Bayangan Cinta Yang Nyata

Bayangan Cinta Yang Nyata
Pernikahan C & D part. 2


__ADS_3


Acara pernikahan pun selesai.


Sava membantu sahabatnya untuk mengganti baju. Rasa yang mereka rasakan sebelumnya adalah rasa takut, takut ketahuan.


Syukurlah acara pernikahan itu selesai tanpa masalah, sehingga Hazrina bisa kembali menjadi sosok dirinya sendiri.


Tepat di depan pintu, mereka terpatung setelah melihat Mama Calandra yang sedang duduk ditemani beberapa penjaga.


"Tan-tante," kata pertama yang keluar dari mulut Hazrina.


"Ternyata benar. Bukan Caca," gumam Tante Siska, yang langsung berdiri dan berjalan menghampiri Hazrina.


**PLAK!!**


Seketika Mama Calandra menampar pipi kiri Hazrina dan mengeluarkan suara begitu keras.


"Akh!" Teriakan yang dikeluarkan oleh Hazrina setelah mendapatkan tamparan keras dari Mama Calandra.


Awalnya Tante Siska ingin menampar Sava. Dengan sigap, Hazrina menghalangi Tante Siska untuk mendekat dan menjadi tembok perlindung untuk sahabatnya Sava.


*Flashback on:*


Dari kecil, Sava memiliki kenangan buruk terhadap keluarga. Orangtuanya bercerai karena sosok Mama Sava yang begitu suka main tangan kepada Sava. Sampai akhirnya Sava memiliki ketakutan terhadap sosok Mama kandungnya, dan juga kekerasan.


Sewaktu masih kelas delapan, Hazrina disuruh guru untuk memberikan surat langsung ke rumah Sava, yang kala itu adalah hari sebelum karyawisata.


Saat baru sampai, pintu rumah Sava sudah terbuka lebar. Kaget akan yang dilihatnya, Hazrina langsung berlari menghampiri Sava, dimana Sava sudah terkapar di lantai dengan beberapa luka di wajahnya.


Setelah kejadian hari itu, sampai sekarang. Hazrina akan selalu menjadi tembok pelindung untuk Sava.


*Flashback off:*


Balik lagi pada saat ini, Mama Calandra begitu frustasi karna hal ini. "Kalian berdua sudah gila! Calandra kemana? Pantesan saja, tante merasa aneh melihat sosok pengantin perempuan tadi. Ternyata bukan anak tante," mukanya sangat terlihat sekali kesal.


"Kamu Rina! bukan berarti kamu mirip anak saya. Kamu bisa pura-pura jadi dia," sambungnya sambil menunjuk kepada Rina dengan tatapan marah. Hazrina yang melihat itu hanya bisa menerima tatapan tajam dari Tante Siska.


"Ma-maaf tante, aku salah," ucap Rina yang begitu ketakutan.


"Ma-maaf tante, ini bukan salah Rina aja. Tapi salah aku sama Caca juga. Jangan marahin Rina lagi. Sava mohon," ucap Sava sambil memegang tangan Hazrina.


"Awalnya Caca yang minta untuk bisa ketemu Marcel dan Sava bantu Caca keluar untuk ketemu Marcel. Tapi tenang aja tante, Caca pasti balik lagi," sambung Sava meyakini Tante Siska.


"Bodoh! Kalian pikir Caca akan berpikir sama kayak kalian?"


"Maksud tante apa?" tanya Hazrina yang bingung dari perkataan Mama Calandra. "Iya tante, maksud tante apa?" sambung Sava yang sama tidak mengerti perkataan Mama Calandra.


"Calandra, sudah pergi bersama Marcel," jawab Tante Siska dengan langsung mengambil handphone dan memberikan bukti pesan dari orang suruhannya.


Setelah dibaca seksama, orang suruhan Mama Calandra benar benar mengikuti Calandra sampai bandara, dan ternyata disana bukan sebagai perpisahan tapi Calandra ikut pergi bersama Marcel.


Ternyata Marcel sudah menyiapkan visa sekaligus tiket untuk Calandra.


Hazrina dan Sava seperti tersambar petir secara bersamaan. Keduanya merasa tersakiti akan perbuatan Calandra.


