BASEBALL WITH MY SON ( 18 AGAIN)

BASEBALL WITH MY SON ( 18 AGAIN)
MENGULANG WAKTU YANG SAMA


__ADS_3

"Apa aku tidak salah dengar?" tanyanya kepada diri sendiri, lalu ia menoleh kepada seorang anak perempuan yang ada disebelah kirinya. Kebetulan saat itu anak perempuan tersebut sedang diinfus dengan kaki kanan yang dibalut oleh perban putih, sepertinya ia baru saja mengalami kecelakaan ringan seperti Adrian dan orang tua gadis itu sedang melakukan penebusan obat di apotek rumah sakit.


"Hei, nak! Menurutmu aku terlihat seperti apa?" tanya Adrian tanpa pikir panjang.


"Seperti orang ganteng pada umumnya," jawab anak perempuan itu tanpa berpikir. Jelas saja Adrian menjadi tertawa karena merasa dibohongi oleh seorang anak kecil.


"Astaga, Nak! Aku ini sudah tua, kenapa juga kau memujiku tampan? Kalau dulu sih iya, tapi sekarang udah ubanan." Adrian terus tertawa dan berbicara seperti orang tua saja, sampai membuat dirinya menjadi pusat perhatian oleh para pasien lain yang ada di ruangan tersebut.


Dia benar-benar tidak suka dengan tatapan orang lain padanya, rasanya mereka masih menyalahkannya atas kegagalan Tim waktu itu yang membuatnya langsung bangkit dari ranjang dan balik menatap tajam kepada seluruh pasien secara bergantian.


"Apa-apaan tatapanmu itu, dek? Kami menatapmu karena merasa terganggu oleh keributan yang kau buat, tapi kau malah menatap balik ke kami. Apa kau tidak punya sopan santun? Mana orang tuamu, biar aku suruh mereka menasehati anak remaja bandel sepertimu." Salah seorang lelaki berusia kepala dua merasa tak senang dengan tindakan Adrian yang seperti menantang, ia mencoba membuka suara duluan untuk memberikan rasa tidak nyaman kepada Adrian.


"Bapakku itu galak, kau yang akan nangis kalau berhadapan dengannya. Lagian kau yang tidak punya sopan santun, aku ini lebih tua darimu!" bentak Adrian seraya melipat kedua tangannya, tapi hanya dibalas gelak tawa oleh pemuda itu.


"Kau ini halu ya, dek? Jelas-jelas kau masih anak SMA, malah ngaku-ngaku sudah tua. Apa kau mau cepat dewasa?" tanya Pemuda itu yang seolah meledek Adrian. Tapi ia sama sekali tidak terprovokasi oleh tawa Pemuda itu, melainkan ia tampak terkejut saat dikatakan sebagai anak SMA.


"Anak SMA? apa aku memang terlihat seperti itu, nak?" tanyanya pada anak perempuan itu lagi yang hanya mengangguk setuju.

__ADS_1


"Tidak mungkin, aku -" ia tertegun sesaat, lalu berlari kencang meninggalkan ruangan menuju kamar mandi yang ada di rumah sakit. Dengan tergesa-gesa, ia berlari untuk mencari kamar mandi. Untungnya tak beberapa lama, ia bisa menemukan kamar mandi yang memiliki cermin besar didalamnya.


Matanya langsung melotot tajam dan jantungnya berdetak kencang seperti merasa sedang bermimpi. Betapa terkejutnya Adrian, tatkala melihat dirinya sendiri di depan cermin dengan penampilan fisik dari dirinya versi muda saat berusia 18 tahun.


"Tidak mungkin, mengapa bisa terjadi?" gumam Adrian yang hanya bisa mentertawakan keadaan yang sedang terjadi selama beberapa saat, sebelum akhirnya ia melangkahkan kakinya yang telah lemas menuju keluar.


Dengan pikiran yang masih bertanya-tanya, ia berjalan tanpa arah menuruni tangga Rumah Sakit. Hingga tak sengaja kedua matanya tertuju pada siaran televisi yang saat itu tengah ditayangkan di kursi tunggu pasien rawat jalan. Belum sempat ia menemukan jawaban atas keadaan yang baru saja membuatnya terkejut, ia malah mendapatkan lagi fakta yang semakin mencengangkan.


