Bantu Hantu Tampanku

Bantu Hantu Tampanku
Bab 11. Suci Sacuti


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Driiing...


Sebuah tangan keluar dari selimut tebal berwarna putih. Jemari tangannya meraba permukaan meja berusaha mencari jam alarm paginya yang begitu sangat mengganggu tidurnya itu.


Setelah berhasil mematikannya kini suasana menjadi senyap membuat gadis yang masih berada di dalam selimut putih itu mengembangkan senyum. Akhirnya ia bisa melanjutkan tidurnya.


Ia menggerakkan tubuhnya. Menarik selimut dalam-dalam dengan helaan nafas. Saatnya untuk tidur lagi dan mimpi yang indah bertemu dengan seorang pangeran.


Oh, indahnya. Menari bersama di atas awan yang bertaburkan dengan bunga-bunga dan...


Bruk


Bruk


Bruk


"Cici! Cepatlah bangun!"


"Kenapa kamu tidak bisa bangun pagi-pagi sekali? Cepat bangun!"


Pukulan keras itu seakan ingin merobohkan pintunya. Kedua mata gadis bernama Suci Sacuti atau lebih dikenal dengan sebutan panggilan Cici oleh orang-orang terdekatnya membulat kedua matanya setelah mendengar suara teriakan Neneknya dari luar


Sepertinya ia harus mengurung niatnya untuk memimpikan hal-hal yang indah pagi ini karena sang monster sudah ada di depan pintu.


"Cici!"


"Iya tunggu," sahutnya dari dalam selimut dengan suara serak ciri khas orang bangun tidur.


"Cepatlah! Nenek sejak tadi sudah mendengar suara alarm jam itu!"


"Untuk apa memasang alarm kalau hanya dimatikan saja? Cepat bangun!" teriaknya dari luar.


Cici mendecakkan bibirnya. Mau tidak mau Cici bangkit dari kasurnya. mengucek-ngucek matanya itu lalu kembali meraba permukaan meja meraih kacamata dan memasang di kedua matanya yang telah mengalami gangguan penglihatan. Matanya itu minus karena selalu sering membaca. Namanya juga kutu buku.


Katanya Cici itu terlalu pintar sampai harus pakai kacamata padahal menurut Cici tidak. Ia tidak mines seperti ini karena pintar tapi ia terlalu sering membaca buku novel.


Yah, lihat saja. Ada begitu banyak buku novel yang terpajang di rak bukunya.

__ADS_1


Dring...


Alarm Cici kembali terdengar membuat Cici yang berada di depan cerminnya melirik tajam ke arah alarm yang kembali berdering.


Cici menekan dengan kuat alarmnya itu hingga tak berhasil mengeluarkan suara sedikitpun.


"Diamlah bodoh! Cici sudah bangun," umpatnya kesal lalu ia meraih handuk dan melangkah keluar dari kamarnya.


Sekali lagi perkenalkan dia, dia Suci Sacuti. Gadis cupu serta culun yang selalu dibully oleh anak-anak satu sekolah. Yah, menurut mereka gadis berkacamata ini merupakan gadis mudah ditindas sehingga setiap harinya Cici harus mendapatkan bullyan dari orang-orang yang selalu datang dan memberikan umpatan kasar.


Mau melawan? Untuk apa melawan. Cici itu tidak punya teman. Hanya ia sendiri di sebuah kelas yang berisi 40 orang dan itu juga yang membuatnya bebas untuk dibully oleh siapa saja karena tidak ada teman yang membela.


Kenapa? Kenapa harus dibully? Mungkin juga karena Cici adalah gadis miskin yang hanya tinggal bersama dengan Neneknya sementara kedua orang tuanya itu tak tahu pergi ke mana.


Plak


Cici yang berniat untuk meraih nasi bungkus di dalam keranjang itu tertahan niatnya setelah neneknya, Nia memukul punggung tangannya itu.


"Jangan makan yang itu!" tegurnya membuat Cici memeluk punggung tangannya itu dan mengelusapnya.


"Ini untuk dijual."


Cici mendengus. Ia menarik kursi yang ia duduk di sana. Meraih piring dan meletakkan nasi kuning, telur dan berapa lauk lainnya yang telah lebih dulu dibungkus oleh Nenek untuk dijual di kantin sekolah Cici.


"Awas aja kalau uangnya ada yang kurang!" ancamnya lalu mengangkat keranjang yang terbuat dari rajutan bambu dan keluar dari rumah membuat ujung bibir Cici terangkat. Tuhan, pelit sekali wanita tua itu.


Cici bangkit dari teras rumah setelah ia mengenakan sepatu hitamnya dan melangkah dengan santai ke arah sepedanya dimana di bagian keranjang sepedanya itu telah dipenuhi dengan bungkusan nasi kuning dengan lauk pauknya yang dijual dengan harga lima ribu perbungkus.


