
...πππ...
Suara monitor pada sebuah ruangan ICU terdengar. Memperlihatkan garis yang terlihat naik turun pada layar komputer menggambarkan detak jantung Andra yang terbaring kritis.
Santiani mengusap pipinya yang basah itu. Menatap haru pada tubuh Andra yang masih terbaring di tempat tidur rumah sakit. Andra telah menjalani proses operasi dan kini berada pada tahap kritis. Kini semuanya hanya diserahkan kepada Tuhan. Bagaimana keadaan Andra hanya Tuhan yang mengetahuinya.
Santiani menyentuh jemari tangan Andra yang masih terbaring di sana. Sudah seharian penuh Andra tak kunjung sadar juga dan belum keluar dari masa kritis. Ia sangat berharap bisa kembali melihat Andra yang berbicara kepadanya. Ia tak peduli dengan sikap Andra yang begitu sangat keras kepala bahkan itu yang membuat Santiani rindu kepada anaknya.
Ia rindu ingin berdebat dengan putranya itu. Jika saja waktu bisa berputar Santiani ingin memeluk erat tubuh, Andra tak peduli apapun yang terjadi.
Apapun yang selalu Andra katakan dengan sikap keras kepalanya tetap akan menjadikan ia putra kesayangan terlebih lagi Andra yang merupakan anak satu-satunya itu. Hanya Andra harapannya.
Santiani yang menangis sesukan itu akhirnya menoleh saat seseorang menyentuh bahunya hingga wajah suaminya, Pafang terlihat dengan jelas. Raut wajah kesedihan juga tergambar pada wajahnya.
"Sabar, semuanya akan baik-baik saja. Kita hanya perlu banyak berdoa," ujarnya sambil mengelus punggung istrinya itu.
Sementara disatu sisi jika Santiani dan Pafang yang begitu sangat setia untuk menemani Andra melewati masa-masa kritisnya sedangkan teman-teman Andra, Satria, Fandi, Meru dan Ucup tak pernah muncul untuk menjenguk Andra.
Mereka semua takut jika harus berhadapan dengan Santiani yang selalu menuduh mereka semua sebagai cikal bakal terjadinya kecelakaan ini.
Mereka semua selalu disalahkan atas kondisi Andra seperti ini. Menjauh, hal itu yang tengah mereka lakukan. Menjauh dari tuduhan Santiani.
...πππ...
Hawa dingin terasa menikam pori-pori kulitnya. Keningnya bergerak beberapa kali saat silau mengganggu penglihatannya. Kedua matanya terbuka perlahan hingga cahaya yang memutih itu terlihat begitu sangat menikam penglihatannya.
Andra bahkan harus mengedipkan beberapa kali kedua matanya berusaha menyesuaikan cahaya yang menyilaukan mata itu untuk bisa ia lihat jelas.
Andra bangkit dari lantai yang terasa dingin. Duduk dengan kedua matanya merambah ke segala arah. Hanya sebuah cahaya putih, tak ada apapun di sini.
Sepanjang luasnya tempat yang ia lihat, dimana ia berada tak sedikitpun sebuah jalan terlihat.
Andra berputar menatap ke segala arah, tetapi tak ada jalan disini. Andra bisa merasakan jika jantungnya berdetak sangat cepat. Tubuhnya gemetar karena takut. Mengapa tak ada apapun disini. Terlihat sangat kosong.
"Dimana gue? Apa gue udah mati?"
Andra menunduk menatap tubuhnya yang berpakaian serba hitam, pakaian yang terakhir kali ia gunakan saat balapan itu.
Andra baru teringat jika terakhir kali ia menabrak sesuatu. Kedua mata Andra membulat.
"Oh, mungkin gue udah mati?"
Dengan cepat Andra meraba seluruh tubuhnya berusaha mencari luka yang bisa saja muncul setelah kejadian kecelakaan itu namun, nihil. Tak sedikitpun luka yang ia dapatkan.
"Gue dimana sekarang?"
"Satria, Fandi, Meru dan Ucup. Dimana mereka semua!?"
"Dimana?" bisiknya pada diri sendiri.
Andra kembali mendongak menatap ke segala arah berusaha mencari seseorang tapi tak sedikitpun orang yang ia lihat. Sekelilingnya penuh dengan ruangan kosong yang hanya memutih.
"Gue dimana?"
"Hello! Siapapun disana! Tolong gue!!!" teriak Andra dengan suaranya yang memantul.
__ADS_1
Dia bisa mendengar suaranya itu yang menggema ke segala arah seakan ia berteriak di dalam goa.
"Gue dimana, sih sebenarnya? Gue kenapa?"
Lelah bertanya dan berteriak sendiri bahkan melangkah kiri dan kanan berusaha mencari jalan tapi tak kunjung ia dapatkan membuatnya kini terduduk di lantai putih yang dingin.
Mematung dengan pandangan kosong dan hanya bisa terduduk di sana.
"Gue mau pulang!"
"Gue nggak mau disini. Aaaaa!!!"
[Andra]
Sontak kedua mata Andra membulat setelah mendengar suara yang menyebut namanya.
"Siapa? Siapa itu?" tanya Andra yang dengan cepat bangkit.
