Bayi Dalam Pelukan Suamiku

Bayi Dalam Pelukan Suamiku
Malam Badai itu


__ADS_3

Hujan yang turun sangat deras, bahkan aku nyaris tak bisa menangkap suara apapun selain keriuhan tetesan hujan di atas genteng.


Malam ini, pukul 11.20 aku dan Liliana anakku saling memeluk di balik selimut kami menunggu Mas Arsen pulang.


Janjinya, setelah empat hari mengikuti atasannya terbang ke luar daerah, ia akan kembali dan membawakan sebuah boneka beruang lucu untuk putri kami, boneka yang akan menemani dia bermain selagi kami belum bisa memberinya seorang adik bayi.


Sesekali kilat menimbulkan cahaya berkilau, dari balik kaca jendela, membuat suasana makin mencekam. Hingga lamat-lamat bunyi ketukan di pintu, menyentuh pendengaranku.


"Sebentar ya, Mama akan melihat orang di depan sana," bisikku pada putri kecilku yang berumur empat tahun itu.


"Ikut, Ma, Lil takut," ucapnya menyebut nama kecilnya.


"Kalo begitu, ayo, kita lihat siapa di depan sana."


Daun pintu bergeser, suamiku berdiri di depan pintu dengan seluruh tubuh yang sudah basah kuyup, dari roman wajahnya menunjukkan kekhawatiran yang nyata dan aku juga menangkap sorot ketakutan dari binar mata itu.


"Ayo, masuk, apa yang kau peluk itu?" tanyaku padanya yang terlihat memeluk sesuatu dari balik buntalan kain yang dipeluknya.


Ia terlihat ragu namun tak urung juga melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.


Ia menyerahkan buntalan kain yang dipeluknya itu sedang aku sedikit ragu menerima, dan ketika kubuka, dari dalam sana sesosok bayi mungil sedang tertidur dengan pulas, meski lamat-lamat cahaya kilat masih memantul di ruang tamu namun siluet wajah bayi itu sangat mirip dengan suamiku. Pipi merona, bibir merah dan bulu matanya yang lentik k sesaat membuat hatiku jatuh cinta namun kesadaranku kembali ke tempatnya seketika.


Aku memeluknya dan membawanya ke sofa, membuka kain basah yang menjadi selimutnya lalu berlari segera mengambil selimut Liliana untuk menghangatkan bayi kecil itu.


Sembari melakukan semua itu, logikaku berpacu, apakah bayi ini adalah anak suamiku atau ia baru saja menemukannya di jalan.


Aku ingin bertanya namun melihatnya yang terdiam dengan tatapan nanar ke lantai rumah, membuatku sungkan.


"Ganti baju dulu, Mas, aku akan siapkan makanan," suruhku pelan sedang ia mendongak padaku dan menatapku dengan tatapan iba.


Ia beringsut untuk mandi sedang aku beranjak ke dapur menghangatkan makanan untuknya. Putriku Liliana terlihat gembira mendapatkan bayi itu.


"Mama ini adik untukku? Hore ... Papa bawa adik ...," serunya gembira lalu merebahkan diri di samping bayi mungil itu dan menciumi pipinya dengan lembut.


"Mama aku senang, ada bayi ... Mama, mama senang kan?" tanyanya dengan raut polos dan binar mata penuh kebahagiaan.


Aku bimbang menjawab iya, tapi jika bayi itu memang bayi terlantar yang ditemukan di jalanan, maka aku pun akan ikut senang.


*


Suamiku menikmati makan malamnya dalam diam, aku pun menemani dalam kebisuan. Kami saling berhadapan seperti orang asing yang baru saling mengenal, ia menatapku sekilas lalu meneruskan makannya sedang aku tak sanggup lagi menahan rasa penasaran sambil meremas jemariku sendiri.

__ADS_1


"Mas itu anak siapa?"


Ia mendongak terkejut lalu memutar bola matanya sedang gestur bingung.


"Anu ... Aku ... Anu ...."


