Bayi Dalam Pelukan Suamiku

Bayi Dalam Pelukan Suamiku
Ambruk


__ADS_3

Dadaku tetap jantungku berhenti berdetak rasanya napasku juga ikut tersengal-sengal mendengar teriakan Mas arsen kepadaku.


Apa yang dia katakan barusan, rasanya tidak percaya diri ini jika bayi itu adalah anaknya. Tidak mungkin, dia adalah anaknya suamiku! Sementara dia tidak pernah kemana-mana selain berada di dalam rumah ini bersama kami, kegiatannya selain di kantor dan menunaikan tugas yang tidak pernah lama tidak ada lagi hang pernah dia lakukan.


"Mas katakan sejujurnya, bayi itu anak siapa?" Aku mengejar Mas arsen ke dalam kamar untuk bertanya dan memastikan sembari berharap bahwa ujarannya tadi hanya emosi belaka.


"Katakan yang sejujurnya Mas, bahwa kau hanya bercanda saja denganku," pintaku dengan suara tercekat hampir menangis.


"Percuma aku mengatakannya, ketika kamu tidak percaya dengan apa yang aku katakan!" Dia berdiri mematung dan tak menanggapi pelukan atau sentuhanku.


"Aku mohon Mas, aku mohon ... aku tidak akan bisa menerima jika kau pernah menjalin hubungan dan punya anak dari wanita lain selain aku.  Katakan yang sejujurnya Mas, bahwa itu tidak benar, tidak benar ...." aku menangis sambil menarik-narik  kemeja suamiku.


Dia memegang kedua lenganku lalu mengguncangnya dan berkata,


"Sebenarnya kau sendiri percaya dengan siapa? bagaimana kau tidak percaya kepadaku?"


"Aku hanya takut Mas, aku takut kehilangan dan aku takut menghadapi kenyataan pahit."


"Apa yang kau yakini maka itulah kenyataannya, jika kau ingin berpisah denganku maka aku tidak akan mencegahmu!"


Bagai petir di siang bolong aku seolah terkesiap dengan jawaban yang begitu meluluhkan dan merobek jiwaku. Aku terjatuh, terduduk di kakinya, aku lemas mendengarnya.


"Apa? apa yang Mas  katakan? apakah Mas lebih memilih bayi itu dibandingkan aku dan Liliana?"


"Bayi itu adalah amanah untukku begitu juga kamu dan Liliana, tapi kalian berdua punya pilihan! Kalian bisa bertahan atau melakukan apa yang kalian mau, sedangkan aku,  aku tidak akan bisa meninggalkannya begitu saja karena di dunia ini dia tidak memiliki siapapun," jawab suamiku dengan tatapan dingin.


"Aku harus bagaimana Mas?" ujarku lirih sambil meneteskan air mata.

__ADS_1


"Kalo kau mencintaiku, maka terimalah keputusanku dan rawat bayi ini seperti anakmu, jika tidak maka ambillah keputusanmu sendiri."


"Aku hanya ingin tahu, bayi ini anak siapa dan dari mana, Mas, hanya itu," sanggahku.


"Kau tidak perlu tahu, cukup ikuti saja arahanku dan kita akan baik baik saja," ujarnya.


Kenapa Mas Arsen begitu bersikeras menyembunyikan latar belakang bayi ini, semakin berkeras dia semakin curiga diri ini atas kebohongannya.


"Apa dia anak hasil hubungan gelap?" tanyaku pelan.


"Jaga mulutmu Yasmin, bayi ini tidak bersalah, aku akan pergi ke kamar lain, aku akan menenangkan diri dan kau pikirkan saja apa yang akan kau lakukan!" Dia meraih bayi itu lalu berpindah ke kamar khusus tamu dan menutup pintunya.


Suamiku terlihat bukan seperti dirinya, dia asing! Tatapan matanya,sentuhan dan cara dia  bicara sangat dingin. Dia bukan suamiku!


"Bunda ... Ayah ... Kenapa berantem? Lili takut," ujar anakku dengan nada bergetar.


"Ga apa Sayang, kita cuma ngobrol saja," hiburku.


"Bunda ga tahu sayang, mungkin ayah mau gendong adik bayi dulu, biar bayinya bobo."


Aku juga meraihnya dan memeluknya.


"Nanti kalo adik sudah tidur aku juga mau digendong ayah, karena sejak semalam, ayah belum gendong dan peluk lili," bisiknya.


Air mataku berurai, jiwaku koyak dan hatiku terluka, batin ini seolah terlunta-lunta di atas gelombang besar yang menghempas. Ada kebingungan besar yang sulit kupecahkan, ada ketidak jelasan yang akan mengancam keharmonisan rumah tangga ini, dan semua itu berakar dari bayi itu. Kini aku benci anak itu, aku benci dari mana dan semua tentangnya aku benci tangisannya yangbtelah mencuri perhatian suamiku, aku benci semuanya! 


Anakku harus terabaikan hanya karena anak yang tidak jelas asal usulnya.

__ADS_1


Tok ... Tok ...


Kugedor kamar di mana Mas Arsen berada.


"Mau apa kamu? Aku bilang aku mau menenangkan diriku, kamu gak dengar?!" Matanya nanar dan terlihat sangat murka.


"Anak itu telah mencuri perhatianmu, bahka anak kandungku tak kau perdulikan sejak semalam, aku tidak suka itu, Mas. Ini tidak adil untuk kami."


"Kau tidak lihat bahwa bayi itu tidak bisa mengurus dirinya sendiri kalo tidak dirawat, jika Liliana meminta sesuatu maka rangkullah dia, karena kamu ibunya!"


"Kamu juga ayahnya!" teriakku sengit.


"Diam! Bayiku itu sedang tidur."


Bayinya? Apa bayinya? Tidak aku salah dengar, tidak mungkin.


"Apa yang kau bilang, Mas."


"Kalo kamu terus menerus memicu pertengkaran maka aku akan pergi dari rumah ini," ancamnya.


"Kenapa?! Kau rela kehilangan keluarga?!"


"Aku memang sudah kehilangan, dan jangan tambahkan garam di atas lukaku!  Menjauh!" Dia mengamuk dan melempar ponselnya hingga pecah berkeping-keping di hadapanku.


"Astaghfirullah ... Mas Arsen. Luka apa yang kau maksud?"


"Kamu memang terlalu banyak ikut campur," desisnya sambil mendorong tubuhku dan menutup pintu itu kembali.

__ADS_1


"Mas ... Mas ...." Aku memanggil namun dia tak mengindahkan.


Hati ini berkeping-keping saat ini. Selain air mata dna Liliana apa yang kumiliki? Hendak kemana aku, mestikah aku mengakhiri rumah tangga ini. Ketika aku sulit mengikhlaskan kenyataan, mestikah aku bertahan tertusuk duri?


__ADS_2