
#Rumah Keluarga Hazrina
Pukul sembilan malam, dan Hazrina sedang bersiap untuk tidur. Seperti biasa, dia menciptakan lingkungan tidur yang nyaman. Mengatur posisi tidur, menghubungkan headset kabel favoritnya, dan mematikan lampu kamar.
Namun, ada yang tidak beres. Perasaannya gelisah, meskipun tidak tahu penyebabnya.
"Mungkin ini? Atau ini? Ah, sama saja..." gumamnya, mencoba memilih lagu yang sesuai dengan perasaannya.
Namun, tidak ada yang benar-benar cocok. Akhirnya, dia hanya mengutak-atik beberapa aplikasi.
"Ternyata grup Cegil ini sepi ya," ucap Hazrina, melihat bahwa tidak ada interaksi baru dalam grup tersebut selama seminggu.
Sibuk dengan pekerjaan, itulah alasan utama mereka jarang berinteraksi. Teman-temannya, Calandra dan Sava, tahu betul mengapa grup ini sering sepi.
Hubungan mereka telah terjalin sejak masa sekolah dasar. Namun, setelah lulus sekolah, Calandra pindah ke luar kota.
Tetapi, setelah kuliah, mereka kembali bersatu. Calandra sukses dengan usahanya di bidang fashion dan makeup.
Beberapa menit kemudian, panggilan masuk dari "my cegil 2" muncul di layar, menandakan bahwa panggilan tersebut berasal dari Calandra.
"Rina, tolong aku," suara Calandra terdengar lelah, membuat Hazrina merasa khawatir.
"Kamu ada di mana? Segera jelaskan, dan aku akan datang," kata Hazrina dengan nada tenang meskipun panik.
"Di Div Cafe, tempat langganan kita," jawab Calandra.
"Tunggu aku di sana. Coba sampaikan pesan ke Mbak Tia," pinta Hazrina.
"Iya-ya," jawab Calandra.
Hazrina meminta Mbak Tia, pemilik cafe, untuk memberikan minuman hangat dan menemani Calandra sampai Hazrina tiba.
Cafeon 24
Ketika Hazrina tiba di kafe langganan mereka, dia merasa sedih melihat Calandra yang biasanya ceria kini tampak lemah.
Hazrina segera menghampiri dan memeluk Calandra. "Ca, aku di sini. Ada apa? Kamu bisa ceritakan sekarang," tanya Hazrina.
"Mamaku..." kata Calandra dengan suara lirih.
"Hah, apa yang terjadi dengan mamamu? Apakah dia sakit?" tanya Hazrina dengan cemas, merasa khawatir tentang Tante Siska, ibu Calandra.
"Tidak, bukan itu. Tapi aku... aku harus menikah dalam waktu dekat," ujar Calandra, dan air mata pun mengalir dari matanya.
"Ini seharusnya kabar baik, bukan? Mama kamu sudah merestui hubunganmu dengan Marcel, kan?" tanya Hazrina, mencoba mencari pemahaman.
"Bukan dengan Marcel, Rina. Ini dengan pria lain," kata Calandra, kembali menangis. "Aku tidak ingin, Rina. Tidak ingin!" lanjutnya sambil isak tangis.
Calandra tampak sangat menentang pernikahan yang diatur oleh orangtuanya.
__ADS_1
"Rin, please, tolong aku. Tolong jadi aku dan nikahi pilihan mamaku," Calandra memohon dengan tulus, membuat Hazrina terdiam sejenak.
"Gila, kamu ya?! Bagaimana mungkin aku bisa menggantikanmu, Ca?" kata Hazrina dengan nada heran. "Nanti, jika mereka tahu bahwa bukan kamu yang menikah, melainkan aku, apa yang akan terjadi? Ini bisa berbahaya bagi aku," lanjutnya.
"Tapi kamu satu-satunya yang bisa membantuku, Rin," pintanya sambil meraih tangan Hazrina dengan tulus.
Ting~
Suara pesan masuk pada ponsel Hazrina. Setelah membaca pesan tersebut, dia terkejut. Neneknya harus masuk rumah sakit, dan kedua orangtuanya meminta bantuan keuangan sebesar 50 juta.
"50 juta?!" gumam Hazrina dengan tidak percaya akan jumlah uang yang diminta untuk biaya rumah sakit. "Dari mana aku bisa mendapatkan uang sebanyak itu?"
Melihat Hazrina terdiam setelah membaca pesan, tanpa sadar ponselnya diambil oleh Calandra.
Ting~
"Hah, Ca, ini jumlah uang yang sangat besar," ujar Hazrina setelah melihat notifikasi dari rekeningnya. "100 juta? Kenapa kamu mengirim begitu banyak?"
"Sekarang, kirimkan uang itu terlebih dahulu, agar nenek kamu bisa segera dioperasi. Dan sisanya, kamu simpan untuk biaya tambahan," kata Calandra.
"Tapi, Ca..."
"Tidak ada tapi-tapi. Nenek kamu seperti nenekku sendiri," ujar Calandra dengan tulus.
"Terima kasih, terima kasih banyak. Nanti aku akan menggantinya, sekarang aku harus menghubungi ibu," kata Hazrina.
