
Saat Hana dan ibunya pergi, Yusuf terbangun dari tidurnya yang pulas. Matahari sudah mulai bersinar terang, dan sepi merajai rumah mereka. Saat memandang sekeliling kamar yang kosong, perasaan kebingungan dan kekhawatiran mulai menghantui Yusuf. Dia merasa perlu segera menghubungi Aminah dan menyelsaikan masalah yang telah lama menghantui hubungan mereka.
Yusuf meraih ponselnya dan mencoba menelfon Aminah. Dalam hatinya, dia merasa gugup dan tegang. Dia ingin mendengar suara istrinya, ingin menjelaskan dan meminta maaf atas kesalahannya. Namun, rasa cemas semakin mendalam ketika setelah beberapa kali mencoba, Aminah tak kunjung mengangkat panggilannya.
Yusuf berusaha meredakan kekhawatirannya, berpikir bahwa Aminah mungkin sibuk atau sedang dalam perjalanan.
Setelah menyempatkan waktu bermain dengan Hana dan sarapan bersama, Aminah dengan hati yang masih terasa berat mengantarkan anaknya ke sekolah. Saat mereka berdua sudah sampai di sekolah, Aminah merasa bahwa dia tidak ingin langsung pulang ke rumah. Kehadiran Yusuf di sana membuatnya merasa bingung, kecewa, dan tidak tahu bagaimana melanjutkan hubungan mereka.
Maka, Aminah memutuskan untuk mencari tempat untuk melepaskan kebingungannya. Dia merasa perlu berbicara dengan seseorang yang bisa dia percayai. Dalam hal ini, dia memutuskan untuk menghubungi Farhan, seorang teman yang selalu mendengarkan keluh kesahnya. Aminah ingin mendengar pendapat dan nasihat dari orang yang bisa memberinya pandangan yang berbeda tentang situasi rumah tangganya yang rumit.
Dengan perasaan campur aduk, Aminah mulai menelepon Farhan, berharap bisa menemukan pemahaman dan dukungan dalam perasaannya yang sedang bergejolak.
Aminah menunggu dengan tegang saat telepon untuk Farhan terhubung. Suara dering beberapa kali berlangsung sebelum akhirnya Farhan mengangkat panggilannya.
Farhan: "Halo, Aminah. Ada apa? Kenapa telfon aku?"
Aminah: "Farhan, aku butuh seseorang untuk diajak bicara. Aku sedang dalam masalah besar dengan Yusuf, dan aku merasa begitu bingung."
__ADS_1
Farhan: "Tentu, Aminah. Saya selalu ada untukmu. Ceritakan saja apa yang terjadi."
Aminah: "Farhan, aku rasa ini bukan sesuatu yang bisa aku ceritakan lewat telepon. Bisakah kita bertemu? Aku benar-benar butuh seseorang untuk berbicara, dan kau selalu bisa memberikan sudut pandang yang berbeda."
Farhan: "Tentu, Aminah. Aku akan selalu ada untukmu. Kapan dan di mana kita bisa bertemu?"
Aminah merasa bahwa pertemuan dengan Farhan sangat mendesak, dan dia tidak ingin menunggu lebih lama. Dia ingin segera mendapatkan pandangan dan nasehat dari temannya itu. Oleh karena itu, dia mengajak Farhan untuk bertemu sekarang juga, di alun-alun kota.
Farhan: "Tentu, Aminah. Aku akan segera ke sana. Kita bisa bertemu di alun-alun dalam waktu singkat."
Aminah dan Farhan akhirnya bertemu di alun-alun kota. Mereka duduk di salah satu bangku yang ada, dan Aminah mulai menceritakan semua kejadian yang terjadi di rumah tangganya. Saat menceritakan pengalaman dan perasaannya, air mata mulai mengalir dari matanya. Dia merasa terlalu terbebani oleh semua konflik dan pertengkaran di rumahnya.
Farhan melihat Aminah yang begitu terbuka dan rentan dalam menceritakan masalah rumah tangganya sambil menangis di depan umum. Dia merasa bahwa Aminah perlu tempat yang lebih pribadi dan tenang untuk melepaskan perasaannya dengan bebas. Farhan ingin memberikan dukungan terbaik yang bisa dia berikan kepada temannya dalam situasi yang begitu sulit ini.
