Bantu Hantu Tampanku

Bantu Hantu Tampanku
Bab 10. Kabar Buruk


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Suasana kini sunyi. Setelah Santiani telah dibawa duduk oleh Pafang ke kursi panjang yang berjarak agak jauh dari teman-teman Andra yang kini masih duduk di kursi panjang dan ada beberapa yang berdiri. Pafang sengaja menyuruh mereka untuk duduk agak jauh darinya karena ia tak mau jika Santiani kembali mengamuk dan memarahi mereka semua.


Meru mengigit ujung kukunya dengan perasaan cemas yang berkecamuk di dalam hatinya. Meru menoleh menatap Fandi yang kini berusaha untuk tersenyum dan berusaha untuk menangkan Meru setelah menepuk bahu Meru.


Di sisi lain Satria yang kini bersandar di dinding itu melangkah melintasi Ucup yang juga sedari tadi berdiri di sampingnya. Sesekali Satria mengintip di balik kaca berusaha untuk melihat Andra yang sedang menjalani proses pemeriksaan oleh dokter yang tak kunjung keluar dari ruangan. Β  Β  Β 


Mereka semua sangat berharap jika Andra baik-baik saja. Yah, mereka semua sangat menginginkan hal itu.


Cukup lama mereka semua menunggu. Sesekali Santiani yang merasa sangat cemas menunduk menatap jarum jam pada jam tangan yang melingkari pergelangan tangannya kemudian ia menatap ke arah pintu ruangan dimana Andra ada di dalam sana.


"Keluarga saudara Andra!"


Suara terdengar membuat semua orang bangkit ketika dokter yang telah memeriksa keadaan Andra melangkah keluar dari ruangan.


"Dokter! Saya Mamanya Andra!" ujar santiani cepat sembari berlari menghampiri sang dokter.


"Tolong! To-long beritahu saya bagaimana kabar Andra! Anak saya, dia baik-baik saja, kan? Dia tidak apa-apa, kan dokter?"


"Santiani, tenang lah!" bisik Pafang yang dengan cepat merangkul bahu istrinya itu.


"Tenang! Tenangkan dirimu! Biarkan dokter menjelaskan semuanya!"


"Tapi anak kita, Mas-"


"Iya, Mas tau tapi kamu harus tenang! Dokter akan memberitahukannya," ujarnya menenangkan dan sesekali ia mengguncang bahu istrinya itu agar menguatkannya.


"Dokter! Dokter bagaimana keadaan sahabat saya? Apakah sahabat saya baik-baik saja dokter?" tanya Satria yang begitu sangat cemas membuat santiani yang masih terisak itu tiba-tiba menghentikan suara isakan tangisnya lalu melirik tajam ke arah Satria dan ketiga sahabat dari Andra yang berada di sampingnya.


"Heh, kamu! Kamu jangan sok baik, ya!" tunjuk Santiani membuat Pafang memejamkan matanya dengan erat.


Ia menarik pergelangan tangan Santiani agar berhenti untuk menunjuk sahabat dari Andra.


"Sudah! Jangan membahas masalah itu dulu! Kita harus fokus pada kondisi Andra sekarang!" bisik Pafang.


"Saat ini pasien sedang kritis. Pendarahan pada kepalanya diakibatkan goresan saat kecelakaan dan setelah kami melakukan pemeriksaan kami melihat jika bagian tempurung otak Andra ada yang retak."


"Hal itu membuatnya tidak sadarkan diri," sambungnya.

__ADS_1


Bibir Santiani bergetar saat mendengar penjelasan dari dokter. kedua matanya memanas dengan perasaan yang begitu sangat hancur rasanya ada berarti tajam yang menikam dadanya hingga tembus ke belakang membuat nafasnya sesak seakan sukar untuk bernafas.


"A-anak kita, Mas! Anak kita kritis."


Santiani merasa lemas. kedua kakinya begitu sangat lemah sehingga tak mampu untuk menopang tubuhnya. Ia nyaris pingsan namun, dengan cepat tubuhnya di tahan oleh Pafang.


Suara tangisan Santiani meledak sementara sahabat-sahabat Andra, Satria, Meru Ucup dan Fandi juga ikut terbelalak kaget.


Mereka semua tidak menyangka jika setelah kejadian kecelakaan itu membuat sahabatnya, Andra menjadi kritis seperti ini.


"Sekarang juga kami akan melakukan tindakan operasi dan setelah tindakan operasi itu kami akan membawa Andra ke ruangan ICU lalu setelahnya kami hanya mengharapkan mukjizat dari Tuhan. Semoga saja pasien bisa tetap hidup di dunia ini."


"Dokter, lakukan apapun yang terbaik untuk putra saya. Saya ingin putra saya selamat. Dia adalah anak satu-satu kami jadi tolong selamatkan dia," ujar Pafang penuh harap.


"Tentu saja, Pak. Kami akan melakukan yang terbaik untuk putra Bapak. Kalau begitu Bapak dan Ibu boleh ikut saya untuk mengurus berkas-berkas tindakan operasi?"


"Bisa, Dok."