Dimana ia bisa melihat jelas sosok dirinya yang versi tua sedang bermain Baseball di pertandingan persahabatan, sorotan kamera yang tak henti memperlihatkan aksi penyelamatan Clean up dari seorang Adrian sebagai Catcher sekaligus Pemukul keempat yang berhasil membuat pukulan home Run mulai terasa De Javu diingatannya Adrian. Apalagi saat itu ia melihat seluruh pasien yang ada disana tengah bertepuk tangan seolah bangga kepada Adrian, rasanya membuat Adrian merasa muak.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Bukannya itu adalah Pertandingan Tiga tahun yang lalu," gumamnya yang tak bisa mempercayai hal tersebut. Adrian langsung berlari kearah meja resepsionis dan melihat kalender mini yang ada di atas meja, seketika tawanya mulai terdengar di tengah gemericik tepi tangan dari semua orang yang ada disana tatkala komentator memuji kemampuan Adrian yang hebat.


"Aku hampir gila rasanya, bagaimana mungkin aku kembali ke peristiwa tiga tahun yang lalu dengan kondisi fisik ku yang berusia 18 Tahun?" tanyanya yang seolah kehabisan akal,


"Tunggu! Kalau aku terjebak di tahun ini , berarti aku punya waktu 15 Jam sebelum mendapatkan informasi tentang kematian putraku. Dimana artinya aku cuman punya waktu empat Jam untuk mencegah kematian anakku." Adrian mengacak-acak rambutnya, ia seperti sedang mengingat semua kejadian buruk yang terjadi pada masa itu.


"Dimana aku harus mencarinya?" gumam Adrian yang mencoba menebak-nebak keberadaan putranya saat ini. Cukup lama ia memaksa kepalanya untuk terus mengingat, sayangnya tak satupun jawaban yang tepat untuk memberikan keyakinan dalam dirinya.

__ADS_1


Dan dititik inilah, ia mulai mengakui kenyataan bahwa dirinya sama sekali tidak tahu apapun tentang Aksara. Bahkan, makanan favorit Aksara saja ia tak tahu apapun.


Namun tetap saja, bukanlah waktu yang tepat baginya untuk menyesali kesalahannya saat itu. Dengan waktu yang terus berjalan cepat, Adrian mengumpulkan semua tekadnya untuk mencari keberadaan Aksara saat ini.


Dia tahu betul bahwa Aksara pasti sedang patah hati karena gagal masuk kedalam Squad Tim utama dibawah Klub yang sama dengan sang Ayah. Dan sikap acuh Adrian selama beberapa hari ini semakin merusak mental Aksara, sebab bukannya menenangkan anaknya malah Adrian sibuk mengikuti beberapa pertandingan persahabatan dengan hati yang keras seperti tembok.


"Apa mungkin di Rumah?" tanyanya yang terus menduga-duga opsi yang tepat mengenai keberadaan sang Anak.


Lalu, ia menggelengkan kepalanya lagi seolah tidak benar-benar yakin pada dugaannya tersebut. "Bisa juga sedang berada di Lapangan? Bukannya aku memintanya untuk menonton pertandinganku ya."


"Ah, sudahlah. Tak ada waktu lagi buat berpikir, mungkin aku bisa mencarinya di Sekolah-nya saja." Adrian langsung mengambil keputusan baru detik itu juga, ia buru-buru berlari keluar Rumah Sakit dengan kekuatan penuh.


Dia mencoba mencari keberadaan Aksara di gedung sekolah terlebih dahulu, meski ia sendiri tidak begitu yakin kalau saat ini anaknya ada di gedung sekolah, bila mengingat bahwa lokasi kematian anaknya bukanlah berada di Rumah ataupun Lapangan Baseball, melainkan di sekolah.


Setelah agak jauh dari Rumah Sakit, ia mencoba merogoh saku celana dan kemejanya yang untungnya terdapat beberapa lembar uang lima puluh ribu.


"Syukurlah aku masih pegang uang, lumayan uangnya buat ke gedung Sekolah anaknya." Adrian tersenyum lega, ia genggam erat-erat uang tersebut seraya menghentikan angkutan umum saat itu juga.

__ADS_1


Selama diperjalanan, ia tak berhenti merasa deg-degan dan mencoba menyusun kata untuk menjelaskan semua ini kepada Aksara. Apalagi Adrian bukanlah orang yang pandai berkata-kata, selayaknya seorang Bapak-bapak pada umumnya yang terlalu sulit untuk berterus-terang pada isi hatinya sendiri.


__ADS_2