
Keesokan harinya, Yusuf bangun dengan tekad untuk meminta maaf kepada Aminah dan mencoba memulihkan hubungan mereka. Dia merasa bahwa sudah waktunya untuk mengakhiri pertengkaran yang panjang dan menyakitkan itu. Dengan hati yang penuh penyesalan, dia bersiap-siap untuk menghadapi Aminah.
Namun, sebelum dia memiliki kesempatan untuk berbicara dengan Aminah, ada ketukan pelan di pintu rumah mereka. Yusuf mendekati pintu dan membukanya dengan cemas, dan di depannya berdiri ibu Aminah, Siti.
Siti: (dengan senyum hangat) "Selamat pagi, Yusuf. Aku ingin berkunjung sebentar."
Yusuf merasa terkejut dan sedikit gugup dengan kedatangan tak terduga ibu Aminah. Namun, dia dengan hormat mengundangnya masuk ke dalam rumah.
Yusuf: "Selamat pagi, Bu Siti. Silakan masuk."
Mereka semua duduk di ruang tamu, dan suasana terasa agak tegang. Yusuf tahu bahwa kunjungan ini bisa menjadi kesempatan baik untuk meminta maaf, tetapi dia juga merasa sedikit tidak nyaman karena tidak ingin mengungkapkan terlalu banyak tentang masalah pribadi mereka di depan ibu Aminah.
Ibu Siti: (dengan kelembutan) "Aku tahu bahwa kalian berdua sedang mengalami masalah dalam pernikahan. Aku ingin membantu jika bisa."
Yusuf merasa agak terjebak, dan dia tidak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan ibu Aminah tanpa mengungkapkan terlalu banyak tentang masalah tersebut. Namun, dia juga merasa terharu dengan kebaikan hati ibu Aminah.
Yusuf: (dengan hormat) "Kami sedang menghadapi beberapa perbedaan pendapat, Bu Siti. Tetapi kami bekerja keras untuk menyelesaikannya."
Ibu Siti: (mengangguk) "Itu adalah langkah yang baik, Yusuf. Aku hanya ingin kalian tahu bahwa aku selalu ada di sini untuk mendukung kalian."
Yusuf merasa terharu oleh dukungan ibu Aminah, dan dia merasa bahwa ini adalah kesempatan untuk meminta maaf yang tertunda. Namun, dia juga tahu bahwa masalah ini akan memerlukan usaha lebih banyak dari mereka berdua.
Yusuf: "Terima kasih, Bu Siti. Saya berjanji akan bekerja keras untuk memperbaiki hubungan kami."
Saat Aminah dan Hana menyambut kedatangan ibu Aminah, yaitu ibu Siti, ke dalam rumah, suasana menjadi lebih hangat dan penuh kasih. Mereka berbincang tentang hal-hal kecil dan tertawa bersama, menciptakan momen yang penuh kebahagiaan. Hana, yang awalnya agak cemas dengan kunjungan tak terduga ini, segera merasa nyaman di dekat neneknya, dan ia bercerita tentang sekolah, teman-temannya, dan segala hal yang ia alami dalam hidupnya.
Namun, saat momen kebahagiaan itu berlangsung, Yusuf yang telah bersiap-siap untuk berangkat kerja memasuki ruangan. Ekspresinya terlihat sedikit gugup, karena dia tahu bahwa pertemuan dengan ibu Aminah mungkin akan membuat situasi menjadi lebih rumit.
__ADS_1
Yusuf: (dengan hormat) "Selamat pagi, Bu Siti."
Ibu Siti: (tersenyum) "Selamat pagi, Yusuf. Terima kasih atas sambutan hangat ini."
Yusuf mencoba untuk menunjukkan sikap sopan dan hormat kepada ibu Aminah, tetapi dia merasa sedikit canggung. Dia merasa bahwa dia harus pamit segera karena akan terlambat untuk kerja.
Yusuf: "Maaf, Bu Siti, tapi saya harus segera pergi untuk bekerja. Saya ingin meminta maaf, karena saya tidak bisa berlama-lama."
Aminah melihat Yusuf dengan rasa cemas di matanya. Dia juga ingin menjelaskan bahwa mereka tengah menghadapi masalah dalam pernikahan mereka, tetapi dia tidak ingin mengungkapkannya di depan ibunya.
Aminah: (dengan senyum tipis) "Tentu, Yusuf. Jangan terlambat untuk kerja. Kita akan bicara lebih nanti."
