
Setelah makan siang yang agak canggung di restoran, Aminah, Hana, dan ibu Siti pulang ke rumah. Suasana di dalam mobil terasa hening, dengan Aminah yang berkonsentrasi pada kemudi dan Hana yang duduk di belakang, merenung.
Aminah merasa semakin cemas tentang pertemuan tadi dengan Farhan. Baginya, Farhan adalah sosok dari masa lalunya yang terkubur jauh, dan dia tidak ingin masalah ini menjadi lebih rumit dari yang sudah ada dalam kehidupannya. Ia juga tidak tahu apa yang harus dia katakan kepada Yusuf tentang pertemuan ini, karena dia khawatir akan membuatnya khawatir atau cemburu.
Ketika mereka tiba di rumah, suasana juga terasa agak tegang. Hana pergi ke kamarnya untuk bermain, meninggalkan Aminah dan Siti sendirian di ruang tamu.
"Apa yang sebenarnya terjadi, Aminah?"Tanya ibu Siti
Aminah merenung sejenak sebelum dia mulai bercerita pada ibunya tentang pertemuan dengan Farhan. Dia merasa perlu berbicara dengan seseorang yang bisa dia percayai, dan ibu Siti adalah seseorang yang selalu mendengarkan dan memberikan dukungan.
Aminah menceritakan bagaimana dia dan Farhan pernah mengenal satu sama lain, tetapi juga menjelaskan bahwa itu adalah masa lalu yang sudah berlalu. Dia merasa cemas tentang bagaimana Yusuf akan merespons jika dia mengetahui pertemuan ini.
Ibu Siti memberi saran kepada anaknya "Aminah, kamu harus bicara dengan Yusuf tentang ini. Terbuka dan jujur. Itu adalah satu-satunya cara untuk mengatasi masalah ini. Jangan biarkan ketakutan atau kecemasan menghantui pernikahanmu."
Aminah tahu bahwa ibunya benar, tetapi dia masih merasa takut untuk menghadapi Yusuf. Mereka mengakhiri percakapan itu dengan satu kesepakatan: Aminah harus mengatasi masalah ini dengan baik, demi kebahagiaan keluarganya.
Sementara itu, Hana tetap bermain di kamarnya, tanpa mengetahui betapa kompleksnya situasi yang ada dalam keluarganya. Dia hanya ingin kebahagiaan dan cinta di antara orang-orang yang dia cintai.
Setelah ibu Siti memberikan saran kepada anaknya, suasana dalam rumah Aminah menjadi lebih tenang. Namun, Aminah tetap merasa cemas dan tidak tahu bagaimana ia akan menghadapi situasi ini. Dia tahu bahwa dia harus membicarakan pertemuannya dengan Farhan kepada Yusuf, tetapi itu bukanlah tugas yang mudah. Hubungan mereka telah diuji oleh berbagai masalah akhir-akhir ini, dan sekarang muncul masalah baru yang membuat Aminah merasa semakin terjepit.
__ADS_1
Aminah duduk di ruang tamu dengan gelisah. Dia merenung tentang bagaimana dia akan mendekati Yusuf dengan kejujuran. Yang dia tahu, dia tidak bisa lagi menyembunyikan pertemuannya dengan Farhan. Namun, ada rasa takut dalam dirinya. Takut bahwa Yusuf akan marah, takut bahwa kepercayaan mereka akan hancur, dan takut bahwa hubungan mereka akan semakin rumit.
Sementara itu, Hana masih asyik bermain di kamarnya. Anak itu tidak menyadari semua masalah yang tengah dihadapi oleh orang tuanya. Baginya, dunia adalah tempat penuh kebaikan, kasih sayang, dan kebahagiaan. Dia berharap bahwa orang tuanya akan selalu bahagia seperti saat mereka tertawa bersama di rumah nenek beberapa hari yang lalu.
Ketika ibu Siti memutuskan untuk pulang, dia memberikan nasihat terakhir kepada Aminah. "Ingatlah, sayang. Dalam setiap hubungan, terutama pernikahan, kejujuran adalah kunci. Semua permasalahan bisa diatasi jika kalian berdua bekerja sama. Jangan biarkan ketakutan menghancurkan kebahagiaan kalian."
Aminah mengangguk dengan lembut sebagai tanda penghargaan pada ibunya. Dia tahu bahwa ibunya selalu ingin yang terbaik untuknya. Setelah ibu Siti pergi, Aminah kembali ke ruang tamu, berpikir tentang langkah selanjutnya yang akan diambilnya.
Dia merasa perlu untuk menemui Yusuf dan membicarakan situasi ini segera. Tidak ada lagi waktu untuk menunda. Aminah ingin keluarganya kembali seperti dulu, penuh dengan cinta, kebahagiaan, dan kepercayaan. Namun, dia juga tahu bahwa langkah pertama adalah berbicara dengan Yusuf dan membuka hati serta pikirannya untuk memahami apa yang terjadi.
Saat waktu berjalan, Aminah merasa semakin mantap dalam keputusannya. Dia ingin menghadapi permasalahan ini dengan kepala tegak dan hati terbuka. Dia ingin menyelamatkan pernikahannya, tidak peduli seberapa sulit dan rumitnya itu akan menjadi. Aminah tahu bahwa kejujuran adalah kunci, dan dia siap untuk menghadapinya, meskipun itu akan menjadi percakapan yang sulit.
***
Yusuf tiba di restoran yang telah disepakati untuk pertemuan dengan klayen. Namanya adalah Klayen Douglas, seorang mitra bisnis penting yang telah lama bekerjasama dengan perusahaan tempat Yusuf bekerja. Klayen adalah seorang pria berusia pertengahan 40-an dengan penampilan rapi dan berwibawa.
