
Langit kembali cerah seperti sediakala, setelah sebelumnya diwarnai oleh Awan hitam yang tidak berhenti menangis dan menjatuhkan tetesannya ke Bumi. Tampaknya, tangisan itu telah berhenti setelah puas membasahi semua yang ada di alam sekitarnya. Tak lupa juga, ia menaburkan kilauan cahaya pelangi di sudut langit sebagai bentuk isyarat bahwa air matanya kini telah berganti menjadi sebuah senyuman kebahagiaan.
Tepat di pinggir jalan setapak, Adrian yang pakaiannya sudah mengering sedang berjalan tergesa-gesa menghampiri sebuah Rumah yang tak terlalu jauh dari sekolah. Tampaknya Rumah itu menjadi satu-satunya pilihan yang dimiliki oleh Adrian saat ini.Rumah yang telah banyak direnovasi, tapi masih menyimpan sejuta kenangan indah masa kecilnya. Adrian sendiri sampai tidak bisa berhenti tersenyum saat melangkahkan kaki saat mendekati rumah tersebut.
Dan dengan seenaknya, Adrian berjalan masuk kedalam Rumah tersebut seraya berteriak memanggil kedua orangtuanya. Jelas saja Bu santi yang saat itu tengah menyapu rumah langsung kaget melihat kehadiran sosok asing yang berjalan masuk didalam rumahnya.
"Ibu! Adrian pulang, ," tukas Adrian yang langsung mendekati Bu Santi, ia berharap ibunya segera mengenalinya saat ini dan mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Namun sayangnya dugaan Adrian salah besar, ibunya malah ketakutan dan langsung memukulkan sapu lidi di genggamannya kepada Adrian.
"Pak, sini dulu! Ada orang Asing yang masuk ke Rumah," teriak Bu Santi yang masih terus memukul Adrian.
"Ada apa buk? Bapak lagi menjahit topi buat Aksara, soalnya -" Pak Bimo langsung terdiam saat melihat Bu santi yang sedang memukul seorang remaja yang secara tak sopan memasuki rumah mereka.
Jelas saja Pak Bimo juga ikutan kesal, ia malah mengambil koran yang ada di atas meja dan ikut memukul Adrian.
"Siapa kau? Berani-beraninya kau masuk ke Rumah orang tua rentah seperti kami, Apa kau tega ingin mencuri barang kami?" tanya Pak Bimo yang tampak paling bersemangat untuk memukuli Adrian.
Adrian yang merasa kalau orang tuanya sudah salah paham langsung berteriak keras-keras seraya berjalan mundur kebelakang, "Aku ini Adrian Wicaksono, anak kalian!"
"Dasar anak bandel, kau tidak hanya mau mencuri ke Rumahku. Tapi kau juga malah berbohong," ucap Pak Bimo.
"Aku tidak berbohong, Pak. Aku ini anakmu dari masa depan, kalau gak percaya tanyakan saja apapun pasti bakal kujawab." Adrian setengah berteriak yang membuat Pak Bimo tersenyum meledek.
"Kalau memang kau anakku, pasti kau tahu apa makanan kesukaan Ibumu?" tanya Pak Bimo.
"Semur Ayam yang ekstra manis, makanya Bapak selalu menyuruh aku buat habisin sisanya karena gak suka makanan yang kemanisan." Adrian langsung menjawab dengan spontan tanpa pikir panjang, jelas saja jawabannya itu membuat Pak Bimo dan Ibu Santi langsung berhenti memukul anaknya. Apalagi jawabannya itu sangat lengkap.
Mereka saling bertatapan satu sama lain, sebelum akhirnya giliran Bu Santi yang mengajukan pertanyaan kepada Adrian.
"Kejadian apa yang membuat Bapak ngambek sama Adrian selama tiga Minggu?" tanya Ibu Santi yang jelas saja membuat Adrian tersenyum geli, berbeda dengan Pak Bimo yang merasa kaget dengan Bu Santi yang malah mempertanyakan hal memalukan tersebut.
__ADS_1
"Bapak ngambek karena nama yang udah bapak siapin untuk cucunya tidak dipakai, Jadi terpaksa deh kami merubah nama anak kami jadi Aksara supaya Bapak gak ngambek lagi. Baru setelah itu, Bapak akhirnya mau makan dan mengajak Ibu berbicara." Adrian tersenyum, lalu ia menepuk pelan bahu Pak Bimo.
"Bapak benar-benar kekanak-kanakan, hampir setiap hari Bapak ngambek kalau gak diizinkan ketemu dengan Aksara. Bahkan , Bapak adalah orang pertama yang selalu mengucapkan ulang tahun kepada anakku. Dan Bapak adalah satu-satunya orang yang paling histeris nangisnya saat Aksara sakit Demam Berdarah diusianya yang keenam tahun."
