Bantu Hantu Tampanku

Bantu Hantu Tampanku
Bab 9. Rumah Sakit


__ADS_3

...๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ...


Suara serena ambulance terdengar melintasi jalan raya begitu sangat kencang. Cahaya dari lampu serena berwarna biru dan merah itu terlihat menyinari para kendaraan yang menepi di pinggir jalan setelah memberi jalan pada ambulance yang kini telah mengangkut tubuh Andra.


Mobil ambulance berhenti tepat di depan ruang UGD dan tak membutuhkan waktu banyak para orang-orang dengan pakaian putih berlari keluar dari ruangan UGD serta juga ada beberapa orang yang berpakaian putih berlarian turun dari mobil ambulance.


Tubuh Andra yang terbaring lemah dan tak sadarkan diri itu didorong di atas brangkar yang kini telah di penuhi darah bahkan banyak darah yang menetes di dalam mobil ambulance.


Brangkar itu di dorong memasuki ruangan UGD dengan begitu sangat cepat. Tak jauh dari itu Satria, Ucup, Meru dan Fandi juga ikut berlari mengikuti ke arah mana brangkar itu didorong setelah mereka mengikuti ambulance dengan motor mereka masing-masing. Wajah mereka semua mempucat begitu sangat khawatir dengan kondisi Andra sekarang.


Mobil hitam dan mewah berhenti dengan cepat setelah melesat kencang memasuki area rumah sakit. Pintu mobil itu dibuka hingga terlihatlah sosok Santiani yang kini berlari keluar dari mobil dan dengan paniknya ia berlari ke arah ruan UGD tanpa menutup pintu mobil meninggalkan Pafang yang kini berteriak memanggil nama Santiani.


Lari Santiani begitu sangat kencang melewati pintu-pintu ruangan UGD. Setelah ia mendapat telpon dan mendapat info dari bodyguardnya, Santo dan Toy jika Andra telah mengalami kecelakaan dan kini telah dibawah ke rumah sakit terdekat membuat Santiani sadar jika perasaan seorang Ibu tak pernah salah.


Santiani memelangkan langkahnya saat menatap dari jauh teman-teman Andra yang kini sedang duduk di kursi panjang berwarna putih. Santiani berlari menghampiri mereka semua. Ia memang tak pernah melihat mereka, teman-teman Andra secara langsung atau bahkan Andra juga tidak pernah memperkenalkan semua teman-temannya kepadanya tapi Santiani dapat mengenali wajah-wajah mereka dari foto yang selalu Andra apload di media sosialnya serta jaket yang mereka gunakan sama dengan jaket yang selalu Andra gunakan.


"Dimana Andra?!!" teriak Santiani yang kini menjambak kasar kerah baju salah satu teman Andra yang paling dekat dengannya saat ia tiba di kursi tunggu itu.


"Di da-da-dalam Tante," jawab Fandi dengan sangat takut sambil menunjuk ke salah satu ruangan dengan jari tangan gemetarnya.


Kedua mata Santiani memerah denganย  detak jantungnya yang berdetak sangat kencang. Air matanya kini sedari tadi telah jatuh membasahi pipinya. Ia begitu merasa sangat khawatir dengan kondisi putra satu-satunya itu.


"Santiani!" Tarik Pafang hingga genggaman Santiani dari kerah baju Fandi terlepas.

__ADS_1


"Tenangkan diri kamu! Jangan berbuat kasar!" bisiknya berusaha menenangkan tetapi Santiani tidak peduli.


"Kenapa Andra bisa sampai kecelakaan?!!" teriak Santiani yang suaranya menggema dan memantul ke segala arah.


"Santiani! Sudah!" pintah Pafang sambil memegang kedua bahu Santiani yang berusaha untuk melepas pegangan Pafang yang terus memegangnya begitu sangat erat.ย 


"Saya tidak akan memaafkan kalian semua jika ada apa-apa yang terjadi pada putra saya!!!" teriak Santiani dengan nada mengancam.


"Maaf, Bu tapi ini semua bukan kesalahan kami," jelas Satria berusaha membela diri.


"Lancang kamu menjawab dan mengatakan jika ini bukan kesalahan kalian!!!" teriak Santiani lalu melangkah maju dan melayangkan pukulan ke lengan Satria sekali sebelum Pafang kembali menarik istrinya.


"Andra tidak akan seperti ini jika tidak berteman dengan kalian semua!!!" teriak Santiani sambil menunjuk ke arah Satria, Ucup, Meru dan Fandi.


"Kalian semua akan membusuk di dalam penjara jika Andra sampai meninggal!"


"Aku tidak akan melepaskan kalian semua!!!"


ย 


"Sudah, Santiani! Sudah! Hentikan ini!" pintah Pafang sambil menguncang bahu Santiani yang kini mulai menghentikan berontaknya.


"Sudah!" Tatap Pafang penuh perhatian.

__ADS_1


Santiani menghembuskan nafas panjang saat mendengar suara lembut suaminya itu.


"Kumohon," ujarnya lagi.


Santiani mengigit bibirnya dengan kuat berusaha untuk tak melepas suara tangisannya namun, sebesar apapun ia menahannya tapi tetap saja air mata itu kini menetes dan tumpah ruah membasahi pipinya.


"Anak kita, Mas," ujar Santiani lalu memeluk tubuh Pafang diiringi dengan suara isakan tangis.


"Aku tau kamu sedih tapi ini bukan saatnya kita marah dan bahkan menyalahkan teman-teman Andra-"


"Tapi-"


"Hust!" potong Pafang membuat Santiani mengurungkan niatnya untuk bicara.ย  ย ย 


"Ini saatnya kita untuk berdoa dan memanjatkan keselamatan untuk Andra kepada Tuhan," jelas Pafang yang kini mengelus rambut Santiani yang kini menangis di bahu Pafang.


Setelahnya Pafang menoleh menatap teman-teman Andra yang kini juga nampak terlihat khawatir.


Jadi ini rupanya teman-teman Andra yang selalu Andra anggap baik dan peduli dengannya bahkan Andra selalu membanggakan teman-temannya ini.


Andra juga sering membanding-bandingkan dia, santiani dengan teman-teman se-geng motornya.


Meru, Fandi, Ucup dan Satria hanya bisa meneguk salivanya, begitu sangat takut dan gugup saat ditatap serius oleh pria berjas hitam yang masih menenangkan istrinya di sana.

__ADS_1


...๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ...


__ADS_2