
Matahari mengintip manja dari balik tirai jendela, embusan angin menyapu seluruh sudut rumah dan di pagi yang cerah ini, Liliana anakku sudah sudah menghampiriku dan bertanya menu apa yang aku siapkan untuk sarapan paginya.
"Bunda ... Bunda masak apa hari ini?"
"Nasi goreng kesukaan kamu Sayang."
"Bunda ... ayah belum bangun?
"Belum Nak, emangnya ada apa?"
"Aku mau ketemu adik bayi yang tadi malam,", jawab Putri kecilku itu.
"Oh iya, benar." Aku baru ingat jika
semalam tadi Mas arsen membawa bayi dan saat ini sedang dipeluknya dalam kondisi tertidur di kamar kami.
"Bunda aku sangat menyukainya, Bunda janji ya, kalau dia akan jadi adikku selamanya, selama-lamanya," ucap Putri mungilku dengan senyum ceria sambil melompat-lompat gembira.
"Iya insya Allah, tapi kalo.udah jadi Kakak jangan nakal ya," ucapku sambil mengelus rambut indahnya.
"Oke, Bunda tapi ... kenapa adik harus tidur dengan ayah, kenapa tidak tidur di kamarku?
"Karena dia masih kecil dan membutuhkan pelukan," jawabku sambil menuangkan susu ke gelasnya.
"Yang sudah sebesar Lili sudah tidak boleh dipeluk lagi ya Bunda?" tanyanya polos yang sukses membuatku tertawa.
"Tentu saja sayangn, masih dip eluk," kataku sembari meraih lalu memeluknya, kudaratkan sebuah ciuman kecil di pipi merah itu.
Anakku tertawa geli dan ceria, kali melebihi keceriaannya di hari-hari kemarin.
Tak lama kemudian terdengar bayi itu mulai merengek lalu menangis, aku dan Liliana saling pandang dan kami langsung menuju kamar utama.
"Bund, adek bangun," kata Liliana.
"Iya, sayang, kita ambil ya."
"Mas ... bayinya bangun," ujarku sambil menepuk pipi Mas Arsen berusaha membangunkan dan meraih bayi laki-laki itu.
__ADS_1
Suamiku mengerjap pelan lalu melonggarkan pelukannya.
"Jangan terlalu dipeluk kencang, Mas, bayi ini bisa tertekan menahan bobot tubuh Mas, dia masih kecil," ujarku sambil meraihnya dan menggendongnya.
"Aku hanya khawatir dia kedinginan, Yasmin."
"Semalam aku sudah membungkusnya rapi dengan baju dan selimut, Mas gak perlu khawatir."
"Oh, baiklah."
"Sebaiknya segera bangun dan mandi karena Mas harus berangkat ke kantor, ini sudah siang," lanjutku sambil meletakkan bayi itu di ranjang lalu menggantikan popoknya.
"Yasmin, aku akan ke kantor tapi aku mohon sekali agar kau menjaga bayi itu ya. Aku akan lakukan apa yang kau suruh dan yah kau inginkan tapi bantulah aku untuk merawatnya," pintanya dengan penuh kesungguhan.
"Baik, Mas. Tapi Mas kok aneh sih? bolehkan aku bertanya, kamu semalam bilang kalo bayi ini anak kerabatmu, kalo boleh tahu anak siapa?" selidikku halus.
"Kerabat jauh sekali, dia semalam kebetulan bertemu denganku dalam keadaan lingkung dan takut di jalanz setelah berbincang-bincang ia langsung menitipkan bayi ini padaku, dan memaksaku mengambilnya."
"Lalu ibunya kemana? Ibu macam apa yang rela menyerahkan bayinya pada orang lain sedang dia pergi begitu saja, aku gak habis pikir Mas," ujarku sambil membersihkan bayi itu.
"Uhm ... Ibunya akan merantau demi mencari hidupnya yang lebih baik, Ia tak sanggung merawat bayi itu karena banyak hal."
"Jangan berkata begitu Yasmin!" Tiba-tiba Mas Arsen membentakku. Aku terpana dengan reaaksinya yang sangat berlebihan padahal aku hanya mengungkapkan kekecewaan terhadap ibu si bayi yang rela meninggalkan anaknya.
"Kok, Mas Marah sih?"
"Aku meminta keikhlasanmu untuk merawatnya, tapi kalo kau merawatnya sambil mengoceh dan merutuk maka aku tak memaksamu, aku akan menyewakan baby sitter saja, dan aku tak akan ragu melakukan itu," ancamnya.
"Aku tak mau rumah tangga ini kisruh hanya karena kedatangan seorang bayi Mas," imbuhku.
"Kalo begitu diamlah dan lakukan saja apa yang kuinginkan, jika kau tak mau .... maka jujurlah, aku tak mau memaksamu!" Mas arsen merebut bayi itu dariku lalu membawanya ke ruang tamu.
Jika ia terus sibuk mengurus bayi itu tentu saja Mas Arsen gak akan pergi ke kantornya sehingga aku harus mengalah untuk mengurus anak angkatnya itu. Mau bagaimana lagi, lagipula dia hanya bayi.
"Mas gak ke kantor?" Aku menyusulnya.
"Aku akan mengambil cuti sampai bayi ini terlihat sehat dan bisa kutinggal."
__ADS_1
"Mas jangan berlebihan, aku akan mengurusnya, setelah kenyang dan mandi bayi itu akan tertidur," bujukku.
"Siapa yang bisa menjamin jika anak ini akan tetap hidup sampai aku pulang dari kantor."
Apa?!
"Mas ... Kamu kok aneh sih, sejak kembali dari luar kota, kamu seolah terobsesi dan posesif sekali pada bayi itu? Apakah dia adalah anakmu?!"
"Jaga ucapanmu! kau waras?!"
"Mas sendiri terlihat depresi dan hampir gila memikirkan bayi mungil itu. Dia akan baik baik saja di sini, Mas."
Aku menghampiri Mas arsen lalu mengambil bayi itu dan memintanya untyuk segera pergi ke kantor.
Ia mandi lalu memakan makanannya namun ia tetap terburu-buru. Sebelum berangkat masih sempat ia menimang bayi itu dengan penuh kasih sayang sebelum menyerahkannya padaku.
"Kumohon jaga dia baik-baik ya," pintanya.
"Tampaknya Mas begitu sayang," ucapku lirih.
"Iya, aku hanya kasihan karena ia tak memiliki orang tua, lagi pula aku jatuh cinta padanya dari pandangan pertama. Jadi boleh ya, kalo bayi ini kita jadikan adik anak kita?"
Aku bimbang namun kuanggukkan kepalaku tanda setuju.
"Tapi boleh aku tahu, nama bayi ini?"
"Kuberi dia nama Harry" jawabnya.
"Baik, Mas, kalo begitu aku akan menjaga Harry untukmu."
Ia tersenyum lalu merangkulku dan mendaratkan sebuah kecupan di kening ini. Meski begitu, aku merasakan kegetiran dari sikap mesranya.
*
Selepas kepergiannya, aku sesegera mungkin membongkar tas dan koper Mas Arsen yang kemarin untuk mencari informasi dan kemungkinan bukti dari mana bayi yang dia bawa itu.
Kutumpahkan semua pakaiannya dan informasi satu persatu dan alangkah terkejutnya aku.
__ADS_1
Ya Tuhan ....