Bad Boy Story

Bad Boy Story
Pendaftaran Kuliah


__ADS_3

Tepat pukul tiga Reza terbangun dari tidurnya. Badannya terasa sangat pegal karena tidur di tempat yang tidak nyaman.


Gimana ceritanya mo nyenyak kalau tulang kesentuh keramik kek gini.


Dia kemudian bangun dan pergi ke kamar mandi untuk kencing. Sebentar wajahnya yang kaku dia bilas dengan air yang terasa dingin.


Reza meletakkan pantatnya di sofa ruang tamu dengan malas. Bahkan rasa sofa itu lebih nyaman dari pada selimut yang di gunakannya untuk tidur. Setelah dirinya merasa akan benar-benar duduk terlelap, terdengar suara pintu terbuka.


Reza menoleh saat melihat Syifa keluar dari kamar ketika hendak ingin bertahajjud.


"Mas Eza sudah bangun duluan? "


Reza hanya tersenyum pias ketika matanya hanya menyisakan lima watt saja. Syifa segera menuju ke kamar mandi.


'Aku kira dia akan kelelahan dan tidak bisa bangun sepagi ini. Tau-taunya aku yang kalah cepet bertahajjud. ' batin Syifa meracau sendiri. Kesalahpahaman itu masih tetap berlanjut.


Selesai mengerjakan sholat tahajud Syifa keluar dari kamarnya dan melihat Eza tidak mengubah cara duduknta. Jika saja Syifa melihat dari sisi lain mungkin akan nampak bahwa Reza sebenarnya sedang enak tidur dengan posisi tersebut.


"Mas Eza, sebentar lagi Adzan lo. Kalau mau berangkat sekarang. " Ujar Syifa dengan suara agak keras. Reza segera sadar saat mendengar ucapan Syifa yang mengingatkannya untuk berjamaah di masjid..


'Astaga! . Baru aja mau tidur nyaman. Ni nenek lampir terus ngoceh aja.'


"Iya mbak. " Ucap Reza datar. Dia kemudian berjalan keluar dengan mata tertutup.


Reza tiba di masjid. Sangat mudah menemukan tempat itu karena suara toak masjid terdengar sangat keras. Dengan perasaan malas Reza memasuki tempat itu yang ternyata memiliki karpet bulu yang lumayan tebal sebagai lantainya. Di tambah AC yang mendinginkan ruangan besar itu sangat cocok untuknya tidur, semua terasa sempurna setelah suasana kantuk semakin menyeruak di dalam dirinya.


Reza mencari tempat pojokan yang sulit di jangkau mata para jamaah. Dia kemudian tidur dengan menutupi tubuhnya dengan sarung.


Tempat ini nyaman juga. hmmm...


Dua jam kemudian Reza bangun saat mentari sudah mulai menampakkan dirinya. Setelah mengucek bola matanya dia bingung sedang berada di mana, namun samar ingatannya mengatakan bahwa dirinya pagi buta tadi berjalan ke arah masjid. Setelah membasuh muka di toilet, dia kemudian kembali ke kontrakannya dengan perasaan puas karena sangat nyaman tidur di masjid.


Apa gua gak usah ngontrak aja ya. Enakan tidur di masjid kayak gitu. Udah adem, Empuk lagi! '

__ADS_1


Reza kemudian masuk ke rumah dan di sambut oleh Syifa yang sedang sarapan. Sekali lagi Reza masuk harus religius.


Assalamualaikum.


Ucap Reza. Dan di jawab dengan balasan yang sangat sopan.


"Walaikumsalam....Mas Eza, kayaknya keenakan di masjid ni. Syifa gak nyangka kalau mas itu remaja masjid. tapi hari ini mas gak boleh telat. Setengah jam lagi mas harus ada di kampus, kalau mau makan ini Syifa sisihin ."


Taik kucing lah, ngasih infonya dadakan sekali ni lampir. Sok nawarin makan di jam mepet kek gini juga, pasti cuma mau ngebully gua.


"Oh gitu ya mbak, aku bersiap-siap dulu. "


Reza segera meluncur ke kamar mandi setelah selesai dan mengambil handuk. Matanya sudah tidak mendapati wajah Syifa di sekeliling. Wanita itu sudah pergi duluan.


'Brengsek, harusnya nawarin nebeng bareng kek. '


Segera Reza memesan ojol. Dengan bersusah payah dia menepuk pundak abang ojol untuk segera mempercepat laju kendaraannya. Sekali lagi Reza membayar ojol yang hanya memintanya membayar tarif 9ribu rupiah dengan uang seratus ribu. Dia juga mengatakan untuk mengambil sisa remahan uangnya.


"Preman tidak boleh masuk sini meskipun pake kopyah! . " Ujar bapak satpam dengan suara membentak.


'Siapa yang preman sontoloyo. ' gumam Reza dalam hati.


"Maaf Pak, saya bukan preman, saya calon mahasiswa. " Jawab Reza pelan. Matanya kemudian dia coba senduh-senduhkan untuk mendapat simpati bapak satpam itu.


"Mana ada calon mahasiswa pakai kalung rantai sama baju tengkorak kayak gini, kamu mau nipu saya ya? . " Tegas bapak satpam. Reza tersentak, pandangannya secepat kilat turun dan melihat apa yang di kenakannya.


'Ya ampun tololnya Gua. Kenapa gua gak sadar kalau lagi pake ginian sih. ' gumamnya dalam hati lagi.


