Bantu Hantu Tampanku

Bantu Hantu Tampanku
Bab 6. Perkelahian Dua Pacar


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Cahaya lampu menerpa jalan beraspal yang begitu sunyi, hanya ada beberapa orang yang berlalu-lalang dengan kendaraannya. Tatapan Andra nampak kosong menatap jalanan lurus yang ia lalui. Pikiran Andra masih tertuju pada apa yang telah dikatakan oleh Papi dan Mommy-nya.


Andra tak mengerti mengapa Papinya selalu berfikir negatif kepada teman-temannya. Andra tau jika mereka semua adalah orang yang baik dan selalu ada untuknya, tak seperti kedua orang tuanya yang hanya mementingkan pekerjaan dibandingkan dirinya.


Andra menoleh menatap langit yang terlihat berkilau dengan bintang-bintang yang menjadi penghiasnya.


"Gue harap, gue bisa mati sekarang dan ngeliat siapa yang peduli sama gue," batin Andra sambil memejamkan kedua matanya.


  


Andra tak tau lagi harus memikirkan apa saat ini. Bukti, yah hanya itu yang Andra inginkan.


"Gue harap gue bisa mati." pikir Andra lagi.


Ponsel Andra berdering di saku jaket hitamnya membuat Andra sedikit terkejut. Kedua matanya terbuka dan menatap motor yang ia lajukan telah berada di siring jalan beraspal. Dengan cepat Andra menghentikan motornya hingga berhasil menghasilkan suara decitan pada ban motornya yang bergesekan pada permukaan aspal.


Nafas Andra terasa sesak dan detak jantungnya yang begitu sangat kencang memompa darahnya. Hampir saja ia menabrak.


Andra yakin jika ponselnya tak berdering dan membuatnya membuka mata mungkin ia sudah menabrak warung bakso yang kini telah tutup, yah sekarang sudah jam sebelas malam.


Andra merogoh saku jaketnya dan menatap nama Meru di sana. Bahkan teman-temannya lah yang telah menyelamatkan nyawanya. Jika Meru tidak menghubunginya mungkin ia benar-benar sudah mati. Tuhan, akan benar-benar mencabut nyawanya dan doa-doanya itu akan segera dikabulkan.


Andra kembali memasukkan ponsel ke saku jaketnya dan kembali menancapkan gas meninggalkan tempat ini menuju tempat dimana mereka selalu mengadakan balap motor.


Butuh lima belas menit bagi Andra hingga ia telah tiba di tempat itu. Para anak-anak geng motor nampak menyoraki Andra saat Andra telah tiba melintasi jejeran motor-motor yang terparkir di pinggir jalan beraspal.


"Eits, ada yang lambat, nih," goda Fandi sambil menepuk bahu Andra yang kini sedang memarkir motornya.


"Iya, ko lama sekali, kita hampir membusuk karena tonggu ko di sini," ujar Meru.


Andra tak menjawab, ia segera turun dari motor dan melepas helm hitam yang sedari tadi melindungi kepalanya.


"Sorry, sorry, gue habis debat sama Bokap dan Nyokap gue jadi-"


"Ah, Ndak usah dipikir, Ndra! Kan ada kita semua, iya toh?" potong Satria sambil menepuk bahu Andra dan menunjuk ke arah teman-teman yang lain.


"Betul," sahut mereka semua dengan kompak.


"Makasih, yah lo semua udah mau ada buat gue," ujar Andra.


"Aduh ini anak to, kita itu bicara apa? Kita semua ini teman, yang berarti harus ada untuk kita," ujar Fandi.

__ADS_1


Perlu diketaui jika kata Kita dalam bahasa Sulawesi Selatan memiliki arti kamu namun, pengucapannya yang memiliki arti lebih sopan bagi masyarakat di sana.


"Nah, betul. Etdah, nih bocah kalau ngomong ada benernya juga, yak," ungkap Ucup dengan logat Betawinya.


  


"Ayaaaaaang," jerit seorang gadis membuat Andra dan teman-temanya itu menoleh menatap gadis berparas cantik itu mendekat.


Tiama, pacar Andra, lebih tepatnya pacar Andra yang ke sepuluh. Paras cantik, kulit putih dan penampilan yang begitu menarik. Rambutnya terlihat piring berwarna ungu bercampur kuning terang, celana hitam sebatas paha dengan baju pendek memperlihatkan pusatnya yang diberi anting.


"Wish, ada si Tiama," ujar Ucup.


"Ayaaaang," jerit Tiama sambil menggeliat  di lengan Andra yang kini terlihat tak nyaman dengan pelukan hangat itu.


Sejujurnya ia tak memacari Tiami karena cinta melainkan hanya karena tantangan dari teman-temannya untuk memiliki Tiama dan Andra bisa mendapatkannya lewat uang dua ratus juta yang ia transfer untuk Tiama.


