
Aminah telah bersiap sejak sore untuk menyambut kedatangan Yusuf. Dia memasak hidangan kesukaan suaminya dan berdandan cantik, berharap bahwa malam ini bisa menjadi awal dari perbaikan hubungan mereka yang terus memburuk. Aminah merasa cemas dan penuh harap, berdoa agar usahanya tidak sia-sia.
Namun, semakin malam, kekhawatiran Aminah semakin besar. Pada awalnya, dia memahami keterlambatan suaminya karena urusan kerja, tetapi semakin lama berlalu, harapannya semakin memudar. Setiap detik yang berlalu semakin membuatnya gelisah. Aminah bertanya-tanya apakah suaminya masih peduli, apakah dia benar-benar akan datang, atau apakah semuanya hanyalah ilusi. Hidangan yang dia persiapkan terlihat menyedihkan karena dingin dan tidak ada suami yang datang untuk menyantapnya.
Aminah masih duduk di ruang makan, meratapi keadaan yang semakin rumit dalam rumah tangganya. Matanya berkaca-kaca, dan air mata terus mengalir, mencerminkan perasaan kesedihan dan frustrasinya. Suara jam dinding berdetak dengan perlahan, menambah kesendirian yang menyergapnya.
Dia bertanya-tanya apa yang salah dengan pernikahannya. Kenapa semuanya begitu rumit? Aminah mencoba mengingat saat-saat bahagia di masa lalu, saat mereka pertama kali jatuh cinta, dan dia bertanya-tanya bagaimana semuanya bisa berubah menjadi seperti ini. Hatinya terasa hancur.
Aminah merasa sendirian, tidak hanya dalam ruangan, tetapi dalam hubungannya. Perasaan bahwa Yusuf mungkin tidak lagi peduli, atau mungkin telah melupakan perasaan mereka yang dulunya begitu kuat, membuatnya semakin tertekan. Dia merindukan waktu ketika mereka bisa berbicara dengan damai, tertawa bersama, dan mengatasi masalah bersama.
Aminah memasuki kamar anaknya dengan hati yang berharap. Hana sedang duduk di meja belajar, buku-buku terbuka di depannya, dan konsentrasi penuh pada belajarnya. Meskipun masih muda, Hana tampak begitu serius dalam menjalankan tugasnya.
Aminah tersenyum melihat anaknya yang sedang belajar dengan tekun. Dia bisa merasakan betapa cerdas dan tekun nya Hana dalam mengejar pendidikannya. Meskipun saat ini ada begitu banyak masalah dalam rumah tangganya, setidaknya dia tahu bahwa dia dan Yusuf memiliki seorang anak yang cerdas dan berbakat.
Aminah mendekati Hana dan mencium lembut kepala anaknya. "Bagaimana belajar kamu, sayang?" tanyanya dengan suara lembut.
Hana mengangguk dengan senyum kecil. "Baik, Mamah. Hana akan mencoba yang terbaik."
Aminah merasa haru mendengar jawaban anaknya. Melihat Hana dengan semangat belajar membuatnya merasa lebih baik. Dia berharap suaminya, Yusuf, juga bisa menyadari betapa berharganya keluarga yang mereka miliki dan mencoba untuk memperbaiki hubungan mereka.
__ADS_1
Aminah duduk di ruang tengah yang sunyi. Dalam keheningan malam, hanya suara jam dinding yang terus berdetak yang menemaninya. Waktu berjalan begitu lambat, dan hatinya terasa semakin berat. Penyesalan atas keputusannya di siang tadi begitu menyiksanya. Dia menyadari bahwa apa yang terjadi antara dirinya dan Farhan adalah kesalahan besar, dan sekarang dia merasa terjebak dalam perasaan bersalah dan kecemasan.
Seandainya dia bisa kembali dalam waktu dan menghapus semua tindakannya, dia pasti akan melakukannya. Tapi kenyataannya tidak bisa begitu mudah. Dia menyadari bahwa kesalahannya bisa menghancurkan rumah tangganya dengan Yusuf. Aminah berpikir tentang Hana, putri kecilnya, yang telah menjadi saksi dari pertengkarannya dengan Yusuf. Dia merasa bersalah karena tindakan buruknya bisa memengaruhi masa depan anaknya.
Aminah berharap untuk mendengar langkah kaki suaminya di pintu, tetapi saat waktu terus berlalu dan Yusuf belum juga pulang, kekhawatirannya semakin mendalam. Apa yang sedang terjadi dengan suaminya? Kenapa dia belum pulang?
Namun, di tengah penyesalan dan kecemasan yang mendalam, Aminah juga merasa dilema. Di satu sisi, dia ingin begitu banyak untuk memperbaiki hubungannya dengan Yusuf dan keluarganya. Tapi di sisi lain, perasaan yang tumbuh di dalamnya setelah pertemuannya dengan Farhan tidak bisa diabaikan begitu saja.
Aminah merasa begitu lelah dan penuh dengan ketidakpastian. Waktu terus berjalan, dan semakin malam. Dia tahu bahwa tidur adalah satu-satunya cara untuk melupakan sejenak semua masalahnya, walaupun perasaannya yang bercampur antara penyesalan, cemas, dan kerinduan.
