
Yusuf terus menunggu Aminah pulang dengan hati yang semakin cemas dan penuh kekhawatiran. Ia merasa bahwa ada sesuatu yang tidak beres dalam hubungan mereka, dan perasaan ini semakin membebani pikirannya seiring berjalannya waktu. Meskipun telah bela-belain untuk menunggu di rumah dan berharap dapat meminta maaf serta mengatasi permasalahan yang telah terjadi, Aminah sepertinya sengaja menghindarinya.
Saat jam menunjukkan pukul 10 siang, Yusuf merasa bahwa ia tak bisa lagi menunggu. Ia sudah terlalu lama absen dari pekerjaan, dan tanggung jawaban kerja yang ia miliki membuatnya merasa tertekan. Dengan hati yang berat, ia memutuskan untuk berangkat ke kantor meskipun hatinya masih penuh dengan kegelisahan.
Saat akan melangkah keluar rumah
Yusuf mengangkat foto pernikahannya dengan Aminah dari lantai dan memandanginya dengan tatapan yang penuh kerinduan. Foto itu adalah kenangannya akan saat-saat indah yang pernah mereka lalui bersama. Mereka terlihat begitu bahagia di hari pernikahan mereka. Wajah bahagia Aminah dan senyuman dari keduanya terpancar dengan jelas di foto itu.
Yusuf merasa seakan-akan itu adalah masa lalu yang begitu jauh, meskipun hanya beberapa tahun yang lalu. Air mata mulai merembes di matanya, dan ia tidak bisa menahan perasaan sedih yang merayap di hatinya. Ia menginginkan kembali kebahagiaan itu, ke saat-saat ketika mereka saling mencintai dan mendukung satu sama lain.
Yusuf pergi bekerja dengan hati yang pilu, masih teringat gambar foto pernikahan mereka yang ia lihat tadi pagi. Ia merasa terbebani oleh berbagai permasalahan yang meruncing dalam pernikahan mereka. Tugas-tugas pekerjaan yang menumpuk juga menjadi beban tambahan baginya, namun ia merasa sulit untuk fokus.
Di perjalanan ke kantornya, ia merenungkan semua yang telah terjadi dalam beberapa waktu terakhir ini. Ia berharap bahwa hari ini ia dapat menemukan cara untuk mengatasi permasalahan-permasalahan yang merusak hubungannya dengan Aminah. Hati Yusuf dipenuhi dengan penyesalan dan kerinduan, sembari berharap bahwa mereka dapat menemukan jalan keluar dari keterpurukan ini.
Saat tiba di kantor, Yusuf mencoba untuk fokus pada pekerjaannya, meskipun pikirannya sering melayang ke masalah pribadinya. Ia berusaha menjalani hari kerja dengan sebaik-baiknya, sambil merencanakan cara untuk memperbaiki hubungannya dengan Aminah.
***
Setelah meninggalkan hotel, Aminah dan Farhan berjalan ke arah yang berbeda. Farhan pulang ke rumahnya, sementara Aminah bergegas ke sekolah untuk menjemput Hana. Namun, dalam hati, Aminah merasa berat untuk melepaskan momen romantis yang baru saja dia alami dengan Farhan. Mereka telah merasakan kembali cinta yang dulu pernah ada, dan perasaan itu membuat hati Aminah terasa berbunga-bunga.
Ketika Aminah tiba di sekolah untuk menjemput Hana, ia mencoba menyembunyikan ekspresi wajahnya yang masih terpancar kebahagiaan. Meskipun dia merasa bersalah karena berselingkuh dengan Farhan, dia juga merasa hidupnya kembali diberi warna.
__ADS_1
Aminah bersama Hana pulang ke rumah. Hana, yang sama sekali tidak tahu apa yang telah terjadi, ceria bercerita tentang hari sekolahnya. Aminah mencoba tersenyum dan berbicara dengan anaknya seolah-olah semuanya baik-baik saja.
Hana dengan semangat menceritakan tentang rencana acara jalan-jalan ke kolam renang minggu depan, yang akan diadakan di sekolahnya. Dia tersenyum bahagia dan berkata, "Mamah, aku ingin sekali ikut! Tapi aku nggak mau pergi sendirian, aku ingin mamah juga ikut!"
Aminah merasa terharu melihat semangat dan keinginan anaknya itu. Dia ingin bisa memberikan yang terbaik untuk Hana dan terlibat dalam momen-momen bahagia seperti itu bersama putrinya.
Dia akhirnya menjawab dengan nada halus, "Tentu, sayang. Mamah akan mencoba yang terbaik untuk ikut dalam acara itu. Tapi kita harus lihat nanti, ya."
Hana berseri-seri dan berpelukan erat dengan ibunya. Sementara Aminah berusaha tersenyum untuk menjaga semangat anaknya, tetapi dalam hatinya, dia tahu bahwa keadaan rumah tangganya masih jauh dari normal dan damai.
Setelah berbicara dengan Hana tentang rencana jalan-jalan ke kolam renang, Aminah menyuruh anaknya untuk segera mengganti pakaian sekolahnya. Hana pergi ke kamarnya untuk mengganti baju. Saat Aminah duduk di ruang tengah, dia merasa ada sesuatu yang tidak beres. Rasa gelisah nya semakin memuncak.
