
Malam itu, di rumah mereka yang sunyi, Aminah dan Yusuf duduk di meja makan dengan keheningan yang terasa menggantung di antara mereka. Wajah mereka tidak lagi mencerminkan kebahagiaan yang pernah mereka miliki.
Yusuf, dengan nada ketus, berkata, "Aminah, aku harap kau bisa mengerti, pekerjaanku sangat penting. Aku harus bekerja keras untuk memberi kita hidup yang baik."
Aminah, dengan mata berkaca-kaca, menjawab dengan nada rendah, "Tapi, Yusuf, bukan itu yang ku minta. Aku hanya ingin sedikit waktu bersamamu. Kau seperti orang asing dalam rumah ini."
Yusuf semakin terpancing, "Aminah, tidakkah kau mengerti? Bisnisku tidak akan berkembang jika aku tidak bekerja keras. Kita butuh uang."
Aminah, kesal dan penuh kekecewaan, menimpali dengan nada tajam, "Uang tidak bisa menggantikan waktu yang kau curi dariku, Yusuf. Aku merasa terlupakan dan kesepian."
Yusuf menggertakkan giginya, "Jangan terus-terusan mengeluh, Aminah. Aku lelah dengan keluhanmu."
Percakapan mereka berubah menjadi pertengkaran yang memanas, suara-suara cekcok memenuhi ruangan. Ini adalah pertama kalinya dalam pernikahan mereka, emosi mereka berbenturan sekeras ini. Tapi keduanya merasa terjebak dalam konflik yang semakin mendalam, dan tidak ada yang tahu bagaimana mereka akan mengatasinya.
Terdengar suara hujan yang deras di luar, dan petir menyambar di kejauhan saat pertengkaran di dalam rumah semakin memanas.
"Aku sudah cukup!" Aminah berteriak dengan suara yang gemetar, lalu melemparkan piring berisi makanan yang ada di meja makan. Piring itu pecah berkeping-keping saat melayang di udara.
Yusuf, juga marah, meneriakkan, "Kau benar-benar tidak tahu betapa sulitnya pekerjaanku!" Sambil menghentakkan tangannya ke meja, sebuah gelas berisi air tumpah dan pecah menjadi potongan-potongan.
Aminah membalas, "Pekerjaanmu selalu nomor satu bagimu, bahkan lebih penting daripada keluarga kita!" Dia meraih vas bunga yang terletak di atas meja, dan dengan kekuatan marah, melemparkannya ke lantai. Bunga-bunga yang indah berserakan di seluruh ruangan.
Suasana semakin tegang, dan hujan yang turun semakin deras seolah mencerminkan perasaan mereka yang bergejolak. Mereka berdua berdiri di tengah-tengah puing-puing perpecahan, merasa seolah dunia mereka runtuh di sekitar mereka.
Yusuf, dengan nafas yang terengah-engah, mencoba mengendalikan diri, "Aminah, kita tidak bisa terus begini. Aku tahu kita menghadapi masalah, tapi kita perlu mencari solusi bersama."
__ADS_1
Aminah, meski masih marah, merasa sedikit terpukul oleh kata-kata Yusuf. Dia menangis, air mata mengalir di pipinya. "Aku hanya ingin kau tahu bagaimana aku merasa, Yusuf. Aku ingin kita kembali seperti dulu."
Petir menyambar lagi, dan listrik di rumah mereka tiba-tiba padam, meninggalkan mereka dalam kegelapan total. Ini seolah menjadi simbol kekacauan yang telah mereka ciptakan.
Mereka berdua merenung dalam kegelapan, merasakan beratnya kata-kata dan tindakan mereka. Pertengkaran mereka tidak hanya merusak benda-benda di sekitar, tetapi juga hati mereka yang saling terluka. Mereka tahu bahwa perjalanan mereka untuk memperbaiki rumahtangga yang penuh derita telah dimulai, meskipun jalan menuju kebaikan mungkin masih jauh dan penuh tantangan.
Dalam kegelapan yang menyelimuti rumah, Aminah segera berlari menuju kamar sambil menangis. Dia meraba-raba laci meja samping tempat tidur untuk menemukan ponselnya. Dengan tangan gemetar, dia menyalakan lampu ponsel untuk menerangi Pandangannya.
Cahaya kecil itu menciptakan bayangan-bayangan di dinding dan lantai saat dia sedang menangis di kamar sang anak. Dalam keheningan yang terasa semakin mencekam, dia mengetik pesan singkat kepada sahabatnya, Rina, "Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan, Rina. Pertengkaran kami semakin buruk. Tolong, aku butuh seseorang untuk berbicara."
Rina segera merespons pesannya, memberikan dukungan kepada Aminah dan berjanji akan datang ke rumahnya esok pagi. Aminah merasa sedikit lega, tahu bahwa dia tidak sendirian dalam perjuangan ini.
Sambil terduduk di ranjangnya, Aminah membiarkan air mata mengalir, berharap bahwa mereka berdua dapat menemukan jalan untuk memperbaiki pernikahan mereka yang penuh derita.
Malam yang gelap terasa berat bagi Aminah, dan akhirnya, dia memutuskan untuk mengambil langkah drastis. Dalam kebingungan dan kesedihannya, dia menyusun beberapa pakaian dan barang-barang penting ke dalam tas kecil. Aminah kemudian menghampiri anaknya yang tidur dengan lembut dan mencium keningnya.
