
Tidak lama kemudian, Rina tiba di rumah nenek. Dia mengucapkan salam hangat kepada nenek dan Hana, lalu menuju ke ruang tamu tempat Aminah duduk.
Aminah tersenyum lemah ketika melihat Rina. Dalam kehangatan persahabatan mereka, mereka merangkul satu sama lain. Aminah merasa lega karena temannya ada di sini untuknya.
Rina berkata dengan penuh kasih, "Aku di sini untukmu, Aminah. Ceritakan semuanya padaku. Kita akan mencoba menemukan jalan keluar bersama-sama." Dalam perjumpaan ini, mereka berdua bersiap untuk berbicara dan mencari solusi untuk masalah yang meresahkan Aminah.
Aminah mulai menceritakan permasalahannya kepada Rina. Dengan mata berkaca-kaca dan suara yang gemetar, dia membagikan semua ketidakpastian, kebingungan, dan kekecewaannya. Dia menceritakan pertengkaran mereka dengan Yusuf, ketidakpastian mengenai hubungan mereka, dan bagaimana pekerjaan selalu menjadi hal yang mendominasi kehidupan Yusuf.
Rina mendengarkan dengan penuh perhatian, memberikan dukungan emosional, dan mencoba memberikan saran yang bijak. Dia mencoba untuk membantu Aminah merangkul perasaan dan memahami bahwa mereka akan mencari jalan untuk menyelesaikan masalah ini bersama.
Mereka berbicara lama, dengan Aminah merasa lebih lega karena bisa berbicara dengan teman terdekatnya. Dalam perbincangan ini, mereka berharap dapat menemukan solusi yang baik untuk permasalahan keluarga Aminah.
Setelah berbicara panjang lebar, Aminah merasa lebih lega dan terbuka tentang perasaannya. Rina memberikan dukungan emosional yang sangat dibutuhkan, dan mereka berdua bersama-sama merenungkan langkah-langkah yang bisa diambil untuk mengatasi konflik dalam pernikahan Aminah.
Rina berkata, "Aminah, kamu tidak sendirian dalam perjuangan ini. Kita akan mencari jalan keluar bersama. Yang paling penting adalah berbicara terbuka dengan Yusuf, mendengarkan satu sama lain, dan mencoba memahami perasaan masing-masing."
Aminah tersenyum pada sahabatnya dengan rasa terima kasih. Mereka berdua merencanakan untuk mengadakan percakapan yang lebih mendalam dengan Yusuf, untuk mencari pemahaman dan solusi bersama. Dalam saat-saat sulit ini, dukungan teman seperti Rina adalah hal yang sangat berarti bagi Aminah.
Setelah Aminah berhasil menceritakan semua permasalahannya dan mendapatkan dukungan serta semangat dari Rina, saatnya bagi Rina untuk pamit pulang. Mereka berdua merangkul satu sama lain dengan erat.
Rina berkata, "Aminah, aku senang kamu berani berbicara dan berbagi perasaanmu dengan aku. Ingat, aku selalu ada untukmu jika kamu butuh teman atau dukungan kapan pun."
__ADS_1
Setelah Rina pamit pulang, Aminah merasa lebih kuat dan siap untuk menghadapi permasalahan dalam pernikahannya. Dia merenungkan semua nasihat dan dukungan yang telah dia terima dari sahabatnya, dan dia tahu bahwa langkah pertama adalah berbicara dengan Yusuf secara terbuka.
Aminah kembali ke ruang tengah rumah nenek, di mana Hana masih bermain dengan neneknya. Dia memandang putrinya dengan penuh cinta
Waktu menjelang malam, dan Yusuf belum juga datang menjemput Aminah dan Hana. Aminah mulai merasa semakin kesal dan cemas. Dia mencoba untuk tetap sabar dan menjelaskan situasi ini kepada Hana.
Aminah berkata, "Sayang, sepertinya Ayah terlambat pulang. Mungkin ada sesuatu yang terjadi di kantornya. Kita tunggu sebentar lagi, ya?"