Aminah, dalam keputusan yang penuh harapan, memutuskan untuk mengirim pesan singkat kepada Yusuf. Dalam pesan tersebut, ia mencoba mengungkapkan keinginannya untuk memperbaiki hubungan yang kacau belau ini. Dengan tangan gemetar, ia mengetik pesan, mengutip kata-katanya dengan penuh perasaan:
"Kalau kamu mau memperbaiki hubungan kita, kamu harus pulang sebelum jam 6 sore mas."
Ini adalah permohonan Aminah agar Yusuf bisa datang dan bersedia berbicara. Dia berharap agar pertemuan ini bisa menjadi titik balik dalam hubungan mereka yang sudah terkoyak.
Yusuf membaca pesan singkat Aminah dengan hati yang campur aduk. "Saya akan usahakan untuk pulang tepat waktu, sayang," katanya
dalam balasan yang diiringi oleh perasaan harap dan tekad untuk memperbaiki hubungan mereka. Kata-kata ini menggambarkan upaya yang ia rencanakan dalam pikirannya. Terlepas dari kesibukan kerja yang memaksa, dia ingin menegaskan kepada Aminah bahwa keluarganya adalah prioritasnya.
__ADS_1
Pesan singkat itu seolah menjadi tongkat penyemangat di tengah lautan tekanan kerja yang tak berkesudahan. Yusuf merasa bahwa ini adalah saat yang penting untuk mengubah arah rumah tangganya yang sedang terombang-ambing. Ia ingin memberikan komitmen untuk kembali membangun fondasi yang kuat dengan Aminah, dan pesan singkat itu adalah langkah awal menuju perubahan tersebut.
Saat Yusuf sedang menyelsaikan pekerjaannya
Prio mendekati Yusuf dengan ekspresi tergesa-gesa, "Maaf, Mas Yusuf, aku butuh bantuanmu. Mobilku ada masalah, dan aku harus segera pergi ke bengkel. Bisakah aku meminjam mobilmu sebentar? Aku janji, ini hanya urusan sebentar."
Yusuf merasa dalam dilema. Dia ingin menjaga komitmennya untuk pulang tepat waktu dan berbicara dengan Aminah. Namun, dia juga tidak ingin meninggalkan temannya dalam kesulitan. Dengan nada emosi yang kombinasi antara kewajiban terhadap teman dan keinginan untuk memperbaiki hubungannya dengan Aminah, dia menjawab, "Prio, aku sebenarnya punya rencana lain setelah kerja hari ini, tapi ya, aku bisa meminjamkan mobilku padamu. Tapi harap segera kembalikan, ya?"
Prio melepas napas lega, "Terima kasih, Mas Yusuf. Aku tidak akan lama. Aku akan segera kembali."
Yusuf pun memberikan kunci mobilnya kepada Prio, namun dalam hatinya masih tertekan oleh perasaan ingin segera pulang dan berbicara dengan Aminah. Ia berharap semuanya akan berjalan lancar sehingga ia bisa memenuhi komitmennya kepada istrinya.
Prio pergi dengan mobil Yusuf, dan waktu terus berlalu. Yusuf fokus pada pekerjaannya, tetapi perasaan gelisah nya semakin mendalam seiring berjalannya waktu. Ia ingin memastikan bisa pulang tepat waktu untuk memenuhi janji dengan sang istri.
Ketika akhirnya jam menunjukkan pukul 5 sore, Yusuf segera menyelesaikan pekerjaannya dan pergi ke tempat mobilnya biasanya diparkirkan.
Yusuf mulai merasa gelisah ketika Prio belum juga kembali dengan mobilnya. Dia mengambil ponselnya dan mencoba menelfon Prio, namun tak ada jawaban dari sana. Ketidakpastian tentang kapan Prio akan kembali dengan mobilnya semakin menambah kecemasan Yusuf. Semua yang ada di pikirannya adalah janji untuk pulang sebelum jam 6 sore agar bisa berbicara dan menyelsaikan masalah dengan Aminah.
Saat Prio akhirnya mengabari Yusuf bahwa dia baru akan perjalanan menuju ke kantor untuk mengembalikan mobil, Yusuf merasa semakin tertekan oleh waktu. Waktunya sudah berjalan hingga jam 7 malam, dan semuanya terasa semakin tidak pasti. Yusuf berusaha menelepon istrinya, Aminah, untuk memberitahunya bahwa dia akan segera pulang dan berharap untuk bisa berbicara dan menyelsaikan masalah, tetapi panggilannya tidak diangkat. Pesan yang dia kirimkan juga tidak mendapatkan balasan.
Sekarang, dengan keputusasaan yang tumbuh, Yusuf harus mengantarkan Prio ke rumahnya. Perasaan cemas dan kekhawatiran tentang nasib pernikahan dan keluarganya terus menghantuinya sepanjang perjalanan menuju rumah Prio. Semua yang dia harapkan adalah bisa tiba di rumah dalam waktu yang cukup untuk menemui Aminah dan anak mereka serta mencoba meredakan ketegangan yang telah terjadi di antara mereka.
__ADS_1