BASEBALL WITH MY SON ( 18 AGAIN)

BASEBALL WITH MY SON ( 18 AGAIN)
METODE KHAS SEORANG CATCHER


__ADS_3

“Aku menyerah, kurasa aku memang tidak punya kemampuan untuk menjadi Pitcher.” Aksara menghapus keringat di dahinya, ia sudah mulai pasrah dengan ketidakmampuan dirinya.


“Ayolah! Kau tidak boleh menyerah seperti ini,” bujuk Adrian sekali lagi, sebelumnya dia sudah ada dua kali membujuk Aksara beberapa jam yang lalu.


“Memangnya kau tidak Lelah?” tanya Aksara yang kerap menunjukkan wajah mengeluhnya. “Maksudku, aku tidak ingin merepotkan orang lain. Mungkin kita bisa lupakan saja Latihan ini, aku akan coba sebisa mungkin menerima Takdirku.”


Adrian sampai tertawa geli mendengarkan perkataan putranya barusan, “Kau ini lucu ya, padahal baru kemarin kau mencoba bunuh diri karena gagal. Dan sekarang, kau mau melupakan impianmu? Apa kau memang kekanak-kanakan seperti ini?”


“Kau tidak tahu apapun tentangku,” bentak Aksara yang menunjukkan jari telunjuknya kepada Adrian.


“Aku memang gak tahu apapun tentangmu, makanya kau berhenti mengeluh dan biarkan aku mengenalmu melalui lemparanmu!” bentak balik Adrian yang langsung membuat Aksara terbungkam sesaat.


“Kau sepertinya benar, aku minta maaf.”


“Tidak masalah, Aksara. Jadi, bisa aku menerima lemparan curve Ballmu Kembali?”


Sekali lagi, Aksara menurut dan segera bersiap-siap untuk memberikan lemparan Curve Ballnya. Namun tetap saja, hasilnya benar-benar berantakan sekali. Padahal, Adrian sudah memastikan bahwa genggaman tangan dan Teknik yang digunakan oleh Aksara sudahlah tepat. Akan tetapi, bola yang dilemparkan tak pernah sekalipun sampai ke tangan Catcher dengan benar. Kalaupun sampai, pasti selalu menciptakan Ball kepada para Batter yang bertugas memukul Bola.


“Sekali lagi!” teriak Adrian yang tidak merasa puas dengan kemampuan anaknya saat ini. Dia tidak memperdulikan berapa banyak waktu yang dihabiskannya untuk melatih Aksara. Meski perutnya mulai keroncongan karena menahan rasa lapar saat ini.


“Bisa kita ganti saja Teknik lemparannya?” tanya Aksara yang mulai bosan. Baginya terasa memuakkan bila melakukan Teknik lemparan yang gagal berkali-kali. Tampaknya, ia tumbuh menjadi anak yang mudah sekali berputus asa dan membuat Adrian harus bekerja ekstra.


“Aku rasa percuma saja kita melakukan lemparan lainnya. Menurutku, kita fokus saja pada lemparan Fastball dan Curve Ball saat ini. Kalaupun kau mulai jenuh pada lemparan Curve Ball, kau bisa ganti melempar dengan Teknik Fastball saja.”


“Kau benar-benar menyebalkan,” keluh Aksara yang merasa kesal dengan raut wajah yang diberikan Adrian. Tapi, entah mengapa ia malah sibuk menuruti keinginan dan perintah Adrian tanpa bisa membantah sama sekali.

__ADS_1


Dengan tenaga yang masih tersisa, ia melakukan lemparan curve ball sekali lagi, tapi tetap saja bola itu malah menciptakan Home Run berdasarkan kacamata sang Cathcer.


“Kau yakin itu bakal Home Run? Sejak tadi kau hanya terus membuat perintah berdasarkan bayangan dan Batter khayalanmu saja loh,” keluh Aksara sekali lagi.


“Aku hanya memberikan gambaran dari efek lemparanmu berdasarkan persepsiku sebagai Cathcer,” tukas Adrian. Dia langsung memberikan posisi Sign Stances kepada Aksara.


“Mari kita coba bermain dengan benar kali ini, kau bisa memberikanku lemparan lurus ( Fastball) Four Seamer rendah ke sudut luar!” perintah Adrian yang langsung memberikan tanda dengan mengepal tangan terlebih dahulu, lalu ia menunjukkan Jari telunjuknya dan Gerakan tangan yang mengarah kesudut luar.


“Akan kucoba.”


Adrian tersenyum dan langsung merubah posisinya menjadi Primary Stances. Dia sudah siap menerima lemparan dari Aksara. Tampaknya Adrian sengaja meminta lemparan itu untuk mengembalikan kepercayaan diri Aksara, ia sangat paham betul bagaimana caranya mengembalikan suasana hati Picther dan meningkatkan kefokusan mereka. Faktanya, memang benar sih, seorang Catcher harus mampu membuat Picther merasa nyaman saat melempar dan mempertahankan kefokusan mereka sepanjang permainan berlangsung.


