
Yusuf, yang telah meninggalkan kafe dan perjalanan pulang, tiba-tiba merasa sesuatu yang hilang. Rasanya seperti ada yang tidak beres. Dia mencari-cari di saku jasnya, di tasku, dan di sekitarnya, namun semuanya sia-sia. Pikirannya menjadi semakin panik ketika dia menyadari bahwa ponselnya tertinggal di kafe.
Pikirannya mulai melayang ke segala kemungkinan yang buruk. Bagaimana jika ponselnya digunakan oleh orang lain tanpa izin? Apa yang terjadi jika ada informasi pribadi di dalamnya? Dan yang paling penting, bagaimana dia akan menghubungi Aminah atau keluarganya untuk memberi tahu mereka bahwa dia aman dan hanya kehilangan ponsel?
Yusuf segera berbalik arah dan menuju kafe tempat dia baru saja meninggalkan ponselnya. Hatinya berdebar kencang, dan dia merasa bersalah karena telah begitu ceroboh. Kafe itu terlihat sama seperti sebelumnya, dengan pelayan yang sibuk mengelola pesanan pelanggan. Dia bergegas menuju meja di mana dia duduk bersama Klayen. Namun, meja itu kosong. Tidak ada tanda-tanda ponselnya.
Yusuf dengan cepat mendekati pelayan yang tampaknya telah memberi tahu atasannya tentang ponsel yang tertinggal. Dia mencoba menjelaskan situasinya dengan hati-hati, berharap bahwa ponselnya masih ada di kafe. Namun, saat pelayan menjelaskan bahwa ponselnya telah ditemukan dan mereka telah mencoba menghubungi istri Yusuf,namun ada kesalahpahaman karena istri yusuf mengira yang menelfon adalah selingkuhannya
Yusuf merasa lega,dan berterimakasih kepada manager cafe meskipun tetap merasa bersalah karena telah menyebabkan kesalahpahaman pada Aminah.
Yusuf, setelah memastikan bahwa ponselnya kembali aman di tangannya, Dia ingin segera pulang dan menjelaskan situasi ini kepada istri dan menjelaskan bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Yusuf bergegas menuju rumah dengan hati yang berdebar-debar. Dia ingin memastikan bahwa Aminah mengerti bahwa dia tidak melakukan hal yang salah, dan ini hanya kesalahan kecil. Setibanya di rumah, dia memasuki ruang keluarga dengan hati yang berat dan menemukan Aminah sedang duduk di sofa, masih terlihat cemas.
Yusuf: "Aminah, saya minta maaf atas kekhawatiran yang telah saya sebabkan. Ini hanya kesalahan kecil. Ponsel saya hanya tertinggal di kafe tadi, tidak ada yang salah."
Aminah masih memandang Yusuf dengan kekhawatiran yang tak terpecahkan, bahkan setelah penjelasan dari manajer kafe.
Aminah: (dengan nada yang masih penuh kekhawatiran) "Tapi, Yusuf, mengapa kamu tidak langsung menghubungi saya saat menyadari ponselmu tertinggal? Kenapa tidak segera menjawab panggilan atau pesan saya?"
Yusuf merasa tertekan oleh pertanyaan tersebut, karena dia tahu bahwa dia telah membuat kesalahan dengan tidak menghubungi Aminah lebih cepat. Kecemasan Aminah adalah wajar, dan dia harus menjawab dengan jujur.
Yusuf: (dengan rasa bersalah) "Aku... aku minta maaf, sayang. Itu adalah kesalahanku. Aku seharusnya langsung menghubungimu. Tetapi pikiranku saat itu begitu kacau, dan aku merasa bersalah atas situasi ini. Aku tidak berpikir dengan jernih."
__ADS_1
Meskipun Yusuf telah berbicara terbuka dan meminta maaf, Aminah masih merasa ragu dan tidak sepenuhnya percaya. Konflik dalam pernikahan mereka telah menciptakan luka dan ketidakpercayaan yang dalam, dan memulihkan hubungan mereka akan memerlukan waktu yang lebih lama dan usaha yang lebih besar.
Aminah: (dengan nada ragu) "Yusuf, aku tahu kamu minta maaf, tapi apakah ini benar-benar semua yang terjadi? Apakah ada yang kamu sembunyikan dariku?"
Yusuf: (dengan rasa bersalah) "Tidak, Aminah, aku tidak ada yang kusembunyikan. Ini benar-benar hanya kesalahan kecil. Tidak ada yang lain."
Aminah: "Tapi mengapa rasanya ada sesuatu yang hilang dalam ceritamu? Mengapa kamu tidak langsung menjawab panggilanku atau pesanku?"
Yusuf: (dengan rasa frustrasi) "Aminah, aku berjanji, tidak ada yang aku sembunyikan. Seseorang menemukan ponselku di kafe dan mengembalikannya dengan baik. Itu saja yang terjadi. Aku ingin memperbaiki hubungan kita."