"Iya, Rin."
Hotel Next 1
Hotel ini adalah tempat di mana pernikahan Calandra dengan pilihan orangtuanya, Derry Damiyana Abrahama, berlangsung.
Di ruang makeup, mata Calandra sembab, dan kesedihan itu sangat terlihat.
Setelah akad pernikahan selesai dan mereka kembali mengganti pakaian, Calandra masih belum bisa berhenti menangis.
Ternyata, hubungan Calandra dengan kekasihnya berakhir kemarin malam.
Melihat sahabat mereka dalam kesedihan, Sava dan Hazrina mencoba menghibur dengan berbagai cara.
Namun, Calandra tetap hanya bisa menangis, mengingat bahwa dia sekarang adalah istri pria lain.
"CA! CACA! MARCEL CA!" teriak Sava, yang baru saja menerima pesan dari Marcel.
"Ada apa?" tanya Calandra sambil membaca pesan dan mengirim pesan ke Marcel melalui ponsel Sava.
Melihat sahabatnya kembali semangat, Sava dan Hazrina merasa senang.
Calandra menunjukkan pesan yang diberikan oleh Marcel kepada kedua sahabatnya. Marcel ingin berpisah dengan baik dan pamit ke Los Angeles. Dia ingin bertemu Calandra di Bandara Soekarno-Hatta.
__ADS_1
"Jangan pergi sekarang, Ca," pinta Hazrina, mencoba menghentikan Calandra dari melepas gaunnya.
Calandra tidak mendengar larangan itu. Dia segera melepas gaunnya dan mengenakan kembali baju yang dipakainya sebelumnya.
"Caca, tolong jangan!" pinta Sava, menahan Calandra untuk tidak pergi.
"Tolong, bantu aku kali ini saja. Aku tidak ingin berpisah dengan Marcel seperti ini! Aku sangat mencintainya," bisiknya sambil memegang tangan sahabatnya. "Bantu aku, tolong bantu aku untuk berpisah dengan baik," pinta Calandra dengan mata berkaca-kaca.
Mata mereka bertemu. Kedua sahabat itu bingung dan hanya saling memandang, menghadapi permohonan Calandra.
Melihat gaun yang jatuh di lantai, Hazrina segera mengambilnya. "Hanya kali ini," ucap Hazrina, sambil berganti pakaian. "Aku hanya akan membantumu kali ini, jadi berpisahlah dengan baik, dan kembali dengan cepat," tambahnya, masih memakai gaun.
"Kamu bisa pakai mobilku," ucap Sava, memberikan kunci mobilnya kepada Calandra.
"Terima kasih, terima kasih banyak," kata Calandra, sebelum pergi. "Dan maafkan aku."
Calandra segera mengenakan topi dan pergi melalui pintu belakang.
Beberapa menit kemudian, Hazrina selesai mengenakan gaun yang seharusnya dipakai oleh Calandra.
Sava merasa khawatir, takut dengan risiko yang mungkin terjadi.
"Tidak apa-apa, Sa. Aku hanya membantu hari ini. Calandra pasti akan kembali," ujar Hazrina, mencoba menenangkan Sava yang telah khawatir sejak tadi. "Semoga saja, Calandra kembali dengan selamat."
Sava memanggil kembali MUA untuk merias wajah Hazrina. Awalnya, dia merasa curiga, tetapi akhirnya Sava berhasil memberikan alasan yang bisa diterima.
Dalam hati Hazrina, dia merasa bersyukur. Dia keluar dengan mengenakan gaun kedua, karena acara pernikahan sudah selesai.
Selama akad nikah, Calandra berdiri di depan penghulu bersama suaminya.
Venue Pernikahan
Banyak tamu datang dari keluarga Calandra dan keluarga Derry untuk merayakan pernikahan mereka.
Sudah hampir dua jam berlalu, Hazrina masih berdiri menerima ucapan selamat dari tamu bersama Derry, suami Calandra.
Namun, kali ini, kakinya tidak kuat menopang tubuhnya. Ini pertama kalinya dia mengenakan sepatu hak tinggi, dan nyaris terjatuh. Beruntung Derry menahan dia.
"Jangan dipaksa lagi, lepaskan saja sepatumu. Gaunmu cukup panjang untuk menutupi kakimu," sarannya.
Hazrina segera melepaskan sepatu hak tingginya. Namun, karena tali sepatunya harus dilepas terlebih dahulu, dia mengurungkan niatnya dan hanya menahan sakit di kedua kakinya.
Derry yang melihatnya berkata, "Sudahlah, kamu boleh duduk saja."
"Benarkah? Bagaimana dengan para tamu?" Hazrina bertanya kepada Derry.
"Tidak apa-apa, ini hanya tamu saya. Mereka pasti mengerti. Kamu bisa duduk dan istirahat," jawab Derry, sambil bersiap menyambut beberapa tamu yang datang.
"Terima kasih," lirih Hazrina dengan senyuman. Meskipun hanya duduk, dia merasa sangat bahagia.
__ADS_1
"Anak ini terlihat berbeda dalam beberapa waktu terakhir."