Bukan hanya itu saja, Adrian sangat memahami fakta bahwa salah satu cara untuk mengembalikan ketenangan Pitcher dalam bermain adalah meminta mereka untuk melempar Picth dengan Teknik yang mereka kuasai. Tujuannya agar para Pitcher merasa lebih nyaman dan percaya diri saat lemparan mereka mulai memburuk, sehingga nantinya mereka bisa Kembali fokus dalam permainan dan tidak membuat Ball berulangkali yang dapat merugikan Tim.


Dan sepertinya persepsi Adrian tersebut benar-benar berhasil untuk Aksara, ia tampak lebih tenang saat melakukan posisi untuk melempar lemparan Fastball. Dalam hitungan detik saja, bola itu berhasil bergerak lurus dengan kecepatan yang sangat tinggi dibandingkan lemparan sebelumnya. Dan suara yang dihasilkan dari tangkapan sarung tangan Adrian yang menyentuh bola itu terdengar keras, Adrian merasa nikmat mendengarkannya sampai tak bisa berhenti tersenyum.


Aksara mengerutkan dahinya, “Apanya?”


“Lemparan lurusmu, kau berhasil mencapai 157 Km/Jam.”


“Benarkah? Wow, itu hebat.”


“Baguslah kalau kau merasa bangga pada dirimu,” ucap Adrian yang langsung menepuk tangannya.


“Kalau begitu, bisa berikan aku lemparan Curve Ball dan Two-Seamer mu juga?”

__ADS_1


Aksara mengangguk penuh semangat, walau bagaimanapun ia hanyalah anak SMA labil yang sangat senang diberikan pujian. Meski pada akhirnya, Latihan hari ini tidak menemukan solusi ataupun titik terang. Namun, setidaknya Adrian sudah bekerja keras untuk membantu putranya berlatih sepanjang hari dan biarkan dia yang akan memikirkan sisanya nanti.


Tanpa Adrian sadari bahwa ia semakin larut dalam pikirannya, berkali-kali ia mengaduk-ngaduk nasi didalam piring seolah-olah pikirannya sedang berada di tempat lain. Jelas saja Buk Santi dan Pak Bimo mulai khawatir pada putranya yang tak berhenti melamun sejak Kembali Latihan.


“Ada apa, Adrian?” tanya Ibu Santi yang langsung membuyarkan lamunan Adrian.


Adrian langsung tersentak dan menjatuhkan sendoknya, “Maaf, buk. Aku jadi kaget sampai buat sendoknya jatuh.”


“Memangnya kamu lagi mikirkan apa sih, nak?” tanya Ibu Santi, ia melirik sekilas kepada suaminya yang sedang membaca koran sambal meneguk Teh hangat di meja makan.


Adrian mengambil sendoknya yang jatuh, “Tidak apa-apa kok, buk. Cuman kepikiran soal Anakku.”


Saat mendengarkan Adrian yang sedang membicarakan Aksara, sang Kakek langsung melipat korannya dan menatap kepada Adrian.


“Memangnya, cucuku kenapa?” tanya Pak Bimo.


Adrian meneguk Tehnya sejenak, “Aku masih bingung banget soal permainan Adrian, Pak. Kami sudah berlatih seharian, tapi sampai detik ini aku tidak mampu untuk menemukan bakat permainanya.”


Adrian melirik pada ibunya, “Buk, apa mungkin aku memang tidak pantas ya jadi seorang Ayah?”


Buk Santi menggenggam tangan anaknya, ia tahu betul bahwa Adrian sedang kebingunan saat ini dan butuh saran dari mereka. Meskipun Buk santi dan Pak Bimo sama sekali masih awam untuk mengetahui tentang Baseball, tapi keduanya memang selalu ikut andil untuk mengatasi kegundahan hati Adrian.


Adrian masih sangat ingat bagaimana saran kedua orang tuanya membantu dirinya dahulu, tatkala saat Adrian merasa bingung untuk memilih menjadi Pitcher atau Catcher, sebab postur tubuh Adrian sangatlah pantas untuk menjadi seorang Pitcher ditambah lagi dirinya sangat tangkas dalam bermain melempar dan menangkap bola.


Dia adalah satu dari sejuta umat manusia yang memiliki bakat dalam bermain Baseball, tak perlu diragukan lagi bahwa ia adalah emas yang sejak dahulu telah bersinar dimata semua orang. Dia bukan hanya mampu bermain dalam posisi Catcher saja, kalau diminta pastinya ia bisa menjadi seorang Pitcher ataupun Pemukul Clean up atau keempat dan Penjaga Base. Adrian memang atlet Baseball yang sangat sempurna sekali.

__ADS_1


“Boleh bapak kasih masukan padamu?” tanya Pak Bimo yang dibalas anggukan oleh Adrian.


__ADS_2