
"Adrian, kamu mau kemana pagi buta gini?" tanya Pak Bimo yang sedang meneguk kopi di Meja makan.
"Ya, nak. Kau badu selesai maka loh, duduk dulu sini. Tunggu turun dulu nasi diperutnya, nanti jadi sakit perut." Ibu santi mencoba menasehati anaknya itu.
Memang saat itu Adrian sudah lebih dulu menyelesaikan sarapan paginya. Dan tengah sibuk memasukkan Catcher Glove kesayangannya didalam ransel hitam bekas yang masih berbfungsi, tak lupa juga ia memasukkan sebuah Topi Baseball berwarna hitam yang masih bagus meski sudah tersimpan cukup lama didalam gudang.
"Aku sudah janji sama anakku, Seperti yang udah aku ceritakan sama Bapak dan Ibu buat bantuin Aksara untuk bisa lulus seleksi Timnas. Jadi, Aku gak boleh telat dan mengecewakannya." Adrian tersenyum, ia salam kedua tangan kedua orangtuanya.
"Kamu beneran gak mau berterus-terang tentang identitasmu kepada Aksara ataupun Adrian yang sekarang?" tanya Ibu Santi.
Adrian menggelengkan kepalannya, "Tidak usah, buk. Tolong tetap rahasiakan saja hal ini dari mereka, soalnya aku juga ngerasa kalau aku bakal kembali lagi ke Masa depan usai membantu anakku untuk bisa menjadi Pitcher yang hebat. Dan nanti kalau ada tetangga yang nanyak, bilang aja Aku ini anak kost di rumah Bapak dan Ibu."
Perkataan Adrian seolah-olah merasa yakin bahwa tujuannya terlempar ke masa ini ialah untuk membantu anaknya sendiri, sekaligus merubah masa depan yang telah kacau. Sebenarnya ada banyak hal yang memang harus diperbaiki oleh Adrian, ia tidak bisa menyembunyikan fakta bahwa keputusannya dahulu membuat Timnas mengalami kekalahan yang memalukan dan membuat pembentukan Tim Junior menjadi batal dilaksanakan. Belum lagi beberapa sponsor yang mengundurkan diri dari Lions League sampai menyebabkan klubnya hampir bangkrut.
Bukan hanya itu saja, Adrian juga menyebabkan masalah ekonomi bagi kedua orangtuanya demi membayar utang Adrian yang cukup besar. Tak bisa dipungkiri, bahwa saat itu Adrian selalu mabuk-mabukan dan berjudi kesana-kemari untuk melepaskan perasaan kehilangannya dari sang Anak.
__ADS_1
Memang sih kenyataannya Masa depan sudah sedikit berubah, tapi bukan saatnya Adrian bersikap santai saja. Dia harus memastikan bahwa semua schedule yang dulunya tertunda haruslah berjalan sukses. Dimana semua perencanaan itu akan dimulai dari Aksara, ia akan menyelamatkan masa depan anaknya terlebih dahulu yang pastinya akan berdampak pada hal lain.
"Ya sudah, kalau memang itu keputusanmu. Ibu cuman berharap usahanu bisa berhasil ya, Ibu juga tidak tega melihat cucu Ibu merasa sedih karena pemberitaan kegagalan Aksara beberapa hari yang lalu." Bu santi terdengar sangat geram, seolah-olah ia sedang marah.
"Tenang saja, Buk. Ya sudah, kalau begitu Aku pergi dulu ya." Adrian menggendong Ranselnya.
"Adrian! Latihannya tidak usah terlalu keras ya, Bapak gak Mau cucu kesayangannya Bapak terluka karenamu." Pak Bimo menutup korannya, ia memang terlihat sangat menyayangi cucunya itu.
"Iya, Pak. Ternyata benar ya, Kakek-kakek itu lebih sayang sama cucunya dibandingkan anaknya sendiri. Cucu adalah tahta tertinggi dalam keluarga, " ledek Adrian yang langsung berlari saat akan dikejar oleh Pak Bimo yang sudah bangkit dari kursinya.