Ketika Aminah dan Yusuf masih dalam percakapan mereka yang penuh ketidakpercayaan, Hana yang telah mendengarkan obrolan mereka tanpa disadari, akhirnya berbicara dengan suara kecil.
Hana: (dengan nada lembut) "Ayah, jangan marahi mamah terus."
Kedua orang tua seketika terdiam dan berpaling untuk melihat Hana yang berdiri di pintu ruang keluarga. Wajah Hana penuh kekhawatiran dan kebingungan, karena dia bisa merasakan ketegangan di antara orang tuanya.
Yusuf: (dengan suara lembut) "Maafkan ayah, sayang. Kami akan mencoba lebih baik."
Aminah juga merasa sedih melihat dampak konflik ini pada anak mereka.
Aminah: (dengan suara lembut) "Maafkan mamah, sayang. Kami akan berusaha lebih baik untukmu."
Hana mengangguk dengan senyum kecil. Meskipun masih kecil, dia ingin melihat orang tuanya bahagia dan bersatu.
__ADS_1
Malam tiba, dan setelah Aminah dan Yusuf berusaha memperlihatkan hubungan yang baik di depan Hana, mereka akhirnya mendapatkan waktu sendirian. Saat Hana sudah tertidur di kamarnya, mereka duduk di ruang keluarga, tetapi suasana tetap tegang.
Yusuf: (dengan nada lantang) "Aminah, aku tidak bisa terus seperti ini. Kita harus bicara tentang masalah kita, dan ini semua adalah kesalahanmu."
Aminah terkejut mendengar tuduhan tajam Yusuf. Dia merasa bahwa konflik dalam pernikahan mereka adalah tanggung jawab bersama, dan dia tidak sepenuhnya bersalah atas situasi ini.
Aminah: (dengan rasa frustrasi) "Kenapa kamu menyalahkan aku? Ini masalah kita bersama, Yusuf. Aku berusaha melindungi Hana, dan aku tidak ingin dia terlibat dalam konflik kita. Kamu juga punya andil dalam ini."
Yusuf: (dengan nada semakin meningkat) "Tapi seharusnya kita tidak bersembunyi darinya. Kita harusnya bicara terbuka, bukan malah memendam semua perasaan kita. Kamu salah telah memberitahukan permasalahan kita kepadanya!"
Aminah: (dengan air mata di matanya) "Aku tidak tahu harus bagaimana lagi, Yusuf. Aku mencoba melindungi Hana dari konflik kita. Aku tidak ingin dia tahu bahwa kita terus bertengkar."
Pertengkaran di antara Yusuf dan Aminah semakin memanas. Mereka saling menyalahkan, dan kata-kata yang tajam terucap dengan penuh emosi.
Yusuf: (dengan suara yang hampir berteriak) "Aminah, kamu selalu saja membuat masalah ini lebih buruk. Kamu tidak memahami bagaimana caranya menyelesaikan ini dengan baik!"
Aminah: (dengan perasaan marah) "Dan kamu, Yusuf, kenapa kamu tidak melibatkan diri dengan baik? Kamu bahkan tidak berusaha menjelaskan apapun kepadaku. Bagaimana kita bisa menyelesaikan masalah jika kamu tidak berbicara terbuka?"
Dalam ketegangan dan pertengkaran yang terus memanas, Yusuf merasa bahwa emosinya semakin sulit dikendalikan. Dia merasa takut bahwa jika pertengkaran ini terus berlanjut, dia mungkin akan kehilangan kendali dan bisa melukai Aminah seperti yang terjadi sebelumnya. Ketakutan akan berbuat salah dan meninggalkan bekas yang dalam pada pernikahan mereka membuatnya merasa harus menghindar.
Tanpa berkata sepatah kata pun, Yusuf bangkit dari tempat duduknya dan dengan langkah cepat menuju kamar tidur. Dia meninggalkan Aminah di ruang keluarga yang penuh dengan keheningan. Dalam hatinya, dia merasa bingung, marah, dan frustasi terhadap situasi mereka.
Di kamar tidur, Yusuf mencoba menenangkan dirinya. Dia merasa bahwa meninggalkan situasi tersebut adalah tindakan yang paling bijak saat ini, meskipun dia juga merasa sedih dan kecewa dengan perkembangan hubungan mereka.
__ADS_1
Sementara itu, Aminah tetap di ruang keluarga, duduk dengan perasaan campur aduk. Dia merasa kesepian dan terluka oleh pertengkaran yang mereka alami. Dia juga merasa khawatir tentang masa depan pernikahan mereka dan dampaknya pada Hana.
Malam itu, mereka tidur terpisah, dan ketegangan dalam pernikahan mereka belum terselesaikan. Mereka tahu bahwa mereka perlu menemukan cara untuk mengatasi masalah mereka dan memulihkan hubungan yang telah terluka. Tetapi perjalanan menuju rekonsiliasi akan menjadi tugas yang sulit dan panjang bagi keduanya.