"Baik. Silakan ikut saya ke ruangan!" mintanya membuat Santiani dan Pafang melangkah namun, langkah Santiani terhenti.


Ia menoleh dengan pelan ke arah sahabat-sahabat Andra yang masih mematung di belakang sana. Mereka berbaris rapi persis anak sekolah yang baru dihukum di depan kelas.


Senyap, tak ada diantara mereka yang bicara.


"Ini semua itu karena kalian! Kalau saja Andra tidak ikut balapan pasti Andra tidak akan berada di rumah sakit ini!!!" teriaknya sambil menunjuk ke arah mereka.


Sementara sahabat-sahabat Andra hanya bisa terdiam bahkan Meru dan Ucup hanya bisa tertunduk.


"Awas kalau Andra sampai meninggal! Saya masukkan kalian semua dalam penjara!" ancamnya lalu berpaling dan melangkah pergi meninggalkan keempat sahabat Andra yang kini saling berpandangan.


Satria mendudukkan tubuhnya di kursi besi dengan perasaan sedihnya. Suasana kini menjadi senyap tak ada di antara mereka yang berniat untuk bicara. Hingga di tengah-tengah keheningan itu brangkar nampak melewati mereka saat didorong oleh para perawat membuat Satria, Meru, Fandi dan Ucup menatap ke arah pasien yang telah ditutup dengan kain putih panjang yang nampaknya akan dibawa ke ruangan jenazah.


Bibir Ucup bergetar. Kepalanya terus menghadap ke arah brangkar yang didorong dan telah cukup jauh.


Bruk


Tak


"Aye nggak mau masuk penjara!!!" teriak Ucup lalu memukul permukaan dinding dan menendang kursi yang ada di hadapannya membuat Meru dengan cepat menarik sahabatnya itu.

__ADS_1


"Hei! Hei! Sudah! Sudah!" teriaknya.


"Ko kenapa?" tanya Meru yang menarik Ucup agar menjauh dan menghentikan pukulannya itu namun, tak kunjung berhasil membuat Ucup memberontak.


"Hei, kau dengar sa!!!" teriaknya sembari memegang kedua pundak Ucup dan mengguncangnya membuat pria yang ada di hadapannya itu terdiam dengan dada yang naik turun.


"Ko kenapa, kah? Kenapa ko mau menyalahkan diri sendiri?"


"Eh, Mer! Lu nggak denger apa yang diomongin sama Enyak-nya si Andra kalau sampai si Andra mati, kite berempat bakalan di penjara."


"Lu ngerti nggak, sih? Aye nggak mau masuk penjara," sambungnya.


"Ndak ada yang bakalan masuk penjara. Kalian ndak usah menyalahkan diri sendiri!" sahut Satri yang masih duduk di kursi panjang.


"Andra masuk ke dalam rumah sakit dan kritis itu karena kecelakaan bukan gara-gara kita. Lagi pula bukan kita yang mengadakan balap."


"Balapan itu, kan kemauan Andra sendiri. Balapan itu untuk merayakan hari ulang tahun geng motor dan kita kita nggak boleh takut apalagi dengan ancaman Mamanya si Andra."


"Temen Andra bukan hanya kita berempat, ada banyak. Kalau misalnya Mama si Andra beneran mau masukin kita dalam penjara, kita bakalan minta teman-teman se-geng motor untuk jadi saksi kalau kita nggak bersalah," jelas Satria.


Fandi yang sejak tadi terdiam itu melangkahkan kakinya dengan pelan menuju ke depan pintu dimana dari sini ia bisa melihat sosok Andra yang sedang dipersiapkan untuk melakukan tindakan operasi.


"Kalian tahu tidak, kalau operasi kepala itu berbahaya sekali," ujar Fandi di tengah-tengah kesunyian.


Dimana semua teman-temannya telah terdiam kini ia bicara membuat Ucup, Meru dan Satria menatap ke arah sahabatnya itu yang masih berdiri di depan pintu ruangan Andra.


"Sepupu saya dulu pernah masuk ke rumah sakit. Kepalanya juga yang dioperasi dan baru seminggu sepupu saya itu meninggal."


Kedua mata Satria tak mampu berkedip. Tubuhnya tak kaku dan terkunci rapat.


"Bagaimana kalau Andra benar-benar mati?" tanya Fandi dengan kedua matanya yang nampak kosong.


"Aye nggak mau dipenjara. Gimane kalau beneran kite dipenjara? Babe ame Enyak bakalan sedih," bisik Ucup yang duduk di samping Meru yang terlihat hanya bisa terdiam.


Kacau, semuanya benar-benar terasa kacau. Mereka semua pikir jika hari ini adalah hari ulang tahun geng motornya yang paling menyenangkan. Mereka semua tidak menyangka jika perayaan hari ulang tahun dengan sebuah balapan yang setiap tahunnya selalu Andra adakan malah menjadi berita buruk yang terjadi di tengah-tengah kebahagiaan.


Kecelakaan Andra juga bahkan telah menyeret keempat sahabat-nya yang masih terduduk di kursi panjang.


...🍁🍁🍁...

__ADS_1


__ADS_2