Bayi Dalam Pelukan Suamiku

Bayi Dalam Pelukan Suamiku
menemui orang tua wanita itu


__ADS_3

Hari itu aku berusaha menemui orang –orang yang satu tempat kerja dan sebagian lain adalah teman suamiku, kucoba menemui satu-persatu dan menanyai mereka apa yang sebenarnya terjadi, apa yang sungguh dilakukan suamiku di daerah itu dan benarkah dia hanya menutupi aib seorang wanita, lalu wanita itu meninggal.


“Tolong katakan yang sebenarnya, apa yang telah terjadi, apa suami saya memang mengenal mendiang istri mudanya lantas menjalin hubungan lalu mereka menikah karena saling mencintai, atau memang ada sebuah kecelakaan yang membuat wanita itu mau tidak mau harus dikawinkan ?”


“Jujur saya kurang tahu, saya tahunya, Arsen hanya bekerja dan menjalankan tugasnya dengan baik. Urusan dia menjain hubungan atau tidak itu saya tidak mau mencampuri.”


“Saya hanya ingin tahu apakah suami saya pernah terlihat mencurigakan atau tidak?”


“Saya tak pernah terlalu memperhatikan itu dengan detail, Mbak maaf ya kalo saya tak bisa banyak membantu Mbaknya,” jawab pria itu sembari berpamitan pergi.


Masih tak mau menyerah aku terus mencari informasi ke bagian personalia, aku bertanya di daerah mana terakhir kali suamiku ditugaskan untuk mengawal proyek perusahaan. Hingga pada akhirnya kudapatkan informasi itu setelah melobi petugas selama hamper satu jam penuh.


“Daerahnya di desa Kertasari.”


“Dimana kah daerah itu?”


“Maaf, saya tak bisa memberikan informasi lebih, saya minta maaf, Mbak.” Petugas itu menggelengkan kepalanya.


Karena aku menitipkan kedua anak-anak di tempat ibuku akhirnya aku mohon pamit pa da beliau untuk pergi ke desa itu mencari informasi yang terbaru.


Sesampainya di desa itu aku langsung bertatanya pada warga sekitar di mana sekiranya rumah Pak Kades berada, hendak menanyakan informasi warga desanya dengan detail. Ketika aku berhasil mendapatkan alamat rumahnya aku lang meluncur dan mengetuk pintunya. Seorang pria keluar dan menyapa, ketika kutanya Pak Kades dia berkata bahwa Kades sedang tidak ada di rumah.


“Kira-kira kapan pulangnya Pak?” tanyaku pelan.


“Mungkin nanti Mbak? Saya tidak tahu detailnya.”


“Oh begitu ya, saya ingin tanya di mana alamat warga desa yang baru-baru ini menikah dengan orang kota, dan ketika meliharkan dia meninggal dunia?”


“Oh, Mbak Rika? Dia tiggal di RT dua, anak Pak Marwan.”


“Bagaimana saya bisa ke sana? Sebelah mana jalannya?”


“Ikuti aja jalan besar Mbak, nanti tanya warga, pasti ketemu.”


“Kalau begitu terima kasih Pak.”

__ADS_1


“Ya, sama-sama, Mbak.”


Dengan langkah cepat kuikuti jalan yang menuju arah rumah wanita itu, semakin dekat jarak semakin berdegup kencang dada ini, aku tak tahu respon apa yang aan kuberikan sesampainya di sana, entah marah, sedih, menangis terluka atau apa. Tapi yang jelas, aku ingin tahu seperti apa dia dan bagaimana dia bisa menaklukkan hati Mas Arsen.


Hati ini membuncah rasanya ketika sampai dipintu gerbang sebuah rumah, ya, rumah Rika, rumah maduku, yang kini sudah jadi almarhumah. Kuketuk pintu dan mengucapkan salam, seorang wanita menjawab dan membukakan gerbang.


“Permisi, assalammualaikum, apa ini rumah Pak Marwan?” tanyaku pura-pura ramah.


“Iya betul, Mbak, Mbaknya siapa ya?”


“Uhm, boleh saya masuk, saya dari kota.”


“Oh iya. Silakan Mbak, maaf lupa mempersilakan Mbaknya masuk.” Wanita itu terpksa menyunggingkan senyum, dia mendorong gerbang lebih lebar agar aku bisa masuk ke dalam rumah mereka.


“Bapaknya ada, bu?”


“Sebentar saya panggilkan,” jawabnya.


Selagi dia memanggil kuedarkan pandangan ke dalam rumah yang nampak lumayan bagus, mungkin ayah wanita ini adalah petani kaya, sehingga perabot dalam rumah mereka sebagian nampak mahal, hanya sayang, tidak terawat dan berdebu.


“Begini Pak, maksud kedatangan saya ke sini adalah ingin bicara dari hati ke hati pada Bapak sebagai orang tua Mbak Rika.”


Mendengar ucapanku, kedua orang tua itu nampak mengernyit tidak mengerti, mereka saling pandang dan kembai menatap mimik wajahku.


“Anak kami sudah meninggal. Ada apa lagi, Mbak? Apa dia punya hutang?” tanya mereka pelan.