Yusuf segera pamit dan meninggalkan rumah dengan perasaan bercampur aduk. Dia merasa perlu untuk meminta maaf kepada Aminah dan mengungkapkan penyesalannya, tetapi dia juga tahu bahwa perjalanan menuju rekonsiliasi akan menjadi tugas yang sulit.
Sementara itu, Aminah dan ibu Aminah melanjutkan perbincangan mereka, mencoba menjaga suasana tetap hangat dan nyaman. Mereka berbicara tentang banyak hal, tetapi Aminah masih merasa tertekan dengan masalah yang belum terselesaikan antara dia dan Yusuf.
Mereka berdua bersiap-siap dengan pakaian yang nyaman, dan Hana menggoda ibunya bahwa dia ingin memilih beberapa pakaian baru untuk dirinya. Aminah dan Siti tertawa mendengar semangat Hana, dan mereka tahu bahwa berbelanja bersama akan menjadi pengalaman yang mengasyikkan.
Ketika mereka tiba di mall, suasana ramai dengan banyak pengunjung yang juga menikmati hari Minggu mereka. Mereka mulai menjelajahi berbagai toko, mencari barang-barang yang mereka butuhkan, dan juga sedikit benda yang bisa menjadi hadiah kecil untuk Hana.
Hana sangat antusias dan bersemangat, dia melihat-lihat berbagai mainan di toko mainan, sambil terus bertanya kepada ibunya apakah bisa membeli satu atau dua mainan. Aminah tersenyum dan menjelaskan padanya bahwa mereka hanya akan membeli yang benar-benar mereka butuhkan, tetapi Hana dengan gembira mengerti dan menerima penjelasan itu.
IbuSiti, juga menemukan beberapa barang yang dia butuhkan, dan mereka menjelajahi toko pakaian, perabotan rumah, dan bahkan toko buku. Mereka menghabiskan beberapa jam di mall, mengisi keranjang belanja mereka dengan berbagai barang.
Ketika tiba waktu makan siang, mereka memutuskan untuk makan di restoran di dalam mall. Mereka memesan hidangan yang lezat dan berbicara tentang berbagai hal, termasuk kenangan-kenangan keluarga mereka. Hana menceritakan pengalaman sekolahnya, ibu Siti berbagi cerita tentang masa kecil Aminah, dan Aminah merasa sangat berbahagia bisa bersama orang yang dicintainya.
Ketika sedang asik makan siang di restoran, Aminah, Hana, dan ibu Siti tak sengaja bertemu dengan Farhan lagi. Mereka melihatnya duduk di salah satu meja restoran yang sama, dan seketika, perasaan canggung mulai muncul.
__ADS_1
Farhan: (dengan senyum) "Hai, Aminah. Apa kabar?"
Aminah merasa terkejut dan sedikit canggung dengan kebetulan pertemuan ini. Namun, dia mencoba menjaga sikap sopan.
Aminah: "Hai, Farhan. Kami baik-baik saja, terima kasih."
Farhan: (melihat ke arah Hana) "Ini Hana, kan? Kamu sudah semakin besar."
Hana tersenyum malu-malu dan mengangguk, merasa agak gugup oleh perhatian Farhan.
Hana: "Iya, Pak . Saya sudah kelas dua sekarang."
Farhan: "Wah, bagus sekali! Kamu pasti pandai sekali di sekolah."
Mereka melanjutkan percakapan yang canggung sejenak, dan Aminah mencoba untuk menjaga kepolosan Hana dalam situasi ini. Namun, dia merasa agak khawatir tentang pertemuan ini dan bagaimana Yusuf akan bereaksi jika dia mengetahuinya.
Farhan: (dengan santai) "Baiklah, saya tidak ingin mengganggu makan siang kalian lebih lama. Sampai jumpa, ya."
Farhan pun bangkit dari mejanya dan berjalan keluar dari restoran, meninggalkan Aminah, Hana, dan ibu Siti dalam situasi yang penuh dengan pertanyaan.
Ketika mereka duduk kembali di meja makan, setelah pertemuan tiba-tiba dengan Farhan di restoran, Hana tidak bisa menahan rasa ingin tahu yang ada dalam dirinya.
Hana: "Mamah, siapa Bapak tadi ?"
Aminah merasa tegang mendengar pertanyaan Hana ini, dan dia mencoba untuk memberikan penjelasan yang sesederhana mungkin, tanpa mengungkapkan terlalu banyak detail.
Aminah: " itu Pak Farhan, dia adalah seseorang yang dulu pernah mamah kenal, sayang. Tapi sekarang kita hanya bertemu secara kebetulan di sini."
__ADS_1