"Anak itu masih saja bertingkah seperti dulu ya, Buk. Coba saja Adrian kita yang sekarang sepertinya," ungkap Pak Bimo yang sedang tersenyum tatkala melihat punggung Adrian yang telah berlari jauh meninggalkan Rumah.
Dan selagi Pak Bimo dan Buk Santi tengah sibuk menghabiskan waktu berdua di rumahnya yang sederhana, Akhirnya Adrian tiba juga di depan Gerbang Sekolah usai menghabiskan waktu lima belas menit perjalanan.
Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya. Lokasi rumah Pak Bimo tidak terlalu jauh dari sekolahnya Aksara. Jadi, Adrian tidak perlu menghabiskan banyak waktu dan biaya untuk pergi kesana. Dan sepertinya Adrian sengaja memasukkan Aksara ke sekolah tersebut untuk memudahkan anaknya berkunjung ke rumah kakek dan neneknya.
__ADS_1
Dan seperti sebelumnya, Adrian menaiki Pagar sekolah untuk bisa masuk kedalam. Dia sangat bersemangat hari ini dan tidak sabar membantu Aksara, seperti yang sudah dijanjikannya kemarin.
Namun sepertinya, Aksara belum juga tiba ke sekolah pagi ini dan Adrian tidak berhak marah akan keterlambatan Aksara. Lagian, tidak ada yang menyuruh agar Adrian datang sepagi ini. Jadi, ia tidak berhak mempermasalahkan ataupun mengeluh atas keterlambatan Aksara. Dan mau tidak mau, ia harus menunggu dengan sabar kedatangan anaknya itu.
"Lebih baik, aku persiapkan saja peralatannya daripada merasa bosan seperti ini." Adrian langsung berjalan menuju gedung peralatan Baseball, ia pinjam beberapa bola baseball dan Finger Glove. Kali ini, ia tak meminjam Catcher Glove karena berniat akan memakai punyanya yang lama. Dan sebagai gantinya, ia meminjam perlengkapan pelindung untuk Catcher.
Dia juga tidak ingin arah bola yang bakal dilemparkan Aksara akan mengenai tubuhnya dan menyebabkan cedera, sebab hari ini ia akan mengajarkan Aksara berbagai jenis Pitch yang seharusnya dikuasai oleh seorang Pitcher.
Tepat seusai mengeluarkan beberapa peralatan dari Gedung, ia melihat sosok Aksara yang berjalan mendekat dengan wajah yang agak lebam. Penampilannya seperti orang yang baru saja habis berkelahi dan perkelahian adalah satu-satunya hal yang tidak disukai oleh Adrian selama ini.
"Kau habis berkelahi?" tanya Aksara spontan.
"Bisa kita mulai latihan sekarang?" tanya balik Aksara yang seolah ingin mengganti topik pembicaraan.
"Tunggu dulu, kau habis berkelahi dengan siapa? Kau ini masih pelajar, tidak seharusnya kau berkelahi dan membuat kedua orang tuamu khawatir. Jadi, katakan padaku kebenarannya. Siapa yang sudah mengajakmu berkelahi?" tanya Adrian yang memang sejak lama sudah sering melihat anaknya pulang sekolah dengan wajah lebam. Namun, Aksara kerap memilih bungkam setiapkali Adrian memaksanya untuk berbicara jujur. Dan sikap tertutup anaknya inilah yang pada akhirnya membuat pertengkaran ringan diantara Ayah-anak tersebut.
__ADS_1
"Aku mengerti ke-khawatiranmu, tapi bisa kita lupakan saja masalah ini. Kalau kau masih ingin terus membahasnya, bagusan aku pulang saja." Aksara mengancam Adrian, ia benar-benar tidak suka melihat orang lain ikut campur pada kehidupannya.
"Baiklah, kau benar-benar keras kepala seperti Ayahmu. Kita bisa mulai latihan saja." Adrian menyerah untuk terus mengintrogasi anaknya, ia tak mau keingintahuannya itu malah membuat Aksara tidak nyaman dan malah batal berlatih hari ini. Apalagi wataknya Aksara sangatlah mirip seperti dirinya, ia sangat hafal betul bagaimana dirinya saat muda yang tercermin jelas dalam diri sang anak.