Ini sudah paling murah. Nenek sengaja memberikan harga yang murah dengan alasan agar cepat laku. Lagi pula nasi kuningnya itu bisa dibilang cepat laku karena harga makanan yang ada di kantin sangat mahal sehingga anak-anak sekolah SMA Merpati Putih itu lebih memilih membeli nasi kuning buatan Neneknya. Selain harga murah rasanya juga enak.


Anda mau beli?


"Hati-hati naik sepedanya, nanti-"


"Nanti nasi kuningnya jatuh lalu tidak bisa dijual," potong Cici membuat Neneknya mencibirkan bibir.


"Diamlah bodoh! Cepat pergi!" suruhnya membuat Cici meraih punggung tangan Nenek dan mengecupnya.


Nenek tersenyum. Ia mengelus kepala Cici hingga akhirnya senyum itu lenyap saat Cici menjulurkan telapak tangannya memberikan kode bahwa ia meminta sesuatu.

__ADS_1


Tak


"Apa? Tidak ada uang jajan!"


Pukulan yang tidak terlalu keras itu mendarat di kepalanya membuat senyum Cici lenyap dari wajahnya.


"Kalau lapar makan saja nasi kuning itu. Jangan minta uang dengan Nenek! Pergilah cepat dari hadapanku!"


Cici meringis pelan. Ia meraba poninya yang telah mendapat pukulan hangat itu. Pagi ini sudah berapa pukulan yang ia dapat. Untung saja ia sekolah senin sampai sabtu jadi ia tidak berada di rumah dan mendapatkan pukulan terus menerus. Walaupun pukulan itu sebatas hanya sebuah teguran.


Pernah terlintas dipikirannya. Apa mungkin Neneknya itu adalah mantan atlet tinju sehingga seringkali memberikan pukulan untuknya. Ah, jangan diambil serius. Wanita tua sepertinya itu memang sering marah-marah. Disenggol sedikit saja sering emosi jadi wajarlah.


...🍁🍁🍁...


Cici mengayuh sepedanya melintasi jalanan beraspal yang begitu dipadati dengan kendaraan. Kota Jakarta tentu saja menjadi tempat yang sangat macet dan untung saja Cici menggunakan sepeda sehingga ia tidak terlalu lama bergelut di dalam kemacetan.


"Woi! Gue juga mau, dong naik sepeda!"


Suara ejekan terdengar saat adegan lampu merah membuat Cici melirik sejenak dan mengalihkan pandangannya menolak untuk menatap teman-teman sekelasnya yang terlihat menggunakan mobil mewah.


Mereka itu adalah salah satu orang yang sangat Lilis benci di dunia ini bahkan jika ada penobatan nominasi wanita yang paling jahat di dunia maka nominasi itu akan jatuh kepada ketiga gadis yang ada di dalam mobil.


Nela, Teksa dan Vesa. Mereka semua anak-anak orang kaya jadi wajar jika mereka menggunakan mobil untuk pergi ke sekolah. Mobil milik orang tua saja bangga. Cici saja yang punya sepeda sendiri tidak pernah membanggakannya.


Lah...


"Serius banget, tuh," ejek Nela yang duduk di bangku paling depan.


Mereka tertawa saat Cici terus menatap ke arah lampu merah. Walaupun Cici terlihat diam dan tenang tapi di dalam hatinya sudah berteriak dengan keras. Rasanya ia ingin menggoncang lampu yang memiliki tiga warna itu.


Seharusnya pemerintah yang ada di tempat ini jangan membuat lampu dengan warna merah yang terlalu lama. Kalau seperti ini ia akan semakin lama di barisan kendaraan-kendaraan lain dan semakin lama pula dibully oleh mereka semua.


Apalagi saat ia menjadi bahan tontonan para pengendara lain. Mereka semua itu Nela, Teksa dan Vesa tidak pernah mengerti tempat dan situasi. Mereka selalu saja mem-bully.


Harusnya kalau mau mem-bully itu di sekolah saja, tidak perlu membully di luar sekolah. Apalagi di depan lampu merah ini.


Lampu yang berwarna merah itu akhirnya terganti menjadi lampu berwarna hijau membuat kendaraan lain menancapkan gas meninggalkan sosok Cici yang dengan sekuat tenaga mengayuh sepedanya itu.


"Bye, bye! Kita duluan, ya guys!!!" teriak Teksa yang melambaikan tangannya meninggalkan sosok Cici yang sudah ngos-ngosan untuk mengayuh sepedanya.

__ADS_1


"Nenek, seharusnya Nenek itu belikan Cici motor, bukannya sepeda seperti ini. Lihat saja mereka semua, anjing-anjing itu menggonggong di dalam mobilnya dan menertawai Cici," oceh Cici.


...🍁🍁🍁...


__ADS_2