Dengan ponselnya yang masih menerangi jalan, dia melangkah perlahan ke pintu depan dan keluar dari rumah dalam keheningan malam yang gelap.
Aminah tiba di rumah orang tuanya, dan mereka menyambutnya dengan pelukan hangat. Di sana, dia berharap dapat menemukan klaritas dan solusi untuk masalah pernikahannya yang penuh derita, sementara Yusuf di rumah mereka merenungkan tindakan dan kata-katanya yang telah mendorong Aminah pergi.
Nama anak mereka adalah Hana, dan usianya 7 tahun. Yusuf kira semalam Aminah tidur bersama Hana di kamar mereka, tetapi ketika pagi tiba, dia terbangun dengan keheningan yang aneh. Hana, dengan mata yang penuh kebingungan, bertanya, "Ayah, di mana ibu? Kenapa dia tidak ada di sini?"
Yusuf merasa jantungnya berdebar kencang, dan kebingungannya semakin dalam. Dia mulai mencari Aminah dengan cemas dan mengharapkan untuk menemukan jawaban atas kepergiannya.
Dengan hati yang semakin cemas, Yusuf mulai mencari Aminah di setiap sudut kamar yang ada. Dia meraba-raba bantal dan selimut, mencari tanda-tanda keberadaan istrinya, tetapi tidak menemukannya. Kamar yang tadinya penuh cinta dan harapan sekarang terasa kosong dan dingin.
__ADS_1
Yusuf mencoba mengendalikan kecemasannya saat menjawab Hana dengan suara tenang, "Mungkin ibu bangun lebih awal, Nak. Ayah akan mencarinya, jangan khawatir."
Dia pergi ke kamar mandi, dapur, dan ruang tamu, berharap menemukan jejak Aminah. Namun, tidak ada tanda-tanda keberadaan istrinya di seluruh rumah.
Yusuf masuk ke kamar dengan pikiran yang masih dipenuhi kebingungan dan kekhawatiran. Dia meraih ponselnya untuk menghubungi Aminah dan memberi tahu bahwa dia akan mencari istrinya, tetapi ketika dia membuka ponsel, dia menemukan pesan singkat yang menggambarkan situasi yang aneh.
Dalam kebingungannya, dia membaca pesan yang dikirimkan sang istri dini hari itu, yang berbunyi: "Yusuf, aku sudah kembali ke rumah orangtuaku. Aku butuh waktu untuk merenungkan semuanya."
Dengan ponsel di tangan dan rasa campur aduk yang masih melingkupi pikirannya, Yusuf mengajak Hana untuk berbicara dengan lembut. Dia ingin melindungi anaknya dari beban pernikahan yang sedang bermasalah ini.
Yusuf tersenyum pada Hana dan berkata, "Hari ini, Nak, ayah pikir kita sebaiknya menjemput mamah di rumah Nene dulu. Kita bisa habiskan waktu bersama sebagai keluarga. Mamah pasti akan senang melihatmu."
Yusuf menjelaskan dengan lembut kepada Hana, "Mamah pagi-pagi pergi ke rumah Nene karena kamu masih tidur, Nak. Mamah ingin membiarkanmu tidur nyenyak, jadi dia nggak mau mengganggumu saat kamu tidur."
Hana tampak menerima alasan tersebut dengan senyum. Dia mungkin masih kecil, tetapi dia bisa merasakan bahwa ada sesuatu yang tidak beres dalam hubungan orang tuanya. Yusuf merasa lega karena dia berhasil menjaga Hana dari konflik yang sedang berlangsung, setidaknya sementara waktu.
Yusuf dan Hana meninggalkan rumah dengan perasaan campur aduk, menuju ke rumah nenek. Perjalanan mereka bersama membawa sedikit cahaya di tengah masa sulit yang mereka alami. Mereka berdua duduk di dalam mobil, tetapi suasana hening dan kekhawatiran masih melingkupi mereka.
Hana, yang masih belum mengetahui dengan pasti apa yang terjadi, menyandarkan kepala ke bahu ayahnya. Yusuf mencoba memberikan kekuatan padanya sambil mengemudikan mobil.
Saat mereka semakin mendekati rumah nenek, Yusuf berharap bahwa pertemuan ini akan membawa pemahaman dan perubahan positif dalam hubungan mereka dengan Aminah.
Mereka akhirnya tiba di depan rumah nenek, dan Yusuf mematikan mesin mobil. Hana melihat dengan rasa antusiasme rumah neneknya yang familiar. Rumah itu menyimpan kenangan manis bagi mereka sekeluarga.
Yusuf membantu Hana keluar dari mobil, lalu mereka berdua melangkah menuju pintu depan rumah nenek. Dengan perasaan gugup yang tak terelakkan, Yusuf mengetuk pintu.
__ADS_1
Nenek mereka membuka pintu dengan senyuman hangat dan memeluk mereka berdua. "Selamat datang, sayang-sayangku," katanya dengan penuh kasih sayang.
Setelah masuk ke dalam rumah, Yusuf dan Hana bersama nenek duduk di ruang tamu.