Patut dipercaya jika sepuluh pacar itu tak ada satupun yang membuat Andra menjadi cinta namun, keberadaan mereka hanyalah sebuah koleksi semata saja.


      


"Ayaaaang." Geliat Tiama manja.


"Apaan, sih lo?" tanya Andra sambil berusaha melepas pegangan Tiama dari lengannya.


"Ih, kamu, kok malah nanya, sih? Aku, tuh rindu sama kamu," ujarnya dengan nada manja.


"Ih, apaan, sih kalian?" Kesal Tiama menatap Ucup dengan wajahnya yang disok imutkan.


"Udah! Udah! Tim," ujar Andra yang kini menatap Tiama sambil tangannya yang terus berusaha untuk melepas pegangan Tiama pada satu lengannya.


"Ih Ayang," geliatnya semakin mempererat pegangannya. Tak mau jika ia harus jauh-jauh dari Andra.


"Kamu itu ngapain, sih ke sini?" tanya Andra.


"Loh, kok nanya gitu, sih, Yang?" tanya Tiama sambil menghempas-hempaskan kedua kakinya di aspal persis seperti anak-anak.


"Yah, ngapain? Lagian ini juga udah larut malam," jelasnya.   


"Yaaang, aku mau nemenin kamu, aku kan pacar kamu," jelas Tiama.


"Beeeeb!" panggil seorang gadis membuat semua orang menoleh termasuk Andra yang kini lebih terbelalak dibandingkan teman-temannya yang lain.


Siapa lagi jika bukan Jelina, pacar pertama Andra yang telah berpacaran dengan Andra selama tujuh tahun. Jelina juga termasuk gadis yang Andra dapatkan setelah mendapat tantangan dari teman-temannya.

__ADS_1


Jelina melangkah mendekati gerombolan Andra dengan raut wajah yang terlihat marah.


Jelina termasuk daftar pacar Andra yang cantik bahkan diantara mereka Jelina lah yang paling cantik. Pakaiannya juga tak terlalu terbuka dibandingkan Tiama yang berpenampilan seksi. Baju lengan panjang, celana hitam panjang dan rambut hitam panjang sebatas pinggang  yang terlihat diikat.


"Aduh, ini ko harus sembuyi, Andra!" bisik Meru khawatir.


"Kayaknye peran dunia ketige udah deket," sahut Ucup khawatir.


Jelina berhenti tepat di depan Andra dengan sorot matanya yang menatap Tiama dengan tajam. Siapa yang tak marah jika pria yang berstatus menjadi pacarnya digeliati oleh seorang gadis lain.


"Heh!!! Apa-apaan lo?" tanya Jelina sambil menarik tangan Tiama dengan keras sehingga pegangan tangan Tiama terlepas dari lengan Andra.


Meru yang berada di dekat Jelina langsung berlari kocar-kacir berusaha untuk tak menghalangi dua gadis yang tengah akan berperan ini.


"Ih, kamu itu siapa? Ngapain kamu narik-narik saya?" tanya Tiama yang kini telah berpisah jarak antara ia dan Andra.


"Ngapain? Lo nanya ngapain? Lo tuh yang ngapain?" tanya Jelina kesal lalu memeluk pergelangan tangan Andra.


Kedua mata Tiama terbelalak kaget menatap gadis itu yang memeluk erat lengan pacarnya.


"Ih, ngapain kamu gandeng-gandeng tangan pacar saya?" tanya Tiama kesal lalu menarik tangan Jelina agar segera menyingkir dari Andra.


"Heh, Apaan sih lo? Ini tuh pacar gue!!!" teriak Jelina yang tak mau kalah.


"Enak aja, ini tuh pacar saya," jawabnya sambil ikut memeluk lengan Andra dan menariknya kuat agar Jelina tak dapat memeluk Andra.


"Heh, lo jangan halu, ya!"


"Siapa yang halu? Kamu, tuh yang halu!!!" Tunjuknya tak terima.


"Lo!!!"


"Kamu!!!"


"Aduh, berisik saja ini, langsung baku hantam sajalah," cerocos Meru membuat, Satria, Ucup, Fandi dan Andra terbelalak kaget menatap ke arah Meru.


"Apa? Beta salah bicara, kah?" tanya Meru tanpa dosa. 


"Lo yang bener loh kalau ngomong-"


Belum selesai Satria bicara Jelina dan Tiama kini menjerit dan saling tarik menarik rambut, mereka benar-benar berkelahi di hadapan Andra yang kini mendecapkan bibirnya, bosan. Yah ini bukan pertama kalinya ada gadis yang berkelahi hanya karena dia. Sebelumya sudah ada bahkan mereka sampai harus dibawah ke rumah sakit.


"Wedendde, tolong itu weh!!!" teriak Fandi begitu sangat panik lalu berlari menggeliat di bahu Satria.

__ADS_1


"Lah, iki toh malah sembunyi?" tanya Satria dengan logat sundanya.


...🍁🍁🍁...


__ADS_2