
Ponsel Andra berdering dan Andra mampu merasakan ponselnya itu bergetar di dalam saku jaket hitamnya yang ia kenakan. Andra mengabaikannya, ini bukan waktu bagi Andra untuk mengangkat telpon itu yang entah dari siapa.
...🍁🍁🍁...
Santiani menurunkan ponsel dari telinganya dan kembali menghubungi anaknya, Andra. Walaupun ia sempat memarahi putranya itu tapi tetap saja hati seorang Ibu tak akan tenang jika Putranya tak kunjung untuk pulang ke rumah ataupun pulang di rumah.
Santiani sangat khawatir dengan Putranya itu. Jika tak salah ingat, Andra sempat mengatakan jika ia akan ikut balapan lagi dengan teman-teman se-geng untuk merayakan hari ulang tahun geng motor yang tak pernah ia dukung keberadaanya. Santiani tak mau jika dari balapan itu membuat Putranya terluka atau terjadi sesuatu yang tidak ia inginkan. Lagipula apa pentingnya membuat sebuah geng motor yang tidak memiliki faedah sama sekali.
Santiani paham jika Putarnya satu-satunya itu telah tumbuh dewasa dan kini telah berusia 23 tahun. Tapi tetap saja bagi Santiani, Andra seperti bocah kecilnya yang nakal dan masih perlu untuk dibimbing.
"Bagaimana?" tanya Pafang yang kini menatap gelisah pada Istrinya yang terlihat sangat khawatir.
"Tidak diangkat," jawabnya.
"Hubungi lagi!" pintah Pafang.
Santiani mengangguk dan kembali menghubungi ponsel Andra.
Pafang bangkit dari kursi sofa saat mendapati bodyguardnya yang kini telah melangkah memasuki ruangan tamu berjalan ke arahnya.
"Tuan memanggil kami?" tanya Sando.
"Iya, pergi dan bawa pulang Andra! Dia mungkin ada di tempat nongkrongnya dan jika tidak menemukannya maka tetap cari dia! Jangan kembali jika kalian belum menemukan Andra!" pintah Pafang.
"Baik, Tuan," jawab Sando dan Toy dengan kompak lalu beranjak pergi meninggalkan ruangan tamu.
Santiani kembali mendecapkan bibirnya saat Andra tak kunjung mengangkat telponnya.
"Mas, Andra juga tidak mengangkat telponnya lagi. Bagaimana ini, Mas? Jangan sampai sesuatu terjadi kepada Andra."
"Jangan khawatir! Bodyguard kita akan menemukannya dan membawa Andra pulang bahkan sampai ke pangkuan kamu sekali puu," ujar Pafang berusaha untuk menenangkan Istrinya.
"Mas, aku merasa jika ada sesuatu yang buruk akan menimpa Andra, anak kita."
__ADS_1
"Sayang, jangan berpikir negatif! Mari berpikir positif! Aku yakin Andra akan baik-baik saja," jelas Pafang sambil mengusap bahu kanan istrinya.
Santiani mengangguk walau sejujurnya kalimat suaminya itu tak mampu membuatnya tenang. Santiani merasa sangat tak nyaman dengan perasaanya mengenai Andra, ada kegelisahan tersendiri yang menyelimutinya, ini firasat seorang Ibu.
...🍁🍁🍁...
Tak butuh lama bagi Andra untuk menatap garis Finis yang kini berada di depan matanya. Suara teriakan histeris dari teman-temannya yang telah menunggunya di garis finis itu sangat jelas didengar oleh Andra.
Senyum Andra tercipta disaat ia menatap kain hitam yang dilambai-lambaikan di depan sana oleh seorang gadis berpakaian seksi. Dari sini, Andra bisa melihat Satria, Ucup, Fandi, dan Meru yang terlihat melompat-lompat seakan sangat bahagia melihatnya.
"Mom, Pi! Lihat teman-teman Andra yang selalu Mommy dan Papi anggap hanya datang ke Andra karena Andra punya banyak uang. Mereka semua baik dan selalu ada untuk Andra."
"Mom, Pi! Yang Mommy sama Papi pikirkan tentang teman-teman Andra itu salah."
"Teman-teman Andra semua baik. Mereka semua peduli dengan Andra. Mereka berteman dengan Andra karena mereka tulus, bukan karena ada maunya saja."
