Bayi Dalam Pelukan Suamiku

Bayi Dalam Pelukan Suamiku
Tes DNA


__ADS_3

Bukti yang aku dapatkan adalah surat kelahiran bayi itu, bahwa nama Ibunya adalah Pricilia Dewi, tanggal lahirnya terhitung 4 hari dari hari sekarang dan dia dilahirkan di kota yag berjarak perjalanan 1 hari dari kotaku tidak jelas nama ayahnya di sana.


Aku juga mencoba mencari alamat dari pasien dan nomor teleponnya namun tidak menemukannya. Aneh sekali bukan? ketika ketika sebuah laporan kelahiran tidak mencantumkan nama dan alamat orangtua dari bayi tersebut. Satu-satunya yang tertulis di sana hanya kabupaten Banyuasih.


haruskah aku pergi ke kota itu untuk menyusuri siapa sebenarnya orang tua dari bayi tersebut. nama klinik yang tercantum di kop surat keterangan lahir tersebut adalah Klinik Bunda Sari Asih.


Secara logika seperti ini jika Mas Arsen menemukan bayi itu di jalan mana mungkin dia punya surat kelahiran bayi tersebut, tapi jika ternyata ibu bayi tersebut yang menyerahkannya kepada suamiku berikut surat kelahirannya, apakah akan sedetail itu?


Semakin aku memikirkan yang semakin pusing kepala ini, entah apa dan dari mana asal si bayi ini, mengapa dia begitu mempengaruhi sikap dan kepribadian suamiku?


Selagi sibuk memikirkan semua itu bayi itu menangis membuyarkan lamunanku, Liliana yang sejak pagi diantar asistenku ke PAUD tempat dia bermain dan belajar memang sedang tidak berada di rumah sehingga hanya aku berdua dengan bayi mungil itu.


Dia menangis membuatku iba mendengarnya, kuangkat tubuh kecil itu lalu pindahkan ke ranjang dan memeriksa apakah dia sedang tidak nyaman atau merasa kesakitan.


Ketika aku membuka baju dan popok bayi itu ada hal yang membuatku tercengang,sebuah tanda lahir di punggungnya sama persis seperti tanda lahir yang ada di punggung Mas Arsen. Noda berwarna coklat di kulit bayi yang putih bersih sama persis bentuk dan warnanya seperti tanda lahir Mas arsen.


Dadaku terasa berat ketika harus memikirkan dan mencocok logikan bahwa bayi ini adalah anak suamiku, mana mungkin dia akan punya anak secepat ini.sejak kapan dia menikah dan siapa istrinya Ibu dari bayi ini?


Lagipula dia sibuk bekerja dan hanya menghabiskan waktu bersama kami keluarga kecilnya. Kurasa semua hal yang bermain di dalam pikiranku tidak masuk akal.


Karena tak tahan, aku lantas segera menelepon Mas Arsen untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.


"Mas aku ingin tanya," ujarku langsung tanpa berbasa basi.


"Aku lagi kerja, nanti aja, Yas."


"Please, aku ingin tahu, dari mana kamu dapatkan bayi ini?"


"Itu bukan hal yang bisa kau bicarakan di telepon Yasmin, tunggu aku pulang."


"Semakin aku berpikir semakin dekat kesimpulan bahwa anak ini adalah anakmu Mas," jawabku dengan suara tercekat.


"Apakah jika aku mengadopsi bayi malang sekali lagi, kau akan mengatakan bahwa itu anakku juga. Kau tidak punya dasar."


"Untuk menjernihkan semua asumsi buruk dan segala macam apakah aku harus memintamu tes DNA?"

__ADS_1


"Untuk apa? Aku tak mau melakukannya buang waktu dan uang, hasilnya tetap sama, negatif."


"Kau mencoba mengelabuiku, Mas," desisku.


"Kalo kau tidak percaya maka aku siap kau tuntut, Yas, jika itu membuatmu lega," jawabnya dengan nada yang mulai marah.


"Aku tidak mau menuntut perceraian atau laporan atas tinsak kriminal, aku hanya ingin menguji bayi ini sebenarnya anak siapa," balasku.


"Ada hal yang lebih besar dari itu, Yas, privasi dan identitas ibunya tak ingin dibuka,ia ingin mengubur semua kenangan pahit dan melupakan bahwa bayi itu pernah tumbuh dari dirinya."


"Ibu macam apa itu?"


"Tunggu kita bicarakan itu di rumah."


Ia menutup telepon di wajahku dan enggan membahasnya lebih banyak lagi, aku terkejut karena Mas Arsen baru pertama kali nyaris berteriak dan menutup paksa telepon. Hari hari sebelumnya ia sangat lembut dan mesra, bahkan dia tak akan menutup teleponnya sebelum aku yang mematikan sambungan. Jadi mengapa ia bisa se-drastis ini?


Meski Liliana kembali dari sekolah dengan senyum ceria dan memelukku, aku hanya diam dan tak seantusias tadi, semangat dan tenagaku berkurang, rasa gelisah lebih mendominasi dan membuatku tak tenang.


"Mama, adik bayi mana?"


"Aku boleh main dengannya?"


"Boleh, tapi ganti baju dan cuci tangan dulu," jawabku sambil tersenyum.


Anakku sangat bersemangat dan langsung melompat riang menuju kamarnya, berselang dua menit, dia keluar dari sana dan langsung menemui bayi itu.


"Mama aku lupa namanya, tadi Papa kasih nama apa adik bayi ini?"


"Entahlah ...," jawabku sekenanya.


Saat ini pikiranku kalut dan bingung, bahkan untuk mengingat detail kecil saja aku kesulitan.


"Bayi itu, mirip dengan Lili, Ma, Liliana sayang dia, seru anakku.


"Pintar, kamu memang harus menyayangi siapa saja," jawabku sambil membelai kepalanya.

__ADS_1


*


Mas Arsen kembali dari kantornya di langsung menemuiku yang sedang sibuk di meja makan menyiapkan makan malam.


"Apa sih maksud kamu nelpon ke kantor di jam-jam sibuk," tanyanya sambil menghempas tasnya.


"Aku hanya ingin menghilangkan rasa penasaran Mas aku harus tahu apa yang sebenarnya terjadi," jawabku sambil menyusun piring.


"Kamu tuh mempermalukanku ...."


"Apa maksudmu, mempermalukan bagaimana?"


"Dengan membahas tentang anak itu, kau memaksaku untuk menjawab segala pertanyaan dan membuat perhatian orang-orang di kantor tertuju kepadaku," cecarnya emosi.


"Sebaiknya Mas tenangkan dulu perasaan Mas," jawabku sambil menyodorkan air minum kepadanya.


"Tidak usah!" Dia menepis gelas itu hingga terjatuh dari tanganku dan menimbulkan bunyi yang sangat keras ketika gelas kaca menyentuh permukaan lantai.


Liliana terkejut sedang bayi itu menangis karena kaget tidurnya terganggu.


"Kenapa kamu seperti ini mas? Garang sekali ...."


"Aku ... Arggg ...." Ia menggerutu sambil menjambak rambutnya sendiri.


"Apa yang kau lakukan Mas, kau sudah gila?"


"Aku memang sudah gila Yasmin," teriaknya, "jadi berhentilah mencecarku dengan pertanyaan yang tidak penting."


"Aku hanya bertanya tentang anak itu,"balasku.


"Emangnya kenapa? Kalau ternyata anakku memangnya apa yang akan kau lakukan?!"


bentakknya marah.


Ia mengambil tas lalu segera menuju ke kamar meninggalkanku yang syok mendengar ucapannya.

__ADS_1


__ADS_2