Bayangan Cinta Yang Nyata

Bayangan Cinta Yang Nyata
Pernikahan C & D part. 3


__ADS_3

Kantor Next 1 Kantor Hazrina


Setelah mendengar nama yang mirip dengan suami Calandra, Hazrina mencoba berpikir positif. Dalam pikirannya, dia merasa tidak mungkin suaminya Cala bekerja di kantor ini, karena Hazrina tahu bahwa Derry memiliki perusahaan besar, sehingga tidak mungkin dia menjadi direktur baru di sini.


"Hmm, tidak mungkin! Pasti bukan dia yang disini. Meskipun namanya hampir sama."


"Hanya nama yang sama, bisa saja orang yang berbeda. Saya harus yakin!" gumam Hazrina, mencoba kembali fokus pada pekerjaannya.


Hazrina tidak terlalu ikut serta dalam kerumunan orang, karena ketika dia bekerja, dia sangat fokus. Selain itu, jika dia ikut dalam kerumunan, dia tidak akan dapat melihat wajah direktur baru, terutama karena tinggi tubuhnya.


Ketika waktunya tiba, dia akan tahu. Jika dia benar-benar ingin mencarinya, dia akan mencarinya, jika tidak, dia tidak akan tahu wajah direktur baru.


Mama Hazrina selalu mengatakan bahwa hampir hanya 1% dari karyawan seperti Hazrina yang akan bertemu dengan bos mereka. Jadi, kemungkinan bertemu dengan bos sangat kecil.


Rumah Keluarga Hazrina


Sesampai di rumah, dia langsung membersihkan diri dan pergi ke warteg di depan rumah. Dia ingin memastikan bahwa dia tidak lupa.


Setelah menyelesaikan pekerjaannya, dia langsung pulang ke rumah orang tuanya, bukan ke rumah Derry. Dia mendengar ketukan di pintu.


"Pizza sudah tiba!"


"Oh, Sava? ih ko bisa! Sumpah kangen banget" kata Hazrina setelah membuka pintu. Sava tahu bahwa Hazrina akan pulang hari ini, itu pun dari pirasatnya.


Setelah membiarkan Sava masuk ke dalam, Hazrina segera menyiapkan makanan dan minuman.


"Rin, kamu baik-baik aja?" tanya Sava yang sebenarnya sudah khawatir sejak beberapa hari yang lalu, karena ini pertama kalinya dia punya waktu untuk bertemu dengan sahabatnya yang telah dianggap sebagai kakak kandungnya.


"Aku baik-baik saja kok. Di kantor, pekerjaanku hampir normal. Yang sering aku dengar hanya gosip tentang direktur baru."


"Syukurlah, bagaimana perasaanmu tentang..." pertanyaan Sava terputus karena ada panggilan masuk di ponsel Hazrina.


"Tante Siska!" seru kedua perempuan itu setelah melihat nama di layar ponsel.


"Halo, Tante."


"Kamu ada di mana sekarang? Kamu lupa bahwa kamu lagi berpura pura menjadi Cala dan sekarang sudah menjadi istri Derry. Bahkan pelayan di rumah Derry menelepon ke rumah saya hanya untuk menanyakan keberadaanmu," kata Tante Siska.


"Ma-maaf, Tante, saya lupa."


"Kamu harus lebih hati-hati. Terutama ketika kamu tidak pulang selama lima hari seperti ini. Bagaimana jika keluarga Abrahama mengetahuinya?"


"Maaf, Tante, saya tidak tahu harus menghubungi siapa. Saya bahkan lupa arah rumahnya."

__ADS_1


"Oh, kamu ini. Baiklah, Tante akan mengirimkan nomor pekerja rumah itu. Kamu langsung hubungi nomor yang saya kirim."


"Baik, Tante."


"Jaga kesehatanmu."


"Terima kasih, Tante. Semoga Tante dan keluarga juga sehat."


Panggilan telepon terputus. Hazrina segera menghubungi nomor yang dikirimkan oleh Tante Siska. Dia bersiap-siap untuk kembali ke rumah Derry dengan memakai baju biasa.


