Bantu Hantu Tampanku

Bantu Hantu Tampanku
Bab 7. Balapan Dimulai


__ADS_3

"Lah, iki toh malah sembunyi?" tanya Satria dengan logat sundanya.


Suara keributan terdengar antara Tiama dan Jelina, keduanya saling menarik rambut dan  menjerit satu sama lain di sana membuat semua orang, anggota geng Balck Motor berlari menghampiri Tiama dan Jelina dan mereka saling berkerumun.


Kini kedunya saling memaki dan berteriak sekeras mungkin sementara Andra kini nampak berusaha untuk memisahkan kedua gadis ini yang masih saling tarik menarik rambut.


"Udah! Udah!" teriak Andra sambil berusaha memisahkan tapi sayangnya itu tak semudah yang Andra pikirkan.


"Eh bantu itu!" Tunjuk Fandi.


"Bantu ape?" tanya Ucup dengan kedua matanya melotot nyaris keluar.


"Bantu berantem?" tebak Satria sembari menatap Fandi dan Ucup yang nampak terdiam dengan wajah datar. Lalu tanpa banyak pikir ia dengan lugunya menarik rambut Tiama dan Jelina secara bersamaan membuat kedua gadis itu terhempas ke permukaan aspal.


Pertengkaran itu terhenti. Tiama dan Jelina mendadak senyap dengan kedua matanya yang menatap Satria yang kini tersenyum manis seakan tak berbuat kesalahan sedikitpun. Semua orang terbelalak kaget saat melihat tindakan Satria yang begitu sangat nekat. Bukan hanya mereka yang terbelalak tapi Ucup, Meru, Fandi dan Andra yang kini melongo.


Senyap!


Sunyi!


"Aaaaaaa!!!" jerit Jelina yang kini masih duduk di permukaan aspal sementara Tiama kini menangis seperti anak kecil.


"Satria, kenapa ko tarik rambutnya?" tanya Meru takut.


"Yang penting toh berhenti," jawab Satria senang.


"Aaaaa!!! Beeeeeb, bantuin!!!" rengek Tiama dengan manja sambil merentangkan kedua tangannya ke arah Andra.


"Enak aja, Andra itu pacar gue!!!" Marah Jelina tak terima.


"Heh, Andra itu pacar saya!!!" teriak Jelina, marah.

__ADS_1


Lagi dan lagi setelah kalimat itu keduanya kembali saling menjambak rambut dan menjerit di sana. Andra menghela nafas, kini ia sudah tak sanggup lagi untuk menghadapi dua gadis yang saling adu jambak.


"Gimana, nih?" tanya Satria.


"Udah! Udah! Tinggalin aja!" ujar Andra lalu memasang helm hitam ke kepalanya dan melangkah naik ke atas motor.


"Kemane, Ndra?" tanya Ucup.


"Balapan," jawabnya santai.


...🍁🍁🍁...


"Tiga..."


Seorang gadis dengan pakaian seksi berwarna hitam berdiri sambil memegang kain hitam yang kini berdiri di tengah jalan sambil melambai-lambaikan kain hitam ke arah motor berwarna hitam yang siap untuk menancapkan gas.


"Dua..."


"Andra!!!" teriak Satria.


Andra menoleh menatap Satria yang kini berdiri di samping Ucup, Meru dan Fandi yang terlihat saling bersorak.


"Semangat!!!" teriak Satria membuat teman-temantanya yang lain ikut bersorak dan saling bersahut-sahutan.


Andra tersenyum dari balik helm yang ia kenakan menatap teman-temannya. Ini yang selalu Andra butuhkan dalam kehidupannya. Seorang pendukung, bukan seperti kedua orang tuanya yang selalu melarangnya untuk ikut balapan liar sementara ini adalah hobi Andra.          


"Semangat, Yaaaang!!!" teriak Jelina yang berdiri di samping kiri sebelah Meru.


"Enak aja, Yang, Yang, itu Beb saya," kesal Tiama yang berdiri di samping kanan Meru.


"Lo, tuh yang enak aja! Jelas-jelas kalau Andra itu pacar gue!" Tunjuk Jelina tidak terima membuat kedua mata Tiama membulat.

__ADS_1


"Ih, mikir kamu kalau ngomong! Jelas-jelas Andra itu pacar saya bukan pacar kamu," teriaknya membuat Meru mengeryitkan keningnya. Ia menoleh ke arah kiri, kanan saat gadis itu bicara.


"Pacar gue!!!"


"Pacar saya!!!"


"Pacar gue!!!"


"Pacar saya!!!"


"Heh, ko ini berisik sekali!!!" geretak Meru membuat Jelina dan Tiama tersentak kaget.


Yah, kedua gadis ini mendadak takut pada geretakan Meru. Bahkan saat perkelahian itu dimana hanya suara Meru yang membuat mereka berhenti berkelahi.


Jelina memonyongkan bibirnya lalu menoleh menatap Satria yang kini terlihat tersenyum menatap Jelina. Ia menatap dari ujung kaki sampai ujung rambut Satria sambil tersenyum penuh makna.


"Kamu bule, yah?" Tunjuk Jelina.


"Bukan," jawab Satria dengan logat sundanya.


Suara kenalpot mesin motor semakin nyaring terdengar membuat semua orang yang sedari tadi mendengar celotehan Tiama dan Jelina menoleh ke arah jejeran motor yang telah siap.


"Tiga!!!" teriak gadis itu lalu segera melepas kain dari tangannya dan mendarat ke aspal.


Andra dengan cepat menancapkan gas meninggalkan gerombolan yang kini sedang bersorak meneriaki namanya di belakang sana. Tak ketinggalan juga empat anggota geng Black Motor yang kini ikut menancapkan gas begitu sangat kencang.


Balapan liar ini bukanlah hal pertama yang pernah dilakukan oleh Andra namun, ini sudah puluhan atau bahkan ribuan kali ia ikut balapan liar, Andra tak sempat menghitungnya.


Tatapan Andra begitu tajam menatap jalan beraspal  yang nampak diterangi oleh cahaya lampu jalan. Ban motor Andra kini melesat dan menyalip para kendaraan yang menghalangi jalannya. Kini jam telah menunjukkan pukul 11.58 menit dan tak lama lagi akan memasuki pukul 00.00.


Ponsel Andra berdering dan Andra mampu merasakan ponselnya itu bergetar di dalam saku jaket hitamnya yang ia kenakan. Andra mengabaikannya, ini bukan waktu bagi Andra untuk mengangkat telpon itu yang entah dari siapa.

__ADS_1


__ADS_2