Mereka menunggu sampai jam 7 malam tapi Yusuf belum ada kabar,dan silang beberapa menit Yusuf baru mengirimkan pesan singkat
Tapi pesan singkat itu tak di harapkan oleh Aminah hingga membuat semakin kesal saat menerima pesan singkat dari Yusuf yang menyatakan bahwa ia terpaksa lembur karena ada masalah di kantor. Dia merasa bahwa Yusuf sudah berjanji untuk meluangkan waktu untuk keluarga, tetapi kini dia malah terlambat pulang tanpa penjelasan yang memadai.
Yusuf mencoba untuk meminta maaf dan memberikan penjelasan lebih lanjut melalui pesan singkat, "Maaf, sayang. Ini benar-benar situasi darurat di kantor. Aku akan segera pulang begitu masalahnya selesai."
Namun, Aminah masih dalam kondisi emosi yang tinggi dan merasa bahwa penjelasan ini tidak cukup. Dia membalas dengan perkataan tajam, "Maaf tidak cukup, Yusuf. Keluarga kita juga punya masalah yang harus kita selesaikan bersama. Ini tidak adil bagi kami."
Yusuf berusaha untuk meminta maaf sekali lagi melalui pesan singkat, dengan harapan bisa meredakan kemarahan Aminah, "Aminah, aku benar-benar minta maaf. Aku akan segera pulang begitu masalah ini terselesaikan."
Namun, kali ini Aminah merasa bahwa kata-kata maaf tidak cukup. Dia merespon dengan tegas, "Sudah tidak usah jemput kesini lagi. Aku dan Hana akan tinggal di sini saja."
Yusuf mencoba dengan putus asa untuk menghubungi Aminah, tetapi pesan dan panggilannya tidak direspon. Setelah jam 9 malam,Yusuf pulang karena permasalahan di kerjaannya terselesaikan, dia merasa sangat cemas dan khawatir. Tanpa ragu, dia memutuskan untuk pergi ke rumah nenek untuk menjemput Aminah dan Hana.
__ADS_1
Dengan hati yang penuh penyesalan dan keinginan untuk memperbaiki kesalahannya, Yusuf tiba di rumah nenek.
Yusuf mengetuk pintu rumah nenek dengan hati yang penuh ketegangan dan rasa penyesalan. Ketika pintu terbuka, Aminah muncul di depannya.
Dengan suara lantang, Aminah berkata, "Yusuf, kami tinggal di sini karena kami butuh waktu untuk merenungkan hubungan kita."
Yusuf mengangguk dan mencoba menjelaskan, "Aminah, aku tahu aku telah membuatmu marah. Maafkan aku. Aku ingin mencari solusi untuk masalah kita. Keluarga adalah prioritasku."
Aminah menatap Yusuf dengan tatapannya yang tajam, lalu berkata, "Kami juga ingin keluarga yang bahagia, Yusuf. Tapi kami butuh komitmenmu untuk menghadapi masalah ini bersama-sama."
Hana yang telah mendengar suara kedua orang tuanya di depan pintu, keluar dari kamarnya dengan riang. Dia langsung berlari menuju ayahnya dan memeluknya erat. Wajahnya dipenuhi senyuman dan kebahagiaan karena melihat ayahnya pulang.
Yusuf tersenyum dan merasakan kehangatan dalam pelukan putrinya. Dia merasa lega bahwa setidaknya Hana senang melihatnya pulang.
Yusuf mengingatkan Hana tentang sekolah besok dan mengatakan, "Sayang, kita harus pulang sekarang." Hana awalnya masih ingin bermain lebih lama di rumah nenek, tetapi ketika mengetahui bahwa besok dia harus sekolah, dia setuju untuk pulang.
Aminah yang awalnya ingin tinggal lebih lama di rumah nenek akhirnya dipaksa untuk pulang karena Hana ingin pulang. Dengan berat hati, Aminah akhirnya ikut pulang bersama suaminya dan putrinya. Konflik dalam keluarga mereka masih terasa di udara, tetapi mereka bertiga kembali ke rumah dengan harapan untuk memperbaiki hubungan mereka.
dalam perjalanan pulang, Aminah dan Yusuf tidak mengucapkan sepatah kata pun satu sama lain. Suasana terasa hening dan tegang, dengan ketidaknyamanan yang menyelimuti mereka.
.
__ADS_1