Bayangan Cinta Yang Nyata

Bayangan Cinta Yang Nyata
Akankah ketauan part 2


__ADS_3

Saat mereka makan malam bersama, Zahra seperti teringat sesuatu yang penting tapi bingung hal penting apa itu.


|Kamar|


Setibanya di kamar, akhirnya dia mengingat bahwa dia harus memberi tahu kakaknya bahwa Derry sedang menunggu panggilan dari kakaknya.


"Kak, tadi cuami ka Caca telepon, teluc ade angkat." ungkap Zahra pada kakaknya Hazrina.


"Hah! Terus ade mengatakan apa?" tanya Hazrina kepada adiknya dengan nada tenang walau hati sudah cemas.


"Aku hanya bilang kalau Ka Caca da ada di rumah ini, dan Kaka dicuruh cegera menelepon kembali," ujar Zahra.


"Astagfirullah."ucapnya seketika dengan nada cemas yang jelas terasa.


"Kakak malah, ya? Maafin dede ya," kata Zahra, dengan rasa khawatir bahwa kakaknya akan marah padanya.


"Tidak, Kakak tidak marah," jawab Hazrina dengan lembut sambil mengelus rambut adiknya.


"benelan ka, makacih. dede cayang kakak." ucap Zahra dan dijawab oleh kakaknya dengan senyuman bahagia. "Oh iya Kakak! jangan lupa menelepon lagi, Ka Delly pacti cangat khawatil menunggu."


"Iya, sayangku, cintaku. Adikku ini memang sangat menggemaskan."


"Iya dong, adik ciapa dulu. Adik kakak Hazlina, hehe."


Setelah melihat Zahra tertidur, Hazrina segera mencoba menelpon Derry.


Ketika panggilannya diangkat, suara Derry terdengar, "Hazrina?"


"Oh, bagaimana dia bisa tahu namaku? Ah, iya, tadi Zahra sudah memberitahu namaku. Bilang apa saja. Aku benar-benar bingung, Ya Allah."


"Iya ka, ini Hazrina temannya Caca. Maaf sebelumnya, handphone Caca tidak sengaja terbawa sama aku."


"oh tidak apa apa" ujar Derry pada Hazrina.


"Kalau boleh tahu, di mana Calandra sekarang? Soalnya, dia belum pulang." sambungnya.


"Oh, begini, Caca ada urusan di luar kota. Saat kita bertemu tadi, tiba-tiba ada panggilan mendadak, jadi handphone-nya tertinggal seperti ini."

__ADS_1


"Maafkan aku, Tuhan. Maafkan aku juga, Ka Derry, aku harus berbohong padamu lagi."


"Oh, begitu. Kalau begitu, terima kasih. Nanti, ketika Calandra sudah kembali, bisakah kamu mengembalikan handphone ini ke istri saya?"


"Iya, baik ka? Eh pak, nanti aku akan memberitahu Caca." Hampir saja dia salah memanggil Derry.


"Panggil saja seperti yang kamu suka, Kakak tidak keberatan. Dalam hal ini, terima kasih banyak, Hazrina." ucapnya.


"oh iya kak sama sama. Kalau begitu, selamat malam Kak. Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam. Oh iya!"


"ada apa kak?" tanya Hazrina bingung.


.


.


...


"Hah, ketemuan?! Kamu benar-benar mau bertemu dengan Derry? Bagaimana jika dia menyadari bahwa kamu bukanlah Calandra?" Sava terkejut mendengar rencana Hazrina untuk bertemu dengan Derry.


"Terus, bagaimana selanjutnya?"


"Aku juga bingung. Menolak bisa membuatnya curiga. Sumpah, aku bingung."


Tiba-tiba, ada ketukan pintu.


"Ka, dede masuk ya."


"Iya, dede."


Ternyata mereka berdua sedang berbicara melalui telepon. Di rumah, hanya ada Hazrina dan adiknya, karena orangtua mereka sedang dalam kunjungan ke rumah bos ayah.


"Ada yang terjadi, Ka?" tanya Zahra, heran melihat kakaknya yang terlihat cemas.


"Oh, tidak apa-apa, de. Nanti kakak akan keluar sebentar."

__ADS_1


"Oke! Kalau gitu Dede melanjutkan menonton TV kembali, Ka."


"Iya, de."


Hazrina hanya bisa berdiri di tempat, bingung tentang langkah selanjutnya. Tiba-tiba, Sava memberi usulan untuk Hazrina merubah kembali penampilannya dengan mengkritingkan rambut seperti dulu dan memakai kacamata lamanya, sesuai dengan ciri khasnya.


"Sekarang kamu siap. Kamu bisa pergi sekarang. Jangan tegang, ya, tetap tenang," ujar Sava dengan penuh semangat.


"Oh, jangan lupa untuk ajak adikmu juga."


"Iya, Sa. Aku pergi sekarang ya"


Hazrina pun keluar dan berjalan menuju mobil yang sudah menunggu, dan di sana ada sopir yang selalu mengantar Derry ke mana-mana.


"Loh Nyonya? Bukannya lagi ada pekerjaan di luar kota?" tanya pak supir itu, yang mengira sosok perempuan di depannya adalah istri bosnya.


Walaupun itu benar.


"Oh? Apa yang Bapak maksud? Saya tidak benar-benar mengerti," kata Hazrina dengan pura-pura tidak mengenalinya.


"Tapi bukannya anda Bu Calandra?" tanya sopir itu dengan bingung.


"Oh bukan, Pak. perkenalkan saya Hazrina, sahabatnya Calandra." Hazrina menjawab dengan tenang, berusaha meyakinkan sopir itu.


"Maaf, nyonya, wajah anda sangat mirip dengan Bu Nyonya. Saya minta maaf jika saya salah."


"Tidak apa-apa, Pak. Saya sudah terbiasa. Memang banyak orang yang bilang wajah kami sangat mirip" kata Hazrina.


"Bukan mirip lagi bu, wajah nyonya sekalian sangat dan sangat mirip sama sama cantik"


"Hahaha terimakasih pak, atas pujiannya"


"jika begitu, apakah kita bisa berangkat sekarang, Bu?"


"Maaf, Pak, bisakah saya membawa adik saya?"


"Tentu saja boleh, Bu. Saya hanya diberitahu untuk menjemput saja."

__ADS_1


"Terima kasih Pak"


Hazrina pun bersiap kembali untuk merapihkan penampilannya dan adiknya Zahra.


__ADS_2