
"Oke, kalau begitu berikan aku lemparan Slider atau Sinker mu? Atau, kau bisa memberikanku Lemparan Change-Up dan Curve ball mu?" pinta lagi Adrian yang berharap kalau Aksara memiliki salah satu lemparan yang disebutkannya itu. Namun sekali lagi, Aksara hanya menggelengkan kepalanya saja seperti tengah mengatakan kalau dia tidak memiliki semua lemparan yang diminta oleh Adrian.
Aksara sampai berhenti menyembunyikan bola dari sarung tangannya, "Aku tidak punya lemparan lain, aku hanya memiliki lemparan lurus yang sebelumnya ku tunjukkan padamu. Selebihnya aku sudah berusaha berlatih, tapi aku selalu gagal setiapkali mencoba dan berhenti untuk belajar menguasainya."
Jelas saja Adrian tampak terkejut, Ekspektasinya langsung buyar saat mendengarkan kenyataan tersebut dari mulut putranya. Dia menjadi sangat kesal dengan sikap gampang menyerah Aksara yang benar-benar berbeda dari citranya sebagai anak seorang Catcher Hebat seperti Adrian.
"Jadi, apa yang kau lakukan selama 17 tahun ini? Bukannya kau ingin menjadi seorang Pitcher yang hebat, terus kenapa kau langsung menyerah begitu saja hanya karena kesulitan dalam menguasai teknik Pitch lain. Kau pikir kemampuanmu sekarang bisa membuatmu terlihat hebat saat bersaing dengan Pitcher lain? Sebelumnya kau bersikap seolah-olah kau tidak memiliki bakat atau apapun itu, tapi rasanya kau sendiri yang malas berlatih dan hanya terpuruk pada kemampuanmu saat ini." Adrian tidak berhenti mengeluarkan semua kekesalannya pada sang putra. Tanpa ia sadari, Aksara benar-benar terluka mendengarkan semua perkataan Adrian yang asal ngomong saja tanpa mengetahui situasi apapun tentang anaknya sendiri.
Aksara langsung membuang asal bola ditangannya, ia juga sampai melemparkan sarung tangannya ke tanah dengan tatapan marah.
"Hentikan! Aku benar-benar muak mendengarkan omongan orang yang selalu saja mengkritik tanpa mengetahui apapun tentang masalahku. Memangnya kau tahu, apa yang kulakukan selama 17 tahun belakangan ini? Aku benar-benar muak, kehadiranku di dunia ini rasanya seperti sebuah kesalahan terbesar. " Aksara menendang Sarung tangannya.
"Kau pikir enak rasanya berlatih secara terus-menerus dibawah tekanan? Setiap saat aku harus mendapatkan kritikan dari semua orang dan menerima tatapan yang menganggap remeh kemampuanku. Dan, setiapkali aku mencoba berlatih lebih keras lagi untuk menguasai semua lemparan yang kau sebutkan itu. Aku hanya selalu mendapatkan kritikan dari berbagai Media yang terus membanding-bandingkanku dengan Pitcher lain yang bukan berasal dari anak seorang Catcher terkenal." Aksara membentak Adrian, ia sudah benar-benar muak. Dengan amarah yang menggebu-gebu, ia terduduk lemas di tanah gundukan dengan mendaratkan lututnya terlebih dahulu sambil menunduk lemas seperti orang yang frustasi.
"Aku juga sebenarnya tidak ingin menyerah, tidak ada satupun niatku benar-benar ingin menyerah. Tapi rasanya sangat menyesakkan saat dipaksa membenci sesuatu yang sangat kau cintai," keluh Aksara yang memukul-mukul gundukan tanah di dekatnya.
__ADS_1
Penjelasan Aksara barusan langsung menusuk perasaan Adrian, ia benar-benar merasa bersalah telah mengatakan sesuatu yang cukup kasar pada anaknya. Bagaimana mungkin ia sama sekali tidak menyadari apapun tentang kemampuan anaknya, bahkan masa sepele seperti ini saja Adrian tidak tahu apapun. Selama ini, ia sibuk membantu Pitcher lain untuk bisa bersinar diatas gundukan, tanpa pernah sekalipun terpikirkan untuknya membantu sang putra yang jauh lebih membutuhkannya.
Dengan perasaan yang sangat merasa bersalah, Adrian berdiri dari posisi jongkoknya. Dia menatap sendu kepada sang anak, "Maafkan aku, tak sepantasnya aku mengkritikmu berlebihan."
Adrian berjalan mendekati Aksara, tak lupa juga ia mengutip kembali sarung tangan yang ditendang oleh Aksara sebelumnya.
