BASEBALL WITH MY SON ( 18 AGAIN)

BASEBALL WITH MY SON ( 18 AGAIN)
MENGUBAH TAKDIR


__ADS_3

Setelah menaiki dua kali angkutan umum, akhirnya Adrian berhasil tiba di depan gerbang sekolah Aksara yang terlihat sangat sepi. Kebetulan memang saat ini sedang libur semester ganjil untuk seluruh siswa yang membuat sekolah di liburkan dan beberapa murid yang tinggal di Asrama juga memutuskan kembali ke Rumahnya masing-masing, makanya tak ada satupun manusia yang bisa kita jumpai disana selain pagar yang terkunci rapat dan Asrama yang masih kosong.


Sejenak ia menatap sekitar area depan gerbang sekolah, mencoba mencari cara untuk bisa masuk kedalam. Namun tak ada satupun celah masuk yang bisa digunakannya untuk memasuki area sekolah tersebut. Hingga akhirnya, ia memilih memanjati gerbang tersebut dengan penuh nekat. Lagian juga ia tak bisa memikirkan cara lain lagi, bila mengingat waktu di Jam tangannya terus berjalan cepat.


Untungnya saja Adrian berhasil memanjati gerbang sekolah dengan selamat tanpa sedikitpun cedera. Jadi, ia tak perlu lagi membuang waktu terlalu banyak. Lantas, tanpa banyak basa-basi dirinya langsung berlari mendekati area sekolah yang agak jauh dari gerbang depan.


Dengan langkah yang buru-buru dan keringat yang telah membasahi bajunya, ia sesekali mencuri pandang ke setiap lantai gedung dan keatas bangunan yang menjadi lokasi bunuh diri Aksara. Hingga ia berhasil menemukan bayangan Aksara yang sedang berlari menaiki tangga di lantai tiga. Tampaknya, Aksara ingin menuju atap gedung sekolah.


Entah darimana Aksara mendapatkan kunci dari pintu atap gedung, tapi yang jelas bukanlah saat yang tepat untuk Adria memikirkan hal tersebut. Sekali lagi, ia harus berlari lebih kencang untuk menyusul Aksara. Sesaat ia merasa seolah-olah tengah berlari sekencang-kencangnya untuk melewati ketiga Base demi bisa memperoleh angka di Home Plate. Dan rasanya, waktu yang terus berputar-putar di jam tangannya dan gerakan langkah kaki Aksara yang semakin menjauh dari hadapannya seolah mengingatkannya kembali pada para Pemain bertahan yang sedang mengincarnya.


"Aksara!" teriaknya yang terlihat sangat tegang, ia terus berlari menaiki tangga yang kemudian menghubungkannya ke atap gedung sekolah. Dan disana lah, ia bisa melihat posisi anaknya yang sudah berdiri di tepi atap gedung seraya menoleh kepadanya.


Sepertinya Aksara langsung menoleh kebelakang saat Adrian memanggil namanya tadi, tampak jelas wajah panik yang diperlihatkan Aksara sekaligus raut kebingungan karena tidak mengenal Adrian sama sekali.


Adrian berhenti tepat beberapa meter di hadapan Aksara, ia sendiri tak berhenti melangkah lebih dekat lagi yang bisa saja membuat anaknya itu melompat saat itu juga.


"Hentikan! Aku mohon bertindak bodoh seperti ini, kau pikir loncat dari gedung ini bisa menyelesaikan masalahmu. Justru, kau salah besar." Adrian terdengar seperti tengah membentak Aksara, ia tak bisa membohongi hatinya bahwa ia sedang merasakan perasaan takut yang amat besar. Bahkan, hal ini jauh lebih menakutkan daripada pertandingan Baseball melawan Tim terkuat.


Namun sepertinya, apa yang dikatakan oleh Adrian malah membuat Aksara menjadi marah. Jelas saja Aksara tidak senang dengan apa yang dikatakan Adrian, mana mungkin juga ia mendengarkan celotehan Adrian yang merupakan orang asing dan terlihat memiliki usia yang sama dengannya.