Farhan: "Aminah, aku sangat menghargai bahwa kamu berani berbicara terbuka seperti ini, tapi mungkin kita bisa mencari tempat yang lebih pribadi. Di sana, kamu akan merasa lebih nyaman untuk meluapkan perasaanmu tanpa harus khawatir tentang orang lain yang melihat. Bagaimana kalau kita pergi ke sebuah hotel? Di sana, kita bisa memiliki waktu yang lebih baik untuk berbicara dan kamu bisa merasa lega."
Aminah setuju dengan saran Farhan, dan keduanya pun berangkat ke sebuah hotel. Mereka mencari tempat yang tenang di dalam hotel, duduk bersama, dan terus berbicara tentang permasalahan yang dia hadapi dalam pernikahannya. Mereka berharap bahwa pertemuan ini akan membawa pencerahan dan solusi untuk masalah yang begitu kompleks ini, sambil memberikan Aminah kesempatan untuk melepaskan perasaan yang telah menumpuk begitu lama.
__ADS_1
Di dalam hotel, suasana yang lebih tenang dan pribadi membuat Aminah merasa lebih nyaman untuk melepaskan emosinya. Farhan, yang sangat peduli dan prihatin terhadap Aminah, pun tidak ragu untuk memeluknya, memberikan dukungan emosional dalam momen yang begitu sulit ini. Mereka berdua duduk bersama, dengan Aminah terus menangis sambil meratapi permasalahannya.
Mereka berdua duduk bersama dalam keheningan, membiarkan kenangan-kenangan masa lalu mengalir. Mereka mengingat saat-saat bahagia yang pernah mereka alami ketika masih saling mencintai. Cerita-cerita lucu, petualangan bersama, dan momen-momen romantis kembali terlintas di benak mereka.
Aminah dan Farhan mulai berbicara tentang bagaimana perasaan mereka tumbuh satu sama lain pada saat itu. Mereka merasa seperti waktu telah membawa mereka pada perjalanan yang berbeda, tetapi kenangan akan cinta mereka yang dulu tetap kuat. Terdengar tawa dan senyuman di antara mereka saat mereka berbagi kisah-kisah indah ini, bahkan dalam situasi yang rumit ini.
Sambil mengenang masa-masa indah itu, mereka merasa bahwa perasaan mereka saat itu tidak hanya pernah ada, tetapi masih ada di dalam hati mereka.
Mereka menghabiskan waktu bersama di hotel dengan intensitas emosi yang semakin mendalam. Situasi yang rumit dan perasaan mereka yang tumbuh satu sama lain membuat nafsu merajai mereka, akhirnya menjalin hubungan intim di dalam hotel. Meskipun mereka tahu bahwa tindakan ini dapat mengakibatkan konsekuensi yang kompleks, nafsu dan perasaan yang mereka alami pada saat itu tampaknya mengambil alih.
Mereka merasa seperti terjebak dalam momen ini, ketika dunia luar dan segala konsekuensinya tampaknya tidak ada artinya.
Saat momen intim mereka berlangsung, mereka juga tahu bahwa mereka harus segera menghadapi konsekuensi dan keputusan yang sulit setelah mereka meninggalkan hotel.
Ketika mereka berdua terbaring lemah, rasa penyesalan mulai merayapi pikiran mereka. Mereka menyadari bahwa apa yang terjadi di dalam hotel ini telah membuat situasi mereka semakin rumit. Keputusan untuk menjalin hubungan intim dengan segala emosi yang terlibat kini mulai menghantuinya.
Saat akan meninggalkan hotel, Farhan memberikan Aminah sebuah ciuman mesra dan pelukan hangat.
__ADS_1
Saat akan keluar dari hotel, mereka berdua merasa terjebak dalam nafsu dan hasrat yang sulit untuk ditahan. Meskipun mereka menyadari betapa berbahayanya situasi ini, dorongan dan ketertarikan satu sama lain terlalu kuat.
Mereka terlibat dalam hubungan intim sekali lagi, meskipun dengan perasaan yang semakin bercampur aduk. Tindakan ini membuat mereka merasa semakin terjerumus dalam situasi yang rumit, dengan konsekuensi yang semakin tak terelakkan.