasih pakaian. "


"Hai ! " Ucap seorang pria mengagetkan Syifa. Syifa sudah biasa dengan tingkah pria itu kepadanya. "Syifa cantik kok lagi bawa kaos, buat gua ya! . " Ucap seorang pria yang sudah lama naksir kepada Syifa, namanya Evan, murid dengan semester yang sama seperti Syifa.

__ADS_1


Syifa cukup terkenal karena kepintaran dan kecantikannya di kampus, namun sangat sedikit yang mencoba mendekatinya karena dia tergolong gadis yang sangat dingin pada lawan jenis. Sementara Evan sudah dari lama terus memepetnya, mengatakan cinta hingga ratusan kali namun tidak membuahkan hasil sama sekali.


"Jangan ganggu aku van, aku sibuk hari ini. " Ucap Syifa mengernyit dengan pandangan liar ke arah lain.


"Hmm.. Pasti nyariin dimas ya! Kenapa lo gak mau pacaran ma gua aja si fa? Dari pada mencintai dalam diam sama orang dingin kek gitu. " Ujar Evan sembari melirik kaos yang di pegang Syifa. Pria itu menganggap Syifa akan memberikan kaos tersebut pada idola kampus yang saat ini lagi naik daun, dimas.


"Asal jeplak aja mulutmu van. Ini bukan buat mas dimas ya. Lagian aku gak ada hubungan apa-apaan sama ketua Dewan Perwakilan Mahasiswa. Aku sebagai anggota yang terlibat hanya sekedar membantu saja. "


"Ngeles mulu padahal sudah rahasia umum kalian deket secara teratur gitu. Tapi gua gak akan menyerah mendapatkan cinta elo fa. Loe pantas gua perjuangin. "


"Uda ah, aku pergi dulu. Minggir! "


Syifa berlalu menuju lapangan kampus saat melihat banyak mahasiswa baru berkumpul di sana. Dia yakin akan menemukan Reza kali ini.


Syifa memandang satu persatu kelompok mahasiswa baru yang berjejer sesuai jurusan masing-masing. Matanya langsung fokus pada seorang pria jangkung yang berdiri di barisan paling depan dan terlihat mencolok saat di kelilingi mahasiswi baru di sekitarnya. Di tambah sebuah peci putih masih melekat di atasnya menambah kesan pemuda yang bernama Eza terlihat sangat menonjol di antara siswa baru yang lain.


'Mas Eza lugu banget, dia gak malu memakai seragam berwarna cute seperti itu, apalagi semua teman kelasnya wanita. Wajar sih, dia kan milihnya jurusan PGTK yang pastinya nanti mengurusi balita. Syukurlah kiranya dia sudah nyaman dengan teman-teman nya itu. Aku mungkin bisa membantunya sedikit lain kali. Baju ini aku kasih di rumah saja.' gumam Syifa saat melihat para mahasiswa baru sedang berdiri di bawah terik matahari seraya mendengar kata pengantar dari perwakilan dosen yang teramat panjang.


'Kampus sialan, kapan selesainya ceramah bandot tua itu sih. Perutku pagi ini belum keisi apa-apa. Gimana caranya gua kabur kalau semuanya nyuruh gua ada di barisan paling depan kek gini. ' keluh Reza dalam batin.


"Kamu gak apa-apa za? Kok aku liatin kayak gelisah gitu. " Tanya Eva penasaran, gadis yang berada di sebelahnya itu tidak bisa tidak peduli dengan tingkah aneh yang di peragakan oleh Eza.


Dengan terpaksa Reza jujur. Dia sudah tidak dapat menahan rasa laparnya lagi.


"Jujur aku belum sarapan pagi ini Va. Aku laper banget." Bisik Reza pelan. Beberapa teman barunya mendengar itu mulai mengerti dan saling berbisik.


"Za, kamu ke tengah aja dulu. Nanti kamu duduk dan kita bakalan tutupin. Si putri katanya bawa bekel dan bisa kamu ambil. "


"Beneran? "


"Iya."


Senyum Reza mengembang lebar. Dengan cepat dia mengganti posisinya dan segera memakan bekal temannya di kerumunan para wanita. Reza puas dengan bekal tersebut, nasi lembut dengan daging pok-pok renyah di dalamnya, sausnya pun terasa nyaman di lidah membuat Reza merasakan kembali nikmatnya makan mewah di tengah kelaparan.


