
...πππ...
Sepeda yang ia gayuh itu akhirnya memasuki area sekolah merpati putih, sekolah terfavorit yang ada di Jakarta. Di dalam sana anak-anak orang kaya di sekolahkan.
Bagaimana dengan Cici? Apa Cici juga termasuk orang kaya sehingga ia bisa sekolah di sini? Oh, tidak. Bahkan Cici merasa jika ia merupakan siswi yang paling termiskin di sini karena hanya dia menggunakan sepeda untuk pergi ke sekolah.
Lalu bagaimana bisa ia sekolah di tempat terfavorit ini? Ya, tentu saja karena otak cerdasnya sehingga ia mendapatkan beasiswa untuk bisa bersekolah di tempat ini yang harga semesternya cukup mahal.
Satu hal yang membuat Cici bangga bisa sekolah di tempat ini dan itu juga yang membuatnya bangga bisa bersekolah di tempat ini karena otaknya. Bukan seperti orang-orang yang selalu membully-nya itu yang berhasil sekolah di tempat ini karena uang dari orang tuanya.
Ah, rasanya Cici ingin berlari ke lapangan dan memukul dadanya dengan kuat-kuat di depan semua orang bahwa dia ini hebat. Tidak seperti dengan kalian semua. Rasanya Cici ingin menjambak satu persatu orang-orang yang selalu membully-nya dan ingin mengatakan kalimat ini tepat di hadapan pembullynya.
"Hei, lihat Cici! Orang yang selalu kalian bully itu adalah gadis pintar!"
Tapi faktanya mengatakan hal lain karena otak cerdasnya itu menyebabkan ia tidak mempunyai banyak teman.
Tuhan, kenapa semua orang menjauhinya?
Dan itu pula yang menyebabkannya selalu dibully.
Bully dan bully seperti tidak ada habis-habisnya.
Seseorang menendang ban sepedanya membuat Cici yang sejak tadi sibuk memasukkan nasi kuning ke dalam keranjang melirik sinis pada gerombolan gadis-gadis yang menghampirinya. Siapa lagi jika bukan Nela , Teksa dan Vesa.
Sudah dua kali ia bertemu di pagi ini. Mengapa hari-hari yang ceria seakan menjauhinya begitu saja dan harus memberikan takdir bahwa ia harus satu sekolah dengan ketiga mereka dan lebih parahnya lagi dia juga harus berada di dalam kelas yang sama dengan mereka semua.
"Eh, ibu-ibu rempong! Masih pagi aja udah sempat ngurusin nasi kuning."
__ADS_1
"Mau, dong nasi kuning," tambah Vesa menambahi ujaran Teksa yang memiliki rambut pirang berwarna ungu itu.
Oh, iya satu hal yang selalu Cici perhatikan adalah rambut pirang mereka. Teksa memiliki rambut pirang berwarna ungu. Nela berwarna pink dan Vesa berwarna kuning. Ah, menggelikan.
Teksa yang mencolek lengan Cici membuat Cici tak bicara sedikitpun. Ia hanya memeluk keranjang berisi nasi kuning itu dengan erat-erat. Tidak ingin jika bungkusan nasi kuning ini terjatuh ke tanah seperti apa yang pernah terjadi beberapa minggu yang lalu dan akhirnya ia malah dimarahi oleh Neneknya itu karena tidak mendapatkan uang.
Yah, Neneknya itu akan berubah menjadi monster jika tidak mendapatkan uang dalam satu hari sehingga Cici harus hati-hati.
Tanpa bersuara Cici melangkah pergi merapatkan kacamatanya itu berusaha menajamkan penglihatannya. Ia dibuat was-was, takut geng centil itu malah merampas keranjangnya.
Mereka semua itu nekat. Bahkan dulu pernah mereka mengecek-ngacak keranjangnya membuat nasi kuningnya terjatuh dan kembali lagi Cici pada Neneknya yang kembali menjadi monster, mengamuk seperti ingin menyerang musuh saja.