“Tidak sama sekali, Pak, ada hal lain yang ingin saya katakan,” balasku.


“Apa itu kalau boleh tahu?”


“Mas Arsen adalah suamiku, dia menikahi anak Bapak selagi masih menjadi suamiku, kami sama sekali belum cerai, bahkan rumah tangga kami baik-baik saja. ” jawabku pelan.


Mendengar kata kataku pria yang umurnya separuh baya itu langsung terkejut, dia menatapku dan istrinya bergantian, dsn masih belum hilang keterkejutanya, aku melanjutkan,


“Malam itu dia membawa pulang bayi kecil yang menurut dia, dititipkan mendiang ibunya di jalanan, lalu suami saya jatuh iba dan mengambilnya sebagai anak kami, namun pada hari hari berikutnya saya kemudian tahu bahwa bayi itu rupanya adalah anak tiri saya.”

__ADS_1


“Kami sama sekali tidak tahu jika Rika menikahi suaminya Mbak, kami sungguh tidak tahu, karena Nak Arsen juga mengaku tidak punya keluara dan hanya menghidupi diri sendiri,” jawab pria tua itu.


“Apa mungkin anak Bapak tidak tahu bahwa Arsen adalah pria beristri? Tidak pernahkah dia bertanya atau curiga sekali saja, tentang suaminya yang jarang datang dan tidak pernah mengajaknya berkunjung ke rumah kerabat?”


“Apa yang harus kami lakukan jika dia mengaku tidak punya keluarga lagi dan hidup sendiri, mau bagaimana kami akan memaksanya?”


“Dan kini, itu adalah kenyataan, saya berada di sini dan mengatakan bahwa Mas Arsen adalah suami saya.”


“Lalu apa yang bisa kami lakukan untuk memperbaiki keadaan, duduk di sini dan menyesali apa yang terjadi juga percuma, apa solusi yang harus kami tempuh untuk menghilangkan rasa malu yang sudah terkanjur mencoreng ini?”


“Sebenarnya itu bukan salah kalian, Pak, Bu, salahnya adalah suamiku yang tidak jujur, andai dia berterus terang mungkin aku tidak akan seluka ini, mungkin hatiku akan berusaha lapang dan belajar menerima kenyataan.”


“Maafkan kami Nak,” ucap ibu rika dengan sedih.


“Kalau begitu, saya pamit dulu. Anak-anak akan mencari saya dan gelisah.”


“Apa … cucuku ada padamu?”


“Iya.”


“Tolong kembalikan dia, aku tidak ingin bayi itu membebanimu dan anakda jadi benci seolah-olah melihat bayangan anak kami dalam diri cucu kami, kamu pasti akan cemburu karena dia adalah symbol dari buah cinta suamimu dn mendiang Rika.”


Aku mengerti kekhawatiran mereka, cemas bahwa aku hanya ibu tiri yang akan menjadi penyiksa anak itu hingga dia besar nanti. Namun aku tidak punya sedikit pun niat sejahat itu.


“Tidak, saya tidak ada kebencian dengannya, yang salah adalah Mas Arsen, anak anak adalah karunia yang harus saya syukuri,” jawabku tersenyum tipis.


“Tapi, tolong bawa dia pulang, tolong kembalikan, kami merindukannya, tolong sampaikan salam pada Arsen bahwa ami menunggu bayi itu kembali, kami akan merawat anak keturunan kami dengan baik, kamu rawatlah anakmu sendiri!’


Entah kenapa aku tersinggung, seolah aku yang memaksa untuk merawat anak itu. Mereka juga terlihat bersikeras, sehingga mau tak mau aku akan membicarakan hal itu pada suamiku.


Ketika akan keluar dari rumah itu, mataku tertuju pada sebuah foto besar di ruang tengah, foto pernikahan Mas Arsen dengan Rika. Aku tertegun untuk beberapa saat, menatap pigura berwarna emas di mana tergambar jelas photo mengenakan busana khas Jawa, mereka nampak serasi, si wanita begitu cantik dan anggun, ya, lebih cantik dariku, bahkan sangat mempesona, wajar jika Mas Arsen jatuh cinta dan terpukul sekali ketika istri barunya meniggalkan dia selamanya menuju pangkuan Tuhan.


“Dia anak kesayangan kami, buah hati kami satu-satunya,” ungkap ibunya menatap foto itu bersamaku.


“Maaf, jika secara tidak langsung, kedatangan Mas Arsen dalam hidupnya telah membuat dia direnggut dari Bapak dan Ibu, sekali lagi saya turut menyesal,” ucapku pelan. Berpamitan, lalu pergi.

__ADS_1


Ketika perjalanan pulang, aku mendapat telpon dari ayah yang berada di luar kota untuk menemuinya. Ayah memang punya pekerjaan yang sama dengan suamiku, yaitu pengawas proyek, namun jabatannya lebih tinggi. Ketika kutanya kenapa, dia hanya mengatakan bahwa ada hal penting menyangkut arsen dan seorang wanitaA. Hah, apakah Ayahku tahu?


__ADS_2