'Pinter juga ni cewek-cewek ngambil hati gua. Oke lah, gak dapet anak buah cowok gua ganti aja mereka buat jadi anak buah gua, mereka akan gua paksa untuk menuruti kemauan gua. Cuma butuh sedikit usaha buat dapet hati mereka. Hahaha '

__ADS_1


Uhuk, uhuk.. Reza tersendak dalam pikiran jahat nya.


Reza beristirahat sebentar, ia kemudian kembali ke posisinya semula dengan kekuatan penuhnya untuk memulai ambisinya. Ambisi jahatnya kali ini adalah menargetkan para wanita di kelasnya untuk menjadi anak buahnya.


Setelah ceramah panjang dari perwakilan dosen selesai. Itu dilanjutkan dengan sambutan perwakilan dewan mahasiswa. Beberapa wanita meneriaki orang yang tengah menjadi pusat perhatian itu dengan penuh antusias. Namanya dimas, dia adalah pria yang cukup tampan dan sangat di segani di antara para mahasiswa.


Hanya Reza yang mengeluarkan amarah saat pria itu tersenyum maju ke tengah karpet biru kecil di tengah lapangan sembari memegang microphone.


'Bajing kepar4t itu ternyata ada disini, dan menjadi perwakilan mahasiswa? sialan. 'Gumam Reza di dalam hati. Reza mulai mengingat kejadian tiga tahun silam. Saat itu salah satu anak buahnya melapor bahwa adiknya menjadi korban penipuan dan pemerkosaan oleh seorang murid SMK Z. Anak buahnya bercerita dengan berurai air mata hingga bersimpuh padanya untuk membalaskan dendamnya.


Anak buahnya saat itu mengatakan bahwa keluarganya sudah melaporkannya pada pihak yang berwajib, namun karena lambatnya respon dan bisa saja polisi di sogok karena si pemerkosa merupakan seorang anak pejabat daerah, membuat dia tidak memiliki cara lain selain melaporkannya pada bos besar di sekolahnya yaitu Alfareza Rahardian.


Sedikit mengingat itu membuat Reza tersenyum karena berdiri di puncak kekuatan saat itu. Menjadi bos besar.


Bagi Reza keadilan tidak penting, namun itu cukup untuk menjadi alasan tepat untuk menyerang siswa dari SMK lain. Saat bentrokan terjadi, Reza bahkan mampu mematahkan tangan dari pemerkosa adik anak buahnya tersebut meski dirinya saat itu dalam kondisi babak belur.


Saat ini, di tengah-tengah sebuah acara dia melihat pemerkosa di depannya masih tersenyum renyah dan di sanjung-sanjung, mendengar itu telinga Reza berdernyit memprotes, harusnya semua mahasiswa itu menyanjung nya bukan orang lain.


Lagi pula, bisa saja mahasiswi di tempatnya kuliah menjadi target selanjutnya, namun itu tidak penting bagi Reza. Yang Reza khawatirkan saat ini ternyata kekuasaan kampus di pegang orang seperti Dimas, oleh karena itu Reza marah dan ingin mengambil alih kekuasaan tersebut.


'Tunggu saja, gua catet nama lo kali ini, hemm..dimas ya, nanti tangan kiri lo yang bakalan gua patahin. '


Setelah mendengar penjelasan lebar dari Dewan perwakilan mahasiswa, akhirnya orientasi study pun di mulai. Perwakilan masing-masing Kelas di persilahkan maju untuk mengambil daftar kompetisi dari Dewan mahasiswa yang saat ini membawa beberapa lembar kertas.


Tujuh orang maju dan kesemuanya adalah pria, sementara reza tidak menyangka bahwa teman kelasnya akan memilihnya untuk menjadi perwakilan di kelas mereka.


"Sudah sana maju. Kamu yang jadi ketuanya. " tutur Eva.


"Ketua? Aku? " Ucap Reza terkejut.


"Iya, kamu kan yang paling besar dan adalah seorang pria di antara kami. Pimpinan kami ya Za. " Ucap seorang wanita yang berada di kelas yang sama dengannya.


Reza yang menanggapi itu, dia mulai penuh dengan keseriusan.


'Kalian sudah membuatku sebagai bos? Haha... Bagus bagus, mudah sekali ternyata. akan ku pimpin kalian menjadi wanita yang tangguh sebagai anak buahku. ' Gumam Reza setelah di percaya sebagai bos besar dalam kelas itu.

__ADS_1


__ADS_2