"Aku tidak mengenalmu dan kau tidak pantas menghakimiku dengan pendapatmu itu, kau sama sekali tidak tahu apa yang sedang ku alami!" bentak balik Aksara.

__ADS_1


"Aku memang tidak tahu bagaimana perasaanmu sekarang, tapi bukan berarti kau harus mengakhiri hidupmu seperti ini. Memangnya kau tidak kasihan pada orang tuamu? Mereka pasti bakal hancur saat melihat anak satu-satunya mencoba mengakhiri hidupnya dengan tolol kayak yang ingin kau lakukan sekarang, kau pastinya tidak maukan mereka terus merasa bersalah karena kehilanganmu." Adrian mulai frustasi, ia seperti tengah mencurahkan semua yang dirasakannya selama ini dalam setiap kalimat yang baru saja diucapkannya pada Aksara.


"Justru mereka akan lebih malu bila mempunyai anak yang gagal sepertiku," tukas Aksara yang menolak setiap perkataan yang didengarnya dari Adrian, ia seperti orang yang sangat tertekan dan kehilangan kepercayaan dirinya. Bahkan, secara nekadnya ia malah menggeser kakinya lebih ke tepi atap lagi yang jelas membuat Adrian semakin panik.


Dan saking paniknya, Adrian sampai maju beberapa langkah seraya mengulurkan tangannya kepada Aksara. Dia sampai tak sanggup lagi untuk menyaring kata-kata yang ada dalam dipikirannya dan secara spontan langsung berteriak kepada Aksara.


"Papamu sama sekali tidak marah padamu, ia memang sedih saat mendengarkan kegagalanmu. Tapi, ia tidak benar-benar kecewa padamu. Dia memang tidak mengatakan apapun padamu saat ini, tapi percayalah kalau dia masih mempercayai kemampuanmu sepenuhnya. Kau harusnya mengerti, Aksara!" teriak Adrian yang terdengar spontan berterus-terang kepada anaknya itu.


Jelas saja Aksara dibuat bingung olehnya, ia tertegun untuk beberapa saat dan mencoba mencerna ucapan Adrian barusan. Dan disaat inilah, Adrian langsung mendekat kepada Aksara dan menangkap tubuhnya. Lalu, ia tarik anaknya itu untuk menjauhi tepi atap secara cekatan sampai keduanya tergeletak di lantai Atap gedung dan membuat siku tangan Adrian terluka, karena menyeret lantai yang terbuat dari batu alam saat terjatuh barusan.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Adrian yang mencoba duduk sambil meletakkan tangannya di bahu Aksara. Lalu, tak beberapa saat dirinya langsung memeluk Aksara dengan erat selayaknya pelukan seorang Ayah kepada anaknya.


Aksara hanya diam saja untuk beberapa saat, entah kenapa ia bisa mencium aroma parfum khas milik Ayahnya dalam pelukan Adrian.


Setelah cukup puas memeluk putranya itu, Adrian langsung melepaskan pelukannya dari sang putra. Dia menghela nafas lega untuk beberapa saat, "Syukurlah kau selamat, aku bisa gila membayangkan kau loncat di depan mataku."


"Kau ini siapa? Kau bersikap perduli padaku dan seolah-olah kau sudah lama mengenal Papa ku, belum lagi bau parfum mu itu sangat mirip sepertinya." Aksara berdiri, ia menjauh beberapa langkah dari Adrian.


Adrian yang mulai menyadari bahwa tindakannya tadi benar-benar mencurigakan pastilah menjadi bimbang, tak mungkin juga ia mengakui identitasnya pada Aksara saat ini. Pastinya Aksara takkan mempercayai apa yang dikatakannya, lagian ia juga tak mau anaknya itu sampai tahu tentangnya.