Dengan langkah yang berat, Aminah memasuki kamar Hana. Di sana, dia melihat anaknya yang tidur dengan tenang. Hana terlihat begitu polos dan tanpa beban, tidak tahu apa-apa tentang semua konflik dan ketegangan yang terjadi di antara kedua orangtuanya. Aminah merasa bersyukur bahwa setidaknya anaknya belum menyadari betapa rumitnya situasinya.
Dengan mata yang penuh air mata, Aminah akhirnya berbaring di samping Hana, mencoba untuk tidur walaupun hatinya masih terasa begitu berat. Keinginan terakhirnya sebelum merem melek adalah berharap agar esok pagi membawa kejelasan dan jawaban atas semua permasalahan yang ada dalam rumah tangganya.
Yusuf memasuki kamar Hana dengan langkah ringan agar tidak membangunkan sang anak. Di sana, dia melihat Hana tertidur dengan tenang, begitu polos dan tak tahu akan segala konflik yang tengah melanda rumah tangganya. Hatinya terasa hancur saat menyaksikan putrinya yang sedang tidur, tidak tahu betapa rumitnya keadaan di rumah.
Lalu, matanya melirik ke arah Aminah, yang tidur di samping Hana. Istrinya terlihat begitu lelah, dan matanya masih terlihat bengkak karena menangis. Yusuf merasa sangat bersalah. Ia tahu bahwa telah melakukan kesalahan berulang kali, tidak hanya dengan membiarkan rumah tangganya dalam kekacauan, tapi juga dengan perilaku buruknya yang telah melukai hati Aminah.
Yusuf merenung di kamar tersebut, merenungkan semua kesalahan dan kebingungan yang ada. Dia merasa begitu tidak mampu menghadapi semuanya. Sebuah perasaan penyesalan dan ketidakpastian yang mendalam membayangi dirinya. Dia tahu bahwa sudah sangat mencederai hubungan pernikahannya, dan tidak tahu bagaimana cara memperbaikinya.
__ADS_1
Keesokan harinya, suasana di rumah Yusuf dan Aminah masih tegang. Aminah merasa bahwa Yusuf tidak menunjukkan usaha yang cukup untuk menjelaskan dan meminta maaf atas keterlambatan pulangnya. Dia merasa bahwa suaminya seharusnya lebih peduli terhadap perasaannya, terutama saat dia sudah bersiap-siap dan menunggu dengan harapan bahwa semuanya akan membaik.
Namun, Yusuf merasa terjebak dalam situasi yang rumit. Dengan Hana yang selalu berada di dekat Aminah, dia merasa bahwa momen untuk berbicara dan meminta maaf bukanlah yang tepat. Dia takut bahwa percakapan yang dilakukan di depan anak mereka bisa membuat Hana semakin bingung dan merasa terganggu oleh konflik di antara kedua orang tuanya.
Ketegangan dan kesalahpahaman semakin memperdalam jurang di antara Yusuf dan Aminah. Setiap kali mereka bersama-sama, perasaan yang tertahan tidak diungkapkan, dan hubungan yang dulu penuh cinta dan kebahagiaan semakin memudar. Kediaman yang seharusnya menjadi tempat kedamaian menjadi tempat yang dipenuhi dengan ketegangan dan keheningan.
Setiap hari berlalu, mereka melanjutkan rutinitas harian mereka. Hana tetap menjadi penyambung hubungan antara Yusuf dan Aminah, meskipun mereka jarang berbicara satu sama lain. Saat dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan Hana yang penuh rasa ingin tahu tentang mengapa orang dewasa sering bertengkar, Yusuf dan Aminah merasa bahwa mereka harus menjaga perasaan anak mereka dan tidak membiarkan ketegangan di antara mereka memengaruhi Hana.
Namun, kesedihan terus menyelimuti hati Yusuf dan Aminah. Mereka merasa seolah-olah mereka terperangkap dalam perangkat yang saling bertentangan di mana perasaan mereka tidak lagi bisa diungkapkan. Semakin hari, jarak di antara mereka semakin lebar dan mereka merindukan saat-saat bahagia yang pernah mereka bagikan bersama.
____
Kehidupan mereka berlanjut dalam ketegangan dan kebingungan. Hari-hari mereka diisi dengan rutinitas sehari-hari, seperti mengurus pekerjaan, mengantar dan menjemput Hana ke sekolah, serta mencoba menjalani hidup seakan-akan semuanya baik-baik saja. Namun, mereka berdua tahu bahwa di balik sejuta rutinitas itu, perasaan yang tak terselesaikan terus mengganggu.
Yusuf merenungkan cara terbaik untuk mendekati Aminah dan meminta maaf. Ia tahu bahwa ia harus mengungkapkan penyesalan dan kesediaannya untuk memperbaiki hubungan mereka. Namun, setiap kali ia mencoba untuk membuka pembicaraan, ia merasa tegang dan tidak tahu harus mulai dari mana.
Aminah, di sisi lain, merasa bingung dan marah. Ia merasa bahwa ia harus menunggu inisiatif dari Yusuf, meskipun hatinya juga ingin sekali memperbaiki hubungan mereka. Kesalahan yang ia lakukan dengan Farhan masih membayangi pikirannya, dan ia merasa bersalah karena pernah mengecewakan suaminya.
Hana, yang terus menjadi pengikat di antara mereka, juga mulai merasakan ketegangan dalam keluarga mereka. Ia seringkali melihat ibu dan ayahnya tidak lagi seperti dulu yang selalu berbahagia bersama. Hana ingin sekali keluarganya kembali seperti sediakala.
__ADS_1