Mereka berdua duduk di sudut restoran yang tenang, dikelilingi oleh atmosfer yang elegan. Klayen Douglas telah tiba lebih dulu dan memesan minuman untuk mereka berdua. Awalnya, minuman itu hanya berupa segelas wiski yang diletakkan di depan Yusuf.
Yusuf merasa ragu untuk minum alkohol, tetapi dia juga ingin menghormati Klayen. Dia memutuskan untuk mencicipi sedikit dari minuman tersebut, hanya sekadar untuk bersikap sopan. Namun, ketika minuman itu menyentuh bibirnya, Yusuf merasa perasaannya berubah. Rasanya yang hangat dan aromanya yang khas membuatnya terasa nyaman.
__ADS_1
Mereka mulai berbicara tentang pekerjaan dan berbagai proyek yang tengah mereka kerjakan. Pada awalnya, percakapan berjalan dengan lancar, dan Yusuf menjalankan pertemuan ini dengan profesionalisme. Namun, ketika minuman alkohol mengalir, pembicaraan mereka menjadi semakin kurang terkendali.
Yusuf mulai lebih santai dan cerewet dalam pembicaraannya. Dia meminta Klayen untuk mengisi lebih banyak wiski ke dalam gelasnya. Klayen dengan senang hati memerintahkan minuman tambahan. Saat gelas-gelas mereka terus diisi, percakapan mereka menjadi semakin kurang fokus pada pekerjaan dan semakin banyak berbicara tentang hal-hal pribadi.
Klayen mulai mengajukan pertanyaan tentang kehidupan pribadi Yusuf, termasuk hubungannya dengan Aminah. Yusuf yang sekarang sudah agak mabuk, mulai menceritakan beberapa masalah yang telah mereka alami dalam pernikahan mereka. Itu adalah hal yang seharusnya tidak diungkapkan kepada siapa pun, apalagi kepada seorang mitra bisnis.
Pertemuan yang semula direncanakan untuk membahas pekerjaan berubah menjadi sesi curhat yang tidak terkendali. Yusuf mulai merasa cemas dan menyesal karena telah terbawa suasana. Kondisi ini semakin rumit ketika Klayen mengajaknya untuk makan malam bersama di tempat ini, memerintahkan hidangan dan lebih banyak minuman.
Yusuf semakin tenggelam dalam percakapan, dan pembicaraannya semakin berantakan. Ia tahu bahwa dia harus menjaga dirinya sendiri dan menjaga perasaan Klayen, tetapi minuman dan suasana telah membuatnya kehilangan kendali. Kesalahpahaman tentang alkohol telah mengubah arah pertemuan ini menjadi hal yang tidak diinginkan. Yusuf berusaha menjaga profesionalisme, tetapi ia merasa seperti dirinya sedang terjebak dalam sebuah situasi yang semakin tak terkendali.
Saat suasana pertemuan dengan Klayen semakin kurang terkendali, Yusuf mulai merasa cemas dan tidak nyaman. Setiap kata yang keluar dari mulutnya terasa seperti bumerang yang akan berdampak pada pekerjaannya dan pada pernikahannya dengan Aminah. Meskipun perasaan mabuk telah mengambil alih dirinya, Yusuf menyadari bahwa ia harus mengambil langkah-langkah untuk menyelesaikan situasi ini dengan baik.
Setelah mendengar Klayen berbicara tentang rencana bisnis mereka yang sedang berjalan, Yusuf mencoba meraih kendali dirinya kembali. Meskipun masih merasa sedikit mabuk, ia tahu bahwa ia perlu menjaga profesionalisme dan berbicara tentang pekerjaan. Namun, suaranya terdengar gemetar dan wajahnya merah karena alkohol.
Setelah pertemuan selesai dan Klayen meninggalkan restoran, Yusuf merasa benar-benar menyesal. Ia menyadari bahwa percakapannya yang kurang sopan dan pribadi dapat berdampak buruk pada reputasi pekerjaannya dan, yang lebih penting, pada hubungannya dengan Aminah. Ia tahu bahwa ia harus memperbaiki kesalahannya secepat mungkin.
Yusuf segera membuka aplikasi kalender di ponselnya dan membuat catatan untuk mengatur pertemuan dengan Klayen. Ia ingin secara profesional mengevaluasi proyek-proyek yang mereka bicarakan dan menunjukkan bahwa dirinya adalah seorang yang dapat diandalkan. Tapi yang lebih penting, ia ingin mengklarifikasi beberapa masalah pribadi yang telah ia ungkapkan kepada Klayen.
Saat itu juga, Yusuf merasa sangat beruntung bahwa pertemuan dengan Klayen tidak berakhir dengan konsekuensi yang lebih buruk. Alkohol telah membuatnya berbicara terlalu banyak dan berbagi masalah pribadinya. Sekarang, ia harus bertanggung jawab atas tindakannya dan mencari cara untuk mengatasi situasi ini.
__ADS_1
Dalam perjalanan pulang, perasaan cemas dan penyesalan terus menghantui Yusuf. Ia merasa bersalah kepada Aminah dan tahu bahwa dia harus segera menjelaskan situasi ini kepadanya. Dalam hatinya, ia merenungkan betapa sulitnya ia harus bekerja untuk memperbaiki apa yang telah dilakukannya dan menjaga kepercayaan Aminah.
Saat ia sampai di rumah, ia menemukan rumah yang sepi. Aminah dan Hana sudah tidur,