Untuk beberapa saat, ia mulai melamun dalam pikirannya untuk merangkai kata yang tepat dalam menjawab pertanyaan Aksara. Untungnya sang takdir masih berbaik hati padanya, sebab tak beberapa lama kemudian ia mengingat kembali tujuannya sebelum terjebak di masa saat ini ditambah lagi ia juga sempat mengingat bahwa beberapa bulan yang lalu dirinya sempat menjadi bintang iklan Parfum ditelevisi sekaligus brand ambassador bagi produk parfum yang biasanya dipakai Kebetulan pula harga parfum itu terjangkau dan pilihan tepat untuk dijadikan alasan yang masuk akal.

__ADS_1


"Aku adalah fansnya Papa mu, makanya gak usah heran kalau aku sengaja membeli parfum yang sama seperti Papa mu. Pokoknya, aku adalah Fans setia Adrian Andromeda Wicaksono. Dan aku tidak akan tinggal diam, saat melihat anaknya mau bunuh diri seperti ini."


Aksara tersenyum muak, "Jadi, kau hanya sekedar Fansnya Papaku? Itu artinya yang kau katakan sebelumnya tidak nyata, bodohnya aku hampir percaya padamu."


"Aku tidak berbohong, tapi semua orang pasti bisa tahu bahwa Adrian sangatlah mencintai putranya sendiri. Dia takkan mungkin merasa kecewa padamu, meski berita kegagalan mu itu sudah trending didalam artikel dan berita televisi. Tapi, dia pastinya gak akan pernah sedikitpun merasa malu padamu. Kau juga harusnya tidak langsung menyerah atau membuatnya kecewa seperti ini," ceramah Adrian.


"Anggaplah yang kau katakan itu benar, memangnya apa yang bisa dilakukan orang yang tak berbakat sepertiku ini?" tanyanya yang seolah-olah telah berputus asa.


Adrian sampai menghela nafas sejenak, ia bisa merasakan keputusasaan anaknya itu. Perasaan dilema dan pikiran yang sudah tidak dapat berpikir rasional lagi, sesuatu yang tidak sekalipun dimilikinya dimasa lampau karena terlahir sebagai anak yang sangat berbakat dalam baseball.


"Kalau memang tidak terlahir sebagai orang yang berbakat, kenapa kau tidak mengumpulkan semua tekad dan motivasimu untuk berusaha lebih keras lagi? Bukannya banyak ya para atlet yang tidak mempunyai bakat dari lahir, tapi bisa sukses sekarang karena usaha dan kerja kerasnya. Kenapa kau tidak mencoba dari awal lagi?"


"Kau pikir motivasi saja cukup untuk membuatmu menjadi hebat? Dasar naif, kau bisa mengatakannya semudah itu karena kau tidak pernah tahu rasanya dilahirkan dari keluarga seorang bintang.


Bahkan, satu kegagalan saja sudah dianggap memalukan oleh fans fanatik seperti kalian." Aksara tampak tidak senang, ia jelas menolak mentah-mentah semua yang dikatakan Adrian dan berjalan pergi.


Tapi, Adrian tidak menyerah begitu saja. Ia tidak mau anaknya terus terpuruk pada kegagalan ini dan bisa berbuat lebih berbahaya lagi terhadap hidupnya sendiri.


"Pikirkan sesuatu, Adrian. Pasti ada suatu alasan yang bisa memotivasi putramu." Adrian terus bergumam dalam batinnya, ia mencoba mengingat kembali apa yang terjadi setelah ini.


Entah bagaimana ia merasa bahwa ada suatu program yang sempat dibatalkannya secara sepihak, dikarenakan ia masih berduka atas kabar kematian anaknya beberapa jam usai laga pertandingan persahabatan berakhir atau beberapa menit setelah sesi wawancara dengan media.

__ADS_1


"Kalau memang gagal di Klub Lions League, kenapa gak coba ikut seleksi penerimaan anggota Timnas Baseball Junior saja? Aku dengar kalau Adrian akan menjadi tim penilai pada seleksi tersebut, kau tidak mau mencobanya?"


__ADS_2