Walau mereka tau kalau Calandra sesayang itu sama Marcel, tapi tidak begini juga.


"Kamu, harus tetap pura-pura jadi Caca. Saya tidak mau tau," kata ini ditujukan kepada Hazrina.


"Ta, tapi tante."

__ADS_1


"Tidak ada tapi-tapi. Itu urusan kamu yang sudah mau pura-pura jadi Caca. Awas saja kalau ketahuan sama pihak sana."


Sebelum Mama Calandra keluar. Dia membisikan sesuatu pada Hazrina. "Kamu taukan resikonya kalau ketauan, keluarga mu yang tamat." Setelah keluarnya Mama Calandra dari ruang itu. Kedua kaki Hazrina begitu lemas dan runtuh sudah.


Dia terduduk begitu saja, Sava langsung memeluk Rina.


"Rina!" panggil Sava khawatir.


"A-aku gapapa Sa, kaki aku sakit kelamaan pake sepatu ini. Hehe," jawab Hazrina dengan memaksakan dirinya untuk tersenyum. Walau pikirnya sudah hampir meledak.


Beberapa waktu kemudian, Panca yang merupakan sahabat Derry tiba-tiba datang bersamaan dengan Derry pula. Awalnya hening, tapi setelah Panca memulai mengenalkan diri sebagai sahabat Derry dan itu sedikit membuka obrolan.


Sava, Hazrina, Derry, dan Panca pun berpisah. Walau awalnya Sava khawatir kepada sahabatnya Hazrina, akhirnya merelakan Hazrina pergi bersama Derry.


Dalam mobil pun rasanya canggung sekali, sampai-sampai napas Hazrina terasa tertahan tanpa sebab.


Untung saja perjalanan tidak terlalu jauh, sehingga Hazrina bisa bernapas dengan normal lagi.


Rumah Derry Damiyana Abrahama


Saat melihat keliling, Hazrina begitu kaget. Rumah begitu luas dan besar. Corak klasik membuat rumah terasa nyaman, apalagi ditambah dengan beberapa bunga yang tumbuh. Terasa sekali asri.


Cala!


Ternyata Derry sudah memanggil Hazrina beberapa


kali, tapi Hazrina diam saja. Karena dia lupa kalau saat ini sedang berpura-pura menjadi sahabatnya yaitu Calandra.


"Ah iya, kenapa?"


"Kamu duduk dulu, saya ingin berbicara sebentar sama kamu," ujar Derry yang sudah lebih dahulu duduk di sofa.


"Iya," Hazrina langsung mengikuti duduk dan tidak lupa menyimpan tas yang dibawanya ke samping.


"Ini apa?" tanya Hazrina yang masih bingung dengan map coklat itu.


"Ini beberapa hal yang harus dilakukan di rumah ini. Walau kita sudah menjadi pasangan suami-istri, tapi saya masih butuh proses untuk menerimanya. Kamu pun sepertinya sependapat dengan saya," ucap Derry yang langsung memberikan kotak perhiasan dan isinya kalung.


"Pakai kalung itu setiap hari, jangan sampai terhalang apapun. Supaya saya bisa lihat itu," sambungnya.


"Kenapa?" tanya Hazrina heran.


"Tidak apa-apa. Oh ya, kamu bisa pakai kamar sebelah kanan. Kalau ada apa-apa kamu tinggal ketuk kamar saya, kamar saya sebelah kiri."


Hazrina hanya meng-anggukan saja.


"Yasudah kalau gitu, saya ke kamar lebih dulu. Selamat istirahat," ujarnya yang langsung berdiri dan pergi meninggalkan sosok Hazrina yang masih duduk.


"Kamu juga," jawab Hazrina yang sama pergi ke kamar yang nantinya milik Cala.


Rasanya lelah sekali, walau bukan pernikahan dia. Rasanya seperti mimpi.


Mimpi buruk.


🪶🪶


Pagi Hari di rumah Derry


Setelah semua persiapan kerja dimasukkan dalam tas, Hazrina pun langsung bergegas turun. Di ruang makan, ternyata sudah ada Derry yang sedang makan seorang diri.


