
Aku curiga sekali, lalu bangkit dan membalas pesan itu,
(Maaf ini siapa?)
(Ini hapenya Arsen kan? aku tanya tentang Harry cucuku.)
(Cucu Anda? Kenapa Anda menyebut bayi kecil kami adalah cucu?)
(Bayi kecil kalian? apa maksudnya?)
Aku makin tidak mengerti, hingga aku berinisiatif untuk keluar dari kamar dan menghubungi nomor tersebut via sambungan telepon.
Dadaku berdebar sembari menunggu yang di seberang sana menjawab panggilan, diri ini terus menahan nafas dan berdoa semoga yang sedang kutebak saat ini adalah tidak sebenarnya.
"Halo, Arsen, mana bayimu?"
"Maaf Ibu saya istrinya, ibu siapa ya?"
"Istrinya ... bagaimana mungkin? istri Arsen adalah jelita anakku, dan dia baru meninggal dua Minggu yang lalu, Arsen membawa cucuku dengan tujuan untuk membawanya ke rumah Ibunya, bagaimana sekarang kau bilang bahwa kamu adalah istrinya?" jawab wanita itu dengan ketusnya.
Rasanya tulang belulangku tercabut dari badan ketika mendengar ungkapan wanita yang entah dari mana datangnya. Bagaimana bisa? aku tak percaya.
"Apa maksud ibu? Mas Arsen sudah menikahi saya selama lima tahun, dan kami punya anak perempuan berumur empat tahun yang kami cintai, mungkin ibu salah orang," sanggahku.
"Kau pikir aku sedang berkhayal, hah? mana Arsennya, suruh bicara padaku!"
"Mas Arsen sedang tidur," jawabku.
__ADS_1
"Panggilkan, jika dia selama ini sudah membohongiku sebaiknya kembalikan bayi itu secepatnya, aku masih bisa memberinya makan dan memeliharanya," ungkap wanita itu meradang.
Mau tak mau, aku segera memanggil Mas Arsen yang sedang tertidur pulas di ranjang, kubangunkan dia dan memberi tahu jika seseorang ingin bicara.
"Siapa?" tanyanya sambil mengusap mata.
"Gak tahu, Mas, dia cari cucunya," jawabku cemas.
Mendengar jawabanku wajah Mas arsen langsung berubah. dia terkejut, dan seolah tak jadi ingin bicara di gawainya.
"Katakan, aku nggak bisa jawab telepon," katanya sambil mengangsurkan ponsel ke tanganku.
"Kenapa Mas? Aku juga ingin tahu apa yang terjadi sebenarnya, dan siapa sebenar bayi itu?"
"Ini bukan waktunya," ungkapnya sambil menatapku dengan seksama.
"Tolong katakan sejujurnya kenapa seorang wanita mengaku bahwa anaknya adalah istrimu Mas, namanya Jelita, siapa dia? ayo jawab Mas," tanyaku sembari mengguncang-guncang bahunya.
"Cukup, Yasmin, jangan memaksaku untuk mengatakan hal-hal yang tidak bisa ku katakan!"
"Apa susahnya! kalau iya jujur saja, dan kalau tidak, katakan saja tidak!" aku pun tanpa sengaja meninggikan suara padanya. aku kesal bercampur heran, hingga dalam dadaku menggulung rasa penasaran sekaligus gemas.
"Aku memang menikahi wanita itu! tapi untuk menjaga kehormatannya," jawabnya berteriak.
Seiring dengan ungkapan itu, petir di langit menggelegar, perlahan hujan turun, membasahi hatiku yang kini porak-poranda. Aku masih tak percaya, tapi, Mas arsen sudah mengungkapkan kenyataannya.
"Kenapa tidak bilang bilang padaku sebelumnya? jadi kau sungguh menikah lagi, tanpa izinku?"
__ADS_1
"Aku sudah jelaskan aku terpaksa!" teriaknya meradang.
"Apakah hamilnya wanita itu adalah perbuatanmu atau kau menyelamatkan kehormatan seorang wanita dari aibnya?"
Pria itu membungkam, sementara diri ini makin emosi dan tidak tertahan.
"Ayo jawab, Mas!" desakku memaksa.
"Aku gak perlu jawab sampai segitunya, yag penting kamu udah tahu kalau aku menikah, dan wanita yang aku nikahi melahirkan anak yang kini ada di dalam rumah kita!"
Dia bangkit dan hendak keluar dari kamar ini.
"Kenapa kau meninggalkanku seperti ini, jadi menurutmu aku adalah wanita yang mudah dibohongi, mudah dimanfaatkan kebaikan hatinya hingga kau suruh aku merawat bayi hasil hubungan gelapmu!"
"Jaga mulutmu, aku tak berhubungan gelap!" tudingnya melotot.
"Jadi ini artinya aku dan Liliana?!"
"Aku terpaksa! hai, pahamlah, biarkan aku jelaskan!"
"apa yang mau kamu jelaskan, jika dari awal kau memang berniat menolong wanita itu dan merawat bayi ini, mungkin aku tidak masalah tapi karena ketidakjujuranmu telah membuatku semakin curiga."
"Terserah kau saja!" Jawabnya sembari membanting pintu.
"Lalu bagaimana dengan perasaanku dan perasaan Liliana Mas?"
"Diam dan biarkan aku berpikir dulu!"
__ADS_1
Di titik ini aku terjatuh lemas ke atas ranjang, aku terkejut sampai-sampai tidak tahu harus merespon seperti apa, aku tidak bisa menghitung seperti apa luka yang sedang tertusuk di dalam dada.