"Tidak seperti apa yang Mommy sama Papi pikirkan selama ini. Lihat mereka! Mereka bahkan terlihat sangat senang saat Andra berada di barisan paling depan."
"Mereka semua teman-teman Andra. Mereka tidak pernah melarang dan mengatakan sesuatu hal buruk mengenai hobi Andra."
"Apa yang Andra sukai mereka semua mendukungnya, tidak seperti Mommy sama Papi yang selalu melarang Andra melakukan hal yang Andra suka."
Andra menghela nafas dan memejamkan kedua matanya.
"Tuhan, buktikan dan tunjukkan siapa yang peduli dan yang tidak peduli dengan Andra!" batin Andra.
Andra membuka kedua mata membuatnya dengan jelas menatap jam tangan yang kini menunjukkan pukul 00.00 pada arah jarum jam-nya hingga sebuah sinar yang terpantul dari kaca jam tangannya membuat Andra dengan cepat mendongak ke langit menatap cahaya terang yang terlihat bergerak, itu sepertinya cahaya dari bintang jatuh.
"Andraaaaa!!! Awas!!!" teriak Fandi histeris.
Suara itu berhasil membuat Andra menoleh dan membuatnya terbelalak saat menatap sebuah truk besar di depannya. Suara klakson dari mobil truk itu terdengar nyaring seakan menyoraki Andra untuk segera menyingkir dari hadapannya.
__ADS_1
Piiiiiipppp!!!
Dengan cepat Andra membanting stang motor hitamnya namun, tetap saja ujung motor belakang milik Andra yang ia kendarai dihantam keras oleh kepala truk besar membuat motor Andra terhempas ke aspal yang kasar.
Bruak!!!
Suara keras itu terdengar membuat para gerombolan anggota geng Motor Black mendadak diam dengan tubuh mereka yang terlihat kaku. Tak ada lagi suara sorakan atau teriakan yang menanti Andra di garis finish.
Motor Andra terhempas keras dan terseret di permukaan aspal sementara Andra ikut terlempar lalu terguling begitu kencang entah kemana. Andra mampu merasakan tubuhnya seakan melayang dan merasakan sakit pada kepalanya. Ia tak tau apa yang terjadi kepadanya. Apakah ini mimpi?
Andra membuka kedua matanya memastikan ke arah mana tubuhnya ini melayang. Tak jauh di sana, Andra membuka kedua mata membuatnya melihat cahaya terang dan menyilaukan matanya. Entah cahaya apa itu. Andra tidak bisa melihatnya dengan jelas.
Piiiiiiiiip!!!
Bruak!!!
"Andraaaa!!!" suara teriakan histeris terdengar dari anggota gerombolan geng motor saat tubuh Andra dengan sangat keras menabrak sebuah motor metik yang untung saja pemiliknya dengan cepat menarik rem tangan. Kalau saja tidak mungkin Andra telah terlindas dan hanya Tuhan yang tau apakah tubuh Andra masih utuh atau malah hancur.
Semuanya berlari menghampiri Andra yang kini telah tergeletak tak sadarkan diri di atas aspal.
"Andraaaa!!!" teriak Ucup lalu segera menyentuh dengan takut permukaan jaket milik Andra yang terlihat sobek.
"Hei, Andraaaa!!!" teriak Meru yang kini ikut berlutut di samping Andra.
"Coba cek! Masih nafas nggak?" sahut salah satu pria yang berada di belakang Satria yang masih berdiri dengan wajah pucatnya.
"Biar saya yang cek," ujar Fandi lalu merendahkan tubuhnya berniat untuk menyentuh hidung Andra, namun, belum sampai ia melakukannya kedua mata Fandi terbelalak kaget menatap darah segar yang mengalir di aspal kasar.
"Andraaaa!!!" teriak Fandi begitu sangat histeris membuat orang-orang yang ada di sekitarnya melangkah mundur begitu sangat ketakutan setelah mendengar teriakan Fandi yang tiba-tiba.
"Ada apa, Ndi?" tanya Satria dengan wajahnya yang telah memucat, takut.
"Darah! Kepala Andra berdarah!!!" teriak Fandi begitu sangat histeris.
__ADS_1
...🍁🍁🍁...