"Kalau begitu, maukah kau berlatih kembali denganku? Maksudku, kita bisa jadi teman sebaya dan berlatih bersama. Aku akan membantumu untuk bisa bersinar diatas gundukan, mari kita bersama-sama membungkam mereka yang telah memandang rendah dirimu!" ajak Adrian. Rasanya ia ingin sekali memeluk anaknya itu, tapi ia sadar bahwa hal itu tidak akan mungkin terjadi.
"Berdirilah, Aksara! Aku akan mengajarkanmu kembali bagaimana rasanya mencintai Baseball, seperti halnya bagaimana aku mencintai permainan ini. Kau maukan memaafkanku?" tanya Adrian seraya mengulurkan tangan kepada Aksara.
"Baiklah, aku akan menjadi temanmu. Terimakasih sudah berniat ingin membantuku, tapi kau juga tidak perlu terlalu terbebani untuk membantuku berlatih hanya karena kau terlalu mengidolakan Ayahku. Kau juga harus berusaha untuk dirimu sendiri," ucap Aksara yang menjabat tangan Adrian sebagai ikatan pertemanan dalam bentuk tersirat.
Tampaknya, Aksara mengira kalau kebaikan Adrian kepadanya itu semata-mata karena rasa kagum Adrian terhadap Ayahnya. Dia sama sekali tidak mengetahui bahwa orang yang ada dihadapannya saat ini adalah Ayah kandungnya sendiri yang berasal dari masa depan.
"Ya, kita bisa bersama-sama menjadi hebat. Dan kalau begitu, kurasa kita akhiri saja Permainan hari ini. Kupikir sebentar lagi akan hujan, kau bisa sakit kalau telat sampai rumah." Adrian menatap langit, ia bisa melihat cuaca yang sudah mendung.
__ADS_1
Jelas saja, ia tak mau membuat anaknya berlama-lama disini yang malah nantinya membuat Aksara basah kuyup terkena air hujan dan menjadi sakit demam. Dan pastinya, Ayah manapun takkan sanggup melihat anaknya mengalami sakit.
"Ya, kau benar. Omong-omong, namamu siapa? Dan dimana aku bisa bertemu denganmu lagi? Kau juga tampaknya bukan bersekolah disini," ucap Aksara.
Sebuah pertanyaan yang membingungkan Adrian, ia sendiri juga belum kepikiran tentang kedua hal tersebut. Hingga akhirnya, ia kepikiran untuk segera menghampiri rumah Pak Bimo dan Bu santi setelah ini.
"Namaku Adrian -" ia terdiam sejenak mencoba memikirkan nama panjang untuknya sendiri. Hingga akhirnya, ia kepikiran pada sebuah merek Produk yang dulu pernah dilihatnya di papan iklan jalan.
"Adrian Whitening Tiger. Orang tuaku juga fansnya Ayahmu, jadi mereka menamai ku dengan nama Adrian." Adrian berpura-pura tersenyum untuk menutupi rasa gugupnya yang sedang berbohong.
"Tinggal?" tanya Aksara.
"Aku belum hafal rumahku, soalnya aku orang baru disini. Tapi kau tidak usah khawatir, kita bisa bertemu lagi besok disini. Mungkin kau juga bisa menanyakan kepada Papamu mengenai waktu seleksi Timnas Junior itu, supaya kita bisa mempersiapkan segalanya. Mumpung masih liburan sekolah, kita bisa meminjam bebas area dan perlengkapan latihan ini." Adrian sendiri sebenarnya tidak ingat jelas kapan waktu penyeleksian tersebut, sebab ia sendiri langsung mengundurkan diri dari penjurian saat mendapati kematian anaknya. Dan sepertinya, ada beberapa masa depan yang berubah karena tindakannya yang telah mencegah kematian Aksara.
"Kau benar, kurasa liburan sekolah selama Minggu ini bisa kita gunakan untuk latihan secara bebas. Dan, aku juga akan coba bertanya pada Papaku. Mungkin sekarang kita bisa memasukkan perlengkapan uang kita pinjam -" Adrian langsung memotong perkataan Aksara.
__ADS_1
"Kau bisa langsung pulang saja, biar aku yang membereskan semuanya. Kau bisa kehujanan nanti, orang tuamu juga pasti sedang mengkhawatirkan dirimu." Adrian terus menolak bantuan Aksara, sampai membuat Aksara hanya menurut saja dan duluan meninggalkan Adrian. Entah kenapa rasanya melihat Adrian bersikeras seperti itu, seolah-olah tengah dimarahi oleh Ayahnya sendiri. Dan sepertinya hal itulah yang membuat Aksara tidak jadi menolak permintaan Adrian dan duluan pergi dari sana.