Ia berputar dengan kepalanya yang bergerak ke segala arah berusaha mencari pemilik suara itu.
"Siapa itu dan kenapa gue bisa ada disini?!!"
[Kamu telah mati]
"Mati? Nggak mungkin gue mati."
[Kematianmu adalah permintaanmu]
"Permintaan? Maksud lo?" tanya Andra yang sesekali berputar berusaha mencari si pemilik suara itu yang entah dari mana sumbernya.
[Kami adalah dewa bintang yang akan mengabulkan doa dari orang-orang yang berdoa saat ada bintang jatuh. Apakah Anda lupa jika Anda telah berdoa saat Anda melihat bintang jatuh dari langit?]
Andra menggelengkan kepalanya begitu tidak menyangka dan percaya dengan apa yang ia dengar.
"Nggak mungkin. Gue nggak mungkin mati!"
"Dewa bintang!"
"Permintaan! Doa! semuanya kebohongan. Ini pasti mimpi!"
Plak
plak
plak
Andra memukul pipinya. Dia bisa merasakan rasa sakit pada pipinya. Kedua matanya membulat merasakan sakit dari pukulannya itu.
"Kenapa sakit? Harusnya ini itu nggak sakit! Ini hanya mimpi!"
[Lihat! Ini adalah Anda! Anda yang sedang terbaring sakit dan yang berada di samping Anda adalah kedua orang tua Anda.]
Kedua mata Andra seakan bergetar. Darahnya berdesir saat menatap dirinya yang terlihat terbaring di atas berangkar sementara kedua orang tuanya Santiani dan Pafang terlihat menangis.
"Bukan, itu bukan gue," komentar Andra yang melihat rekaman dirinya yang entah berasal dari mana.
__ADS_1
[Lihat baik-baik! Itu adalah Anda.]
Andra menggelengkan kepalanya berusaha menolak jika yang sedang terbaring itu adalah dirinya, tetapi melihat wajah yang sedang terbaring itu membuatnya bungkam.
Wajah pucat dengan perban yang melingkari kepalanya itu. Setiap sisi wajahnya sama dengan dirinya.
"Beneran gue. Mukanya mirip gue," komentarnya setelah melihat seksama wajah pria yang sedang terbaring itu bahkan Mommy dan Papinya juga ada di sana.
"Nggak mungkin. Gue nggak mungkin bisa kritis kayak gitu."
[Ini adalah kenyataan. Anda telah benar-benar kritis dan tinggal menunggu kematian]
Anda tertunduk sejenak saat gambaran dirinya yang sedang kritis itu lenyap dari pandangan.
"Terus dimana sahabat-sahabat gue? Dia pasti ada buat gue, kan? Dia nggak mungkin ninggalin gue disaat gue kritis kayak gini."
[Itu benar. Sahabat-sahabat Anda tak pernah datang untuk menjenguk Anda]
Andra tertawa kecil lalu menggelengkan kepalanya berusaha menolak kenyataan itu mentah-mentah.
"Enggak mungkin. Nggak mungkin sahabat gue itu nggak ada disaat gue kritis. Mereka semua itu baik."
[Jika Anda tidak percaya maka lihat ini!]
Andra kembali mendongak melihat rekaman sahabat-sahabatnya yang terlihat sedang asyik di basecamp tempat mereka biasa berkumpul.
Dari sini Andra bisa melihat jika teman-temannya itu sedang asyik bercengkrama. Menukar kisah satu sama lain bahkan tak jarang mereka saling tertawa.
Rupanya tanpa kehadiran Andra suasana tetap saja sama. Mereka bahkan tidak memperdulikan apakah ia sedang terbaring sakit. Satria, Fandi, Meru dan Ucup, mereka semua berada disana lalu layar itu kembali menghilang membuat Andra tersungkur pada sebuah lantai putih yang terasa dingin.
"Gue nyesal. Gue udah nyesal udah banggain sahabat-sahabat gue di depan Mommy dan Papi. Mommy dan Papi yang peduli sama gue bukan mereka."
"Mereka bahkan nggak peduliin gue disaat gue terbaring sakit. Cuman Mommy sama Papi yang ada di samping gue."
"Kenapa? Kenapa gue nggak pernah sadar kalau yang lebih sayang sama gue itu adalah kedua orang tua gue sendiri, bukan sahabat-sahabat gue."
Andra menghantamkan kepalan tangannya itu pada tembok yang dingin. Ia bisa merasakan sakit disana hingga Andra kembali sadar jika ini bukanlah mimpi, ini kenyataan.
"Terus gimana sama gue? Gue nggak mau."
"Gue mau kembali hidup. Gue mau ketemu sama Mommy dan Papi. Gue mau minta maaf sama mereka. Tolong gue! Gue nggak mau mati!"
"Lo bisa dengar gue, kan?"
"Dewa bintang! Gue nggak mau mati beneran!"
"Gue mau hidup!"
[Anda bisa kami hidupkan kembali.]
Suara itu kembali terdengar membuat Andra tersenyum lebar.
"Yah, tolong hidupin gue! Gue mau hidup! Tolong! Please, hidupin gue kembali!"
[Tapi sebelum itu Anda harus menjalankan sebuah misi]
__ADS_1
"Misi?" tanya Andra tidak mengerti.
...πππ...