
Reza mengangguk terpaksa dan keluar mengikuti wanita itu dari belakang. Ruang tamu kecil di depannya terdapat sebuah sofa yang tidak terlalu bagus, itu di beli syifa dari lapak online barang bekas. Mereka berdua kemudian duduk dengan jarak yang cukup jauh.
Reza duduk setelah Syifa duduk. Di depannya ada meja dan semangkok bakso hangat yang siap di santap.
Sebelum Syifa berbicara, Reza terlebih dahulu menyodorkan uang yang tengah di pegangnya.
"Mbak ini uang bulanan saya. Mohon di Terima. "
'Nih duit yang lo minta, dasar mata duitan, pake nyogok ngasih bakso segala lagi. ' kata hati Reza yang sangat jahat.
"Oh ya mas. Makasih ya. Makan dulu bakso nya mas. " Tawar Syifa tersenyum sembari mengambil uang dari tangan pria di sampingnya.
'Tuh kan tangan nya cepet banget ***** duit. '. Ucap Reza dalam hati lagi.
Mereka berdua kemudian makan tanpa bersuara.
Awalnya Reza mengutuk wanita di depannya karena memberinya makanan murah sebagai sogokan, bakso, itu adalah jenis makanan yang di sukai para rakyat jelata.
Sebenar nya makanan itu tidak cocok untuk Reza yang memiliki lidah bercitra rasa luar negeri, namun setelah mencicipi beberapa sendok kuah yang hangat dan sedap membuatnya makan dengan lahap.
"Mas kelaperan ya? " Tanya Syifa tersenyum, wanita itu kaget karena baru tiga kali dirinya menyendok kuah di depannya namun pria di sampingnya telah menandaskan semangkok penuh.
"Hehe.. " Jawab Reza dengan senyuman getir. Baru kali ini dia mencicipi makanan yang bernama bakso. Dia tahu bahwa bakso adalah makanan rakyat jelata. Sementara dirinya biasa memakan makanan Barat seperti spageti, sushi dan lainnya. Namun setelah menghabiskan semangkuk bakso yang di beri oleh Syifa, dia seolah mendapat menu favorit baru sebagai hidangannya.
'Makanan rakyat biasa ternyata enak juga. ' gumamnya dalam hati.
"Beli dimana ya mbak. Enak sekali. " Ujar Reza dengan bersemangat. Dia bahkan lupa dengan sumpah serapah yang dia lontar kan sebelumnya.
"Nanti aku kasih tahu alamatnya ke mas Eza. Itu deket kampusku mas. Oh ya, apa kesibukan mas sehari-harinya. Apa mungkin maz Eza bekerja? "
Pertanyaan Syifa membuat Reza terdiam dengan prasangka jahat.
'Sialan, gua ni baru lulus SMA, masak di katain pekerja. Emang muka gua seboros itu apa. gua lagi mau cari kuliah dan gak sudi repot-repot buat kerja, lagian harta gua kan banyak dan gua juga anak tunggal.'
"Aku mau kuliah mbak. Tapi belum daftar. Masih bingung mau kuliah dimana. " Jawab Reza sekenanya. Bibirnya sungguh mudah untuk mengatakan hal hal baik.
Syifa mendengar keluhan Reza. Dia berniat membantu pria yang tengah dalam kesulitan itu.
__ADS_1
"Mas mau cari universitas di tempat yang murah atau mahal? Nanti saya bisa rekomendasi kan beberapa kampus di daerah sini. " Tanya Syifa. Dia sebenarnya sudah bisa menebak bahwa pria di depannya akan mencari kampus yang murah, namun Syifa masih menjaga harga diri pria di sampingnya.
"Kalau ada yang murah si mbak. Apa mbak Syifa ada saran?" Ucap Reza dengan lidah se lues belut.
"Kalau mas mau, kuliah di tempat ku, Pendaftarannya sekaligus biaya semester nya gak terlalu mahal kok, sekitar sepuluh juta rupiah."
Mendengar saran Syifa, Reza mengangguk setuju karena memang itu adalah harga termurah dari semua kampus yang telah dia susurinya saat berselancar di internet. Namun mendengar kata sepuluh juta rupiah membuatnya menghela nafas berat.
'Uang gua sisa enam juta., Apa gua nodong adik-adik kelas aja ya, itung-itung buat nambahin tu uang. Kalau aja bokap ngijinin ngelakuin kriminal pasti gua lakuin besok. Ribet amat mau kuliah aja.
Melihat ekspresi Reza yang seakan pupus harapan dan termenung, membuat Syifa merasa iba. Dia mengerti dengan apa yang pria itu rasakan.
Kemiskinan memang salah satu penghambat pendidikan. Namun seseorang yang miskin dan masih gigih dalam menimba ilmu adalah suatu kemuliaan. Syifa ingin menyemangati pria di depannya itu yang merupakan sosok yang mulia.
Saat ini, kesalahpahaman Syifa tentang Eza sangat begitu besar.
"Bayar setengah juga boleh kok mas. Nanti sisanya di bayar setelah tiga bulan, biar saya yang ngurus administrasi nya. "
Mendengar perempuan di depannya berkata demikian. Reza yang tengah berfikiran untuk menodong adik-adik kelasnya atau merampok murid sekolahan lain secara sembunyi-sembunyi agar tidak di ketahui papanya mulai sirna.
Resiko melakukan kejahatan sangatlah besar, itu bisa membuatnya gagal dalam menjalankan misi menaklukkan tantangan papanya. Dia tahu bahwa orang tua itu pasti sudah menyuruh orang untuk memata-matainya.