Tak peduli suara ocehan Nela, Teksa dan Vesa di belakang sana hingga suara keras terdengar membuat langkah Cici sempat terhenti namun, ia kembali melangkah. Tentu saja sepedanya itu pasti telah didorong dan terhempas ke area parkiran karena ulah mereka semua.
Tidak tahu mengapa mereka semua itu selalu saja membully-nya. Apakah mereka tidak bosan bahkan Cici saja sudah bosan dibully seperti ini.
...πππ...
Dia tante Zahira, pemilik kantin yang ada di sekolah ini. Dia juga merupakan wanita yang sangat baik karena tidak pernah menolak bungkusan nasi kuning milik Cici untuk dijual.
"Oke, nanti setelah pulang sekolah kamu ambil keranjangnya, ya!"
"Iya Tante," jawabnya lalu berlenggang melangkah keluar dari kantin.
Zahira, wanita yang sengaja mengondek rambutnya itu tersenyum menatap kepergian Cici. Menurutnya Cici adalah gadis yang sangat baik, pemberani dan pekerja keras. Walaupun gadis itu selalu dibully satu sekolah bahkan sering disiksa tapi ia tak pernah sekalipun untuk berhenti sekolah atau bahkan bolos pelajaran.
Walaupun banyak yang membullyn-ya di sekolah ini tapi tetap saja dia tidak pernah alfa untuk pergi ke sekolah. Gadis yang hebat.
__ADS_1
"Eh, Ibu-ibu baru dari kantin, nih. Bawa nasi kuning lagi," ejek salah satu siswi yang ia temui saat berpapasan keluar dari kantin.
Cici tidak menjawab kalaupun dijawab itu hanya menambah masalah. Orang-orang seperti mereka semua itu jika diladeni akan bertambah berisik dan memberikan masalah baru bagi Cici.
Asal kalian tahu saja, yang baru saja membully-nya itu bukanlah teman sekelas atau teman seangkatan tapi adik kelasnya. Ya, Cici berusia 17 tahun dan sekarang dia telah mendiami kelas 3 dengan jurusan IPA.
Cici menoleh menatap ke arah bagian kantin setelah ia berhasil melewati beberapa adik kelas yang telah memberikan ejekan singkat kepadanya.
Cici bernafas dengan lega. Akhirnya ia bisa terbebas dari adik-adik kelasnya itu. Ah, bahkan adik kelasnya pun sudah tidak menghormati seniornya. Sebenarnya mereka semua menghormati seniornya, kecuali dengan Cici. Mungkin karena melihat senior-senior lain yang membully-nya jadi junior-junior lain juga ikut.
Baru saja Cici menoleh dan berniat untuk melangkahkan kakinya kini langkah itu terhenti setelah ia berhasil mendapati tiga gadis yang sedang berdiri di hadapannya.
Kedua mata Cici melebar. Ia meneguk salivanya setelah mendapati sosok Nela, Teksa dan Vesa yang berdiri di sana dengan tatapan sinis. Mereka tersenyum jahil seakan siap untuk menggangunya hari ini.
Seketika juga jantungnya berdetak sangat cepat. Cici menggenggam erat bagian rok sebatas lututnya itu. Tuhan, mengapa mereka itu suka sekali bertemu dengan Cici padahal Cici sangat tidak ingin bertemu dengan mereka semua.
Cici menarik nafas dalam-dalam lalu menghembusnya pelan berusaha untuk tetap tenang. Ia tidak ingin terlihat takut dan gugup di hadapan ketiga gadis yang masih menatapnya.
Ish, rasanya Cici ingin menusuk mata mereka.
Dengan pelan yang ia melangkah berniat untuk melewati Nela, Teksa dan Vesa hingga akhirnya langkah itu terhenti saat Teksa yang paling menonjol dari mereka bertiga menyentuh pundak Cici yang kedua matanya langsung membulat kaget.
"Mau ke mana lo?"
Cici meneguk salivanya.
"Sebelum pergi, kita main dulu!"
__ADS_1
...πππ...