Sepertinya akan canggung kalau Hazrina sarapan bersama. Hazrina pun melanjutkan jalannya ke arah ruang tamu.

__ADS_1


"Tidak sarapan?" tanya Derry yang melirik sebentar ke arah Hazrina dan langsung fokus kembali pada iPad dan makanan.


"Aku harus jawab apa ya? Bingung. Kalau bilang engga, takut curiga, apalagi aku ga enak nolak makanan."


"Oh! ini mau kok, sebentar simpan dulu tas laptop," jawab Hazrina yang langsung menyimpan tas itu di salah satu kursi.


Hanya terdengar suara sendok dan suara detikan jam dinding, rasanya begitu canggung sekali.


Lihat kanan-kiri, tetap tidak ada orang lain lagi selain mereka berdua.


"Kalau ada apa apa, atau mau sesuatu bilang aja pada Pak Hadi, kalau mau makan sesuatu tinggal minta bi Izah. Lebih baik juga, kamu simpan nomor mereka," ujarnya yang sadar kalau daritadi sosok wanita di depannya sedang sibuk lihat kanan kiri.


"Iy-" ucapnya tersetop karena dia bingung mau manggil pria di depan itu dengan sebutan apa.


"Iya Der-" jawab Hazrina yang langsung terpotong oleh komenan Derry.


"Panggilanmu kenapa begitu? Apalagi umur saya lebih tua dari kamu, terasa kurang sopan terdengarnya kalau kamu panggil nama saja."


"Wah baru kali ini, kayaknya aku udah lewat batas lagi."


"Iya ka Derry atau Mas?" tiba-tiba menanyakan hal yang mana yang enak untuk di panggil kepada Derry.


"Kakak boleh, mas juga boleh. Se enak kamu aja panggil saya apa," ucapnya tenang.


Seketika paras tampannya bertambah di mata Hazrina.


Khem


"Ka-kalau boleh tau, di rumah ini cuma kita berdua? Soalnya rasanya sepi," tanya Hazrina yang masih tetap lihat kanan-kirinya.


"Mereka di ruang belakang. Saya tidak suka banyak orang di depan saya. Jadi mereka akan bekerja setelah saya berangkat," ucapnya.


"Oh gitu..."


"Kalungnya di lepas?" tanya Derry yang sadar Hazrina tidak menggunakan kalung pemberiannya untuk bisa menandakan kalau dia adalah istrinya.


"Tadi lepas bersamaan buka baju, jadi lupa di pakai lagi. Nanti aku pake," jawab Hazrina sambil memikirkan di mana kalung itu dia simpan.


"Iya, kamu lebih hati-hati mulai sekarang."


"Iya mas," ucapnya tanpa sadar memanggil mas pada Derry.


Mendengar panggilan itu Derry merasa tidak buruk juga.


Mereka pun akhirnya selesai sarapan pagi, awalnya Hazrina menolak akan pintaan Derry untuk menggunakan sopir. Tapi karena Rina pun sadar dia belum bisa bawa mobil jadi dia menerimanya.


Lupa? Dipastikan iya. Hazrina malah meminta di antarkan ke arah kantornya, bukan ke kantor Cala.


Untung saja, supir yang direkrut untuknya terbilang masih baru.


Kantor Next 1 tempat kerja Hazrina


Sesampai di kantor, semua orang sangat ribut dengan berita kedatangan direktur baru. Sampai-sampai semua orang setiap divisi diberikan name tag yang berbeda warna setiap divisinya.


"Name tag?! Baru kali ini dikasih selain kartu ID."


Tampan, tinggi, dan lain hal. Semua cerita hari ini dipenuhi tentang bos baru yang akan datang.


"Malah aku gatau wajah direktur yang pertama, apalagi sekarang?!"


"Selamat siang semuanya, perkenalkan beliau Derry Damiyana Abrahama selaku Direktur baru di kantor ini," ucap salah satu manajer.

__ADS_1


"Kayak kenal, siapa ya? Abrahama, Derry? Familiar banget namanya." Hazrina masih fokus pada file di laptopnya sesampai seketika ketikan mulai berhenti.


Suaminya Caca!!!


__ADS_2