"Kau benar, apa memang kau benar-benar Adrian ku?" tanya Pak Bimo yang langsung memeluk Adrian dengan erat, lalu disusul oleh Bu santi yang juga ikutan memeluk Adrian.
"Aku sangat menyayangi kalian," ucap Adrian seraya menangis dalam pelukan kedua orangtuanya. Cukup lama mereka saling melepas rindu satu sama lain. Hingga akhirnya, Adrian diseduhkan teh hangat dan handuk untuk menyelimutinya yang masih keinginan terkena hujan beberapa saat yang lalu.
Adrian meneguk habis teh hangat yang dibuatkan Bu Santi, seperti orang yang benar-benar kehausan saja.
"Kalau kau memang anakku dari masa depan, kenapa kau bisa semuda ini? Harusnya kau sudah tua," ucap Pak Bimo yang masih penasaran dengan orang asing yang ada dihadapannya itu.
"Aku juga tidak tahu, Bapak. Aku sendiri heran kenapa bisa terbawa ke sini dengan wujud seperti ini, padahal tadinya aku sedang berlari ke -" ia langsung terdiam saat melihat mata kedua orangtuanya yang tengah menunggunya menyelesaikan perkataan. Ia takkan sanggup membayangkan kesedihan dari Pak Bimo dan Bu Santi mengenai seluruh kekacauan yang ada di masa depan setahun kemudian, ia juga tak mau membayangkan kematian anaknya kembali. Lagian juga masa depan sudah pasti berubah, ia telah berhasil mencegah kematian Aksara beberapa saat yang lalu.
"Berlari kemana?" tanya Pak Bimo lagi.
"Tidak kemana-mana, aku rasa cukup sekian membahas hal yang tidak wajar itu. Lebih baik Bapak lanjut aja lagi jahit topi buat Aksara," ungkap Adrian yang sontak membuat kedua pasangan lansia itu tercengang dan saling beradu tatap satu sama lain.
"Wajahnya juga mirip kayak Adrian waktu muda , Bu. Kalau memang benar, bagaimana ini bu? Bapak hampir gila untuk membayangkannya," sahut Pak bimo kepada Bu Santi, keduanya menjadi sibuk untuk mencoba mencerna keadaan dan mengacuhkan Adrian yang ada dihadapannya.
"Kalian masih belum percaya sama Adrian?" tanya Adrian lagi yang cuman bisa garuk-garuk kepala saja melihat wajah bingung kedua orangtuanya. Apalagi Pak Bimo yang malah terlihat mengeluarkan ekspresi paling lucu dibandingkan sang istri, Adrian tak bisa menyembunyikan perasaan gelinya saat ini. Dan perlahan-lahan ia mulai bisa mengingat jelas bahwa obrolan ringan antara kedua orangtuanya ini dan seluruh ekspresi lucu yang diperlihatkan Bapak saat kebingungan tidak pernah lagi dapat dirasakannya usai kematian Aksara yang seharusnya terjadi, tapi sekali lagi ditegaskan bahwa mungkin saja hal tersebut takkan kembali terulang, karena Adrian berhasil mencegah kematian anaknya itu.
"Aku telah salah, ternyata Bapak dan Ibu mengalami hal yang jauh lebih buruk dibandingkan aku. Mereka bukan hanya kehilangan cucunya saja, tapi mereka juga harus kehilangan kebahagiaan mereka karena sibuk mengurusiku." Adrian membentak dirinya sendiri dalam hati, ia mulai merasa malu karena telah menyusahkan kedua orangtuanya itu.
"Kalau memang kau adalah Adrianku dari Masa Depan, aku ingin bertanya sekali lagi padamu. Apakah kami berhasil memenangkan kompetisi sebagai pasangan lansia terbaik di kecamatan? Terus, Apa tetangga kita nih kalah pemilihan Kades?" tanya Pak Bimo yang penuh harap.
"Pertanyaan Bapak ada-ada aja, kalau tahu hasilnya kan gak jadi kejutan. Udah gak usah dijawab, Nak." Bu Santi menolak untuk mendapatkan informasi dari Adrian. Tapi Pak Bimo masih saja memaksa yang membuat Adrian tertawa geli melihat perdebatan kedua orangtuanya, sampai ia sendiri lupa dengan keresahan hatinya.
"Yaudah gini aja, Adrian bisikan ke Bapak biar Ibu gak dengar hasilnya. Gimana?" tawar Adrian mencoba menengahi perdebatan tak kunjung henti itu, masalahnya perdebatan itu malah berujung menggelikan bagi Adrian. Apalagi kalau Bu Santi udah sibuk menceritakan betapa genitnya Bapak waktu muda sampai membuat Bu Santi harus mengadu pada mertua dan membiarkan Pak Bimo secara berulang-ulang diceramahi Ibunya sendiri.