"Maaf Pak, saya habis cosplayer jadi preman insaf. Ini buktinya saya pakai kopyah. " Bela Reza dengan menggoyangkan kopyahnya kekanan dan kiri. Dia mulai membuka kalung yang di pakainya sekaligus membalik bajunya agar tidak terlihat gambar tengkoraknya.


"Yasudah masuk sana. Jangan bikin keributan. "


Reza masuk dengan senyum getir, di dalam kampus terlihat beberapa siswa menatapinya dengan pandangan aneh. Selain gigi kelinci besar dan kopyah putih, dia nampak bodoh dengan baju yang terpasang terbalik. Sesaat kemudian Seseorang menepuk pundaknya membuatnya terkejut.

__ADS_1


"Mas! Mas Eza sudah datang ya. Ayuk ke tempat pendaftaran, penerimaannya hampir di tutup lo. " Ucap Syifa dengan sedikit memandang aneh pakaian yang di kenakan Reza.


'Kenapa mas Eza ngebalik pakaiannya gitu? Apa dia gak sadar? Atau jangan ja....ngan.. Kali saja baju mas Eza tidak ada yang bagus dan terlihat kumal. Makanya dia membalik bajunya agar tidak kelihatan kusam. Baju sebelumnya kan juga bermotif hello kitty yang sedikit aneh. ' Pikir Syifa dengan pandangan mengasihani.


Dia tahu dan menyimpulkan sendiri bahwa Reza adalah lelaki miskin yang nekat mencoba menimba ilmu di kota. Sangat wajar bila apa yang di kenakannya tidak terlalu baik. Dia dulu juga sempat memakai pakaian berlubang di ketiak saat pertama kali menjadi mahasiswi di kampus itu, mencoba menutupi lobang sebisa mungkin karena rasa malu. Namun melihat pria di depannya sangat tangguh dengan pakaian seadanya, Syifa merasa Reza memang bersungguh sungguh dalam menuntut ilmu.


'Kenapa mata mereka melotot gitu sih! ni nenek lampir malah ikut-ikutan. Apa gak pernah liat kaos supreme limited edition kali ya. Mau di bolak balik kek gimana pun ni kaos seharga dua puluh juta, yaelah. '


Reza berjalan dengan canggung di belakang Syifa. Meski dirinya berteriak dalam hati dan menganggap bahwa mata semua siswa miskin di sana tidak mengerti fasion dan telah salah memandang kaosnya, tetapi tetap saja dia masih terkena serangan mental. Dari serangan mental itu membuat jalannya menjadi sedikit linglung.


"Mas reza mengantri disini saja. Nanti akan di panggil sesuai nomer urut. Ini sudah saya ambil kan nomer antriannya." Ucap Syifa sembari undur diri. Dia juga mengatakan dia ada kelas setelah ini.


Sebenarnya Syifa ingin tetap membantu Reza menyelesaikan pendaftarannya. Namun dirinya juga tidak mampu menahan mental malu dengan pandangan orang di sekitar mereka saat keduanya berjalan.


'Maafin aku mas Reza. Syifa memang dzolim. '


"Nomer urut dua puluh enam. " Teriak seseorang menggunakan speaker kecil yang ada di atas pintu. Mendengar nomernya di sebutkan membuat Reza berdiri dan memasuki ruangan.


Dua orang petugas tengah duduk di hadapannya sembari membaca nilai-nilai rapot Reza. Seorang perempuan terlihat menggelengkan kepala dengan tampilan kecewa seraya membetulkan letak kacamatanya, dia kemudian menutup buku raport Reza sebelum kemudian matanya naik ke atas menjuruskannya pada pria di depannya.


Melihat itu Reza menelan salivanya dengan berat. Seolah benda yang dia telan adalah batu. Dia tahu sesuatu yang buruk akan segera terjadi.


"Saudara Reza! ," Reza terkaget mendengarkan teriakan wanita berkaca mata di depannya karena saking kerasnya. "saya selaku petugas penerimaan mahasiswa telah membaca semua nilai dan perilaku saudara yang tertulis di rapot SMA saudara. Semua nilai saudara sangat jauh dari kata cukup. Terutama dari nilai sikap dan kesopanan saudara, itu adalah nilai terburuk dari yang terburuk yang pernah saya jumpai. Saat ini juga bisa saja saya menolak anda untuk mengenyam pendidikan disini, namun sebelum itu, saya terlebih dahulu ingin mendengar alasan, kenapa nilai anda sangat buruk sementara penampilan anda yang menyedihkan sangat berbanding terbalik dengan nilai-nilai ini."


Reza mematung. Sementara kedua pengawas di depannya terlihat saling berbisik.


'Papa kamfreet.. Padahal gua sudah ngomong ke mama buat nyogok guru yang ngasih nilai pas kelulusan, ini pasti ulah si bandot tua itu. Dia sengaja mau menggagalkan pendaftaran gua saat kuliah agar dia bisa membuang gua seenak jidadnya, ya kan! . Sekarang Gua harus gimana.. Butek butek semuanya, ide gak ada ya ampun. ' gumam Reza dengan keringat dingin bercucuran.


Dia kemudian teringat pengemis yang mengiba di pinggir jalan.


Mengemis.


Itu adalah satu-satunya cara agar dia bisa lolos dari keterpurukan itu.

__ADS_1


__ADS_2