Dia malu sendiri karena kadang dirinya merasa jenuh menjalani aktifitas rutin yang sangat padat, kadang pula dia mengeluh dengan takdir dari Allah yang sangat berat. Berkuliah sembari bekerja sekaligus mengirimi ayahnya uang yang sudah tua renta untuk menyambung hidup. Tapi itu berbeda saat dia melihat ekspresi yang di pancarkan oleh Reza, pria yang bersemangat dalam menimba ilmu.
Syifa yang semangat belajarnya mulai kendor mulai memantapkan hatinya untuk membakar perjuangannya dalam menimba ilmu seperti semangat juang Reza.
"Besok mas bisa datang ke alamat ini. Itu kampus kita, jangan telat loh, besok pendaftaran terakhir. Ngomong-ngomong jurusan apa yang mau mas ambil nantinya. Soalnya di kampusku itu cuma ada program study pendidikan. "
"Kalau mbak Syifa sedang ada di jurusan apa? " Tanya Reza bersemangat. Dia ingin mencari jalur study yang paling mudah dan gampang. Kalau bisa jurusan yang bisa bolos se enaknya serta mendapat nilai tinggi.
"Aku sih PGSD mas, aku niat mau jadi guru SD nantinya. Aku suka anak-anak. "
Mendengar hal itu membuat otak Reza berspekulasi. Pelajaran SD pasti tidak terlalu susah. Meski dirinya hanya jago dalam hal perkelahian dan hanya bisa berhitung dan menulis sederhana, pasti ada program yang sangat gampang untuk orang malas seperti dia.
Pelajaran SD juga tidak terlalu rumit kalau hanya mencangkup materi anak SD. Dia juga tahu pasti akan ada pelatihan mengajar, namun itu juga harus dia pertimbangkan lagi mengingat jika dia mulai magang dan di suruh mengajar anak kecil kelas tiga ke atas mungkin dirinya tidak akan mampu. Nilai mapel nya selama ini sangatlah buruk.
"Apa ada jurusan yang lain mbak? Untuk TK gitu? " Tanya Reza mencari tahu. Dia merasa tidak akan sanggup untuk magang dan mempraktekkan pengajaran di sekolah anak SD nantinya. Kalau di pikir lagi, TK adalah pilihan paling gampang. Ajak saja anak kecil menyanyi dan bersenang-senang dan semuanya akan beres, mungkin pelajaran di kampusnya juga tidak terlalu rumit. Memghitung, membaca dan bersenang-senang.
__ADS_1
'Haha, apakah ada jurusan semudah itu yah, gua bisa cepet lulus kalau gini. "
Pikiran Reza mulai liar dan jalan menuju roma semakin terbuka lebar dalam benaknya.
Syifa yang mendengar itu terkaget karena takjub. Dia bahkan tidak berani mengambil PGTK, itu karena butuh kesabaran lebih untuk mengurusi balita yang pastinya belum bisa di handle kebanyakan orang, saat ini di sampingnya ada pria yang mau mengambil jurusan itu. Syifa merasa salut dan takjub.
"Mas Eza mau ambil bidang study PGTK? Wah mas hebat ya. Berarti mas menyukai anak-anak lebih dari saya donk. "
Reza hanya cengar cengir menepuk kopyahnya yang hampir jatuh. Dia sendiri sebenarnya mencari jalan yang paling aman. Jika dia bisa mendapat nilai baik dengan cara mudah maka harta segunung sudah pasti di depan mata. Papanya, Teja Rahardika akan menjadi gelandangan menggantikan dirinya setelah ini.
"Begitulah mbak. Mohon bantuannya ya."
Syifa mengangguk tersenyum.
"Mas Eza sebelumnya sudah solat isya? Kalau belum, Syifa ngingetin aja biar nanti gak ketiduran. "
'Gua sholat? Nunggu gunung Semeru meletus aja sono dari pada nungguin gua ngerjain hal gak penting kek gitu. ' cibir Reza dalam batin. Sementara bibirnya berkata dusta.
"Sudah mbak tadi di masjid." Ucapnya karena malas, dia tidak mau harus bolak balik ke kamar mandi lagi untuk berpura-pura mengambil air yang di namakan wudhu, dia bahkan tidak tahu wudhu itu seperti apa. Saat ini Reza sudah mengantuk dan ingin segera tidur.
"Jarang ya ada cowok kayak mas Eza jaman gini. Oh ya, disini masjid juga gak terlalu jauh kok mas. Besok subuh Syifa bangunin ya. "
'Apa? Mana bisa gua bangun sepagi itu fvck. Mulai ribet kan! Duh, ngapain tadi gua pake alesan pergi ke masjid segala. '
Reza hanya tersenyum getir mendengar Syifa bertutur demikian. Ketika dia pamit untuk segera kembali ke kamarnya. Syifa segera menghentikan langkah kaki pria itu.
'Keribetan apa lagi yang mau nenek lampir ini berikan. '
"Mas memang mau tidur pake apa? Kan kamarnya kosong, aku liat mas cuma bawa barang seadanya. Sebentar tunggu di sini ya mas. "
Syifa berlalu ke kamarnya dan kemudian kembali sembari membawa sebuah selimut tebal dan sebuah bantal.
"Mas Eza pake dulu punya ku ini, dari pada kedinginan. "
Reza menerima barang pemberian Syifa dengan cepat. Dia sebenarnya memang membutuhkan benda-benda tersebut. Baru semalam dia tidur dengan nyaman di kamar besar yang bahkan lebih luas dari rumah tipe 36 yang di tempatnya ini. Malam ini malah dirinya harus tidur di atas lantai sempit.
"Jadi ngerepotin mbak Syifa. "
__ADS_1
"Ah, gak apa apa kok mas. "
Malam kian larut dan Reza sudah tertidur pulas.