"Mas ... Anak darimana itu?"


"Aku ... Menemukannya di jalan ketika akan pulang," jawabnya.


"Bagaimana jika bayi ini punya orang tua, akan bahaya kita memungutnya begitu aja, polisi akan menyusuri kita, Mas."


Ia terlihat menelan makanan dengan paksa dan sekuat tenaga.


"La-lalu apa yang harus aku lakukan?"


"Laporkan penemuanku ke polisi, setelah itu kita bebas untuk mengadopsinya?"


"Apakah di kantor polisi sana, bayi itu akan dites untuk diidentifikasi siapa orang tuanya?"


"Mestinya begitu, sih, Mas. Agar ke depannya pelaku penelantaran dan pembuangan dihukum," jawabku.


"Ada yang kau sembunyikan?"


"Sebenarnya bayi itu anak kerabat jauhku yang hamil di luar nikah, ia melahirkan sendirian dan menitipkannya padaku."


Ini janggal!


"Apa?" Aku tak seketika percaya.


"Iya," jawabnya sambil membuang tatapannya pada bayi yang kini tergolek di sofa di pelukan Liliana.


"Apa mungkin? Dia datang menemui Mas di kantor malam malam lalu menitipkan bayi?"


"I-iya, dia terdesak, dan ingin menutupi aib takut diusir keluarganya," jawabnya.


"Tapi Mas ...." Aku masih belum puas dengan penuturannya.


"Yasmin, percayalah, bantu aku, kasihani bayi itu, dia tak bersalah," pintanya sambil menghampiri dan menggenggam tanganku.


"Aku takut jadi resiko berat di kemudian hari," jawabku ragu.

__ADS_1


"Insya Allah tidak akan," ujarnya bersungguh-sungguh.


**


Masih dengan kegalauan yang sama, kini bayi mungil itu menggeliat dan mulai menangis, Liliana memanggil agar aku memberikannya susu.


Melihat kebingunganku, Mas Arsen segera sadar, jika aku tak memiliki susu bayi di rumah.


"Aku akan ke toko membeli susu tapi tolong peluk bayi itu, ya," pintanya dengan wajah penuh harap.


"Iya, Mas."


"Aku percaya padamu," sambungnya.


Seolah-olah bayi yang kini ada dalam buaianku ini adalah anaknya sendiri.


Sekilas, mirip Mas Arsen, namun pikiranku, ah, Entahlah, bayi itu menangis pelan dalam pelukan, jiwaku menerawang dengan sedikit rasa sedih yang sulit kupahami, sementara Liliana terlihat bahagia dan mengambil semua mainan kesayangannya untuk ditunjukkan pada bayi itu.


Ini anak siapa? Berikan petunjuk agar aku tak galau Tuhan.


*


Mas arsen kembali, terlihat terburu-buru dengan napas terengah-engah sedang aku masih menunggunya di depan ruang tamu.


"Mana anakku?!" Ia terlihat takut dan panik namun seketika menyentuh bibirnya sendiri dan ia segera meralat ucapannya.


"Maksudku anak angkat kita," sambungnya.


Aku masih terpana, dan hanya mampu memberi isyarat jika bayi itu di kamar Liliana.


"Di dalam boks bayi," jawabku.


"Dia jangan tidur di sana, aku akan membawanya tidur bersamaku," ujarnya sambil berlalu mengambil bayi itu.


"Oh ya, aku sudah belikan pakaian tolong pindahkan ke dalam lemari," perintahnya yang tak lama kemudian ia terlihat memeluk erat bayi itu dan pindah ke kamar tidur kami.


"Ada apa dengannya, bahkan anak kandung kami, ia tak sampai sebegitu posesifnya ingin selalu bersama Liliana, apakah kedatangan bayi itu akan mengubah segalanya? Seingatku dari tadi, sejak kepulangannya ia sama sekali belum memeluk dan mengecup kepala putri kami?"


"Anak siapa itu?"


Nex,. Ini bakal seru, yuk ikutin ya

__ADS_1


__ADS_2