Sebenarnya, Tante Siska adalah orang yang baik, dan dia senang bahwa anaknya Calandra berteman dengan Hazrina. Tapi sepertinya, hari itu membuat Tante Siska sangat kecewa sehingga dia tidak bisa menahan kemarahannya.


Hazrina menghubungi pelayan di rumah Derry dan meminta supir untuk menjemputnya di rumah temannya yang sebenarnya rumah asli Hazrina.


"Kamu mau aku menemanimu ke sana? Aku khawatir kamu merasa tidak enak," kata Sava khawatir.


"Tidak apa-apa, Sava, aku bisa pergi sendiri. Sifat kakak Derry sebenarnya tidak terlalu buruk."


"Benarkah? Kamu tidak bohong, kan?" tanya Sava untuk memastikan.


"Iya, Sava. Meskipun terlihat dingin, dia adalah pria baik. Mungkin dia khawatir karena aku tidak pulang selama beberapa hari," jawab Hazrina untuk menenangkan Sava, meskipun dia sendiri tidak tahu apakah itu benar atau tidak.


Hazrina segera mengalihkan pembicaraan dan melanjutkan ceritanya tentang kesehariannya. Sava juga menceritakan tentang Tante Dewi yang sangat baik dan selalu menyiapkan bekal makanan hampir setiap hari.


Mobil penjemput datang, dan mereka berpisah setelah itu.


.


.


Rumah Derry Damiyana Abrahama


Sesampai di rumah, Hazrina melihat Derry sedang duduk menunggunya, atau bisa dibilang Cala palsu.


"Kamu dari mana saja? Sudah beberapa hari tidak pulang," kata Derry.


"Maaf, Kak, aku menginap di rumah temanku."


"Kamu kan bisa memberitahu saya atau pelayan di rumah ini Cala"


"Itu, em-, itu..." Hazrina bingung antara jujur dan takut.


"Apa itu, Cala?" Meskipun suaranya datar, Derry tampaknya merasa heran.

__ADS_1


"Aku lupa arah ke rumah ini, dan aku juga tidak punya nomor kamu," kata Hazrina, yang memang tidak memiliki nomor Derry atau nomor pelayan di rumah ini.


Apalagi, dia hanya bisa ingat arah ke rumah aslinya dan kantor jika naik bus.


"kamu ini. sinikan handphone kamu, biar saya yang memasukan nomor"


"Oh, ini, Kak." Hazrina memberikan ponselnya kepada Derry.


"Layar retak seperti ini."


Derry langsung memasukkan nomornya sendiri dan beberapa nomor pekerja rumah ini.


"Nomor supir, kamu tahu?" tanya Derry untuk memastikan.


Hazrina menggelengkan kepala. Akhirnya, Derry juga yang memasukkan nomor supir baru untuk Hazrina.


"Sekarang sudah."


"Terima kasih, Kak," kata Hazrina dengan senyuman.


"Kamu bisa langsung istirahat."


"Baiklah, aku akan pergi ke kamar dulu. Kakak juga istirahat. Selamat malam, Kak Derry," ujar Hazrina yang langsung pergi ke kamarnya.


Derry tersenyum sedikit. Mendengar ucapan selamat malam, rasanya tidak buruk.


...


Pagi hari seperti biasa, mereka makan bersama, tetapi kali ini ada hadiah.


"Loh, ini bukannya handphone? Ini untukku, Kak?" tanya Hazrina saat membuka kotak di depannya.


"Iya, layar ponselmu sudah retak. Lebih baik kamu ganti. Sepertinya kamu suka gambar beruang, jadi saya juga membelikan casingnya."


Mengapa Derry begitu baik pada Hazrina? Itu membuatnya merasa diperhatikan oleh seseorang yang seharusnya tidak seharusnya.


"Kamu tidak suka?"


"Aku suka, Kak. Terima kasih atas hadiah hari ini. Rasanya aku selalu mendapatkan hadiah dari kamu, Kak." Rasanya sedikit senang dan malu sekaligus.


"Sudah sewajarnya, kamu kan istri saya."


"Oh iya..." Ucapan itu membuat Hazrina menyadari posisinya.

__ADS_1


..


__ADS_2