__ADS_1
"Ya udah, silahkan!" ucap Bu Santai seraya melipatkan kedua tangannya.
"Sini, Pak! Biar Adrian kasih tahu, rugi kayaknya Ibu kalau gak mau dengar." Adrian malah memprovokasi Ibunya sendiri. Dimana tak beberapa lama Pak Bimo langsung tertawa bahagia saat mendengarkan bisikan dari Adrian.
Jelas saja tawa bahagia ini mulai membuat Bu Santi penasaran, ia juga tak tahan membiarkan Adrian dan Pak Bimo bahagia sendirian seperti ini yang membuatnya spontan bertanya langsung pada Adrian.
"Kenapa Bapakmu senang gitu, Apa kami menang?" tanya Bu Santi yang malah diberikan ekspresi mengejek dari Pak Bimo.
"Si ibu mau tahu juga ya. Kan, benar yang bapak bilang ke Kamu. Ibu pasti juga kepo, maklum jiwa Gosip emak-emaknya meronta-ronta."
"Ibu kalau satu hari aja gak update berita pasti Kepo banget," sambung Adrian seraya tertawa terbahak-bahak bersama Pak Bimo. Jelas saja, Bu santai langsung kesal dan memukul mereka berdua dengan sapu lidi yang di dekatnya. Sejenak terjadilah perang kecil antara Ibu melawan Suami dan Anaknya, ketiganya saling mengejar satu sama lain seperti anak-anak saja. Namun gambaran seperti ini pastilah telah memperlihatkan kepada siapapun bahwa mereka adalah keluarga humoris yang kehidupannya benar-benar Harmonis dan sederhana.
Meski saat ini Adrian yang berstatus sebagai Atlet Baseball Profesional hebat dengan memegang kekayaan murni yang cukup besar, sama sekali tak membuat kedua orangtuanya merasa sombong. Bahkan, mereka sampai menolak berkali-kali keinginan Adrian yang meminta mereka segera pindah ke Rumah yang lebih mewah saja. Mereka terus-menerus mempertahankan diri untuk tinggal disana, sebab mereka merasa hidup sederhana jauh lebih menyenangkan dan rumah itu adalah satu-satunya kenangan terindah yang mereka miliki saat mengasuh Adrian sejak kecil.
Hingga tak beberapa lama, keributan kecil itu mereda tatkala siaran Televisi yang menayangkan pertandingan Klub Lions League sedang bertanding melawan Klub lain.
Jelas saja, Pak Bimo langsung melompat ke Sofa untuk menonton pertandingan anaknya itu. Disusul juga oleh Bu Santi yang mengajak Adrian untuk menonton pertandingan tersebut.
Adrian yang merasa bahwa seharusnya ia tidak mengikuti pertandingan itu menjadi tercengang, sebab seingat dirinya bahwa pertandingan tersebut harusnya batal tatkala saat Adrian mendapatkan kabar mengenai kematian anaknya. Kini, ia semakin yakin bahwa masa depan benar-benar telah berubah.
"Nak, kau kan dari masa depan? Apa kau tahu hasil pertandingan ini?" tanya Pak Bimo seraya masih fokus menatap layar televisi. Saat itu, sorotan kamera memperlihatkan Adrian yang sedang berjalan di Catcher Box bersamaan dengan sang Pitcher yang juga ikut berjalan di Gundukan.
Adrian menggelengkan kepalanya, "Aku tidak tahu, Pak. Masa depan benar-benar telah berubah."
Ibu Santi menoleh kepada Adrian, "Maksud kamu apa, nak?"
"Harusnya pertandingan ini dibatalkan, Buk." Adrian tersenyum, ia tidak bisa membohongi dirinya bahwa ia berhasil merubah masa depannya sendiri. Dia berhasil menghentikan kematian anaknya dan mencegah karirnya berantakan.Tampaknya, ia berhasil menyelamatkan dua hal sekaligus dalam satu waktu. Dan disaat inilah, ia teringat janjinya kepada Aksara beberapa saat yang lalu.
"Buk, peralatan Baseball Adrian masih ibu simpan di gudangkan?" tanyanya.
__ADS_1
"Ya, nak. Kan kamu sendiri yang minta supaya gak dibuang. Jadi, ibu taruh rapi di gudang." Ibu Santi merespon dengan bingung, tapi Adrian malah langsung berlari ke Gudang tanpa menjelaskan apapun lagi.
Dia jauh lebih bersemangat kali ini, tak ada yang menyangka kepribadiannya dari masa depan benar-benar berubah dibandingkan dirinya yang versi sekarang. Mungkin saja tekanan yang sedang dirasakannya saat di Tim membuatnya menjadi berhati dingin, makanya tidak heran bahwa dirinya versi sekarang dan versi dari masa depan sangatlah berbeda kepribadian.